
💖
💖
Seorang perempuan mondar-mandir di depan sebuah kedai yang hampir tutup. Sesekali dia menatap ke arah jalanan yang semakin malam menjadi semakin ramai saja. Dan setiap malam minggu memang selalu seperti itu.
Lalu pandangannya terkunci ketika sebuah mobil berwarna hitam tiba dan berhenti di depannya.
Dia tampak mendengus keras, ketika di saat yang bersamaan Regan turun dari mobilnya dan berusaha tersenyum meski raut wajah perempuan itu terlihat tidak menyenangkan.
"Sudah tiga kali kamu seperti ini?" katanya, ketika Regan mendekat.
"Aku tahu, maaf. Tapi aku memang mendapatkan tugas dadakan." Pria itu menjawab.
"Selalu alasan yang sama. Bisa tidak, kamu memilih pekerjaan yang normal saja? Yang bekerja delapan jam sehari dan libur di hari Sabtu dan Minggu? Bukan pekerjaan seperti ini?" ucap perempuan itu.
"Ini pekerjaan normal, dan bahkan banyak orang yang menginginkannya tapi sulit masuk karena ketatnya seleksi." Lalu Regan menjawab.
"Ya, normal untuk mereka, tapi tidak untukku!"
"Kalau kamu paham, seharusnya ini tidak menjadi masalah lagi. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Hanya karena nenekku pernah menjadi pegawai di keluarga Nikolai maka aku punya kesempatan yang mudah, yang tak orang lain miliki. Dan aku merasa beruntung."
Perempuan itu terdiam.
"Ayolah, Mia. Kita pulang? Sudah malam." bujuk Regan kepada kekasihnya yang sudah menunggu sejak sore.
Malam itu sebenarnya mereka memang telah berjanji untuk bertemu di tempat tersebut, dan memghabiskan malam akhir oekan bersama. Namun tiba-tiba saja Regan mendapatkan tugas untuk mengantarkan Daryl pergi.
"Mia?" Pria itu membuka pintu penumpang untuk kekasihnya.
Mia kembali mendengus namun tak urung juga dia masuk ke dalam mobil.
"Aku cuma mau hubungan ini normal seperti orang lain, lho." Mia mulai percakapan saat mobil yang mereka tumpangi sudah berpacu di jalanan.
"Apakah hubungan kita tidak normal? Aku rasa kita baik-baik saja. Bukanlah tiga tahun belakangan memang berjalan seperti biasa?" Regan berusaha fokus pada lalu lintas di sekitarnya.
"Ya, sebelum kamu masuk Nikolai Grup dan membuat waktu untukku berkurang," jawab Mia, dan untuk ke sekian kalinya dia pun berusaha meredam kekesalannya.
"Sudah aku katakan sejak awal, bukan?"
"Ya, tapi aku tidak menyangka akan separah ini. Kamu sulit dihubungi, kita sulit bertemu, lalu apa lagi? Jangan-jangan banyak tugas yang nantinya akan membuatmu benar-benar jauh dari aku." Mia melipat kedua tangannya di dada.
"Sudah aku katakan jangan menghubungiku di jam kerja. Karena pasti tidak akan aku angkat." Regan mengingatkan.
"Tapi jam kerjamu tidak tentu. Orang lain kerja dari jam delapan sampai jam empat. Tapi kamu? Kadang masih subuh sudah pergi. Atau tengah malam baru pulang? Apakah itu normal?"
"Pekerjaanku memang seperti itu, Mia. Aku bisa saja tiba-tiba mendapat tugas dadakan, jadi harus siaga setiap waktu. Atau kadang di lain harinya malah bersantai tanpa tugas apa pun."
"Hah, tidak tahu lah. Dulu waktu kamu masih bekerja di percetakan kita baik-baik saja. Pulang pergi kerja sama-sama, sarapan atau makan siang di tempat yang sama, dan di akhir pekan bisa pergi berdua. Tapi sekarang?" Perempuan 25 tahun itu menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Apa pun harus berubah demi mencapai kehidupan lebih baik kan? Dan aku punya banyak rencana untuk kita, maka dari itu aku menerima pekerjaan ini begitu mereka menawarkan."
"Tapi rasanya aku … lelah. Belum setahun kamu bekerja di Nikolai Grup hubungan kita hampir kacau begini, apalagi kalau sudah bertahun-tahun?"
Regan mengatupkan mulutnya.
"Bagaimana kalau … kita putus dulu?" Tiba-tiba saja perempuan itu berucap. Membuat Regan terkejut dan membuatnya seketika menghentikan laju mobil.
"Regan!!" Mia tersentak. Hampir saja dia terpental ke depan jika tidak mengenakan seatbeltnya dengan benar.
"Apa kamu bilang?" Regan bertanya.
"Bisa tidak kamu hati-hati? Yang kamu bawa ini nyawa manusia, bukan dokumen untuk bosmu!" Namun Mia malah berteriak.
