The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Models #2


__ADS_3

💖


💖


"Oh, kamu seksi sekali!" Kirana mengagumi Rania yang mengenakan gaun yang cukup terbuka tanpa lengan dan punggung yang terekspos. Hanya tali kecil yang menjadi penahan kain di bagian depannya sehingga dadanya masih tertutup.


Syuting iklan parfum akan segera dimulai dengan model anggota keluarga pemilik usaha itu sendiri. Dengan mengenakan pakaian rancangan Nania dan seluruh aksesori maupun bahan pendukung berasal dari produk yang sama-sama akan diluncurkan.


"Kamu juga cantik." Sama halnya dengan Rania yang memuji Kirana yang berpenampilan elegan.


Kain dengan warna maroon namun model berbeda itu memang sangat pas di tubuh perempuan yang usia kandungannya hampir enam bulan tersebut.


Rambut mereka sama-sama digerai dengan tatanan indah. Rania dengan gaya lurus sementara rambut Kirana dibuat sedikit bergelombang.


"Nania belum selesai?" Kirana bertanya.


"Nggak tahu." Rania menjawab.


Dan disaat yang bersamaan perhatian keduanya teralihkan ketika ipar paling muda di antara mereka itu keluar dari ruang gantinya.


Nania sedikit malu-malu karena dia mengenakan gaun off shoulder. Belum lagi rambutnya yang diikat tergulung di belakang sehingga membuat seluruh wajahnya terekspos.


Dua perempuan yang usianya lebih tua itu sejenak tak bisa berkata apa-apa selain menatapnya lekat-lekat.


"Aku kayaknya bikin gambar bajunya berlebihan deh. Lihat, masa aku dapat yang ini?" Nania menutupi bagian pundaknya.


"Apaan sih? Memang kamu cocoknya yang ini. Masa mau pakai punya aku?" Rania mendekat kemudian berputar memperlihatkan punggungnya yang terbuka.


"Bisa gila suami kamu kalau pakai yang ini." Dia tertawa.


"Dan tidak mungkin juga memakai punyaku karena ukurannya yang sangat besar untukmu." Kirana mengusap perutnya yang terlihat sedikit menonjol.


"Kamu udah bagus pakai ini!" ucap Rania lagi.


"Tapi … aku nggak pede, Kak." Perempuan itu masih menutupi Dada bagian atasnya.


"Harus pede. Kamu cantik, masih muda dan sangat berbakat." Rania menarik kedua tangan Nania sehingga kini penampilannya lebih terlihat.


"Tapi …."


"Lihat? Aku merasa luar biasa pakai baju ini. Kayak jadi perempuan beneran, gitu." Lalu Rania berputar-putar lagi di depannya sambil tersenyum puas.


"Kakak kan emang perempuan? Ada-ada aja deh?" Nania hampir tertawa.


"Lihat juga Kirana. Selain karena emang udah cantik dari sananya, penampilannya sebagai ibu hamil jadi lebih mempesona karena pakai baju ini." Lalu Rania beralih kepada iparnya yang satu lagi.


"Ya, benar." Kirana pun menyahut.


"Umm … kalian kayaknya terlalu menyanjung aku deh. Hahaha …." Nania seakan masih tidak percaya diri.


"Serius."


Namun ada perasaan senang juga ketika melihat dua perempuan itu tampak puas dengan apa yang sudah dia buat.


Lalu terdengar keriuhan dari arah lain ketika staff menggiring ketiga pria, yang tiada lain adalah Dimitri, Daryl dan Darren. Tiga pangeran Nikolai yang juga akan menjadi model dari parfum yang akan mereka luncurkan.


Mereka mengenakan setelan jas yang juga berwarna maroon, berlapis kemeja hitam di dalamnya dan kaus bagi Daryl. Lengkap dengan aksesoris tambahannya.


"Duh?" Rania tentu saja menjadi yang paling depan dalam berekspresi ketika melihat suami dan kedua iparnya dalam penampilan seperti itu.


Rambut yang tertata, stelan jas rapi dan segala yang ada pada diri mereka tentu saja sempurna.


"Ayo … kalian jangan sampai tertukar suami ya? Kalau aku sih beda sendiri." Rania segera menghambur menghampiri suaminya.


