
💖
💖
"Beneran boleh?" Nania turun dari mobil setelah Daryl membukakan pintu untuknya.
"Boleh." Pria itu menjawab.
"Kalau mampir ke toko bunga juga boleh?"
Daryl menatapnya dengan kening sedikit berkerut.
"Nggak boleh ya? Hehe, ya udah nggak usah." Perempuan itu mendekap tumblernya yang Daryl berikan.
"Aku masuk ya?" katanya kemudian.
"Hey?"
"Apa?"
"Butuh bekal tidak?" tanya Daryl kepadanya.
"Nggak usah, nanti bisa ambil di ATM dulu." jawab Nania, namun pria itu tampak mengeluarkan dompetnya.
"Tidak usah repot-repot, aku ada." katanya lagi seraya mengeluarkan beberapa lembar uang.
Nania kembali dengan senyuman yang terbit di sudut bibirnya.
"Biasanya kalau untuk bekal bawa uang berapa?" Pria itu bertanya lagi.
"Nggak usah banyak-banyak, cuma milk tea ini."
"Ini cukup?" Daryl menyodorkan selembar uang seratus ribu kepadanya.
"Banyak amat. Nggak ada dua puluh ribu aja apa? Milk tea yang sering aku beli cuma lima belas ribuan. Paling mahal dua puluh?"
"Begitu ya? Tapi aku tidak punya. Ini juga sisa waktu mengantarmu ke pasar waktu itu."
"Duh? Masih ada aja?"
Daryl hanya tertawa.
"Ya udah aku ambil aja." Nania menyambar uang tersebut dari tangan suaminya, kemudian memutar tubuh.
"Hey, Malyshka!!"
"Apalagi sih, manggil-manggil terus? Aku kan mau sekolah?" Dia menoleh.
"Kamu belum memelukku, tahu? Mentang-mentang sudah kuberi bekal malah pergi begitu saja?" Pria itu berujar.
"Oh iya, lupa." Nania tergelak kemudian kembali dan memeluk Daryl yang balas memeluknya dengan erat kemudian mencium pelipisnya sekilas.
"Belajar yang tekun agar kamu pintar." katanya, lalu dia melepaskannya.
"Oke."
"Sana masuk!" ucap Daryl sebelum akhirnya dia pun kembali ke mobil dan segera pergi.
"Akhir pekanmu sepertinya menyenangkan? Dan dia memberikan apa yang kamu inginkan bukan?" Zayn seperti biasa, muncul tanpa di duga.
"Oh, iya dong." Nania berjalan masuk mendahuluinya.
"Kalau misal aku bisa memberi apa yang dia berikan, apa kamu mau pergi denganku?" ujar pemuda itu membuat Nania menghentikan langkahnya.
"Apa kamu bilang?" Kemudian dia berbalik.
"Aku bisa memberimu apa yang dia berikan. Maukah kamu pergi denganku?" Zayn mendekat kepadanya sehingga kini jarak mereka kurang dari setengah meter saja.
"Jangan sembarangan, aku ini istri orang." Nania menjawab.
"Ya benar. Dan aku anak pemilik yayasan ini." ucap Zayn.
"Terus?"
"Minta kepadaku apa saja, maka akan aku berikan. Tapi pergilah dan habiskan waktu denganku."
"Zayn kayaknya kamu nggak tahu deh siapa yang kamu sebut dia? Itu suami aku."
"Ya benar." Pemuda itu tertawa mengejek. "Siapa pun akan membuat pengakuan seperti itu agar orang-orang tidak menghakimimu dengan buruk."
"Astaga! Kamu nggak percaya aku udah nikah?"
"Nggak akan ada yang percaya dengan pengakuanmu."
Nania tertegun sebentar.
"Ayolah, pergi denganku. Kamu masih bisa kembali kepadanya nanti. Aku nggak akan mengikatmu dengan perjanjian apa pun."
"Kamu nggak kenal sebenarnya dia siapa ya?"
"Aku nggak kenal selain keluargaku, jadi siapa pun dia tidak penting bagiku."
Nania memutar bola matanya sambil menggelengkan kepala.
"Ayolah, kita pergi setelah ini?" ajak Zayn lagi.
"Aku udah nikah, Zayn." Nania menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Siapa pun bisa menggunakan cincin untuk menutupi sesuatu. Tapi kamu tidak bisa membodohiku."
Perempuan itu memejamkan matanya sejenak.
"Terserah kamu!" katanya, dan dia segera berlari masuk ke dalam kelasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Semuanya bisa diperhitungkan dari sekarang. Seberapa banyak bahan, apa saja yang diperlukan dan apa saja yang harus dilakukan." Arfan menyesap kopi hitamnya yang hampir dingin.
"Baik Om. Aku hanya sedang menunggu rumah seperti apa yang Nania inginkan. Dia baru mulai menggambar semalam."
"Dia mendesainnya sendiri?"
"Aku rasa ya, jadi santai saja lah."
"Baiklah tadinya Om punya ide soal itu. Tapi jika Nania sudah menentukannya sendiri, sepertinya kita hanya harus menunggu."
"Ya, begitu. Dia punya keinginan sendiri kalau soal rumah."
"Tidak apa, itu bagus. Artinya dia tahu apa yang diinginkan dan tahu bagaimana cara mewujudkannya. Kamu hanya perlu mendukungnya." Arfan berujar.
"Yeah, itu yang sedang aku lakukan. Walau terkadang rasanya ingin juga aku yang menentukan semuanya sendiri, sehingga dia tak harus repot berpikir atau menentukan apa pun. Tapi tidak bisa begitu kan?"
"Jangan coba-coba. Atau hidupmu dalam bahaya." Arfan tertawa. "Nania itu terbiasa mencari jalan hidupnya sendiri dan dia menentukan segalanya seorang diri. Jadi jika kita yang menentukan dia akan merasa dikekang."
"Aku pikir juga begitu. Bagaimana cara merubahnya ya?"
"Tidak ada yang bisa dirubah. Jangankan dia, kamupun tidak bisa merubah dirimu sendiri. Tapi yang ada adalah kompromi untuk segala perbedaan yang kalian miliki sehingga semuanya bisa berjalan beriringan. Selalu memaklumi dan mengerti sifat masing-masing sehingga kalian bisa saling menerima." jelas Arfan kepada adik iparnya tersebut.
"Ah, ilmuku baru sedikit kalau soal ini." Daryl terkekeh.
"Tidak ada ahli, tidak ada amatir dalam urusan rumah tangga. Karena ini adalah proses seumur hidup yang harus kamu jalani, dan selama itu kita akan menemukan hal-hal baru. Dan semua orang akan menemukan caranya untuk saling menyesuaikan diri." Perbincangan itu tiba-tiba saja berubah menjadi konsultasi pribadi antara dua orang pria dewasa.
Yang satu sudah berpengalaman dalam masalah rumah tangga, sementara yang satunya lagi baru memulai hidup barunya.
"True, Om."
"Apalagi jika usianya lebih muda darimu, maka kamu harus lebih banyak mengalah. Dan dengan sendirinya dia akan menurut kepadamu." lanjut sang kakak ipar.
__ADS_1
"Kak Dygta juga begitu ya Om?" Daryl tertawa lagi.
"Kakakmu? Jangan ditanya. Tapi dia cepat beradaptasi karena ada Ara."
"Hmm … mungkin lama-lama juga Nania akan begitu."
"Ya. Perempuan akan bisa dengan cepat menyesuaikan diri apalagi kalau sudah punya anak."
Daryl terdiam.
"Baiklah, nanti beritahu saja jika Nania sudah menyelesaikan gambarnya. Maka kita akan mulai menghitung bahan dan segala macamnya." Arfan pun beranjak dari tempatnya, seperti halnya Daryl yang berniat kembali ke tempat ia bekerja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada masalah?" Regan melihat lewat kaca spion di depannya. Mendapati perempuan itu yang sedang melamun, tidak seperti biasa.
"Nggak."
