
💖
💖
"Nania?" Daryl menerobos pintu yang terbuka begitu dia mencapai rumahnya. Dan segera saja pandangannya beredar mencari perempuan itu yang rupanya berada di area masak.
"Oh, hai Om? Tante Nna nya …." Baru saja Zenya akan menjawab tapi di mengurungkannya ketika melihat Daryl tampak membelalak karena terkejut saat mendapati Nania yang berada di lantai.
"Nania!!" Dia berteriak demi melihat perempuan itu yang tampak tak sadarkan diri, dengan kedua kakinya yang terlentang dan kepalanya bersandar pada counter, sedangkan kedua matanya tertutup rapat.
Segera saja, Daryl meraup perempuan itu karena mengira terjadi sesuatu kepadanya. Namun yang terjadi adalah malah membuat Nania terkejut juga.
"Hah! Nggak! Aku nggak mau! Lepasin!" Nania berontak seketika.
"Jangan bawa! Aku mau pulang!" katanya yang berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Sepertinya dia sedang tidak benar-benar sadar.
"Nania?" Dan Daryl berusaha menyadarkannya.
"Nggak mau, aku mau pulang! Aku nggak mau di sini! Lepasin!" katanya lagi yang dengan beringasnya memberontak.
"Tapi ini di rumah, dan kamu sedang bersamaku!" ujar Daryl yang mengeeatkan pelukan sementara Nania terus memberontak.
"Nggak!!" Perempuan itu berteriak dan akhirnya dia berhasil lepas dari pelukan Daryl.
Dalam bayangannya, Nania melihat Sandi dan Hendrik yang tengah berusaha mendapatkannya. Lalu ingatannya kembali pada banyak peristiwa buruk di masa lalu yang membawanya pada fase rasa takut luar biasa, namun tak mampu untuk setidaknya melawan.
Tindakan pemukulan, percobaan pembunuhan dan ketika dirinya tengah melarika diri ketika Sandi menjualnya kepada bandar judi. Dan dirinya merasa bahwa ini adalah nyata.
"Jangan, Bang! Aku mau pulang. Aku nggak mau ikut." Dia mundur ke belakang dan berusaha melindungi dirinya dengan apa pun.
Wadah berisi wafel yang baru saja diselesaikannya bahkan dia tarik sehingga isinya berhamburan di lantai, lalu Nania melemparkannya kepada Daryl.
"Nania, ada apa denganmu? Ini aku." Sementara Daryl berusaha terus mendekat dan mendapatkannya.
Namun dia berhenti ketika perempuan itu meraih pisau besar di tempat penyimpanan dan mengarahkan ujungnya kepada Daryl.
"Nania?"
"Mundur! Mundur aku bilang!" ancamnya dengan tatapan nanar.
"Nania, it's me. Kamu tidak sadar …."
"Diaamm!!" Nania berteriak kencang sehingga menarik perhatian orang-orang.
"Sudah cukup! Aku nggak sanggup lagi , sudah cukup!!"
"Nania …."
"Kamu nggak tahu seberapa berat beban aku. Semua tanggung jawab ini … dan semua yang aku lakukan nggak pernah cukup untuk kalian. Kenapa tidak berusaha sendiri saja sehingga kamu bisa merasakan bagaimana beratnya jadi aku!!" Tubuhnya bergetar dan dia hampir menangis.
__ADS_1
Nania hampir saja menjatuhkan pisau namun dia kembali mengarahkanya ketika menyadari keberadaan orang-orang di belakang pria yang dalam pandanganya adalah Hendrik, Sandi dan Mirna. Juga orang asing yang tak pernah dia kenal sebelumnya.
"Pergi kalian!" Dia berteriak lagi.
"Nania, ini Mama. Ada apa denganmu?" Sofia pun maju namun Satria menahannya ketika dia melihat perempuam itu tampak panik.
Pandangannya bergerak liar namun tidak fokus, kecuali ujung pisau yang terus diarahkan untuk menjauhkan orang-orang darinya.
"Naia, please …."
"Menjauh. Menjauh!!!" Nania terus berteriak.
Napas menderu-deru dan keringat sudah membasahi wajahnya. Namun dia malah semakin beringas.
Kedua matanya memindai sekeliling dengan kewaspadaan yang cukup tinggi. Lalu dia tertegun sejenak ketika menemukan jalan ke arah tangga.
