
π
π
"Kayaknya kita dulu satu badan deh, eh β¦ apa sih namanya? Reinkarnasi, kamu percaya nggak? Mungkin dulu kita ada ikatan apa gitu. Soalnya dari tadi kita samaan terus." Rania menyesap capucino cincaunya yang dibuat khusus oleh Nania.
Mereka duduk di sofa sementara anak-anak menggelar karpet di depan televisi, dengan beberapa mainan. Dan tiga remaja di dekatnya asyik bermain gadget.
"Nggak tahu, mungkin begitu." Nania menjawab.
"Asli, dari makanan aja kita suka yang sama. Cuma mungkin kamu sukanya masak, sementara aku otomotif. Jauh banget ya bedanya?" Perempuan 28 tahun itu tertawa.
"Kamu pendiam, sedangkan aku banyak ngomong. Cocok kan? Atau aku terlalu banyak ngomong?"
"Nggak juga. Sebenarnya aku banyak ngomong juga kok kalau udah sering berinteraksi. Cuma mungkin agak canggung aja."
"Hmm β¦."
"Kadang aku takut bikin orang merasa aneh kalau aku terlalu akrab. Mungkin sebenarnya mereka nggak suka aku, tapi pura-pura suka karena takut bikin aku nggak enak." ujar Nania.
"Dih β¦ kalau nggak nyinggung orang kenapa mereka nggak suka? Kamu kan baik, manis juga. Masa iya ada yang nggak suka? Kalau ada pasti orangnya buta. Mana pinter masak lagi, duuuuhhh." Rania menepu-nepuk punggung istri adik iparnya tersebut.
Ibu sama Bang Sandi nggak pernah suka aku. Batin Nania.
"Aku ya, anak-anak mau tujuh tahun baru bisa oseng kangkung. Itupun, kalau nggak keasinan, ya kemanisan." Rania tertawa.
"Masak itu pusing. Mesti ngafalin garam, msg sama penyedap. Bubuk kaldu, merica sama ketumbar. Yang paling sulit itu, bedain jahe sama lengkuas. Yang aku hafal cuma kencur sama cabe karena bentuknya beda."
"Wah β¦ masa?"
"Asli. Untungnya suami aku banyak duit, jadi bisa sewa ART untuk masak sama beresin rumah."
"Hmm β¦."
"Makin sini makin males belajar, ditambah papinya anak-anak nggak pernah pusing sama masalah gituan. Dia mah makan yang udah disiapin Mbak Leni, atau kalau bosen ya ke sini." Rania tertawa lagi.
"Dan untung juga punya mertua nggak bawel. Yang nggak nuntut menantunya harus bisa banyak hal. Tahu kali kalau aku nggak bisa apa-apa selain bawa motor?"
"Emangnya waktu dulu Kakak nggak belajar?" Nania penasaran.
"Eits, jangan salah. Belajarmah udah keras bener sampai sering digeplak sama Papa. Tapi tetep aja susah."
"Mama Kakak nggak bisa masak juga?"
"Oo, kalau Mama jagonya. Ya β¦ sebelas dua belas lah sama kamu."
"Kok bisa gitu ya?"
"Hu'um, aneh. Mungkin gara-gara aku kebanyakan sama Papa. Sehari-hari diasuh di bengkel, mainin obeng sama kunci Inggris sambil benerin mesin kalau Mama kuliah."
"Duh?"
"Malah, bakat masaknya Mama turun ke Rega."
"Rega?"
"Adik aku yang cowok."
"Aku kira Regan? Namanya kok sama ya? Hahaha β¦."
__ADS_1
"Regan itu siapa?"
"Suruhannya Daryl. Kadang jadi sopir aku juga."
"Kayak si Dudul gitu?"
"Si Dudul?"
"Galang, Nna."
"Oh, aku lupa terus kalau itu Pak Galang."
"Dih, Pak Galang? Dia kan sekarang udah jadi ponakan kamu?" Rania mengingatkan.
Sedangkan Nania tertawa keras mengingat hubungan keluarga yang agak rumit ini.
"Hadeh, β¦ ni mama sama Papi masih belum sampai apa?" Rania melirik jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh malam tapi mertuanya tak kunjung tiba.
"Kayaknya belum deh? Kalau udah pasti ada yang ngasih tahu." Nania menatap rumah besar mertuanya yang semua lampu luarnya menyala.
"Hu'um. Lama juga ya?Β Padahal kalau aku yang terbang rasanya cepet."
"Mommy, aku ngantuk." Zenya beranjak dari mainan yang sudah dia dan Anya berantakan di tengah rumah.
"Zen udah mau bobok?" Nania bertanya.
"Hu'um."
"Me too. Perut aku kekenyangan jadinya ngantuk."