"Apa yang kamu katakan barusan?" Regan bertanya pagi.
__ADS_1
"Hati-hati!" Mia mengulang ucapannya.
"Bukan itu. Tapi soal putus?" ujar Regan, dan dia berusaha meyakinkan pendengarannya.
"Ya. Bagaimana kalau kita putus dulu sebentar? Mungkin dari sana kita bisa memikirkan banyak hal?"
"Apa yang akan kamu pikirkan? Hubungan kita bukan satu atau dua bulan sehingga banyak yang harus dipikirkan. Kita sudah tiga tahun bersama dan selama ini baik-baik saja, bukan?" Regan bereaksi.
"Kamu merasa kita baik-baik saja?"
"Ya, apa lagi? Orang tua setuju, keluarga tidak ada masalah, lalu apa yang menjadi alasanmu untuk memutuskan hubungan?"
"Sudah aku katakan, sejak kamu bekerja di Nikolai Grup hubungan ini seperti kehilangan tujuan. Apakah kamu sadar, jika sebuah hubungan itu bukan hanya soal status? Tapi juga ada waktu dan kebersamaan. Tapi kita?"
"Baru beberapa bulan, Mia. Nanti setelah ini aku akan menemukan ritme kerjaku sendiri, dan bisa menyesuaikan diri dengan baik. Sehingga semuanya akan sejalan dengan hidup dan kebiasaan kita. Tolong bersabarlah!"
Mia menghembuskan napas berat sambil memejamkan mata.
"Mia? Jangan berpikiran pendek seperti ini. Aku mohon!" Pria 25 tahun itu berujar.
"Aku tanya, sampai kapan pekerjaanmu begini?" Mia menatap pria yang sudah tiga tahun menjadi kekasihnya itu.
"Aku tidak tahu! Sudah aku katakan tugasku macam-macam. Jadi tidak bisa ditentukan seperti orang lainnya." Tegan menjawab.
"Ini yang aku tidak suka. Tugasmu yang tidak menentu seperti ini yang menyulitkan aku untuk memahami bahwa apa yang sedang kita perjuangkan ini berarti."
"Jangan katakan hal itu!" Regan memotong ucapannya.
"Aku sudah memikirkannya dengan matang, dan membuat keputusan soal itu."
"Mia!"
"Aku ingin menepi dulu sebentar, aku minta waktu untuk berpikir ulang tentang hubungan ini dan melihat apakah kita memang seharusnya bersama atau tidak?"
"Mia!!"
"Mia, bukan begitu. Aku sedang meniti jalan untuk mencapai tujuanku. Agar hidup kita terjamin di masa depan dan berusaha menjadi lebih pantas menjadi bagian darimu."
"Maka biarkan aku juga menjalaninya dulu sendiri. Nanti, jika kamu sudah berhasil dan kita masih berjodoh, mungkin aku akan kembali. Jadi … untuk sementara waktu kita sendiri-sendiri saja dulu?" ucap Mia sebelum dia membuka pintu mobil.
"Mia! Apa kamu yakin?" Regan meraih tangan perempuan itu untuk menghentikannya.
"Aku tidak yakin tapi … aku akan menyesal jika tetap seperti ini. Karena jelas kamu tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan ini."
"Mia …."
Perempuan itu menyentakkan tangannya sehingga genggaman Regan terlepas. Dia turun dan secara kebetulan sebuah taksi melintas sehingga dia dapat memanggilnya. Yang kemudian membawanya pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Regan yang tertegun tanpa mampu menghentikannya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania berhenti di ambang pintu saat mereka hampir saja masuk ke dalam bangunan indah di pinggir pantai itu.
Seperti biasa, masuk ke dalam ruangan tersebut membuatnya menarik napas dalam-dalam dan harus mempersiapkan mental sekuat-kuatnya. Meski tak semenakutkan seperti pertama kali, namun tetap saja masih membuatnya cukup gugup karena dia akan tenggelam ke dalam air.
Menatap lantai kaca yang dibawahnya ada air laut mengalir, yang dihuni mungkin ratusan ikan dan terumbu karangnya. Dihiasi lampu-lampu kecil yang menambah kesan dramatis pada tempat itu. Apalagi jika lampu utamanya dimatikan. Dia merasa tengah berada di dalam samudera.
Daryl memutuskan untuk menghabiskan malam Minggunya bersama Nania di villa pinggir pantai yang merupakan milik keluarganya. Dan sudah tentu biasa mereka datangi. Sehingga siapa pun sudah mengerti apa yang harus mereka sediakan.
"Kalau datang ke tempat kayak gini, aku berasa jadi cewek panggilan yang lagi dibooking om-om deh." Nania sedikit tertawa.
Dia berpegangan erat pada lengan suaminya saat mereka memasuki ruangan tersebut.Â
"Ya anggap saja begitu. Aku juga merasa seperti om-om yang sedang menyewa seorang gadis. Jadi dalam hal ini kita sama." Daryl menjawab, kemudian dia tertawa juga.