Perempuan itu perlahan bergeser dengan tetap menghunuskan pisau ke arah orang-orang. Dia merasa bahwa mereka merupakan ancaman yang patut dihindari.
Nania berhenti sebentar, lalu beberapa detik kemudian dia menjatuhkan pisau dan berlari ke lantai atas. Begitupun Daryl yang segera mengikuti. Namun dia terlambat, karena rupanya perempuan itu mengunci dirinya di dalam kamar utama.
"Nania?" Daryl mengetuk pintu.
"Nania buka pintunya!" Dia berusaha untuk tidak berteriak.
"Nania? Buka pintunya, Sayang!" Pria itu menempelkan wajahnya ke daun pintu dan berusaha mati-matian untuk tidak bereaksi. Dia tahu Nania sedang mendapatkan serangan panik.
"Nania?" Namun kemudian terdengar kegaduhan yang tentu saja membuat Daryl merasa panik.
"Nania …." Dia menekan-nekan handle pintu dan mendorong benda tersebut. Namun tetap tak berhasil.
"Nania?" Dan dia terus memanggilnya dengan perasaan panik yang juga mulai menyerang.
Daryl mundur dua langkah ke belakang, lalu dia terdiam sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Kemudian setelah yakin, dia menjejakkan tendangan keras ke arah pintu sebanyak dua kali yang akhirnya membuat benda itu terbuka juga.
Dia segera menerobos ke dalam dan mencari keberadaan perempuan itu.
Di sekeliling kamar, di ruang ganti maupun di kamar mandi. Namun Daryl tak menemukannya.
Semua jendela dan pintu yang mengarah ke balkon dia periksa, namun tak ada tanda-tanda Nania melarikan diri.
"Nania!!" Akhirnya dia tak tahan untuk berteriak. Tapi sayangnya hal itu tak membuat Nania muncul.
"Tante Nna?" Lalu Zenya yang sejak tadi memperhatikan.
"Zen, mundur. Nanti bahaya!" Daryl sempat menghentikannya.Â
"No! Tante Nna lagi ketakutan." Anak itu terus maju.
"Zen, kemari Sayang?" Dan Sofia pun bermaksud menarik cucunya mundur.
__ADS_1
"No! Tante Nna?" tolak anak itu yang menyusuri setiap sudut kamar yang memungkinkan bagi Nania untuk bersembunyi.
"Tante Nna, di mana?" Tangan kecilnya merayap di dinding dan pintu lemari seraya memeriksanya satu persatu.
"It' s okay, kita aman." katanya yag berhenti ketika salah satu lemari sulit dia buka pintunya.
"Tante? Are you there?" katanya lagi dan dia berusaha membukanya.
"It'a alright, you are save."
"Tante Nna?" Zenya berdiri di depan lemari tersebut. Dia menatapnya lekat-lekat dan setelah beberapa saat pintunya tampak sedikit bergerak.
"Can i open it?"
Tak ada jawaban.
"Tante? You permit me?" Zenya mengulurkan tangannya saat dia meyakini jika perempuan itu memang ada di dalam sana.
Perlahan-lahan anak itu menarik pintu lemari yang kini bisa dia buka. Dan benar saja, Nania ada di sana.
"Tante?"
Daryl hampir saja menghampiri jika saja Arfan tak menahannya.Â
"Lepas Om!" Dia protes, namun yang lainnya juga ikut menahan.
"Biarkan Zen yang melakukannya." ujar Satria.
"Tapi, Pih?"
"Diam, atau Nania akan mengamuk lagi!" Dimitri pun ikut berbicara, yang akhirnya membuat Daryl berhenti.
"Tante, ayo keluar? Kita main lagi?" ajak Zenya dan dia terus mendekat sehingga membuatnya dapat melihat perempuan itu lebih jelas.
Dia yang bersembunyi dibalik pakaian yang menggantung sambil menekuk tubuh dan menutupi kedua telinganya.Â
Dan Nania menyembunyikan wajahnya sehingga dia tampak menempel pada dinding lemari.
"Tante Nna?" Zenya menyentuh bahunya yang kemudian membuat dia tampak bergetar, lalu menangis sesenggukkan.
"Nggak mau! Aku mau ayah! Aku mau pulang! Aku nggak mau di sini. Ayah, jemput aku!!!" katanya, dan dia terus menangis.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1