
💖
💖
"Kenapa dengan wajahmu?" Daryl tak bisa untuk tidak peduli saat dia melihat memar di pipi dan plester di ujung alis Nania.
"Nggak apa-apa Pak." jawab gadis itu yang meletakkan kotak makan dan menatanya seperti yang biasa dia lakukan setiap hari dirinya mengantar makanan.
"Kamu mengalami kecelakaan?" Daryl memiringkan kepalanya untuk melihat Nania lebih jelas.
"Cuma jatuh." Gadis itu menjawab.
"Jatuh?"
"Iya jatuh di tangga." Dia menganggukkan kepala.
"Kenapa bisa jatuh di tangga?" Daryl terus bertanya.
"Kemarin beres-beres rumah."
"Kenapa beres-beres rumah bisa sampai begini? Memangnya apa yang kamu bereskan? Bekas angin tornado?" Pria itu menyelidik, lalu tertawa.
"Nggak penting, Pak." Nania menghela napas pelan.
"Nggak penting tapi sampai babak belur begitu? Kamu membereskan sarang naga ya?" Daryl duduk di sofa lalu memulai kegiatan makannya.
Nania terdiam sebentar, namun kemudian dia ingat untuk segera berpamitan.
"Kamu tidak mau mengambilkan minum untukku?" Pria itu berujar.
Nania menghembuskan napas sambil memejamkan mata, lalu dia segera melakukan apa yang Daryl katakan.
"Saya pamit, Pak." ucapnya setelah yakin semua telah dia lakukan. Lalu memutar tubuhnya bermaksud keluar dari ruangan itu.
Pria itu menarik salah satu ujung alisnya ke atas.
"Hey Nania?" Namun Daryl memanggilnya sehingga gadis itu menghentikan langkah.
"Kamu sedang ada masalah? Sepertinya kamu nggak baik-baik saja?" Lalu dia bertanya.
Nania tertegun sebentar, namun dia tidak berbalik.
"Hey, aku bertanya kepadamu?" Daryl kembali berucap.
"Bukan hal penting, Pak. Permisi?" jawab Nania yang kemudian benar-benar pergi.
Sementara Daryl terdiam di tempatnya menatap punggung gadis itu hingga dia menghilang dibalik pintu.
"Haih, dia itu kenapa?" gumamnya yang kemudian melanjutkan kegiatan makannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu sedang ada masalah?" Ardi menggeser sebuah kantong es ke depan Nania yang baru saja selesai mengantarkan pesanan kepada pengunjung.
Kedai cukup santai sehingga mereka bisa duduk-duduk di pantri dan sejenak berbincang.
"Nggak ada." Gadis itu meraih kantong es tersebut kemudian menempelkannya ke pipi yang memar.Â
Ini membuatnya lebih baik karena mengurangi rasa sakitnya. Sepertinya pukulan Hendrik cukup keras sehingga meski sudah semalam dia masih merasakan sakit.
"Serius, kamu lebih pendiam dari biasanya dan aku mulai merasa curiga?" Lalu pemuda 20 tahun itu menyodorkan segelas jus nanas kepadanya.
"Kamu ini ngomong apa? Hahaha." Nania hanya tertawa.
"Apa terjadi sesuatu kepadamu?" tanya Ardi lagi.
"Nggak ih, apaan?" jawab gadis itu lagi yang kemudian menarik gelas dan menyesap isinya hingga habis setengahnya.
"Hey, aku kenal kamu sejak kedai ini buka. Dan itu membuatku mengenali kebiasaan dan bagaimana keadaanmu sehari-hari, jadi nggak usah sungkan." Ardi berujar.
"Nggak ada, kenapa sih kamu nggak percaya?" Nania tertawa lagi.
"Aku hanya melihat kamu sangat berbeda sejak ayahmu meninggal?" Ardi tidak mau menyerah dan percaya begitu saja.
"Mmm … mungkin disitu masalahnya?" jawab Nania kemudian.
__ADS_1
"Apa?"
"Aku cuma kangen ayah." Nania dengan suara tercekat.
Tentu saja dia sangat merindukan ayahnya. Selama ini mereka selalu bersama, dan mengalami banyak hal berdua. Terutama setelah perpisahan dengan Mirna, dan dia diserahkan kepadanya setelah sang ibu kembali bersuami.
Pria itu memilih tetap melajang dan membesarkannya sendirian tanpa seorang istri. Karena Arsyad takut jika dia menikah lagi, maka sang anak akan merasa tersisihkan dengan keberadaan orang lain di antara mereka. Terutama jika hadir anak lain hasil pernikahannya.
Setidaknya itu yang dikatakan sang ayah setiap kali mereka berbincang dan Nania menyuruhnya kembali menikah.
Namun pria itu memang benar. Mereka tak membutuhkan kehadiran wanita mana pun untuk tetap melanjutkan hidup karena buktinya ayah dan anak ini tetap merasa bahagia walau hanya berdua.
Mereka saling mengurus dan memperhatikan seolah tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain itu. Arsyad menjadi ayah sekaligus ibu yang baik bagi Nania, sehingga gadis itu tidak merasa memerlukan hal lain selain ayahnya.
Belum lagi ketidak dekatannya dengan Mirna tentu membuat Nania hanya memandang Arsyad sebagai satu-satunya orang tua yang dia miliki. Dan dia tidak mengenal sosok lain yang menjadi role modelnya selain sang ayah.Â
Dan kematian pria itu jelas sangat membuatnya merasa terpukul.
"Jangan sedih!" Ardi mengulurkan tangannya untuk menepuk punggung gadis itu.
"Kamu punya teman yang bisa diandalkan dan dijadikan tempat mengeluh." katanya, yang membuat Nania tersenyum.
"Ayahmu sudah tenang disisi Tuhan. Dan kamu juga masih punya keluarga bukan? Ibumu masih ada kan? Jadi apa yang kamu pikirkan?"
Lalu senyuman itu seketika sirna dari bibir mungilnya. Kenangan yang dia ingat tentang Mirna justru yang paling buruk, apalagi setelah kini mereka tinggal bersama. Rasanya ingin pergi saja dari rumah itu.
"Kenapa?" Ardi bertanya lagi saat melihat raut wajah teman kerjanya itu berubah.
"Kamu pikir kalau misalnya aku minta izin untuk tinggal di sini Kak Ara bakal ngasih izin nggak?" Nania malah balik bertanya.
"Kenapa kamu mau tinggal di sini?" Ardi bertanya-tanya.
"Biar deket aja. Aku capek bolak-balik ke rumah ibu, kejauhan." Nania beralasan.
"Nggak tahu, coba tanya sendiri sama Kak Ara nya."
"Kalau misal Kak Ara ngizinin, kalian masalah ngga?" Nania bertanya lagi.
"Kalau aku sih nggak. Nggak tahu yang lain."Â
"Raka, Nindy?" Lalu dia memanggil keduanya.
"Ya?"
"Aku mau minta izin tinggal di sini sama Kaka Ara. Kalau misal diizinin kalian ada masalah nggak?" tanya nya kepada mereka.
Raka dan Nindy saling pandang.
"Kenapa kamu mau tinggal di sini?" Nindy bertanya.
"Biar nggak bolak-balik aja. Rumah ibu aku kan jauh." Alasan yang sama Nania lontarkan.
"Aku nggak apa-apa, kamu Ka?" jawab Nindy, lalu dia menoleh kepada Raka.
"Nggak juga, kenapa itu harus jadi masalah?" Raka pun menjawab.
"Kalau gitu aku lega, bicara sama Kak Ara ya?"
Ke tiga teman kerjanya itu mengangguk bersamaan.
***
"Ya Nna?" Amara memalingkan perhatian dari laptopnya yang tengah menayangkan video soal kehamilan dan melahirkan.
"Aku boleh minta izin?" Nania memberanikan diri.
"Izin untuk apa?"
"Kalau misalnya aku mau izin tinggal di sini boleh?"
Amara tak langsung menjawab.
"Sementara aja Kak, se nggaknya sampai gajian bulan depan. Habis itu aku mau cari kosan di sekitar sini."
"Kenapa?" Amara menyelidik.
__ADS_1
"Nggak kenapa-kenapa. Biar nggak terlalu jauh aja." Jawab Nania seperti sebelumnya.
"Memangnya kedai ini sama rumah ibu kamu seberapa jauh?" Perempuan itu bertanya.
"Lumayan. Kadang-kadang aku suka terlambat." keluh Nania. Dia berharap dengan begitu Amara akan memberinya izin tinggal di kedai untuk ssmentara waktu. Setidaknya sampai dirinya memiliki ide lain soal tempat tinggal dan neneknya.
"Boleh." Amara menjawab.
"Beneran Kak?"
"Ya, aku ka udah nggak tinggal di sini, jadi kayaknya nggak apa-apa kalau kamar di atas kamu isi?"
Nania dengan mata berbinar.
"Tapi bicarakan dulu sama yang lain, biar sama-sama enak. Aku nggak mau dikira pilih kasih, karena kalian berempat sama-sama pegawai aku." Amara melirik ketiga karyawannya yang lain.
"Udah Kak, dan mereka nggak ada masalah dengan itu." Gadis itu bersemangat.
"Bener?"
"Iya Kak, bener."
"Ya udah. Kapan mau mulai tidur di sini?" Lalu Amara bertanya.
"Mungkin besok Kak."
"Kenapa nggak sekarang aja?"
"Aku harus beresin baju-baju sama ngobrol sama Nenek juga."
"Oh …."
"Tadinya mau ngajak Nenek juga tapi …" Nania berpikir.Â
Jika dia membawa sang nenek untuk tinggal di sana, pasti akan banyak pertanyaan di antara Amara dan teman-temannya.Â
Jadi solusi terbaiknya adalah, dia tinggal dulu di kedai untuk sementara waktu sampai nanti punya kemampuan mengontrak sebuah kamar untuk ditinggali bersama neneknya.
Ya, sepertinya itu lebih baik.
"Nenek kamu kenapa?" Amara kembali bertanya.
"Mm … nggak apa-apa Kak. Cuma tadinya mau bawa Nenek, tapi kayaknya nggak dulu deh."
"Ya, masalahnya di atas cuma satu ruangan, jadi …."
"Iya Kak, soal Nenek aku pikirin nanti. Yang penting aku keluar dulu dari rumah." Gadis itu hampir saja membuka rahasia yang dia pendam sendirim
"Apa? Keluar dari rumah?" Amara menatap curiga. "Kamu ada masalah sama orang rumah?"
"Mmm … nggak, maksud aku … biar kerjanya deket gitu. Kan lebih gampang. Kalau pun harus lembur sampai malam akunya nggak takut pulang." Nania segera mengalihkan perhatian.
"Ohh … ya udah, terserah kamu. Bagus juga idenya."
"Di sini … aman kan?"
"Aman. Udah mau setahun nggak ada apa-apa."
"Oke oke." Gadis itu menganggukkan kepala.
"Kalau gitu aku kerja lagi." Nania dengan semangatnya bangkit setelah pembicaraan itu selesai.
"Ya, baiklah.'
Gadis itu tersenyum riang dan dia tampak lega.
💖
💖
💖
Bersambung ....
ayo like komen hadiahnya di kencengin lagi.
__ADS_1
😂😂😂