
💖
💖
Nania menatap dua anak yang sedang bermain di ruang tengahnya. Sofa dan kursi mereka jadikan mobil, sementara bantal dan beberapa benda yang ada dijadikan barang-barang yang ada di dalam imajinasi mereka.
Ruangan itu tampak berantakan tapi suasananya terlihat hidup. Keberadaan anak-anak memang selalu menghangatkan setiap rumah tangga, dan Nania merasa senang karenanya.
"Tante? Masaknya udah?" Zenya datang menghampiri.
"Sedikit lagi, Zen. Hampir selesai." Lamunan Nania buyar karenanya.
"Tante bikin apa sih? Bukannya kita udah makan ya di rumah Opa? Kenapa malah bikin makanan lagi?"
"Cuma kue, Zen." Nani melirik wafel-wafel hangat hasil kreasinya sore itu. Yang juga dia niatkan untuk diantar ke rumah mertuanya di mana para ipar sedang berkumpul seperti biasa.
Dia merasa lelah dan enggan bertemu banyak orang, tapi rumah selalu menjadi tempat ternyamannya untuk berkreasi dan menghasilkan sesuatu. Setidaknya pikiran dan kesedihannya teralihkan sejenak.Â
"Perut aku udah kenyang." Bocah tampan berambut ikal coklat itu menepuk perut kecilnya dengan ekspresi wajah yang lucu. Membuat Nania tersenyum melihatnya.
"Kenapa sih kamu lucu banget, Zen? Kalau lagi nggak di sini, Mommy kamu ngasih makan apa?" Nania berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka.
"Ya biasa aja. Nasi, sayuran, daging sama buah. Es krim juga." Zenya menjawab.
"Aku juga lucu kan sama kayak Zen?" Seperti biasa, Anya tidak mau kalah, yang membuat Nania kemudian tertawa.
"Ya, kalian berdua sama lucunya. Umm … nggemesin deh. Mau dong yang kayak kalian di sini biar Tante nggak kesepian." Lalu Nania merangkul dan menciumi mereka berdua.
"Oke, nanti aku sama Zen minta sama Mommy untuk pindah kesini ya? Biar bisa terus sama Tante." Anya dengan segala keluguannya, lagi-lagi membuat Nania tertawa.
"Nggak mungkin bisa, soalnya Mommy sama Papi nggak akan izinin kalian untuk pindah."
"Terus gimana dong?" Zenya tampak berpikir.
"Sering-sering aja tengokin Tante ke sini ya? Biar nggak terlalu kesepian." Dia mengusap rambut di kepala Zenya.
"Oke. Kalau gitu, besok-besok pulang sekolah ke sini. Pulangnya sore aja dijemput Papi?" ujar Zenya dengan meyakinkan.
"Oke, Zen."
"Aku juga sama!" Anya menyahut.
"Iya, Anya juga." Nania pun mengusap puncak kepala Anya dengan penuh kasih sayang.
"Kalian mau nyicip wafelnya sekaran? Ini masih hangat lho." Lalu dia bangkit dan menarik wadah berisi kue dengan aroma jahe dan kayu manis yang pekat tersebut.
"Mau mau!! Nanti kalau udah ke rumah Opa suka nggak kebagian. Kue buatan Tante Nna kan paling eeeennaak sedunia!!" Zenya melonjak kegirangan, dan Nania kembali tertawa.
"Kamu manis sekali, Zen!" Perempuan itu mengusap wajah keponakannya.
"I tell the truth. Kata Papi kan nggak boleh bohong." Lalu mereka duduk bersisian setelah Nania mengisi piring masing-masing dengan dua potong wafel hangat.
"Thank you Tante Nna, you such a great person. I love you." ucap Zenya yang mengambil satu potong wafel kemudian menggigit ujungnya.
Bocah itu mengunyahnya dengan tenang dan ekspresinya yang memang sangat menggemaskan.
"Ini enak. Kan udah aku bilang semua yang Tante bikin itu eeeennnaaaaaaak banget." Dan anak itu terus saja berbicara meski mulutnya penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Kamu benar, Zen." Nania tertawa.
"Can i hugg you?" Lalu Zenya bertanya.
"Apa?" Membuat Nania sejenak beralih dari makanannya.
"Mau peluk boleh? Because you are a nicest person i've ever met."
"Boleh dong, masa nggak boleh? Kan biasanya juga gitu." Nania kemudian membiarkan Zenya memeluknya.
"Thank you, and i love you." ucap anak itu lagi yang memang membuat Nania sedikit merasa lebih baik.
"Aku juga mau peluk. Tante Nna, i love you!" Anya pun melakukan hal yang sama.
Dibalik keaktifan mereka yang luar biasa, ternyata menyimpan kasih sayang yang besar bagi siapa pun yang bisa dengan baik menerima hal itu. Dan tampaknya Nania menjadi orang terpilih yang memiliki toleransi tanpa batas terhadap apa pun yang ada di hadapannya. Termasuk masalah yang selama ini menghantamnya bertubi-tubi.