"Papi, apa aku cantik? Emang sih punggungnya agak terbuka, tapi aku suka. Bagus kan?" Dia segera berbicara kepada suaminya dan menunjukkan pakaian yang dikenakannya.


"Umm … ya, tentu saja kamu cantik. Dan untungnya aku sudah tahu bagaimana gaun yang akan kamu kenakan, kalau tidak aku pasti sudah kena serangan jantung. Hehe …." jawab Dimitri yang menyentuh punggung terbuka perempuan itu dengan tangannya.


Agak ngeri juga melihat penampilannya yang ini tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur dia setujui kan?

__ADS_1


Lalu Kirana menghampiri Darren yang penampilannya memang benar-benar rapi. Sangat khas dengan kepribadiannya yang tak pernah mengenakan macam-macam, lain dengan Daryl yang sedikit mengacak rambutnya sendiri sehingga tampak sedikit berantakan. Belum lagi dia yang mengenakan kaos panjang dengan model turtle neck sehingga siapa pun bisa membedakannya.


Darren hanya tersenyum, dan dia pun segera menyambut istrinya.


"You are so beautifull." ucapnya kemudian membawanya ke sisi lain.


"Ck! Kalau saja aku tidak tahu pakaiannya akan seperti ini, pasti sekarang aku susah  shock!!" Daryl menggerakkan tangannya ke atas dan kebawah sesuai dengan keberadaan perempuan di depannya.


"Tapi kamu memang cantik." katanya, yang kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.


Dia lantas mengulurkan tangannya yang segera Nania sambut dengan perasaan lega. Karena baginya, ucapan Daryl adalah segalanya.


Lalu shooting pun segera dimulai. Pasangan itu bergiliran melakukan adegan yang sudah tertulis di script dan telah mereka baca dan hafalkan di hari sebelumnya.


Rania dan Dimitri tampak terbiasa. Mereka saling mengarahkan dan sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin karena usia pernikahan yang sudah cukup lama dari pada kedua adiknya, membuat pasangan yang satu itu tak mengalami kendala berarti.


Begitu pun dengan Darren dan Kirana yang meski sempat mengalami kegagalan, namun secara keseluruhan mereka mampu melakukannya dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Namun lain halnya dengan Daryl dan Nania yang memulai kegiatan pengambilan gambarnya dengan rasa gugup yang luar biasa. 


Hal itu tentu saja dialami oleh Nania yang harus beberapa kali ditenangkan ketika dia tiba-tiba saja mendapatkan serangan panik. 


Tubuhnya gemetaran dan tangannya mulai berkeringat. Belum lagi dia tiba-tiba lupa dengan apa yang harus dilakukan sehingga Daryl berkali-kali harus mengingatkannya.


"Maaf." Perempuan itu hampir menangis ketika di pengambilan ke empat mereka masih gagal.


Sedangkan kedua iparnya sudah berganti pakaian setelah menyelesaikan pemotretan.


"It's okay, it's okay. Tenangkan dulu dirimu." Kali ini Daryl tak bisa lagi membiarkannya. Dan dia segera merangkulnya untuk membuat perempuan itu tenang dan membuatnya nyaman dengan sekitar.


"Kita pernah menghadapi lebih banyak orang saat resepsi, tapi kamu bisa?" Daryl menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan, sementara seorang staf membenahi penampilannya agar tetap seperti itu.


"Kamu bahkan bekerja di kedainya Ara dan setiap hari bertemu dengan orang baru." lanjut pria itu.


"Lalu apa bedanya dengan ini? Mereka hanya crew dan sutradaranya, atau fotografer dan asistennya. Jadi tidak ada apa-apanya."


"Tenanglah, dan anggap ini kegiatan biasa sehingga kita tidak akan mengalami kesulitan." katanya lagi ketika perempuan itu mendongak.


"Aku rasa kamu lebih pandai dari ini. Kamu bisa." Pria itu terus meyakinkannya.


"Ready?" tanya nya setelah beberapa saat berbicara.


"Iya." Nania pun menjawab.


"Are you sure?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Oke, kalau begitu apa kita bisa mulai lagi shooting nya?"


"Bisa."


"Baik." Daryl menoleh kepada sutradara dan crew nya yang mau tidak mau harus menunggu dengan sabar, dan setelah beristirahat lalu mereka pun bersiap.


