The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Permintaan Izin


__ADS_3

💖


💖


Regan membeku di tempatnya berdiri. Saat ini dia merasa seperti sedang menjadi pesakitan di depan hakim. Semua mata tertuju ke arahnya yang baru saja memintakan izin untuk Anandita, putri dari Arfan Sanjaya yang merupakan menantu pertama di keluarga Nikolai.


"Semua anak ikut?" Arfan lantas bertanya.


"Ikut Pak." Dan Regan menjawab.


"Pengajar?" Pandangan Arfan seperti sedang mengulitinya habis-habisan padahal pria itu berdiri dua meter darinya.


"Hampir semua, Pak karena ini memang acara Rumah Baca Nania." Dan Ragam mencoba fokus menghadapi pria itu.


Mengapa ini rasanya seperti aku sedang meminta izin untuk mengajak kencan anak gadis seseorang ya? Batinnya yang menatap pria-pria Nikolai itu satu persatu yang kebetulan di sore akhir pekan  mereka memang selalu berkumpul.


Arfan terdiam dengan kedua tangan dilipat di dada.


"Ah, ayolah … hanya pergi ke Dufan dengan anak-anak dan volunteer lainnya kan? Lagipula ini kegiatan rumah baca. Jadi apa salahnya untuk mengizinkannya pergi?" Sofia turun tangan.


"Oma top." Anandita berbisik kepada neneknya.


"Iya, bukan ke luar angkasa. Malah Arkhan setiap akhir pekan selalu ikut touring dengan Galang." Darren menimpali.


"Itu lain lagi. Kalau bukan Galang yang mengajaknya sudah dipastikan izin itu tidak akan turun." Arfan menjawab.


"Ah … membeda-bedakan anak. Itu tidak adil." Daryl yang baru tiba pun ikut berbicara.


"Ya coba saja nanti kalau kamu punya anak, pasti melakukan hal yang sama. Apalagi jika anakmu perempuan. Apa kamu juga akan seperti ini atau membebaskannya?" ucap Arfan kepada iparnya yang satu itu.


"Om lupa ya, anakku kan sudah tidak ada?" Daryl menghempaskan bokongnya pada sofa setelah membiarkan Anya dan Zenya berlarian ke ruangan lain menghampiri saudara sepupu mereka yang sudah asyik makan makanan yang disediakan asisten rumah tangga.


"Nanti kalau kamu punya lagi. Masa iya hanya sampai begini saja?" Arfan menjawab.


"Oh kalau itu masih lama, lagipula itu terserah Nania nantinya."


"Ah, kenapa malah jadi berdebat? Intinya aku boleh pergi apa nggak? Kalau boleh sukur kalau nggak boleh ya nggak akan pergi." Anandita dengan kesal karena hal ini malah berubah menjadi ajang diskusi keluarga.


Arfan menghela napas pelan. Ini adalah salah satu hal yang paling dia takutkan ketika anak-anaknya beranjak dewasa.


Pergi tanpanya, melakukan segala hal sendirian, dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang lain dari pada dengannya. Dan melepas Anandita bersama pria selain dirinya membuat dia merasa tidak rela.

__ADS_1


Mengapa waktu terasa berjalan begitu cepat padahal aku sudah berusaha selalu menemani mereka? Tidak ada satu waktu pun yang aku lewatkan dalam pertumbuhan dan setiap perkembangan mereka. Batin Arfan.


"Ya udah lah kalau nggak boleh, cuma ke Dufan doang kok." Anandita pun bangkit dari sofa kemudian menyeret tas gendongnya menuju ke lantai dua.


"Baiklah …." Tapi Arfan merasa tidak tega juga jika melihat raut kecewa di wajah putrinya.


Bukankah segala yang dia usahakan adalah untuk kebahagiaan keluarga? Dan senyum anak-anaknya lah yang paling utama baginya.


Anandita menghentikan langkah, kemudian menoleh kepada sang ayah.


"Tapi tidak boleh pergi sendiri. Harus tetap bersama rombongan dan jangan pernah memisahkan diri!" ujar pria itu yang tentu saja membuat semua orang merasa lega meski juga terkejut karena tak biasanya pria itu memberi izin dengan mudah.


"Memberi pesan begitu memangnya dia anak TK apa? Kok aku merasa kalau perlakuan Om seperti kepada Anya dan Zenya?" Daryl menyela.


"Itu juga yang kamu lakukan kepada Nania padahal dia sudah dewasa. Jadi jangan berkomentar soal ini!"