"Jadi, Om Der. Kita akan menginap di sini?" tanya Nania.
__ADS_1
"Tentu saja, masa hanya berkunjung terus bercinta sebentar?" Mereka berhenti di tengah ruangan, kemudian Daryl menariknya sehingga Nania berada dalam pelukan.
"Kan kalau cewek bookingan dibawa bobok doang, habis itu pulang." ucap Nania.
"Aku bookingnya semalaman." Daryl menundukkan wajah sehingga dia dapat meraih bibir perempuan itu.
"Dan lebih dari itu, aku sudah membookingmu untuk seumur hidup, kan? Jadi aku rasa terserah kita mau pulang kapan saja?" katanya, sebelum dia akhirnya memulai cumbuan.
Mereka saling memagut untuk beberapa saat. Saling merasai bibir hangat masing-masing dan membiarkan hasrat segera menguasai diri, tubuh da ln akal sehat.
"Daddy, aku mau mandi dulu?" Nania mendorong dadanya sehingga cumbuan itu terjeda.
"Tidak usah, mandi nya besok saja."
"Tapi …."
Namun pria itu segera mengeratkan pelukan, dan dia melanjutkan cumbuan. Kedua tangannya mulai merayap di punggung Nania, lalu menjelajah ke manapun dia mau.
Sesekali tangannya turun untuk menyentuh bokong dan merematnya dengan gerakan sensual. Sehingga membuat tubuh Nania menegang karena rasa geli yang merambat ke segala arah.
Lalu dengan mudah Daryl mengangkatnya, kemudian dengan tergesa membawanya ke dalam kamar di mana tempat tidur berada.
Dia menurunkan Nania, dan dengan segera melucuti pakaian mereka berdua. Kemudian mendorong perempuan itu sehingga dia berada di bawah kekuasaannya.
Ujung-ujung jarinya menyentuh setiap lekuk tubuh Nania, sementara bibirnya mengecup apa pun yang dia temui. Lidah lembutnya bermain-main diatas kulit mulus perempuan itu dan sesekali dia menyesapnya sehingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Napas mereka sudah menderu-deru, dan hasrat sudah menggulung keduanya. Sehingga kesadaran segera memudar dari akal pikiran. Mereka sama-sama sudah siap, dan segera saja pertautan indah itu terjadi.
"Ugh!!" Kening Nania berkerut ketika Daryl memasukinya. Dan des*han segera mengudara saat pria itu mulai menghentak.
Daryl tidak berhenti menyentuhnya, malah dia semakin liar menjelajahi tubuh perempuan dibawahnya.
Nania menjengit dan secara refleks dia memegangi perutnya ketika merasa sedikit sakit.
"Umm … pelan-pelan, Dadd?" bisiknya, sambil menahan perut Daryl agar dia mengurangi tempo hentakannya.
Pria itu berhenti sebentar, dan dia menatap wajahnya. Kemudian memulai lagi dengan perlahan.
Dia membenamkan wajah di belahan dada Nania dengan kedua tangannya yang mempermainkan dua bulatan indah yang mulai bertambah besar seiring usia kehamilannya yang menginjak bulan kedua.
Nania mengerang dan dia berusaha menahan diri ketika merasakan hasratnya yang semakin menanjak. Dan gairahnya terus bergelora hingga rasanya dia ingin segera menggapai pelepasan.
Tapi Daryl tidak akan membiarkan ini cepat berlalu. Dia sudah pasti mengulur waktu dan melakukan apa pun yang diinginkan agar percintaan malam ini berlangsung lama, seperti biasa.
"Eegghhh, Daddy!" des*h Nania yang menekan kepala pria itu sehingga sesapan di dadanya menjadi semakin kuat.
Benda di bawah terus berkedut dan mencengkram semakin kuat sementara dia terus meracau. Perasaannya benar-benar tak dapat didefinisikan dengan kata-kata.
Namun Nania tercengang ketika Daryl menarik diri dan melepaskan pertautan mereka berdua. Dan dia hampir saja berbicara ketika di saat yang bersamaan pria itu membalikkan tubuhnya.
Tidak menunggu lama Daryl menarik pinggulnya sehingga milik mereka kembali bertautan dan hentakan itu kembali berlangsung.
"Daddy!!" Nania setengah berteriak dan kedua tangannya mencengkram kuat kain dibawah seolah dia akan terjatuh jika tak melakukannya.
Daryl sendiri merasa hampir tak bisa mengendalikan diri. Segala rasa tertumpah saat itu, dimulai ketika dia menyentuh istrinya.Â
Perasaannya semakin menggebu-gebu dan dia seperti ingin menghabisinya saat itu juga.
"Mmm … Daddy!!" Cengkraman Nania menjadi semakin kuat dan kedutan di dalam semakin membuat Daryl gila. Yang akhirnya membuat mereka benar-benar tak bisa menahan diri lagi. Sehingga tak lama setelahnya mereka mencapai klim*ks secara bersamaan.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ....