The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Nania Dan Petualangannya


__ADS_3

💖


💖


Nania mengusak kepalanya yang basah sementara Daryl duduk di tepi ranjang. Dan pria itu belum berniat menghentikan keusilannya meski mereka sudah keluar dari kamar mandi.


"Berhenti, astaga!!" Kali ini Nania merasa kesal.  


Dia menepuk pundaknya cukup keras ketika Daryl meremat bokongnya. Namun pria itu malah tertawa kemudian manarik pinggulnya sehingga Nania duduk di pangkuannya.


"Jangan dulu lah, masih sore. Mana ada anak-anak lagi!" Nania masih mengeringkan rambutnya yang basah, sedangkan Daryl melingkarkan kedua tangannya di pinggang, sementara wajahnya dia tempelkan di dada perempuan itu.


"Memangnya mau apa? Aku kan cuma mau seperti ini?" Daryl sambil terkekeh.


"Tapi kamu suka macem-macem kalau udah gini."


"Tidak, hanya satu macam." jawab Daryl, dan dia semakin merapatkan pelukannya.


"Tuh kan?" Nania meronta, dan dia hampir saja turun dari pangkuan suaminya.


"Aku hanya bercanda!!" Namun pria itu menahannya.


"Aku rasanya kayak punya bayi deh? Kelakuan kamu lebih manja dari Zenya." Nania meraih pakaian di samping mereka.


"Masa?"


"Hu'um." Dia kemudian menyerahkan pakaian tersebut kepada suaminya.


"No!" Daryl menolak.


"Lupa belum bilang ya kalau aku mau mengajakmu pergi?" katanya kemudian.


"Pergi ke mana?"


"To … some place."


"Jalan-jalan?"


"Umm … yeah, jalan-jalan." Pria itu mengangguk.


"Ke mana?"


"It's a … sureprize?"


"Hmm …."


Daryl tertawa.


"Terus aku harus ngambil baju kayak gimana?" Lalu Nania bertanya.


"Just let me take it by my self." jawab Daryl yang mendorongnya turun dari pangkuan.


***


Dia mengenakan kaus berlengan panjang dengan kerah yang menutupi seluruh lehernya. Lalu dilapisi jas berwarna hitam ditambah sepatu kulit yang membuatnya tampak sangat rapi. 


Dan Nania mengenakan pakaian yang hampir sama, yang dia temukan di ruang ganti mereka. Kaus agak tebal berlengan panjang, celana jeans dan blazer hitam ditambah semacam scarf yang menutupi lehernya. Tentu Daryl yang memilihkan.


"Kita kayak mau pergi ke mana ya?" Perempuan itu tertawa sambil menarik tas selempamgnya.


"Tebak saja." Mereka keluar dari kamar.


"Kalian mau pergi sekarang?" Sofia yang tengah menemani kedua cucunya bereaksi begitu melihat anak dan menantunya turun dalam keadaan yang sudah rapi.


"Yeah, i'm running out the time." Daryl menjawab.


"Baiklah, hati-hati di jalan." ucap Sofia, dan Satria hanya melambaikan tangan dari sofanya.


"Mama tahu?" Nania bertanya.


"Tahu."


Namun Daryl menggelengkan kepala sambil tersenyum kepada ibunya untuk memberikan isyarat, sehingga perempuan itu tetap diam.


"Om Der sama Tante Nna mau ke mana?" Anya pun bertanya.


"Rahasia." Daryl menjawab.


"Mau pergi ya? Ikut dong?" Dua anak itu cepat mendekat.


"Oh tidak bisa. Maaf-maaf saja ya, ini khusus orang dewasa, jadi kalian tidak bisa ikut." Pria itu menjawab lagi.


"Mau ikuuuttt." Zenya bergelayut pada lengan Nania.


"No!! Back off!!" Daryl menarik instrinya dari dekat Zenya.


"Apaan sih? Bawa aja kenapa?" Lalu perempuan itu bereaksi.


"Tidak kali ini." tolak Daryl yang melepaskan tangan Zenya.


"Om Der, mau ikuuttt!" ucap Zenya lagi.


"No way!!" jawab Daryl lagi yang melirik kepada Sofia untuk meminta bantuan.

__ADS_1


"Anya, Zenya? Ayo sama Oma?" Perempuan itu menarik kedua cucunya.


"No!!! Aku mau ikut Tanye Nna." Zenya menolak.


"Tidak bisa ikut. Mungkin lain kali ya?" ucap Sofia.


