The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Gejala Aneh


__ADS_3

💖


💖


"Der, cepatlah! Kenapa kau ini?" Darren menarik Daryl untuk bangkit dari tempat tidur, namun saudara kembarnya itu tetap enggan menurutinya.


"Bisakah kau pergi saja sendiri? Kepalaku pusing, perutku terasa tidak enak. Muntah semalaman tadi membuatku lemas juga" Daryl bertahan menekuk kedua kakinya.


"Tidak bisa. Kau harus memberikan presentasi di depan peserta hari ini." ujar Darren yang duduk di pinggir tempat tidur Daryl setelah merapikan pakaiannya.


"Kau saja lah." Sang kakak yang bangkit ketika dia merasakan perutnya seperti diaduk-aduk dan rasa mual menyeruak di tenggorokkan.


"Aku kan sudah kemarin sebagai perwakilan Nikolai Grup. Sekarang giliranmu untuk Fia's Secret."


"Gantikan lah aku, masa aku hadir dalam keadaan seperti ini?" Kemudian Daryl berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.


"Tidak bisa, ini tanggung jawabmu." Namun Darren terus mengikutinya.


"Ayolah Ren, tidak akan ada yang tahu."


"Aku tidak mau. Hari ini ada janji dengan orang dari Maluku." Darren menatap cermin wastafel untuk memastikan penampilannya cukup baik.


"Janji apa?" 


"Pembicaraan soal rencana bergabungnya perusahaan mereka ke Nikolai Grup."


"Duh, kau sudah berhasil menggaet peminat?" Daryl yang tengah membasuh wajahnya pun mendongak menatap saudaranya tersebut.


"Aku hebat kan?" Yang membuat pria itu mengedikkan bahu dengan bangganya, sementara Daryl hanya menatap sang adik dengan salah satu sudut bibirnya yang dia tarik ke atas.


***


"Kau ini gila ya?" Darren membuka kaca mobil untuk membiarkan udara segar Kota Malang pada pagi hari itu masuk ke dalam mobil yang mereka tumpangi.


"Gila apanya? Aku bahkan merasa lebih baik dari pada tadi." Daryl menjawab sambil berbalas pesan dengan Nania yang berada di Jakarta.


"Bau minyak telon itu sangat menyiksa! Aku merasa seperti ada di dalam ruangan dengan banyak bayi." Kemudian Darren mengenakan masker untuk menutupi mulut dan hidungnya, agar terhindar dari aroma minyak telon yang Daryl gunakan.


"Menyiksa apanya?" Sang kakak mengendusi dirinya sendiri. "Ini wangi tahu? Pusing dan mual-mualku saja langsung hilang setelah menggunakan ini. Sama seperti Nania kalau gejala kehamilannya kambuh."


"Hah, kalian memang pasangan yang aneh!" Dan Darren tetap mengarahkan wajahnya ke luar di mana angin terus berhembus dengan kencang.


"Hey, memangnya Kirana tidak mengalami apa yang dialami Nania? Dia tidak mual dan muntah parah?" Daryl mencondongkan tubuhnya ke arah sang adik.


"Mengalami, tapi tidak se aneh kau da Nania. Segala minyak telon harus dipakai, memangnya bayi?" Darren mendelik kesal.


"Benarkah?"


"Ya. Dan mana ada laki-laki yang mengikuti keinginan istrinya sepertimu? Rasanya berlebihan sekali."


"Jangan asal bicara kau ini! Mau menyebutku berlebihan ya?" Dan Daryl meninju lengan adiknya.


"Diamlah! Aku muak mencium bau bayi darimu. Tapi seingatku bayi juga tidak sepertimu yang menghabiskan begitu banyak minyak telon? Jangan-jangan kau habiskan sebotol penuh ya?" Darren menatap saudaranya lewat sudut mata.


"Sembarangan!"


"Habis, baumu seperti yang mandi menggunakan benda itu."


"Terserah kau! Yang penting aku merasa baikan."


Dan percakapan itu terhenti ketika mobil yang mereka tumpangi tiba di depan hotel di mana konferensi diadakan. Yang jaraknya hanya beberapa blok saja dari tempat  menginap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi tetep nggak bisa nih?" Nania menatap jalanan yang ramai pada siang hari itu.


Regan seperti biasanya menjemput di sekolah dan tanpa menerima alasan apapun pria itu segera membawanya pulang.


"Maaf, tidak bisa. Saya harap kamu mengerti." Regan menjawab.


"Okeh …." Dan Nania seperti biasanya menyandarkan punggung pada kepala kursi dengan ponsel menyala di tangan. Dia sedang menunggu pesan dari suaminya yang tadi pagi mengadu tentang keadaannya yang tidak terlalu baik.

__ADS_1


"Mungkin kalau dengan Pak Daryl bisa. Sabar saja ya?" Regan kembali berbicara dan dia menatap istri atasannya itu lewat spion di atas kemudi.


"Hmm …."


"Hari ini mau ke rumah baca?" tawar pria itu yang berusaha mengalihkan perhatian Nania.


"Nggak ah, teman-teman aku udah ada di sana kok. Jadi kayaknya aku nggak harus ke sana juga kan. Nanti aja hari Jum'at biar dari pagi." Perempuan itu menjawab.


"Baiklah, langsung pulang?"


"Ya memangnya mau ke mana lagi? Shopping gitu?" Nania menjawab dengan nada ketus, namun Regan hanya tersenyum.


"Siapa tahu mau bagi-bagi makanan dulu untuk anak-anak di jalan? Biasanya kan kamu begitu?" Regan mengingatkan.


Nania tertegun sambil menatap ke luar mobil yang sedang melaju kencang.