Ucapan itu membuat Daryl menutup mulutnya rapat-rapat, sementara yang lain mati-matian  menahan tawa. 


"Jadi boleh?" Anandita kembali ke hadapan ayahnya.


"Hanya kegiatan rumah baca kan?" ujar Arfan, dan gadis itu menjawabnya dengan anggukkan. 


"Ya sudah."


"Ya." Sang ayah pun menganggukkan kepala.


"Yeayyy! Makasih, Papa. Aku janji nggak akan macam-macam." Gadis itu menghambur untuk memeluk ayahnya, kemudian berlari meneruskan langkahnya ke lantai atas, membuat semua orang tertawa karenanya.


Sementara Regan masih berada di sana dan kembali merasa bingung bagaimana untuk mengakhiri ini.


"Te-terima kasih, Pak. Kalau begitu saya pamit?" Namun Akhirnya dia buka suara juga.


Arfan masih menatapnya, lalu dia berjalan mendekat.


"Karena kau yang maju memintakan izin untuknya, maka Anandita adalah tanggung jawabmu selama pergi bersama anak-anak rumah baca." katanya, dalam jarak 50 senti saja.


Regan tampak menelan ludahnya dengan susah payah. Ini seperti dirinya tengah diserahi hal yang sangat besar.


"Kau dengar itu, Regan?" ucap Arfan lagi.


"Ba-baik Pak, saya mengerti." Regan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Nah, karena pembicaraannya sudah selesai, ayo kita pindah ke ruang makan?" Sofia kembali menginterupsi percakapan para pria. "Regan, kamu ikut juga kan?" katanya kepada bawahan putranya itu.


"Eee … maaf Bu. Terima kasih. Saya harus pulang, keluarga juga sudah menunggu." Namun Regan menolaknya dwnga sopan.


"Oh, baiklah kalau begitu."


Kemudian Regan segera berpamitan dan buru-buru keluar dari rumah besar itu dengan perasaan lega. Dan dia hampir saja masuk ke dalam mobilnya ketika pemandangan di jendela lantai atas menyita perhatiannya. 


Yakni Anandita yang sedang mengawasi, lalu dia melambaikan tangan sambil tersenyum kepadanya.


"Kenapa juga dia berbuat begitu?" Pria itu menggelengkan kepala kemudian masuk dan segera memacu kendaraan roda empatnya keluar dari tempat tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daryl menatap gambar buatan Nania satu persatu. Memang bukan pertama kali baginya melihat hal tersebut, tapi semakin hari gambarnya menjadi semakin bagus saja.


Detailnya semakin halus dan dia memiliki ciri khas yang tak biasa. Ornamen yang dimilikinya tak dapat Daryl temukan pada desain milik orang lain dan itu salah satu hal yang membuatnya menjadi istimewa.


Dan bukan hanya itu, karena dengan menggambar Nania menjadi lebih tenang, lebih fokus dan dia dapat mengalihkan perhatiannya dari hal yang sempat membuatnya tertekan.


Lalu sebuah ide muncul di kepalanya. Dan Daryl memutuskan untuk membuat sesuatu pula untuknya. Mungkin itu akan membuat Nania senang jika dia pulang nanti. 


Entah kapan, tapi suatu saat jika Nania sudah pulih dan merasa bahwa pulang adalah hal yang baik, maka dia pasti akan pulang. Bukankah rumah ini adalah satu-satunya yang dia miliki? Setidaknya begitu untuk Nania.


Lalu dia menatap sekeliling ruangan yang sudah lebih dari dua minggu ini sepi. Setiap malam dia berteman dengan kesunyian yang cukup menyiksa.


Padahal ketika dirinya sedang marah, dia mudah saja meninggalkan Nania sendiri dan memilih tempat lain untuk pulang. Tapi mengapa ini rasanya berbeda? Seperti dirinya yang ditinggal pergi dan ini cukup menyiksa.


Bahkan keadaan di rumah besar pun tak sehangat biasanya seperti ketika Nania ada. Dan mereka pun pasti merasakan hal yang sama dengan dirinya. Bukankah Nania telah menjadi jantungnya rumah? Semua hal akan terasa menyenangkan jika dia ada.


Daryl terkekeh sendiri. 


Betapa lucunya hal ini. Sebelumnya dia baik-baik saja setelah berbuat salah. Tidak ada rasa penyesalan yang menyamai ketika dirinya menyakiti Nania. Tapi kini keadaannya lain.


💖


💖


💖


Beraambung ...

__ADS_1


Kata Dudul jangan kangen. 🤭🤭


__ADS_2