
💖
💖
"Bapak sakit gigi?" Dinna memberanikan diri untuk bertanya.Â
Pasalnya, sejak pagi atasannya itu sering memegangi pipinya setiap kali dia perhatikan. Atau terkadang dia menelungkupkan wajah di atas meja.
"Tidak! Mana ada keturunan Nikolai sakit gigi? Sembarangan saja kamu?" jawab Daryl dengan kedua alisnya yang sedikit berjengit.
"Saya kira sakit gigi, orang dari pagi Bapak megangin pipi terus?" Perempuan itu berujar.
"Sudah aku katakan, tidak ada ceritanya keturunan Nikolai sakit gigi. Kalau orang lain enam bulan sekali ke dokter gigi, maka aku setiap bulan merawat gigi di dokter. Jadi apa pun yang kamu alami tidak mungkin akan aku alami." Pria itu dengan sombongnya.
Dih, Nikolai yang satu ini songongnya minta ampun!! Batin Dinna.
"Begitu ya Pak?"
"Tentu saja."
"Oh iya Pak, kemarin malam Mbak Bella mengirim email ke saya yang isinya surat pengunduran diri dan pemutusan kontrak dengan Fia's Secret." Dinna menyerahkan selembar dokumen di dalam map.
"Benarkah?" Daryl lantas menerimanya.
"Iya, alasannya sudah merasa tidak cocok. Padahal di kontrak jelas-jelas dia masih punya sisa pekerjaan selama satu tahun lagi. Bukankah ini menyalahi aturan?"
"Hmm …." Daryl seolah berpikir.
"Kita bisa mengajukan tuntutan lho Pak, karena Mbak Bella menyalahi aturan. Apalagi dia tidak mengembalikan sisa honornya untuk satu tahun yang akan datang sementara kewajibannya dia tinggalkan? Ditambah dia juga tidak bisa dihubungi."
Pria itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Bapak mau saya menghubungi pengacara kita?" tawar Dinna kemudian.
"Tidak usah, anggap saja itu pesangon." jawab Daryl.
"Pesangon?"
"Ya."
"Ada model dapat pesangon?"
"Yeah, sedikit pengecualian."
"Bapak nggak akan ambil tindakan? Ini perbuatan tidak menyenangkan lho Pak? Masuk wanprestasi."
"Sudah, tidak usah diperpanjang. Aku malas berurusan dengan dia."Â
Lalu pria itu menatap jam tangannya.
"Pesankan aku makanan lah." katanya kemudian.
"Pesan makanan?" Dinna membeo.
"Iya, pesan makanan. Sudah siang begini."
"Memangnya Nania tidak antar makanan lagi?"
"Untuk hari ini aku larang, kasihan dia masih sakit."
"Duh? Memangnya Nania sakit apa Pak? Sudah beberapa hari ini tidak antar makan siang ke sini?"
"Kamu kepo." Daryl menjawab seraya menyalakan ponselnya.
"Cepat Dinna!! Pesan fastfood saja biar cepat!"
"Iya Pak, iya." Perempuan itu pun melakukan apa yang atasannya katakan.
"Yeah, hai. Sepertinya aku nggak kesana." Daryl berbicara setelah panggilan tersambung.
"Ada apa?"
"Nggak, hanya harus menyelesaikan pekerjaan hari ini agar bisa pulang lebih awal."
"Oh, memang ada acara?"
"No, just … family thing. Kamu tau, nanti malam Kirana dan keluarganya datang berkunjung."
"Begitu ya?"
"Yeah, dan seluruh keluarga harus hadir."
"Hmm … baik."
"Nanti sore sepulangnya dari sini aku ke sana ya?"
"Oke."
"Oke, kalau begitu … aku tutup dulu."
"Iya."
"Malyshka?"
"Hum?"
__ADS_1
"Kamu sedang bekerja?"
"Iya."
"Baiklah."
Dan sambungan hampir disudahi ketika Daryl kembali memanggil.
"Malyshka?"
"Apa Pak?"
"Nggak, hanya mau dengar suara kamu." Pria itu tergelak.
"Ish!!" Lalu percakapan benar-benar berakhir namun dia masih tertawa sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar pada kontak Nania.
Di mana foto wajah gadis itu terpampang jelas dalam keadaan yang cukup menggemaskan. Dia menggunakan kerudung pada hoodienya dengan bibir yang sedikit dikerucutkan.
"Hah, … kenapa gadis remaja seperti dia bisa membuatmu menjadi seperti bocah ingusan? Daryl, Daryl!!" Pria itu bergumam sambil menggelengkan kepala.Â
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi beneran kamu sama Kak Daryl ada hubungan?" Amara meyakinkan kabar yang sudah didengarnya.
Nania menghela napas sebentar kemudian menganggukkan kepala. Tak ada lagi yang bisa disembunyikan setelah apa yang terjadi beberapa hari ini dan dia tidak mungkin terus menghindar.
"Oh, … ya udah kalau beneran?" Amara menyandarkan punggungnya pada kepala kursi.
"Tapi aku agak nyesel udah terima perasaannya Pak Daryl." Nania berucap.
"Nyesel kenapa?"
"Aku merasa nggak tahu diri. Aku siapa, Pak Daryl siapa?"
"Perbedaan status?"
Nania menganggukkan kepala.
"Setahu aku di dunianya Kak Daryl nggak ada hal semacam itu. Emangnya kamu nggak lihat sikapnya Mama Fia gimana?"
"Justru itu."
"Kenapa?"
"Sikapnya Bu Fia sama Pak Satria agak aneh menurut aku."
"Aneh?"
"Mereka terlalu baik untuk ukuran orang asing. Aku jadi semakin merasa malu."
"Nggak Kak."