Nania tertawa lalu melirik beberapa wadah berisi makanan yang hampir kosong.
"Habisnya cilok buatan Tante Nna enak." Bocah itu menjawab.
"Ya udah, kita ke rumah Oma ya? Sebentar Mommy panggil Papi." Rania menarik bocah itu ke pangkuannya.
"Papi?" Rania sedikit mengeraskan suaranya.
"Ya?" Dan Dimitri segera muncul dari teras belakang setelah berbincang dengan sang adik.
"Zen ngantuk." Rania mengusap kepala putranya.
"Mau ke rumah Oma? Come!" Pria itu mengulurkan tangannya untuk meraih anak itu.
"Nooo! Mau di sini aja." Namun Zenya menolak.
"Mending di rumah Oma aja, biar enak ya?" bujuk Rania pada kedua anaknya.
"Nooo β¦." Namun mereka menggelengkan kepala.
"Kamar di atas belum ada kasurnya, Zen. Jadi mungkin boboknya di sini." ucap Nania, dan Zenya pun mengangguk.
"Tapi aku nggak punya kasur lantai, Kak. Belum kepikiran untuk beli." Nania sedikit terkekeh.
"Kita suruh pegawai membawanya ke sini?" Dimitri menyahut, kemudian dia melakukan panggilan dengan ponselnya.
Dan tak berapa lama, sebanyak empat buah kasur udara dibawa dari rumah besar. Yang cukup untuk menampung dua orang dewasa, tiga anak remaja, dan dua anak kecil. Sehingga berubahlah ruangan tersebut menjadi tempat menginap malam itu.
"Udah semua kan? Kalau gitu aku juga tidur ya? Mau nungguin papi sama mama juga kayaknya masih lama datangnya." Nania melihat ipar dan keponakan mereka yang sudah bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Rania mengangguk.
"Aku tinggal ke atas ya?" Lalu dia dan Daryl beranjak ke kamar mereka di lantai dua.
***
"Mama dan Papi kemungkinan sampai di Jakarta tengah malam nanti." Daryl meletakkan ponselnya di atas nakas setelah membaca beberapa pesan dari Galang yang mengabarkan soal.l kepulangan orang tuanya dari Belanda.
"Iya." Nania naik ke tempat tidur dan segera menelusup ke pelukan suaminya yang sudah berbaring.
"Sibuk ya, hari ini?" Dan Daryl segera menyambutnya dengan pelukan, lalu dia mengusap-usap punggung perempuan itu dengan lembut sehingga membuatnya meras begitu nyaman.
Nania menganggukkan kepala, lalu dia tertawa pelan.
"Tapi seneng karena banyak orang." katanya.
"Hmm β¦ kamu membuat semua orang bahagia dengan apa yang kamu berikan. Those food and hospitality, it's good to see their smile. Terima kasih sudah memberi makan keluargaku hari ini." Pria itu menghadiahinya sebuah kecupan manis, dan Nania membalas dengan tak kalah manisnya.
"Sekarang tidurlah, kamu pasti lelah?" Pria itu menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua yang tetap berpelukan.
Nania mendongak dan keningnya berkerut.
"What?" Dan Daryl menyadari hal itu.
"Tumben?"
"Tumben apa?"
"Kamu nggak minta aku kelonin?"
Kini pria itu yang tertawa.
"Emangnya nggak mau?"
"Jangan memancingku, Malyshka!" Daryl memperingatkan.
"Serius. Biasanya ada aja modusnya? Malam ini kok nggak?"
Daryl tertawa lagi.
"Aku hanya berusaha menghindari gangguan. Kamu tahu, keponakan di bawah sana bisa saja tiba-tiba mengetuk pintu lagi dan mengacaukan acara kita."
Nania tertawa lagi mengingat beberapa kejadian yang membuat pergumulan panas mereka gagal dan berakhir dengan kekesalan.
"Moodku sedang bagus sekarang ini, dan aku tidak mau itu rusak gara-gara satu insiden kegagalan bercinta. Yang nantinya akan membuatku kesal sepanjang hari."
"Baiklah kalau begitu." Nania meremat pipi suaminya dengan gemas, lalu dia kembali menempelkan wajahnya di dada pria itu.
"Beneran bobok ya, Daddy? Jangan tiba-tiba minta tengah malam nanti." Dia memeluk erat tubuh suaminya, dan sekejap saja Nania sudah memejamkan mata. Disusul Daryl setelah mematikan salah satu lampu tidurnya agar kamar mereka tidak terlalu terang.
π
π
π
Bersambung ....
Awas!!! Ada gula lewatππ
__ADS_1
Like komen sama kirim hadiah dulu ya, siapa tau kita bisa crazy up hari ini.