"Baiklah."
"Regan?"
"Ya?"
"Apa yang akan kamu lakukan kalau seseorang nggak percaya sama kita?"
"Maksudnya?" Pria itu kembali menatap spion.
"Kalau kita udah bilang sesuatu atau menjelaskan tentang diri kita, tapi orang tetep nggak percaya, apa yang akan kamu lakukan?" Nania memperjelas maksudnya.
"Acuhkan saja." jawab pria itu.
"Biarin aja maksudnya?"
"Ya."
"Nggak perlu jelasin apa-apa?"
"Tidak perlu."
"Sekalipun dia nuduh yang nggak-nggak?"Â
"Iya."
"Kalau dia terus berpikiran jelek sama kita?"
"Bukan urusan kita. Itu urusan dia dengan pikirannya sendiri."
Nania terdiam.
"Orang kalau tidak suka, sebagus apa pun perbuatan kita mereka tetap tidak suka. Sebaik apa pun kita menjelaskan tetap tak ada bedanya. Jadi lebih baik diam saja, tidak usah membuang energi untuk orang seperti itu. Yang penting kita tidak seperti yang dia sangka kan." Regan berujar.
"Ada gerai milk tea, mau mampir?" tawarnya ketika di depan dia melihat stand penjual minuman.
"Umm …."
"Tidak apa, Pak Daryl sudah memberi izin jika sewaktu-waktu kamu mau mampir untuk jajan." katanya lagi.
"Mau mampir tidak? Kalau mau saya akan berhenti." Pria itu memelankan laju mobilnya, lalu berhenti persis di depan gerai tersebut.
"Kamu mau?" tawar Nania sebelum turun.
"Tidak. Saya tidak suka produk berbahan Su*u."
"Kenapa?"
"Hanya tidak suka saja."
"Kenapa nggak suka produk berbahan su*u?"
"Tidak harus punya alasan untuk tidak suka terhadap sesuatu. Tidak pula semua hal harus ada alasannya kan?"
"Ke Fia's Secret dulu bisa?" tanya nya setelah dia masuk.
"Bisa." Dan Regan menuruti apa yang Nania katakan tanpa banyak bicara.
Mereka tiba di tempat itu setelah berkendara sekitar setengah jam. Bersamaan dengan Daryl yang juga baru sampai setelah bertemu dengan Arfan sebelumnya.
"Hey? Kenapa ke sini?" Pria itu sedikit terkejut menerima kedatangan istrinya.
"Mau aja. Kayaknya kalau mampir ke sini nggak akan ada yang marah?"Â
Daryl tertawa.
"Hai Kak Dinna?" sapanya kepada sekretaris dan beberapa pegawai yang berada di lobbi.
"Hai Nna?" Mereka menjawab sebelum pergi untuk meneruskan pekerjaan.
"Kamu dari mana?" Lalu Nania bertanya kepada suaminya.
"Bertemu Om Arfan yang kebetulan sedang di kedainya Ara."
"Oh … udah dari kedai?"
Daryl menganggukkan kepala.
"Udah makan siang dong?"
"Sudah. Aku tidak tahu kamu akan ke sini, jadi sekalian saja aku makan di kedai kan?"
"Hmm … iya juga sih. Aku juga cuma bawa ini." Nania menunjukkan dua cup yang dia tenteng di tangannya.
"Tidak apa-apa, ayo masuk?" Pria itu lantas menariknya ke dalam ruangannya.
"Kerjaan kamu hari ini banyak?" Nania menarik kursi ke sisi suaminya yang mulai menyalakan laptopnya.
"Tidak juga, biasa saja."
"Nggak ada pemotretan?" Nania menyesap minuman dingin yang dibawanya barusan.
"Ada di bawah."
"Kamu nggak ikut?"
"Untuk apa?"
"Biasanya ikut ke bawah. Karena ada aku ya?" Perempuan itu mengarahkan telunjuk pada wajah Daryl.
"Tidak juga, aku memang tidak harus selalu ikut terlibat kan? Lagi pula pemotretannya untuk iklan produk punya orang."
