The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Cerita Cinta


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Pak, jangan lupa besok malam ada undangan pembukaan Pub baru di PIK. Fia's Secret jadi tamu VVIP." Pesan dari Dinna baru saja dia buka.


"Bagaimana jadwal ke Bogor?" Daryl segera menghubunginya.


"Bapak bisa pergi pagi kalau mau sorenya bisa kembali ke Jakarta, karena pemotretannya di adakan siang hari. Atau Bapak bisa tidak ikut karena Bu Fia yang akan menemani Anya dan Zenya."


"Baik, kita lihat saja besok."


"Dan untuk undangannya Bapak diperbolehkan membawa satu atau dua teman."


"Oh ya? Siapa?"


"Itu terserah Bapak."


"Kamu saja lah."


"Maaf Pak, saya tidak bisa."


"Ck!" Daryl berdecak sambil menyugar rambut bergombangnya yang memang sudah berantakan sejak tadi.


"Siapa saja lah, kamu pilihkan. Tidak mungkin juga aku mengajak Nania ke tempat seperti itu." ujarnya, tanpa dia sadari.


"Maaf Pak?"


"Ee … maksudku, kamu suruh siapa gitu yang bisa aku ajak. Yang penting jangan sampai membuatku malu di sana."


"Ajak salah satu model mau?"


"Terserah kamu."


"Baik Pak, nanti saya akan meminta salah satu model kita untuk menemani Bapak."


"Hmm …."


"Kalau begitu saya tutup dulu Pak?"


"Ya, baik." Lalu percakapan itu berakhir.


"Der?" Suara ibunya memanggil.


"Sudah malam, Mom. Kenapa Mama masih diluar?" Daryl melihat jam tangannya.


"Mama lihat lampu rumah ini menyala. Mama pikir ada siapa, rupanya kamu?" Sofia mendekat.


Dia hanya memeriksa ketika melihat dari jendela kamarnya jika rumah bermain anak-anaknya waktu kecil tampak terang benderang.


"Sembarangan keluar rumah, kalau ternyata ada perampok jahat bagaimana?" Daryl menjawab.


"Mana mungkin perampok masuknya ke rumah bermain? Mau mengambil apa? Sepeda mini ini?" Perempuan itu menunjuk sepeda kecil usang milik Daryl waktu kecil yang masih mereka simpan.


Daryl tertawa.


"Lagi pula mana ada perampok yang berani masuk kemari? Keamanan di rumah ini sudah maksimum," lanjut Sofia yang duduk di sofa kecil di samping putranya.


"Mama benar. Mereka bunuh diri kalau berani masuk." Daryl merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Itu tahu? Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Tidak biasanya juga?"


"Aku hanya … Sedang berpikir." Daryl menyandarkan kepalanya pada bahu sang ibu.


"Berpikir soal apa? Pindah dari sini dan hidup mandiri lagi?"


"Sebenarnya bukan itu sih. Walau masih aku pikirkan juga."


"Terus apa?"


"Bagaimana Mama dan Papi bertemu?"


"Hah? Itu yang kamu pikirkan?" Sofia menoleh kepada anaknya.


"Bukan juga, tapi tiba-tiba aku kepikiran. Hehehe."


"Mau tahu?"


"Ya."


"Baca buku SUGAR karangan Author Fit. Di sana kamu akan menemukan kisah paling manis di dunia novel. Dijamin kamu tidak akan bisa berhenti sampai tamat. Bahkan kamu akan terus mengulanginya lagi dan lagi. Terus nanti ada lanjutannya di MY SWEET LOVE yang menceritakan asisten pribadi seorang CEO yang jatuh cinta kepada anak tirinya yang dia jaga dari kecil."


"What? Mama baca novel? Sejak kapan?" Daryl mengerutkan dahi.


"Eh … kok jadi ngelantur ya? Hahaha." Sofia tergelak.


"Lupakan, itu cuma promo. Eh, maksudnya intermezzo. Biar kamu tidak monoton."


"Mom, what are you talking about?"