"Oke, itu cukup. Kalau lama-lama begini nanti tante bisa sedih. Jadi, udahan peluk-pelukannya, ya?" Nania melepaskan diri sambil menyeka sudut matanya yang basah, lalu dia memasang senyum paling manis yang dimilikinya.
"Sebentar Tante beresin dulu ini ya? Dan kalian habisin wafelnya. Setelah itu kita ke rumah Opa lagi, oke?"Â Dia pun bangkit dan memeriksa kue terakhir yang tengah dalam proses pemanggangan.
"Oke." Dua anak itu menjawab bersamaan.
"Nah, selesai." Lalu dia meletakkan kue itu ke dalam wadah yang hampir penuh.
"Tapi sebentar, sambil kalian habisin wafelnya, Tante istirahat dulu sebentar ya? Kok rasanya capek banget." Perempuan itu lalu memilih untuk duduk di lantai dapur dan menyandarkan punggungnya pada dinding counter.
"Tante kok duduk di bawah?" Anya bertanya.
"Hu'um, sebentar aja." katanya, yang menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan seolah sedang meresapi apa yang tengah dirasakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ayahnya meninggal di saat dia sangat membutuhkan sandaran dan tempat mengadu, rumah untuk pulang dan sosok untuk berlindung."
"Tidak lama neneknya juga menyusul. Sedangkan ibu yang seharusnya bisa menjadi penguat jiwanya malah memanfaatkan dia. Belum lagi dapat perlakuan tidak baik dari ayah tiri dan kakaknya. Coba bayangkan sehancur apa dia saat itu? Masih hidup saja sudah untung."Â
Daryl dan orang-orang di dekatnya membayangkan seperti apa kehidupan Nania sebelum masuk ke lingkungan mereka. Dan ya, deraan itu pasti membuatnya sangat kesulitan.
"Dia itu benar-benar sendirian. Sangat jauh berbanding dengan kita. Kakak juga korban perceraian. Dan merasakan hal yang sama seperti Nania, makanya bisa bicara begini kepadamu, Daryl." Dia menatap adik keduanya yang tampak termangu.
"Tapi Kakak tidak se nelangsa Nania. Ada Mama yang berjuang mati-matian agar hidup kami layak. Ada nenek dan abah yang menjaga dengan sepenuh hati. Lalu ketila bertemu dengan Papi juga hidup kami menjadi semakin baik. Meski rasa yang hilang itu tidak akan pernah tergantikan dengan harta sebanyak apa pun, tapi setidaknya Kakak punya keluarga. Sesulit-sulitnya kita, tetap akan ada orang yang mendukung di belakang tanpa memperhitungkan apa pun. Sesusah-susahnya kita, tetap masih ada sandaran ketika sudah tidak bisa menemukan jalan yang tepat untuk mencapai tujuan. Se sengsara-sengsaranya kamu, tetap punya Mama dan Papi untuk mengadu. Kakak, kak Dim dan Darren untuk bersandar. Tapi Nania? Hanya kamu yang dia punya."
Daryl merasakan tenggorokkanya seperti tercekat. Dygta seperti sedang megulitinya habis-habisan, dan dia tidak pernah mendengar satu-satunya saudara perempuanya berbicara sedemikain pajang lebarnya selama ini. Tapi khusus untuk permasalahan yang tengah dia hadapi, perempuan itu sepertinya akan turun tangan.
"Kita selalu mengatakan bahwa resiko masuk ke keluarga Nikolai adalah harus siap mengikuti aturan. Tapi kita lupa bahwa menikah dengan orang biasa juga harus siap menerima resiko. Bukan hanya mereka yg harus menyesuaikan diri dgn kita, tapi kitanya selalu lupa untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan mereka."
"Kita lupa Nania berasal dari mana dan apa yang telah dia alami hingga membuatnya jadi begini. Kita bahkan lupa untuk menjadi orang biasa karena ada nama Nikolai di belakang nama kita. Seolah kita ini paling istimewa dan orang lain tidak ada apa-apanya. Dan hanya karena sebuah nama, menjadikan diri kita merasa lebih segala-galanya."
"Kita tidak peduli dengan keadaan orang lain dan apa yang mereka alami. Juga tidak tahu bagaimana bisa mereka menjadi seperti yang sekarang ini."
"Kamu mencintainya, atau hanya sekedar ingin memilikinya, Daryl?" Katanya, yang membuat sang adik mendongak kepadanya.
"Tidak masalah dengan bagaimana caramu melindungi dia. Mengingat keadaannya yang seperti itu. Tapi apakah kamu melakukannya murni karena rasa cinta atau hanya ingin menunjukkan jika kamu berkuasa atas Nania? Karena perbedaannya tidaklah tampak."
"Jika kamu benar mencintainya, maka kamu akan menerima bagaimanapun dia. Berusaha mentolerir kekeliruan dan memaafkan kesalahan yang dia buat. Bukan hanya menerima di saat dia mampu membahagiakanmu saja."
