
💖
💖
"Penjualan di hari pertama peluncuran sudah melebihi target, Pak. Dan jumlah pemesanan satu minggu ini sudah melewati batas yang kita harapkan. Jadi, apakah Bapak akan memproduksinya secara besar-besaran?" Dinna, dan beberapa staf mengikuti rapat rutin yang memang selalu diadakan di setiap minggu awal bulan.
"Apakah laporan ini akurat?" Daryl menatap layar laptopnya seakan tidak percaya.
"Ya, dan fakta di lapangan bahkan bisa lebih besar." Perempuan itu menyerahkan dokumen lain kepada atasannya tersebut.
Terlihat tabel permintaan untuk produk parfum Fia's Secret memang mengalami peningkatan cukup tajam.
"Seratus sample untuk masing-masing varian habis di satu jam pertama saat diluncurkan, lalu di jam-jam berikutnya banyak permintaan lewat pre-order. Staf kita di beberapa outlet sempat menutup pemesanan untuk beberapa hari." Salah satu staf lain menerangkan.
"Bagaimana dengan persediaan di pabrik?" Daryl bertanya pada pihak pengadaan barang.
"Hari ini bisa dimulai produksi seribu paket untuk enam varian, Pak." jawabnya.
"Kita bisa produksi di enam ribu?" Daryl bertanya lagi.
"Bisa, Pak."
"Baik, buat saja. Tapi atur pengeluaran barang sebagian dahulu. Kita keluarkan secara bertahap, misalnya dua atau tiga ribu dulu, dan sisanya menunggu lagi sampai permintaan membludak."
"Bapak tidak memilih produksi secara masal agar semua permintaan terpenuhi bulan ini?"
"Negatif." Daryl menggelengkan kepala. "Kita buat produk ini agar menjadi se eksklusif mungkin sehingga konsumen akan tetap penasaran. Dan dari sana kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar."
Dinna dan yang lainnya segera membuat catatan.
"Apa iklannya perlu disebar lagi?"
"Tidak usah. Yang ada sekarang sudah cukup mendorong dan aku rasa kita masih bisa membuatnya se stabil mungkin."
"Begitu."
"Yeah."
"Baik, Pak. Ada lagi yang mau ditambahkan?"
"Aku rasa cukup untuk sementara, jadi pekerjaan kita tidak terlalu banyak. Jangan sampai kita kewalahan hanya untuk satu produk saja karena masih banyak produk lain yang juga harus kita tingkatkan lagi kan?"
"Ya Pak."
"Bagaimana dengan produk AnZen?"
"Stabil, Pak."
"Apa perlu kita menambah produk lainnya untuk anak-anak?"
"Kalau Bapak mau, kita bisa menambah satu atau dua macam produk tambahan."
"Baik, soal itu kita akan tundingkan lagi nanti. Kalau begitu kita sudahi saja rapat hari ini. Aku harap pekerjaan kita semakin bagus." Pria itu menutup pertemuan tersebut sebelum akhirnya mereka kembali bekerja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sudah dimulai, Pak." Daryl menerima pesan dan beberapa gambar dari Regan yang menunjukkan kegiatan Nania hari ini.
Seperti yang dia ketahui bahwa sudah satu minggu ini perempuan itu mengerjakan proyek sosialnya bersama teman-temannya di sekolah.
Rak-rak sudah ditempatkan di dalam rumah yang mereka sulap menjadi sebuah ruangan besar, lalu diisi banyak buku yang sudah terkumpul dari hasil pembukaan donasi yang ternyata lebih banyak dari yang dibayangkan.
__ADS_1
Beberapa meja juga sudah dimasukkan dan barang lain yang mereka butuhkan juga tampak berjajar rapi.
"Buku dari percetakan sudah datang?" Daryl mengirimkan balasan.
"Sudah, Pak."
"Itu bagus. Kau ingat, jangan sampai Nania tahu kalau aku yang mengirimkan."
"Baik, Pak."
"Lanjutkan saja pekerjaanmu seperti biasanya."
"Baik."
Lalu Daryl meletakkan ponselnya di meja.
"Royalti dan pembayaran model sudah dikirimkan ke rekening masing-masing, Pak." Dinna kembali menyerahkan laporannya.
"Kamu mengirimnya per orang?" Dan atasannya itu melihat kertas-kertas dengan tulisan dan angka-angka dari jumlah uang yang sudah terkirim kepada saudara-saudara dan istri-istri mereka, tak terkecuali Nania. Tentunya dalam jumlah yang cukup banyak.
"Ya, seperti yang Bapak perintahkan."
"Baik, itu bagus."
"Bagian Bapak mau saya kirimkan sekarang?" Dinna bertanya.
"Umm … tidak usah, masukkan saja itu ke pendapatan Fia's Secret. Jadi modal kita bertambah."
"Baik, Pak."
Lalu perhatiannya beralih ketika ponselnya kembali berbunyi dan pesan Nania yang masuk.
"Dadd, taman bacaannya udah beres. Mungkin besok udah dibuka." Diikuti dengan gambar yang diambilnya.
"Ya. Setelah dikumpulin, yang nyumbang banyak banget. Terus ada juga yang kirim buku baru tapi aku nggak tahu siapa yang ngirim." Lalu panggilan beralih ke mode video dan dia menunjukkan barang-barang di depannya.
Beberapa kotak buku tanpa keterangan nama atau alamat pengirimnya yang dia terima hari itu bersama alat tulisnya dalam jumlah yang banyak.
"Benarkah?"
"Iya. Aku tanya yang ngantarnya, katanya dia cuma disuruh antar aja. Nggak tahu siapa yang pesan. Aku pastiin tagihan juga nggak ada, katanya udah dibayar."
"Mungkin itu dari orang yang ingin membantu."
"Iya kali ya?" Lalu wajah Nania mendominasi layar.
"Kamu lagi sibuk?" tanya nya kemudian.
"Tidak juga. Hari ini baru selesai rapat."
"Masa?"
"Iya. Kamu sudah cek akun bank mu? Uangnya sudah Dinna kirim barusan."
"Uang apa?"
"Bayaran jadi model?"
"Oh, dibayar?"
"Tentu saja. Masa gratis? Kalian kan sudah bekerja keras sampai produk kita sekarang jadi incaran para penggemar parfum. Apalagi desain produknya buatanmu sehingga bayaranmu lebih besar dari yang lain."
__ADS_1
"Oh ya?"
"Hmm … pesanan membludak dan kita hampir kewalahan."
"Nggak nyangka bisa begitu?"
"Bisa lah. Apa pun kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan sangat menghasilkan."
Nania tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Kamu pulang jam berapa hari ini." Kemudian pria itu bertanya.
"Mungkin sebentar lagi. Tapi aku nggak langsung ke rumah ya?"
"Lho, mau ke mana?"
"Ke dokter kandungan. Kan minggu ini waktunya check up. Biar sekalian sambil pulang."
"Aku jemput ke sana."Â Daryl melihat jam di tangannya.
"Nggak usah, kan udah ada Regan. Seharian ini dia bantu sampai selesai, jadi sekalian juga antar aku ke rumah sakit."
"Apa? Tidak mungkin! Istriku yang hamil masa orang lain yang antar check up? Apa nanti kata orang?"
"Nggak gitu!" Nania tertawa. "Maksudnya dia cuma antar aku ke rumah sakit doang, tapi aku nemuin dokternya sendiri."
"Tetap saja." Lalu Daryl beranjak dari kursinya. "Aku ke sana sekarang." katanya yang berjalan keluar dari ruangannya sambil meneruskan percakapan.
"Kamu kan lagi kerja?"
"Aku bisa meluangkan sedikit waktu. Lagipula pekerjaanku sudah selesai, jadi bisa pulang lebih awal, kan?"
"Hmm … ya udah, terserah kamu aja."
"Baik, tunggu saja aku." Dan panggilan pun berakhir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalau baru sebulan gini belum jadi bayi ya?" Nania menatap layar monitor.
"Belum. Ini masih berkembang sebagai embrio. Tapi di minggu ke enam ini, wajah dan lingkaran besar untuk mata, hidung, telinga dan mulut juga rahang bawahnya sudah mulai terbentuk. Biasanya janin terlihat melengkung seperti huruf C." Dokter menerangkan.
"Pembentukan anggota tubuh nanti dimulai di minggu ke tujuh sampai seterusnya, hingga semuanya lengkap dan sempurna."
Pasangan itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Secara keseluruhan ibu dan bayinya sehat, hanya saja asupan nutrisinya harus terus ditingkatkan ya?"
"Nafsu makannya tidak terlalu baik, Dokter. Apalagi untuk makanan berat. Pasti muntah terus." jelas Daryl kepadanya.
"Ya memang gejala di trimester pertama begitu. Jadi harus bisa menyiasatinya dengan apa saja. Jangan sampai ibu hamil kekurangan gizi. Karena bisa berbahaya terhadap perkembangan janin."
"Dengar kan?" ujar Daryl kepada Nania yang mengangguk lagi.
"Secara medis bisa dibantu dengan vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mual ya?" Dokter memberikan beberapa jenis obat untuk dikonsumsi. Sebelum sesi konsultasi itu berakhir.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...