"Begini …." Sofia mengingat pertemuan pertama dirinya dengan Satria.


"Mama hanya memberi sebotol air mineral kepada seorang laki-laki asing yang duduk di dekat lapangan dengan beberapa anak kampung. Lalu dia mengikuti Mama saat pulang ke panti asuhan." Perempuan itu mulai bercerita.


"Panti asuhan yang sering kita kunjungi?"


"Ya."


"Tempat Mama tinggal dulu itu kan, sebelum Abah dan Nenek bawa pulang?" Daryl pun mengingat cerita dari sang ibu yang selalu dia ceritakan waktu mereka kecil.


"Benar sekali. Kamu masih ingat ternyata?"


"Tentu saja. Itu kisah yang manis. Tapi aku belum tahu bagaimana Mama dan Papi bertemu."


"Makanya diam dulu kalau orang tua sedang bercerita. Mama jadi lupa kan, sampai mana tadi ya?"


"Laki-laki yang Mama beri air mineral mengikuti ke panti asuhan."


"Oh iya."


"Lalu?"


"Dan dia tinggal di sana selama beberapa minggu. Kami diajari banyak hal seperti membaca, menulis, dan bahasa asing."


Daryl mendengarkan.


"Tapi sayang, ayahnya menjemput dia untuk pulang."


"Kenapa?"


"Ternyata dia kabur dari rumah karena tidak tahan. Ayahnya sangat galak."


"Lalu?"


"Kami tidak pernah bertemu lagi selama bertahun-tahun."

__ADS_1


"Dan hubungannya dengan Papi apa?"


"Kamu tidak mengerti apa yang Mama ceritakan?"


"Masalahnya Mama menceritakan soal pertemuan dengan laki-laki yang Mama beri air mineral. Lalu di mana cerita pertemuan Mama dan Papi."


"Ya itu."


"Yang mana?"


"Laki-laki yang Mama beri air mineral."


"Astaga!" Daryl tertawa.


"Kenapa?"


"Sebagai pendongeng Mama tidak bercerita dengan baik. Malah membuatku bingung? Hahaha."


"Ya, bercerita memang bukan keahlian Mama."


"Baik, jadi di sana Mama dan Papi bertemu sampai sama-sama tinggal di panti asuhan?"


"Ya, benar."


"Lalu setelah itu Ded datang?"


"Ya, benar sekali."


"Lalu kalian berpisah lagi?"


"Iya."


"Lalu bagaimana akhirnya kalian bisa bertemu lagi?"


"Soal itu …."


"Ketika Mamamu sedang bekerja." Suara khas sang ayah juga hadir. Yang tentu mengalihkan perhatian ibu dan anak ini.


"Sayang, kenapa kamu ke sini?" Sofia bereaksi.


"Karena kamu tidak ada dirumah." Satria masuk ke dalam bagunan yang tidak terlalu besar itu, yang dulunya merupakan tempat untuk anak-anaknya bermain.


"Ah, aku lupa bilang kalau mau melihat kenapa lampu di rumah bermain ini menyala."


Satria duduk di sofa yang sama dengan Sofia berada di antara dirinya dan Daryl.


"Kalian ini? Memang tidak terpisakan. Selalu saling mencari kalau salah satu tidak ada." Putra mereka berujar.


"Itulah mengapa kami bisa bersama." Satria menjawab.


"So, apa yang terjadi?"


"Kami … hanya menjalani hidup dengan orang lain dulu sebelum kembali bertemu. Memiliki kisah lain yang benar-benar sangat berbeda hingga akhirnya Tuhan mempertemukan dengan caraNya sendiri."


"Apakah hidup kalian buruk sebelum kembali bertemu?"


Sofia menoleh kepada suaminya.


"Tidak bisa disebut buruk juga, hanya saja berbeda dari kebanyakan orang." Satria menjawab.


"And?"


"Banyak hal yang mempersatukan kami."


"Contohnya?"