"Mereka siap, dan kamu bisa mengatakan kalau kamu juga siap."


Nania mengangguk lagi.


"Apa kamu siap?"


"Siap."


"Oke."


"3, 2, 1 and action!" Sang sutradara memberikan isyarat, kemudian Daryl mengerahkan kemampuan aktingnya yang lumayan sehingga dia bisa menyelesaikan bagiannya. Kemudian diikuti oleh Nania yang benar-benar berusaha keras untuk melakukan bagiannya. Sehingga yang terakhir ini berhasil dan mereka mendapatkan hasil yang sempurna.


"Cut? And it's a wrap!!" ucap sutradara yang diikuti tepukan tangan dari crew dengan wajah puas.


Setelah berjam-jam melakukan pengambilan gambar sesuai skenario, akhirnya mereka selesai juga.

__ADS_1


"Baik, energimu masih ada kan? Karena kita perlu mengambil beberapa foto di sini." Lalu Daryl menggiringnya ke set lain di mana fotografer sudah menunggu.


Setelah mengambil jeda untuk istirahat lagi dan berganti pakaian juga tuoch up make up sebelumnya, mereka kemudian meneruskan pekerjaan pada hari itu.


Biasanya proses shooting atau pengambilan foto akan dilakukan selama berhari-hari, lain halnya dengan model parfum ini. Semuanya harus selesai dalam satu hari meski dimulai sejak pagi buta hingga malam menjelang.


"Bisa lebih dekat lagi?" pinta fotografer kepada Daryl dan Nania yang fotonya terakhir diambil.


"Begini?" Pria itu meraup pinggang Nania dan menarik perempuan itu sehingga mereka saling menempel.


"That's nice." Foto segera diambil begitu pun adegan lainnya.


Daryl tampak menikmati kemesraan di depan kamera dan dia terlihat normal saja untuk memeluk dan hampir mencium Nania.


Dia mendekatkan wajahnya, merangkul pundak atau apa pun yang fotografer katakan refleks saja dia lakukan. Sementara Nania hanya mengikuti saja setiap kali pria itu melakukan perannya.


"Dan … selesai." Asisten fotografer memberikan tanda jika yang mereka lakukan hari itu sudah cukup.


"Benarkah? Padahal aku masih ingin melakukanya. Sepertinya ini mulai terasa mudah?" ujar Daryl yang masih mendekap Nania dalam pelukan.


"Udahan, Pak. Malah keterusan?" Namun perempuan itu mendorongnya agar menjauh.


"Hey! Yang barusan itu bagus. Seharusnya diambil juga kan?" Daryl mengikuti Nania yang keluar dari set.


"Udah selesai."


"Yah, padahal aku masih senang dengan ini." Pria itu menjawab, sementara Nania memutar bola matanya.


"See? Semudah itu kan untuk melakukannya? Buktinya hari ini selesai juga kan? Jadi apa yang membuatmu takut?"


Nania tak banyak bicara.


"Jadi jangan takut, semuanya baik-baik saja kan? Dan kamu bisa melakukannya. Nah, setelah ini seharusnya kamu mulai terbiasa."


"Hmm …." Perempuan itu menggumam.


"Isn't it feels good?"


Lalu Nania mengangguk.


"Dan sepertinya kita akan melakukannya lagi suatu hari nanti?"


"Nggak mungkin. Ini aja susahnya minta ampun." tolak Nania yang melenggang ke arah ruang ganti.


"No, i think it's easy."


"Ya, easy untuk kamu tapi susah untuk aku." Nania tertegun di ruangan itu.


"Kak Rania sama Kak Kirana ke mana?" Dia menatap sekeliling namun tidak menemukan dua istri iparnya.


"Sudah aku suruh pulang duluan, soalnya sudah malam. Lagipula bagian mereka memang sudah selesai kan? Apapagi Kirana sedang hamil." Daryl memperlihatkan jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.


"Astaga! Dari pagi kita selesai jam segini?"


"Memang."


"Ah, bateraiku benar-benar habis, Daddy!!" Kemudian Nania menjatuhkan dirinya di sofa, semetara Daryl menghampirinya sambil tertawa.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Oke gaess, kayaknya cerita ini bakalan lebih panjang dari sebelumnya deh, jadi stay tuned ya?


Alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2