
๐
๐
"Hey!! Apa yang kamu pakai itu?" Daryl bereaksi ketika dia keluar dari kamar mandi dan Nania sudah mengenakan seragam hitam putihnya.
Sebuah rok pendek sebatas lutut dan kemeja yang juga berlengan pendek. Kali ini terlihat lebih pas di tubuhnya.
"Seragam. Kenapa?" Nania menatap dirinya sendiri di cermin.
"Mana ada seragam seperti itu? Cepat ganti!" Pria itu memerintahkan.
"Ganti?" Nania membeo.
"Ya, ganti sekarang juga! Terlalu pendek!"
Perempuan itu mengerutkan dahi.
"Ini kan roknya selutut? Terlalu pendek apanya?" Nania menatap dirinya sendiri.
"Bagiku terlalu pendek! Nanti orang-orang akan melihat kaki kecilmu itu."
"Lihat apa?" Nania tertawa seraya mengulurkan kakinya untuk dia lihat. "Cuma kaki."
"No, it's mine!" Pria itu mendekat.
"This mine too." Lalu dia meremat bokongnya yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. "This is too." Kemudian pindah ke pinggulnya. "And this โฆ." Dan terakhir dia memegang dadanya.
"Apa-apaan sih? Kamu ngaco!!" Nania tertawa lagi.
"Bagaimana nanti orang-orang akan melihatmu seperti ini dan kamu akan menjadi pusat perhatian." Daryl menyeretnya lebih dekat ke depan cermin dan menatap mereka berdua.
"Dih? Aku kan masih pakai baju lengkap, Pak? Ini cukup sopan untuk sekolah. Lagian emangnya siapa aku pakai jadi pusat perhatian segala? Artis bukan, selebriti bukan. Model apalagi? Aku bukan orang terkenal." ucap Nania yang melepaskan tangan suaminya.
"Tidak harus menjadi terkenal untuk mendapat perhatian orang-orang. Dirimu yang seperti ini yang justru menarik perhatianku, ingat?"
Nania kembali tertawa hingga wajahnya terdongak ke atas seraya memutar tubuh sehingga kini mereka berhadapan.
"Cuma kamu satu-satunya yang memperhatikan aku kan? Selama ini nggak ada. Ibu aku aja sampai heran kenapa bisa begitu." katanya, dan dia menyentuh dada pria itu dengan kedua tangannya.
"What?"
"Ibu sampai bertanya-tanya memangnya apa yang akan membuat seseorang menyukai aku? Dia bahkan nggak percaya kalau ada yang akan menyayangi aku. Menurut ibu, aku ini jelek. Nggak pantas disukai dan disayangi siapa pun, dan nggak heran ayah meninggalย karena nggak bisa melihat aku yang menyedihkan"
Daryl terdiam.
"Tapi dia nggak tahu, kalau aku yang menyedihkan ini bisa mendapatkan laki-laki seperti kamu. Bukankah ini dongeng yang sangat indah?" Nania dengan senyuman cerianya seolah dia telah mendengar kabar yang menggembirakan.
"Malyshka, stop! Berani-beraninya dia bicara begitu kepadamu! Kepan dia mangatakannya? Di mana? Apa perlu aku memberinya pelajaran juga agar berhenti memperlakukanmu seperti sampah? You worthed!" Daryl tidak terima.
Namun Nania hanya tersenyum.
"Udah nggak. Itu kan dulu. Kalau sekarang mana berani Ibu berbuat kayak gitu? Mau ketemu aku aja cuma berani sampai gerbang."
"What?"
"Kata Mbak Mima ibu sempat ke sini waktu kita masih di Moskow. Tapi nggak mau masuk padahal udah Mama suruh juga."
"Kenapa?"
"Mungkin malu?"
"Maksudku kenapa dia datang?"
"Kata Mbak Mima cuma mau ketemu." Nania melepaskan diri, lalu dia beralih ke meja rias di mana dia meletakkan pakaian untuk suaminya.ย
Sebelumnya dia membiarkan Daryl melakukan kebiasaannya dengan krim wajah, deodoran dan parfum. Juga pomade untuk merapikan rambut kecoklatannya yang sudah memanjang. Lalu Nania menyodorkan boxer dan Daryl segera mengenakannya.
__ADS_1
"Ah, kemeja lagi?" Dia memutar bola mata, sementara Nania hanya tersenyum seraya membantunya mengenakan pakaian tersebut.
Kemeja putih dengan celana panjang hitam, dipadukan dengan jas yang berwarna senada. Membuat Daryl tampak lebih rapi dari biasanya.
"Rambutnya mau aku yang sisir?" Perempuan itu kemudian meraih sisir di meja riasnya yang sejak mereka menikah benda itu ada di sana.
"Aku saja, kalau kamu yang menyisir nanti aku kelihatan seperti anak TK!" Namun Daryl segera merebutnya, membuat Nania lagi-lagi tertawa.
"Tuh kan, kamu kelihatan seksi!" Dia menatapnya yang kemudian duduk di lantai untuk membantunya mengenakan sepatu.
Dari atas sini dia bisa melihat dada bagian atas Nania dan roknya yang sedikit tertarik.
"Ya kamunya aja yang ngeliatnya kayak gitu? Lagian kalau di kelas kan aku duduknya di kursi?" Perempuan itu menjawab.
Daryl mendengus kemudian memutar bola matanya.
"Pakai lagi yang kemarin kenapa? Kan bagus seragamnya panjang?"
"Bukannya udah kamu robek? Aku kan belinya cuma dua sama yang ini?" Nania bangkit.
"Oh ya? Hahaha. Aku kira kamu belinya lebih?"
"Ngapain beli kemeja banyak-banyak? Orang sekolahnya aja cuma empat hari seminggu. Aku mikirnya dua hari pakai yang panjang, dua hari lagi pakai yang ini. Eh, malah kamu robek!" Dia mendelik.
"Ya apa salahnya belinya lebih. Kan bisa ada gantinya kalau kejadiannya seperti kemarin?" Daryl masih tertawa.
"Ah! Lagian kenapa ada acara robek-robekan segala sih? Kan pemborosan."
"Salahmu pakainya kemeja? Sudah tahu kelemahanku ada di kancing?"
"Kan pulang sekolah. Salah kamu juga ngajakin anu-anu pas pulang sekolah?"
Daryl tertawa lebih keras, lalu dia memeluk tubuh istrinya yang sekarang mulai tak semungil dulu.ย
"Berapa lama kita menikah?" Dia menunduk untuk menempelkan keningnya pada puncak kepala Nania.
"Bagus sekali, sepertinya mamaku memberimu makan dengan baik ya?" katanya, dan dia memeluknya lebih erat.
"Kayaknya. Empat sehat lima sempurna. Ditambah protein dan pupuk yang baik." Nania balas memeluknya.
"Pupuk apa?"
"Pupuk cair."
"Hum?"
Perempuan itu tersenyum lebar.
"Dari kamu." katanya, dan dia pun tertawa.
"Aih!! Sudah pintar ya, padahal baru sekolah sehari."
"Hmm โฆ aku ini cepat tanggap tahu?"
"Oh ya?"
"Iya. Sekali baca aja langsung faham."
"Contohnya kemarin ya?" Daryl ingat pergumulan panas mereka pada sore sebelumnya.
"Aku heran, setelah baca novel yang mana yang membuatmu punya ide seperti itu?" katanya kemudian.
"Ish, jangan ingetin itu. Aku malu!" Nania meronta untuk melepaskan diri, namun pria itu tak membiarkannya.
"But i like itu, just โฆ."
"Udah ah, kalau bahas soal itu kamu suka kebablasan. Nanti kita kesiangan lagi." Nania memaksa melepaskan diri, dan kali ini Daryl melonggarkan lilitan tangannya.
__ADS_1
Lalu dia merapikan rambutnya, setelah itu mengenakan sepatunya sendiri.
"Ayo kita turun? Mama sama Papi kayaknya udah nunggu untuk sarapan." Kemudian mereka keluar dari kamar.
***
"Nania nanti mungkin pulang sore, Mom." Daryl mengunyah sarapannya.
"Oh ya? Banyak pelajaran kah? Bukankan sekolah hanya tiga jam?" Sofia merespon sang putra.
"Tidak. Aku akan menjemputnya lalu kami akan pergi." jawab Daryl dan dia menghabiskan makanannya dengan cepat.
"Pergi ke mana?"
"Ke suatu tempat, nanti sore kami akan bicarakan dengan Mama dan Papi ya?"
"Oh, โฆ." Sofia dan Satria saling pandang.
"Kamu sudah selesai, Sayang?" Lalu Daryl beralih kepada Nania.
"Mm โฆ udah." Perempuan itu mengunyah suapan terakhirnya.
"Kenapa sih kalian buru-buru? Hati-hati lah. Itu Nania masih makan, Der!"
"Kamu masih mau makan?" Pria itu bertanya.
"Nggak, aku udah kok." Nania meneguk air putih hingga habis setengahnya.
"Tenanglah, tidak baik makan cepat-cepat seperti itu!" sergah Sofia kepada anak dan menantunya.
"Aku selesai, Mom." Namun Daryl tertawa dan dia segera bangkit.
"Pergi dulu ya?" Lalu dia berpamitan seperti halnya Nania yang mencium tangan Sofia dan Satria.
"Hati-hati, astaga!!" Sang ibu bereaksi saat keduanya segera pergi.
"Kenapa mereka itu bersemangat sekali ya?" Perempuan itu menggelengkan kepala sambil menatap kepergian putranya lewat jendela yang tembus ke halaman samping di mana Rubiconnya terparkir.ย
"Sayang, kamu lihat itu?" Lalu dia menepuk pundak suaminya ketika meihat Nania berjongkok dan seperti menyentuh sepatu Daryl, sementara putra mereka itu hanya diam merentangkan kakinya dengan ponsel menempel di telinga.
"Apa yang dia lakukan?" Pasangan suami istri itu memperhatikan.
"Kenapa dia berbuat begitu kepada Nania?" Kening Sofia sedikit menjengit melihat interaksi di antara mereka.
"Nania mengikat tali sepatu Daryl?" Satria pun bereaksi sama.
"Sepertinya begitu. Ada apa ini? Sejak kapan putraku berbuat tidak pantas seperti itu kepada seseorang? Apalagi itu adalah istrinya?" Sofia hampir saja beranjak ketika Satria menahan tangannya.
"Kamu mau ke mana?"ย
"Mengingatkan Daryl untuk tidak berbuat seperti itu!"
"Mereka pergi." Satria menariknya ke tempat semula, dan memang benar mobil itu sudah meninggalkan pekarangan rumah.
"Apa ada yang salah dengan caraku mendidiknya? Kenapa dia jadi begitu?" Sofia berbicara dengan dirinya sendiri.
"Kalau mau bicara sebaiknya nanti saja jika waktunya memungkinkan." Satria berujar, lalu mereka kembali ke tempat makan.
๐
๐
๐
Bersambung ....
Hehe, ayo gaess kirim terus like komen sama hadianya biar novel ini semakin naik.๐๐
__ADS_1