"No way! And you love her? What kind of love is that? Such a weird way to love someone! (tidak mungkin! Dan Papi mencintainya? Cinta macam apa itu? Itu hal yang aneh untuk mencintai seseorang!)"


"Kamu tidak bisa mengontrol dirimu ketika mencintai seseorang. Bahkan ketika dia merupakan manusia paling konyol sekalipun. Karena hati memiliki instingnya sendiri untuk mencintai, dan kamu tidak akan pernah mampu mengubah itu."


"Hmm … such a deep thing."


"Tapi pertanyaannya, apakah kamu cukup kuat untuk menjaga perasaan itu agar tetap sama?"


"Bahkan setelah kalian bertemu orang lain?"


"Itu adalah hal yang berbeda. Kamu tahu, ketika kamu sudah berusaha keras untuk hidup bersama dia yang kamu temui dalam perjalanan hidupmu, tapi ternyata gagal dan akhirnya kamu menemukan kembali cintamu, dan hal itu tetap ada di sini." Satria menekan dadanya sendiri.


"Mungkin itu adalah cinta yang sebenarnya, tapi segala hal hanya tergantung pada pilihanmu."


"And you choose to go back?"


"Ya."


"Dan aku yakin perjalanan kalian nggak mudah."


"Kamu benar."


"Dan untuk bertahan sampai hari ini, apa yang Mama dan Papi lakukan?"


"Hanya … menjalani segala hal bersama."


"Thats it?"


"Ya. Apa pun. Bukan hanya suka dan duka, sakit dan sehat, sulit dan senang. Tapi segalanya akan baik-baik saja selama kita bersama."


Daryl terdiam. Lalu dia teringat kepada Nania yang ditinggalkannya setelah perselisihan kecil mereka. Bukan karena marah, tapi karena dia merasa malu karena mengetahui jika gadis itu pernah memergokinya pada saat dirinya sedang bermesraan dengan Bella. Dan apa yang dikatakan Nania benar-benar menyudutkannya.


"Hey Mom, apa gelar terakhir Mama waktu menikah dengan Papi?" Lalu dia bertanya.


"Mama?" Sofia menunjuk dirinya sendiri.


"Ya."


"Hanya lulusan SMA."


"Dan Papi?" Daryl beralih kepada ayahnya.


"S2 sama sepertimu."


"Its not a problem?"


"Mengapa harus jadi masalah?" Satria balik bertanya.


"Dan pekerjaan Mama waktu bertemu Papi?"


"Hanya admin di gymnasium."


Daryl terdiam lagi.


"Kalau aku mencintai gadis yang tidak setara dengan kita, apa akan jadi masalah untuk Mama dan Papi?" Lagi-lagi dia ingat Nania.


"Tidak." Satria langsung menjawab.


"Kalau dia bukan dari kalangan kita, apakah itu juga tidak akan jadi masalah?"

__ADS_1


"Tentu saja, kenapa harus menjadi masalah?"


"Lalu bagaimana jika dia bukan perempuan berpendidikan seperti Kirana yang bergelar dokter dan tidak juga berprestasi seperti Rania?"


Sofia dan Satria saling pandang, dan mereka mulai mengerti arah pembicaraan ini bermuara ke mana.


"Selama dia mencintaimu dengan tulus dan bisa mendukungmu sepenuh hati Mama rasa tidak masalah juga."


"Realy?"


"Ya."


"Bagaimana kalau jodohku ternyata gadis seperti itu? Dia tidak berpendidikan tinggi, tidak punya gelar, dan tidak juga punya prestasi."


"Apa dia baik?" Satria kembali bersuara.


"Ya.


"Apa kamu yakin?"


"Iya. Dan dia juga tulang punggung keluarga."


"Wow, seperti Mamamu dulu ya?"


"Benarkah?"


"Hmm …." Sofia menganggukkan kepala.


"Tapi dia sedikit keras kepala karena mungkin hidupnya tidak mudah."


"Berpendirian!"


"Nah iya, tepat."


"Memangnya kamu sudah menemukannya ya?" Sofia mulai menemukan benang merahnya.


