
π
π
"Aku kan cuma beli milk tea sama kaktus." Nania duduk di sofa.
"I know." Sementara Daryl bersedekap.
"Terus kenapa kamu marah-marah?" Nania dengan takut-takut.
"Siapa yang marah? Aku hanya bicara, dan cara bicaraku seperti ini. Berapa lama kamu hidup denganku? Masa tidak hafal juga sih?" Daryl menjelaskan.
"Teriakanmu yang bikin aku ngira kalau kamu lagi marah-marah. Bicaranya biasa aja sih, kenapa?" protes Nania.
"Sudah aku bilang ini hanya kebiasaan."
"Iya, kebiasaan marah-marah." Perempuan itu melepaskan sepatu dan kaos kakinya, juga meletakkan tas sekolahnya di sisi sofa, kemudian dia merebahkan tubuhnya.
"Hari ini aku lemes, datang bulannya banyaaaaak banget, sampai-sampai aku ganti pembalutnya dua kali tadi. Mana perut aku rasanya kayak di peres-peres lagi, mules, agak nyeri juga. Padahal biasanya nggak begini." Dia memeluk perutnya sendiri.
"Makanya cepat pulang, tidak usah mampir-mampir dulu. Di rumah kamu bisa istirahat, minta makanan atau minuman apa pun. Tidak seperti ini kan?" Daryl menghampiri lalu duduk di pinggiran sofa.
Dia menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Nania lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Tadi rasanya haus, makanya pas lihat tukang milk tea aku mampir."
"Sudah aku bilang dirumah juga ada."
"Tapi aku maunya beli."
"Kamu pikir yang di rumah hasil minta-minta begitu? Kan sama juga dibeli. Memang yang ada di sini rasanya tidak enak?"
"Enak."
"Terus kenapa tetap mampir-mampir dengan alasan itu?"
"Ya mau aja. Terus kalau misal kita lagi jalan-jalan jauh dan aku mau milk tea masa kita harus pulang dulu gitu?" Nania membalikan pertanyaan.
"Ya itu beda lagi ceritanya, Malyshka!"
"Ya itu juga kan? Kalau nunggu sampai rumah keburu kehausan! Kamu nggak ngerti!" Nania mulai merengek.
"Heh, kenapa sih seperti ini? Aku kan cuma bicara?" Daryl mengusap-usap punggungnya.
"Sama aja, aku juga cuma beli milk tea!"
Pria itu memutar bola matanya.
"Ya sudah, ini." Dia meraih cup yang tadi Nania letakkan di meja yang kemudian dia serahkan kepadanya.
"Ah, udah nggak enak. Gara-gara kamu! Es nya keburu cair jadinya encer!" Nania mengembalikan minuman tersebut kepada suaminya.
"Ya kan itu sudah agak lama."
"Iya, kalau kamu nggak ngomel-ngomel aku nggak akan kelupaan minumnya!"
"Hmmm β¦." Pria itu mengguman sambil mengerucutkan mulutnya. "Aku suruh Mima membuatkannya untukmu, mau?"
__ADS_1
"Nggak mau."
"Atau aku suruh Regan membelinya lagi?"
"Nggak usah, aku udah nggak mood." Nania memutar posisi sehingga wajahnya tersuruk di sudut sofa.
"Malyshka, dengar!" Daryl kembali merangkulnya.
"Kamu ini sudah menikah, dan memang sudah sepantasnya tujuanmu setelah sekolah adalah rumah. Bukannya aku ingin mengekangmu tapi begitulah seharusnya. Kalau mau pergi tunggulah aku. Kita akan pergi kemanapun kamu mau."
Nania terdiam.
"Semua ada waktunya. Dan sekarang sekolah adalah prioritasmu, lagi pula kan tidak full seminggu? Apa susahnya menahan diri sedikit? Nanti di akhir pekan, atau ketika kamu tidak sekolah mintalah kepadaku, maka aku akan mengantarmu ke mana saja yang kamu mau. Sekarang, fokuslah pada sekolahmu dulu."
Perempuan itu tak merespon.
"Malyshka!" Daryl menundukkan tubuhnya agar dia bisa melihat wajah istrinya lebih jelas.
"Kalau begini mana bisa aku memberimu kepercayaan lebih? Setelah ini pasti akan ada alasan-alasan lain lagi untuk pulang terlambat atau pergi ke suatu tempat. Dan akhirnya kamu tidak akan menghargai waktu dan kepercayaanku. Itulah sebabnya kemarin aku memilihkan sekolah online untukmu."
Nania berpikir.
"Perempuan selalu mengira bahwa aturan yang laki-laki terapkan adalah bentuk pengekangan. Tapi lihat? Sedikit kebebasan saja bahkan bisa membuat kalian membangkang, bukan? Baru diberi kepercayaan sekolah kamu sudah begini, apalagi jika aku membiarkanmu bebas seperti orang lain? Entah akan jadi apa nanti." Pria itu bangkit.
"Kamu ini istri Daryl Stanislav, memang ada hal-hal yang tak bisa sembarangan kamu lakukan seperti orang lain. Tapi denganku kamu bisa melakukan apa saja. Itupun kalau kamu menurut."
Nania masih terdiam.Β
Lalu ketukan di pintu menginterupsi percakapan mereka.
"Ya?"
"Letakkan saja di sini." Daryl menunjuk meja, dan Mima segera masuk dan meletakkan nampan berisi makan siang untuk majikannya tersebut.
"Nanti, setelah ini tolong buatkan ramuan rempah-rempah ya, Mima? Nania sedang datang bulan. Mungkin kamu tahu apa yang harus dia minum agar merasa lebih baik? Perutnya sakit dan seperti diperas katanya." ujar pria itu.
"Oh, hari pertama?" Mima bertanya kepada Nania.
"Ya, datang bulannya dari semalam, tapi katanya hari ini banyak." Namun Daryl yang menjawab.
"Baik, Pak. Nanti saya buatkan sesuatu. Hari pertama memang suka seperti itu."
"Terima kasih, Mima."
"Ya Pak. Saya kembali kebawah?"
"Ya, silahkan."
Kemudian perempuan itu keluar dari ruangan tersebut.
"Ayo makan?" Daryl kembali duduk di pinggiran sofa di mana Nania berbaring membelakanginya.
"Malyshka!"
"Aku nggak lapar."
"Tetap harus makan. Tubuhmu sedang tidak stabil kan? Setidaknya itu yang tahu dari buku yang kubaca." Daryl meraih piring berisi nasi dan beberapa macam lauknya.
__ADS_1
Namun Nania masih terdiam tanpa respon.
"Kamu marah?" Pria itu kembali menunduk untuk memeriksa, kemudian dia menghela napas ketika Nania tetap tak memberikan respon sebagai bentuk protesnya hari itu.
"Baiklah, terserah padamu." Lalu dia meletakkan kembali piring di atas nampan kemudian bangkit sambil membenahi pakaiannya.
"Aku pasti pulang malam, tidak usah menungguku kalau begitu." katanya, kemudian dia keluar tanpa menunggu jawaban.
"Der, ada apa?" Terdengar suara Sofia sebelum pri itu menutup pintu.
Nania bangkit kemudian mengendap dan kembali membuka pintu, lalu dia mengintip. Tampak suaminya yang turun bersama dengan Sofia.
"Tidak bisa seperti itu, Der. Nania kan butuh keluar juga." Ibu mertuanya kembali berbicara.
"Ada waktunya untuk keluar. Apalagi sekarang dia sedang sekolah. Dan sebagai wanita bersuami dia hanya bisa pergi denganku." Daryl menjawab.
"Nania kan hanya mampir sebentar untuk membeli minuman, apa salahnya? Lagi pula dia dengan Regan, bukan? Jangan apa-apa selalu dipermasalahkan lah."
"Regan hanya pesuruh, dia akan menurut saja jika diminta melakukan sesuatu, tidak akan mungkin bisa menolak perintah."
"Jangan keterlauan begitu. Ini zaman modern, bukannya zaman di mana perempuan bisa dikekang!"
"Aku tidak sedang mengekangnya, aku hanya sedang menunjukkan bagaimana seharusnya dia dengan statusnya yang sekarang. Kalau kami belum menikah bisa saja aku membiarkannya berbuat sesuka hati. Tapi sekarang aku punya kewajiban untuk melindunginya. Mama tidak tahu apa yang bisa terjadi diluar sana." Daryl menjawab pernyataan ibunya.
"Kan ada Regan!"
"Sudah aku katakan dia tidak akan bisa menolak beberapa hal. Contohnya hari ini."
"Tapi Nania bukan tawananmu, dia itu istrimu!" ucap Sofia lagi.
"Memangnya siapa yang bilang begitu?"
"Setidaknya jangan memperlakukannya seolah dia tawananmu. Menyuruhnya melakukan hal yang tidak pantas, berteriak dan membentak, lalu apa lagi? Kamu perlakukan seolah-olah dia adalah budakmu?"
Daryl menjengit.
"Apa yang Mama katakan?"
"Mama hanya β¦."
"Sudah terlalu sore, Mom. Maaf aku harus pergi." Daryl melihat jam tangannya.
Sofia tak bisa menyaggah lagi, karena ini tidak akan selesai dengan mudah.
"Nanti kita bicara lagi, oke?" Dan putranya itu hampir saja keluar.
"Tapi kamu belum makan, karena menunggu Nania kan?" Sofia mengekorinya.
"Tanggung, Mom. Sudah terlalu sore. Mungkin nanti saja." Dan pria itu buru-buru menuju mobilnya yang sudah siap sejak tadi, kemudian pergi seperti yang sudah dia katakan.
Sementara Nania terdiam setelah mendengarkan perdebatan tersebut di ujung tangga paling atas.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ...
Like komen hadiahnya selalu aku tunggu ya gaessππ