"No!! Mau sekarang!" Zenya hampir menangis.


"Anya, Zenya? Opa mau lihat peliharaan kalian yang sekarang. Bolehkah?" Lalu Satria menginterupsi.


"Umm …."


"Ayo, Opa mau lihat. Apa yang sekarang seperti Heimlich?"


"No! It's tottaly differents." Anya yang menjawab.


"Dia nggak kayak Heilmlich, Opa."


"Masa? Benarkah, Zen?"


"Yeah. It's more hairry and … a little bit danger?"


"Kenapa bisa begitu?"


"Mungkin karena bisa bikin gatal?" Zenya melepaskan tangan Nania secara perlahan.


"Benarkah?"


"Yeah, Opa tahu? Kayaknya itu bakalan jadi kupu-kupu juga deh."


"Then show me!" ucap Satria yang menarik kedua cucunya ke belakang rumah sehingga Daryl dan Nania bisa pergi.


***


"Kita mau ke mana? Kenapa main rahasia-rahasiaan sih?" Nania masih bertanya dalam perjalanan mereka.


"Nanti juga tahu." Daryl yang megemudikan mobilnya cukup santai. 


Namun dia berhenti saat jalanan di depannya macet. Tidak heran karena malam ini sudah masuk akhir pekan.


Mereka menunggu hingga beberapa menit, namun lalu lintas tak kunjung bergerak. Sepertinya memang hal itu sering terjadi.


"Let see, apakah di sekitar sini ada jalan pintas?" Pria itu bergumam sambil menyentuh layar monitor di sebelah kiri stir.


Lalu muncul peta dengan titik merah dikuti angka-angka dan tulisan.


"Seratus meter huh?" Dia bergumam lagi saat melihat tanda di monitor tersebut.


Dan setelah sekitar seratus meteran, dia menemukan sebuah jalan di sebelah kanan lalu segera membelokkan kendaraan roda empatnya.


Jalan tersebut memang cukup ramai tapi kendaraan yang ada masih bisa bergerak dengan kecepatan yang cukup sehingga mereka akhirnya tiba di satu jalan yang Nania tahu.


"Ini kayak …."


"Yeah, sekitar Nikolai Circle. Dan jalan itu menuju ke kedainya Ara." Daryl menunjuk jalan di sebelah kanannya.


"Aku baru tahu ada jalan lain yang tembus ke sini selain jalan yang sering aku lewati?"


"It's a whole new things." Daryl dengan bangganya. Dia mengira telah membuat perempuan disampingnya terkesan.


"Kita mau ke gedung Nikolai Grup malam-malam begini?" Nania bertanya lagi.


"Tepatnya ke Nikolai Tower." Daryl pun menjawab.


"Nikolai Tower?"


"Yeah."


"Selama ini aku cuma dengar namanya doang, tapi belum lihat aslinya kayak gimana?" Nania berujar.


"Well, kamu tidak hanya akan melihatnya, tapi juga masuk ke dalamnya." Mobil yang Daryl kendarai memasuki kawasan yang lebih dalam dari area bisnis banyak perusahaan terkenal itu. 


Mereka bahkan melewati gedung Nikolai Grup yang tampak kokoh dan cukup mencolok di antara gedung-gedung lainnya, dengan logo huruf N berwarna ungu menyala di atasnya.


Dan setelah beberapa blok  kendaraan tersebut berhenti di depan gedung terkenal lain dengan tulisan N Tower. Dan dari namanya saja tempat itu pasti masih berhubungan dengan klan Nikolai.


"Selamat malam, Pak?" Seorang petugas keamanan menyambut begitu mereka turun dari mobil.


"Di atas sudah siap?" Daryl bertanya.


"Sudah Pak." jawab pria berseragam hitam itu.


"Baik, terima kasih." Daryl pun segera menarik Nania masuk.


"Ini apartemen?" Mereka sudah memasuki lift yang segera melesat ke lantai paling atas gedung tersebut.


"Lantai paling atas, ya. Tapi, secara resmi ini adalah pusat pendukung pengendalian Nikolai Grup." Daryl menjawab pertanyaan Nania.


"Kamu tahu, setiap perusahaan harus punya opsi kedua atau setidaknya tempat cadangan. Jadi jika ada sesuatu dengan kantor pertama, maka kantor ini akan segera mengambil alih sehingga kegiatan operasional tidak akan terganggu." Pria itu menjelaskan.


"Nggak ngerti." Nania denga polosnya.