"Keluarganya Papi memang begitu. Dan beruntungnya karena hal kayak gitu nular juga ke anak-anaknya. Jadi nggak ada masalah lah soal itu. Ya biarpun kadang Kak Daryl suka nyebelin. Tapi dia baik kok."
Namun Nania terkekeh.
"Kok ini rasanya jadi terlalu serius ya? Padahal pacaran belum dua minggu? Tapi aku kayak mau masuk ke lingkaran apa gitu?"
"Hahahaha. Selamat datang. Kamu berhubungan dengan salah satu dari anggota keluarga Nikolai, maka yang lainnya akan mendekat. Siap-siap aja hubungan kalian bakal direcokin kalau semuanya udah tahu. Apalagi kalau udah -terangan."
"Aaaa … Kakak bikin aku takut!!" Nania menelungkupkan wajahnya pada tangan yang bertumpu di meja.
"Tenang, maksud aku dalam artian yang bagus lho, bukang ngerecokin dalam hal jelek." lanjut Amara.
"Tetep aja, nantinya jadi aneh."
"Aneh apanya?" Sang pemilik kedai itu tertawa.
"Ya aneh aja. Anak pemilik Nikolai Grup pacaran sama pelayan kedai. Apa nggak jomplang itu?"
Amara terdiam sebentar. Dia pun berpikir hal yang sama, tapi dari sudut pandang yang berbeda.
"Nggak ah, biasa aja."
"Haaaa … itu karena Kakak kenal aku. Kalau yang nggak kenal gimana?"
"Kenapa udah mikirin orang yang nggak kenal?"
"Aku mikirnya gitu. Gimana kalau …."
"Overthinking! Nggak penting."
Nania masih dalam posisi seperti itu.
"Udah, jangan dulu mikirin yang macem-macem. Bukankah kalian baru jadian? Harusnya kan lagi sayang-sayangnya? Kayak tadi pagi?" ucap Amara.
"Hum? Apaan?" Nania mengangkat kepala.
"Itu … sun sunan sebelum berangkat kerja?" Perempuan itu tertawa.
"Kakak lihat?"
"Ya lihat lah, orang jelas gitu dari sini. Hahahaha."
"Aaaaa … kenapa Kakak lihat?" Nania kembali menelungkupkan wajahnya. Kali ini dengan penuh rasa malu.
__ADS_1
"Udah, udah. Nanti bisa diulangi di tempat yang nggak kelihatan." Amara menepuk punggung Nania.
"Selain Kakak, siapa lagi yang lihat?"
"Kak Galang lihat."
"Oh ya?"
"Ya. Dan yang lainnya juga." Amara tertawa lagi. Dan hal tersebut membuat Gadis itu tambah merasa malu.
"Udah, Nna. Sekarang waktunya kerja. Tuh, pengunjung udah banyak." Percakapan itu pun berakhir seiring Amara yang pindah ke meja kasir.
***
"Hey, how are you?" Pria itu tiba-tiba saja muncul di depan pantry saat Nania sedang meracik minuman yang dipesan pengunjung.
"Astaga!!!" Yang tentu saja membuat gadis itu terkejut karena dia sedikit melamun.
"Hey, bekerjanya jangan sambil melamun!" Dan pria itu bereaksi.
"Udah di sini aja?" Nania bergumam sambil melirik jam yang menunjukkan pukul empat sore.
"Kan sudah aku bilang mau pulang lebih awal?" Daryl dengan cengiran khasnya.
"Ya terus, kenapa ke sini?"
"Sengaja, hanya mau melihatmu?"
Nania mencebik.
"Sekalian aku bawakan ini juga." Pria itu meletakkan dua buah papper bag berukuran besar di meja pantry.
"Apaan?" Nania meraihnya.
"Baju dan sepatu."
"Baju sama sepatu?" Nania mengulang ucapannya.
"Ya, untukmu."
Gadis itu mengerutkan dahi.
"Mama menyuruhku membawamu ke rumah lagi sore ini." Daryl berujar.
"Untuk apa?"
"Bukankah sudah aku bilang kalau rumah kami akan kedatangan keluarga Kirana malam ini?"
"Ya"
"Dan semua anggota keluarga harus hadir."
"Terus?" Dahi Nania semakin berjengit.
"And she want you to come join us."
Nania tertegun.
"Aku sudah mengatakannya kepada Ara, dan dia mengizinkan." Lalu Daryl menoleh ke arah meja kasir di mana Amara tersenyum sambil mengangkat jempolnya ke atas.
"Apakah sudah aku katakan jika sekali saja kamu masuk ke lingkungan keluargaku, maka semua yang berhubungan dengan kami akan berkaitan juga denganmu?"
Nania masih terdiam.
"So … lets go." Pria itu menyentakkan kepalanya.
"Bu Fia sudah tahu hubungan kita?" Nania lantas bertanya.
"Aku yakin sudah, makanya Mama menyuruhku membawamu lagi. Dan tidak akan ada yang luput dari pengawasan orang tuaku."
Nania menghela napasnya pelan-pelan.
"So, what are you waiting for? Come!"
"Tapi kan saya lagi kerja." Nania beralasan untuk menolak.
"Aku sudah meminta izin kepada Ara. Lagi pula dia juga akan hadir di sana."
Dan gadis itu melirik kepada Amara yang bersiap pergi bersama Galang.
"Ayo, hanya sebentar. Ganti bajunya di rumah saja."
"Umm …."
"Naniaaaa!!"
"Eee … iya Pak, iya." Dan Nania pun menyelesaikan pesanan sore itu sebelum akhirnya mengikuti apa yang Daryl katakan.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Ayooo mau lagi nggak? Kencengin like komen sama hadiahnya, nanti aku up lagi😜