"Masa?'
"Ya, lagi pula mereka sudah tahu harus bagaimana kan? Jadi kenapa aku harus ikut terlibat?"
"Biasanya gitu kan?"
"Tidak semua, Malyshka."
"Oke oke, hehehe." Nania tertawa lagi.
"Pegang satu perusahaan kayak gini susah nggak sih beresin kerjaannya?" Dia mencondongkan tubuhnya untuk melihat layar laptop lebih jelas.
"Susah-susah gampang." Daryl menjawab.
Lalu Nania meraih beberapa dokumen yang berserakan di meja.
"Hey, jangan sentuh itu! Aku sedang mengerjakannya!" ucap Daryl yang menyingkirkan tangan istrinya.
__ADS_1
"Masa bos juga ngerjain yang beginian? Kan ada pegawai?"
"Kamu pikir pekerjaan bos itu hanya duduk ongkang-ongkang kaki saja?"
"Ya kan namanya juga bos, apa-apa tinggal nyuruh."
"Tidak juga, Nona! Kalau semua pekerjaan kamu serahkan kepada bawahanmu, maka kamu tidak akan tahu apa-apa. Hanya menunggu kehancuran usahamu saja."
"Aduh, kok bisa begitu?"
"Karena kamu tidak akan tahu bagaimana perkembangan usahamu, keadaan dan segala yang ada di dalamnya. Hanya memikirkan keuntungan? Aku yakin kamu tidak akan berhasil."
"Berarti punya perusahaan kayak gini tanggung jawabnya besar?" Nania bertanya lagi dan posisinya masih seperti itu. Dan kini bahkan lebih condong dari sebelumnya sehingga dia menghalangi Daryl.
"Ya, ini masih belum seberapa dari pada Kak Dim yang menangani Nikolai Grup." Daryl berusaha menyingkirkan perempuan itu.
"Hey, bergeserlah. Aku sedang bekerja di sini." katanya.
"Ya kerja aja." Nania kemudian bergeser.
Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada kepala kursi. Satu cup miliknya didekap seraya menyesap isinya. Sementara tangannya menggenggam ponsel yang menyala.
Tak ada percakapan untuk beberapa saat dan mereka hanya sibuk dengan dirinya masing-masing. Daryl dengan laptop dan pekerjaannya sementara Nania asyik dengan tontonannya di ponsel.
"Haih!!" Pria itu menjeda pekerjaannya.
"Kenapa?"
"Bisa tidak kecilkan volume hapemu? Konsentrasiku terganggu!" ucap Daryl.
Nania menurut. Namun suaranya menyesap minuman dengan sedotan masih terdengar.
"Haih!!" Daryl kembali menjeda kegiatannya.
Pria itu menoleh lalu menatapnya untuk beberapa saat.
"Kenapa?" Kini Nania yang berhenti.
Daryl tak menjawab namun dia kembali pada layar laptop. Hingga setelah beberapa saat pria itu menyelesaikan pekerjaannya satu persatu.
"Kamu nggak minum milk tea nya? Es nya keburu cair lho, nanti nggak enak." ucap Nania ketika Daryl berhenti sejenak.
Dia meraih cup yang masih baru kemudian menyesap isinya sedikit demi sedikit.
"Aku pulang ah, baru inget mau beresin box mainan." Nania hampir saja bangkit ketika Daryl menahannya.
"Diamlah, kamu sudah ke sini." Pria itu memutar kursinya sehingga kini mereka berhadapan.
"Orang cuma nganterin milk tea." Dan Nania hampir saja memekik ketika Daryl menarik kursi yang dia duduki ke hadapannya.Â
Lalu kedua kakinya dia julurkan di antara kedua kaki Nania, dan merenggangkannya sehingga perempuan itu hampir berpindah ke pangkuannya.
"Apa-apaan!!" Nania bereaksi.
"Ini jam-jamnya kebosanan melanda, dan kamu datang. Aku seperti dapat alasan untuk berhenti dulu." Pria itu mencondongkan tubuhnya, dan kedua tangannya terulur lalu menarik Nania.