"Tidak usah mengerti. Hal seperti itu biar aku saja yang memikirkan." Daryl tertawa sambil merangkul pundak istrinya.

__ADS_1


"Tapi masuk ke sini bikin aku merasa kayak lagi jadi cewek bookingan om-om." Nania pun tertawa.


"Benarkah?"


"Iya. Ini kayak aku lagi ngikutin pelanggan mau bobo bareng."


"Memangnya pernah begitu?'


"Nggak sih, tapi ini kayak di novel yang aku baca. Hahaha."


"Novel lagi!"


"Ya habisnya apa lagi? Aku kan pengangguran."


"Yah, anggap saja begitu. Kamu sugar baby, dan aku om-omnya. Bukankah kita sangat serasi?" Lift berhenti di lantai paling atas, lalu pintunya terbuka.


"Tapi om-omnya halal." Nania menyahut.


"Apa di novel yang kamu baca tidak begitu?" Mereka keluar dari lift dan melewati lorong yang terang benderang.


Nania bahkan sempat menyentuh dindingnya yang terbuat dari marmer Italy berkualitas tinggi.


"Nggak. Mereka kebanyakan laki-laki yang punya istri."


"Duh? Ngeri sekali bacaanmu?"


"Tapi reader suka."


"Masa?"


"Hmm …." Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Nah, apartemen ada di sana." Daryl berhenti melangkah tepat di depan sebuah pintu lalu menunjuk ke arah kanan tubuhnya.


"Terus?"


"Tapi kita akan ke sini." Lalu pria itu membawa Nania masuk ke lorong lain dibalik pintu, kemudian melewati tangga sebanyak dua lantai.


"Kita nggak ke apartemen?" Nania bertanya lagi. Pikirannya sempat berkelana pada hal-hal mes*m yang mungkin akan dilakukan Daryl kepadanya, namun dia salah.


Dan kini mereka berada di luar. Tepatnya di rooftop Nikolai Tower yang terdapat helipad lengkap dengan helikopternya begitu dia mengalihkan pandangan. Dan Regan sudah berada di sana.


"Perjalanan ke Bandara di musim liburan seperti ini pasti macet, jadi aku putuskan untuk menggunakannya saja." ucap Daryl yang menatap wajah takjub Nania.


"Nggak mungkin!" ucap perempuan itu.


"Jika kamu tetap bersamaku, maka tidak ada yang tidak mungkin." Daryl kemudian menariknya ke arah helikopter.


"Ah …. Aku belum cerita ya? Aku kan sedikit takut sama ketinggian. Jadi aku nggak mungkin bisa naik itu. Kayaknya ngeri!" Nania menolak naik ketika Regan membuka kan pintu heli untuk mereka.


"There's no way back. We have to go." Daryl mendorongnya perlahan.


"Udah aku bilang kan …."


"Kamu fobia ini juga?" Pria itu sempat bertanya.


"Nggak fobia juga, sih. Cuma …."


"So what are you waiting for?" Dan Daryl benar-benar mendorongnya masuk sehingga dia pun bisa masuk dan duduk dibalik kemudi.


"Kamu yang bawa ini sendiri?" Nania mulai panik ketika pria itu mengenakan headphone di kepalanya, lalu memasangkan safety belt di pinggangnya, seperti yang dia lakukan kepafa dirinya sendiri.


"Memangnya siapa yang mau? Regan? Tidak mungkin. Helikopter ini hanya muat untuk dua orang saja."


"Terus?"


"Ingat saat aku bilang jika mengendarai heli kopter bahkan jauh lebih mudah dari pada memasangkan kancing dan mengikat tali sepatu?"


Nania menganggukkan kepala.


"Maka akan aku tunjukkan kepadamu." Lalu dia menyalakan mesin sehingga baling-balingnya mulai berputar.


"Owh!!! Aku bakalan takut nggak ya nanti? Kamu bilang kita mau ke mana? Bandara?"


Daryl tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Gimana aku bisa?" Nania semakin panik ketika benda terbang itu mulai bergerak.


"Aaa! Aku takut!" Nania berpegangan pada apa pun yang bisa diraih oleh tangannya, sementara Daryl ters menarik tuas sehingga helikopter perlahan mengambang di udara.


"Astaga!!" 


"Just trust me!" Daryl berujar, dan entah mengapa hal tersebut membuat Nania merasa tenang.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Hadehhh .... Mau ikut tante Nnaaaa!!!🙉🙉🙉

__ADS_1


__ADS_2