"Aku rasa iya, tapi dia tidak percaya kepadaku." jawab Daryl dengan nada sendu. Ingat kalimat yang dilontakan oleh Nania.


"Kenapa?"


"Mungkin karena kelakuanku sendiri."


"Hmm … itu sulit. Apa dia tahu kelakuanmu itu?" Sofia tampak menyelidik.


"Tahu."


"Maka perbaikilah dirimu, Nak!" Perempuan itu menepuk bahu Daryl dengan keras. Sehingga membuat putranya itu merasa terkejut.


"Karena sebaik-baiknya manusia di dunia ini adalah dia yang memperbaiki kesalahannya. Tidak berbuat buruk lagi dan tidak melakukan keburukan yang baru. Tidak peduli seberapa besar keburukannya di masa lalu, semuanya akan terkikis jika kamu mau berubah menjadi yang lebih baik!!" Sofia dengan berapi-api.


"Wah? Mama seperti seorang motivator handal!!" Daryl bereaksi terhadap apa yang dilakukan ibunya.


"Kamu pikir siapa Mamamu ini? Bahkan pemilik Nikolai Grup pun sampai bertekuk lutut memohon Mama untuk kembali ." Perempuan itu dengan bangganya.


"Ah, iya. Bagus sekali!"


"Maka, pergilah kesana dan dapatkan dia! Yakinkan kalau kamu pantas untuk mendapatkannya!" Sofia menyemangati putranya.


"Mama yakin akan setuju dengan pilihanku?"


"Bukankah sudah kamu katakan tadi?"


"Aku hanya takut tidak sesuai harapan Mama."


"Yang penting akan membuatmu bahagia dan tidak hanya memandangmu dari segi fisik dan materi saja. Walau kita tidak bisa memungkiri jika itu juga penting."


Daryl tertawa.


"Jadi … apa kita akan melamar Nania setelah ini?" Saking bersemangatnya sampai-sampai kalimat itu terlontar juga dari mulut Sofia.


"What?"


"Ups! Maksud Mama …."


"You already know?"


"Um … jadi … benar ya? Hehe …"


"Hell no!" Daryl bangkit dari duduknya.


"Der?"


"Kalian terus memata-mataiku ya?" Dia dengan kesal.


"Tidak, kami hanya …."


"Kalian curang!!" Daryl mengayun langkah keluar dari bangunan itu.


"Daryl?"


"I'm out of here!!" Daryl sedikit berteriak.


"Sayang, apa aku salah bicara?" Sofia beralih kepada suaminya.


"Tidak, hanya saja kamu terlalu jujur."


"Ah!! Kenapa mulut ini tidak bisa diajak kerjasama ya?" Sofia sedikit kesal, namun membuat suaminya tertawa.


"Sekarang aku tahu dari mana Anya mendapatkan kejujurannya. Rupanya dari Omanya?"


"Tapi bagus juga. Daryl jadi bertindak, kan?" Sofia mendengar suara mesin mobil menyala.Β 


"Menurutmu begitu?"


"Ya, jika dia peka seharusnya sudah bertindak."


"Mereka baru satu minggu pacaran."


"Apa bedanya? Kalau itu bisa menyelamatkan anakku dari hal buruk, aku lebih baik menikahkannya."


"Yakin sekali kamu ini?"


"Tentu saja. Daryl tidak akan seperti itu jika dia tidak benar-benar menyukai Nania. Aku tahu anakku. Walaupun terkadang dia suka sembarangan, tapi sebenarnya dia pria yang baik. Hanya saja kemarin-kemarin dia sedang tersesat. Iya kan? Dan orang tersesatpun akan kembali pulang jika dia menemukan lentera terang di kegelapan.


Satria tersenyum.


"Ayolah kita tidur. Bukankah besok harus pergi?" Sofia bangkit seraya menarik tangan suaminya. Dan Satria hanya mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah nyaman mereka.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...

__ADS_1


Hehe ... Kuy bang halalin adek😜


__ADS_2