"Dih, alesan. Bilang aja malas!" kekehan pelan keluar dari mulut perempuan berseragam putih-putih itu.
"No. It's because of you!" Dia berhasil menariknya ke pangkuan.
"Nyalahin." Nania kemudian tertawa.
Rasanya bedebar-debar namun ini cukup menyenangkan. Adrenalinnya terpacu saat dia sesekali melirik pintu yang tertutup rapat.
"Ini di kantor, Pak." Kedua tangannya bertumpu di dada pria itu ketika dia terus menariknya sehingga jarak diantara mereka terus berkurang.
"So?"
"Nanti ada yang masuk." Nania tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dia tak percaya akan mengalami hal ini dalam hidupnya.
"Siapa? Dinna? Dia tidak akan berani masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu."
"Masa?"
"Hmm …." Daryl menegakkan tubuh, lalu dia sedikit mrndongakkan wajahnya untuk meraih bibir perempuan itu.
Rasanya lembut dan kenyal seperti biasa, dan kini bahkan ada sedikit rasa manis ketika dia menyesapnya. Mungkin sisa dari minuman yang dikonsumsinya barusan.
Pria itu tersenyum dalam cumbuan dan dia memindai wajahnya yang bersemu merah.
"Bagaimana kalau mulai besok kamu mampir ke sini setiap pulang sekolah? Jadi kita tetap punya waktu bersama-sama." katanya saat dia menjeda cumbuan.
"Nanti ganggu kerjaan kamu?"
"Aku suka kalau kamu yang mengganggu."
"Kan aku harus beresin barang-barang di rumah bermain?"
"Masa tidak selesai dalam dua hari?"
"Itu kan banyak?"
"Ada yang bantu kan?"
"Hmm … masa lagi kerja ditungguin istri?"
"Tidak apa-apa. Bukankah kamu mau belajar bahasa Rusia?"
"Masa ngajarinnya sambil kerja?"
"Bisa saja, aku selesai bekerja dan nanti kamu sudah pandai bahasa Rusia."
"Jangan-jangan ada modusnya juga?"
"Mungkin sedikit."
Mereka berdua tertawa. Kemudian cumbuan itu berlanjut sampai beberapa lama. Saking tenangnya suasana kantor membuat keduanya cepat terhanyut dan terbawa suasana.
Nania membiarkannya menyentuh seluruh tubuhnya yang berbalut pakaian hitam putih, dan roknya bahkan sudah tersingkap memamerkan setengah dari paha mulusnya yang bisa dengan mudahnya Daryl jangkau dalam posisinya yang mengangkang seperti itu.
Pria itu terdiam ketika tangan nakalnya terus menelusup ke dalam dan menemukan Nania yang hanya mengenakan cel*na d*lam tanpa pembalut seperti hari-hari sebelumnya.
Pipinya tampak merona dan sebuah senyum terbit di sudut bibirnya. Lalu Nania memejamkan mata sambil menggigit bibirnya kuat-kuat ketika jari-jari pria itu terus merayap ke dalam.
Daryl pun baru saja akan melanjutkan cumbuan ketika suara ketukan terdengar dari balik pintu.
"Maaf Pak? Ehm …." Dinna terdengar berdeham di luar.
"Ya?" Daryl menjawab tanpa melepaskan Nania.
"Ada orang dari pabrik parfum ingin bertemu." Perempuan itu setengah berteriak.
Sementara dua orang di dalam saling pandang.
"Orangnya sudah ada di bawah, Pak." ucap Dinna lagi dan hal itu membuat Nania turun dari pangkuan Daryl seraya membenahi pakaiannya yang berantakan.
"Umm … baik, suruh naik saja." Pria itu bangkit lalu bergegas ke kamar mandi sementara Nania segera berpamitan.
"Aku pulang ya? Mau beresin box mainan." katanya yang bergegas keluar.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
No caption ahh 🙈🙈
Like komen sama hadiahnya aja kirim terus. Alopyu sekebon😘😘