"Jangan karena satu hal membuatmu merasa tidak senang, maka kamu melupakan hal baik lain yang sering membuatmu bahagia. Bukankah bertemu anak-anak dan memberi mereka makanan kecil adalah hal yang kamu suka? Mengapa harus terganggu karena Pak Daryl melarangmu melakukan sesuatu?"


Perempuan itu tidak merespon.


"Tindakanmu dengan membahagiakan orang lain itu adalah hal mulia, Nania. Tapi jangan sampai salah sasaran apalagi membuatmu dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Karena terkadang apa yang kita lakukan tidak sejalan dengan apa yang mereka pikirkan. Jadi tidak boleh gegabah."


Dan Nania tetap bungkam meski pada akhirnya perhatiannya teralihkan ketika ponselnya menerima pesan dari suaminya.


"Baby, begitu selesai speech aku langsung pulang ke hotel. Dan aku muntah-muntah lagi seperti semalam."  Daryl mengadu.


"Masa? Terus sekarang gimana?" Nania membalasnya.


"Sedikit lebih baik, tapi mual-mualnya belum hilang."


"Mungkin kamu masuk angin?"


"Tidak tahu."


"Udah minum obat?"


"Darren sudah memanggil dokter."


"Tidak apa-apa."


"Masa nggak apa-apa bisa muntah-muntah, yang bener aja?"


"Entahlah …."


"Terus konferensinya gimana?"


"Tidak bagaimana-bagaimana, aku kan sudah mengisi bagianku." Daryl menjawab lagi.


"Kalau gitu kamu bisa pulang dong?"


"Belum."


"Lho, kenapa? Katanya udah selesai."


"Tugasku memang sudah selesai, tapi aku masih harus mengikuti konferensinya untuk melihat bagaimana orang dari perusahaan lain bekerja."


"Hah …."


"Mungkin besok sore. Begitu benar-benar selesai aku langsung pulang."


"Ya udah, terserah kamu. Tapi gimana mual sama muntahnya? Aku kan khawatir jadinya?"


"Mungkin akan lebih baik. Selama ada minyak telon aku baik-baik saja." Daryl terkekeh.


"Apa hubungannya sama minyak telon?"


"Tadi pagi juga begitu, setelah memakai minyak telon aku baikan."


"Lah? Terus kenapa barusan malah muntah-muntah lagi?"


"Aku lupa tidak membawanya ke konferensi." Pria itu tertawa.

__ADS_1


"Duh, kamu aneh."


"Memang, hahaha."


"Terus, gelangnya nggak kamu lepas kan?" Nania terus bertanya, dan sepertinya mereka enggan untuk mengakhiri percakapan.


"Tidak." Sementara Daryl kemudian mengalihkan panggilan menjadi percakapan video. Sehingga dirinya bisa menunjukkan pergelangan tangannya yang dililit tali dari bra Nania.


Yang membuat perempuan itu tertawa terbahak-bahak dibuatnya.


"Are you happy?" Lalu Daryl mendekatkan wajahnya pada layar.


Nania tampak mengangguk dan dia belum berhenti tertawa.


"Darren bahkan menatapku dengan aneh saat dia tahu apa yang aku pakai ini." Daryl terus bercerita seraya merebahkan kepalanya di bantal.


"Nggak apa-apa, kan aku suka kamu yang aneh. Lain dari yang lain."


"Yeah, i know."


"Jadi kamu pulangnya besok sore ya?" Nania membenahi posisinya sehingga tampak lebih nyaman.


"Ya, sepertinya begitu."


"Ugh! Padahal aku udah kangen banget."


Daryl terkekeh lagi. "Sabar, Sayang. Aku juga rindu kepadamu." katanya yang mengangkat bantal ketika sesuatu melesat dari arah depan yang ternyata sebuah buku yang dilemparkan Darren. Dan suara pria itu terdengar menggerutu.


"Shut up, Darren!" Daryl tertawa.


"Hey hey hey, dengar Nania!!" Darren tampak di layar dan merebut ponsel dalam genggaman Daryl.


"Berhenti membuat kakakku menjadi aneh, dan biarkan dia menjadi Daryl yang dulu."


"What? Shut the f*** off!" Namun Daryl tampak berusaha merebut ponselnya kembali.


"Dia memang menyebalkan tapi aku menyukainya, daripada seperti sekarang." Darren dengan raut serius tapi membuat Nania tertawa.


"Aku nggak pernah melihatnya secengeng ini. Dan semalam dia bahkan terus memanggilmu setelah muntah-muntah. Itu benar-benar menjengkekkan!"


"Kamu dengar itu, Nania? Dengar? Kembalikan kakakku!!" ucap Darren lagi, dan dia pun tertawa.


"Get out of here!!" Daryl berteriak dan dia berhasil merebut ponselnya.


"Ya, tentu saja aku harus kembali ke konferensinya, bodoh!" Dan samar-samar terdengar jawaban Darren.


"Dia itu gila karena tidak bisa menghubungi Kirana." Daryl kembali mendekatkan wajahnya ke layar.


"Mungkin Kak Kirana lagi kerja? Kliniknya mau buka kan?"


"Ya, sepertinya minggu depan."


"Hu'um …."


"Baiklah, Sayang. Sepertinya aku mau tidur sebentar, kepalaku pusing lagi." Daryl memijit pelipisnya ketika rasa pening kembali menyerang kepala.


"Oke."


"Nanti aku telfon lagi ya?"


Nania menganggukkan kepala. Dan percakapan itu pun berakhir bersamaan dengan tibanya mobil yang Regan kendarai di kediaman Nikolai.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Manis ya?😂

__ADS_1


__ADS_2