Perlahan Daryl memahami benang merah ini bermuara ke mana.
__ADS_1
"Jika kamu memang mencintainya dengan tulus maka bertahanlah apa pun yang terjadi. Bagaimana dia dan seperti apa kondisinya harus siap menghadapi. Termasuk semua kekurangannya. Karena dia juga menerimamu tanpa syarat, bukan?" Dygta memiringkan kepalanya.
"Dan sekarang, pertanyaannya adalah apa kamu mampu untuk bertanggung jawab akan itu semua atau tidak? Karena semuanya tergantung padamu. Kamu yang menjadi tempatnya bersandar, tempatnya mencurahkan kasih sayang, dan terlebih kamulah rumah baginya. Jadi apa pun yang akan terjadi nanti, tergantung keputusanmu saat ini."Â
"Kakak akui jika Kakak salah dalam hal ini. Kakak memandangmu yang ingin cepat menikah itu baik, tapi tidak mengantisipasi hal semacam ini dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang setelahnya, jadi …."
"No!" Daryl baru buka suara. "Pernikahanku dengan Nania adalah keputusan terbaik sejauh ini, jadi tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan aku tidak seperti yang Kakak katakan."Â
"Benarkah?" Dygta bersedekap. "Lalu apa artinya sikapmu yang mendiamkan masalah ini hingga berlarut-larut?"
"I'm trying to fix it. But it seem really hard, and geting harder everyday. Dan tidak ada yang memahami selain memojokanku, seperti Kakak." Daryl masih membela diri.
"Memojokkanmu? Kami disini sedang menunjukkan bagaimana sikapmu seharusnya. Dan apa yang sepatutnya kamu lakukan. Dan bukan kami yang tidak paham, tapi kamu. Ataukah harus Kakak sebut dengan tidak mau paham?" Dygta menekan kata terakhir.
"Dimitri, Darren bahkan Mama dan Papi paham. Mereka juga tahu apa yang seharusnya diterangkan kepadamu mengenai masalah ini. Tapi mereka hanya tidak ingin membuatmu merasa tersinggung karena egomu yang sangat tinggi itu."
Daryl terdiam.
"Jika bukan ego, lantas apa namanya situasi ini, Der? Ketika kamu tidak bisa merelakan apa yang memang sudah Tuhan gariskan. Dan kamu tidak bisa menerima jika tidak semua hal akan sesuai dengan rencanamu. Kamu marah, emosi dan menyalahkan orang lain?"
"Itu artinya dalam hal ini kamu dengan jelas menyalahkan Tuhan. Tapi kamu tidak pantas untuk begitu. Siapa sih kita? Yang dengan entengnya menghakimi Nania sebagai satu-satunya tersangka yang patut dipersalahkan atas keguguran itu? Kamu pikir dia sinting untuk membiarkan anaknya jadi korban untuk menyelamatkan ibunya? Memangnya dia segila itu apa?"
"Kak Dim sudah mengatakan hal seperti ini sebelumnya Kak." Daryl melirik kepada Dimitri yang hanya diam saja menyimak percakapan tersebut.
"Ya bagus. Berarti bukan hanya Kakak yang menyadari hal ini." Dygta kembali menjawab.
"Sudahi, Der. Ikhlaskan, relakan. Sehingga semuanya akan kembali ke kondisi semula."
"Aku sudah mengikhlaskannya, Kak. Realy! Aku bahkan sudah menerima semuanya dan berusaha merelakannya, … aku …."
"Benarkah?"
"Yes, believe me!"
"Dan puncak dari mengikhlaskan itu adalah saling memaafkan, begitu juga sebaliknya.. Tapi, apakah kamu sudah melakukannya?"
Daryl kembali terdiam.
"Kebungkamanmu menjawab segalanya." Dygta menempelkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Tidak apa, setidaknya Kakak sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Karena Kakak punya kewajiban untuk itu. Bukan bermaksud ikut campur atau mendikte dalam urusan rumah tanggamu, tapi meluruskan apa yang mungkin tidak berjalan dengan baik. Jangan sampai sesuatu terjadi kepada keluarga ini karena salah satu diantara kita yang berbuat kejam kepada seseorang. Padahal orang itu tidak pantas mendapatkannya."
Daryl semakin kehilangan kata-kata. Apapun yang diucapkan oleh kakak perempuannya itu benar-benar menohok egonya sebagai salah satu anggota keluarga yang namanya disegani oleh banyak orang.
"Itupun jika kamu ingin mendengarkan Kakak. Tapi jika tidak, ya …."
"No!" Daryl segera bangkit. Tiba-tiba saja dia teringat soal Nania yang belum benar-benar pulih dan dirinya yang memang belum merelakan seperti ucapannya.Â
"Tentu saja aku …." Dia menyeka buliran yang hampir meluncur dari matanya ketika menyadari sesuatu.
Kemudian tanpa banyak kata, dia segera berlari menuju rumahnya di belakang.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...