
💖
💖
"Kenapa ya, pakaian ini membuatmu terlihat mencolok?" Daryl tak melepaskan pandangan dari Nania yang pagi itu mengenakan kemeja putih fit in dengan rok hitam panjang.
Bentuk tubuhnya yang kini lebih berisi membuatnya terlihat berbeda dengan pakaian hitam putih itu.
"Orang kamu yang nyuruh aku pakai yang panjang?" Nania menggendong tasnya dan memastikan semua yang dibutuhkannya ada.
Mereka sudah tiba di depan gedung sekolah persamaan yang selama satu tahun ke depan akan menjadi tempat Nania menimba ilmu untuk mendapatkan ijazah SMA nya.
"Kan aku pikir rok panjang akan menutupi semuanya? Tapi kok begini? Apalagi kalau pakai rok yang pendek?" Mereka berjalan memasuki gedung.
"Halah, iman kamu yang setipis tisu bikin aku tetap telanjang biar pakai baju apa aja." ucap Nania, asal.
"Heh, jangan bicara sembarangan! Ini kan diluar rumah." Daryl merangkulnya untuk menghentikan dia berbicara.
Nania hanya mencebikkan mulutnya.
"Dengar." Lalu mereka berhenti tak jauh dari ruang kelas Nania.
"Kalau sudah selesai telfon aku, nanti aku akan menyuruh Regan menjemputmu, oke?" ucap Daryl sebelum perempuan itu masuk.
"Nggak usah dijemput, aku bisa pakai ojek online kan?" Nania menjawab.
"No! Satu-satunya hal yang bisa membuatku mengizinkanmu sekolah offline adalah kamu harus di antar jemput. Tidak boleh membantah! Atau aku akan mencabut izin itu dan kamu sekolah online saja!" ancam pria itu.
"Ehh! Ya udah lah terserah." Nania memutar bola matanya.
"Oke, sana masuk. Belajar yang tekun dan jadilah anak yang pintar." Daryl mengusak puncak kepalanya, lalu tertawa.
"Aku udah pintar, cuma nggak lanjut sekolah aja waktu itu." Nania menepis tangan suaminya.
"Yeah, i know. Tapi dengan sekolah lagi kamu akan semakin pintar kan?"
Perempuan itu mengangguk.
"Baiklah. Kamu yakin bisa sendiri?"Â
"Bisa."
"Tidak usah aku tunggui?"
"Nggak. Kenapa harus ditungguin? Emangnya aku anak TK apa?"
Daryl tertawa gemas melihat Nania mengerucutkan mulutnya.
"Ya siapa tahu harus ditunggui, kamu kan gampang gugup. Ingat kalau gugup kamu harus apa?"
"Pura-pura kamu ada di sana dan nungguin aku."
"Good girl!" Daryl kembali mengusap puncak kepalanya.
"Ish! Aku ini bukan anak kecil!" protes Nania lagi.
"Tapi untukku kamu masih kecil. My little girl!!" Pria itu tertawa.
"Udah ah, aku masuk dulu ya? Kamu mau pergi kerja kan? Sana!"
"Aku di sini sampai kamu masuk kelas. Sana!" Daryl menjawab.
"Oh, oke kalau gitu." Nania berjalan mundur lalu berbalik.
"Malyshka?"
"Ya?"
__ADS_1
"Kamu belum memelukku?"
Perempuan itu berhenti.
"Emang harus ya?"
"Ya, agar aku tenang meninggalkanmu."
Nania kemudian kembali untuk memeluk pria itu.
"Kiss??" Lalu Daryl menundukkan wajahnya untuk meraih ciuman istrinya.
"Nggak mau ih, ini kan di sekolah. Mana udah banyak orang lagi?" Namun Nania menghindar.
"Ah, aku menyesal kenapa tidak menciummu waktu di rumah tadi ya?" Pria itu menggumam.
"Hey, nggak ingat ya waktu di rumah itu lebih dari ciuman? Kita bahkan hampir terlambat karena aku harus mandi lagi!" Nania mendelik.
Saat Nania sedang berpakaian dan dirinya baru akan membersihkan diri, dan pergumulan itu terjadi lagi meski berlangsung cukup cepat.
Daryl pun tertawa.
"Udah ya, aku masuk?"
Pria itu menganggukkan kepala. Dan dia menatap Nania yang berjalan masuk ke kelasnya bersama calon siswa yang lain hingga pintu ruangan itu tertutup rapat.
"Ah, mengapa ini rasanya berat ya? Seperti sedang membiarkan anakmu pergi sekolah untuk pertama kalinya, dan kau membiarkan dia seorang diri menghadapi dunia." Daryl bergumam pelan, namun tak ada yang dapat dia lakukan selain membiarkannya saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat pagi teman-teman kejar paket C? Selamat datang di program pendidikan persamaan dan kita hari ini akan memulai proses kegiatan belajar untuk mendapatkan ijazah SMA. Tapi sebelum itu ada beberapa hal yang harus kalian tahu." Seorang guru perempuan berdiri di depan kelas.
Di ruangan itu setidaknya ada sekitar tiga puluh orang siswa yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan beragam usia. Ada yang masih muda seumuran Nania, dan ada juga yang sudah lebih tua. Dan bisa dipastikan jika mereka berasal dari latar belakang yang berbeda.
"Hey? Siapa namamu?" Seorang pria yang mungkin berusia sedikit lebih tua darinya bergeser ke dekat Nania.Â
"Aku Zayn!" Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Nania menatap tangan dan wajahnya bergantian dengan raut heran.
"Aku Zayn, siapa namamu?" tanyanya lagi, dan dia belum merubah posisi tangannya.
"Hey?" Pria itu sedikit membentak, yang membuat Nania secara refleks menjabat tangannya.
"Nania." katanya.
Zayn tersenyum, namun dia mengerutkan dahi ketika menangkap kegugupan dari perempuan itu. Apalagi ketika dia melihat ke bawah sebelah kaki Nania bergetar dan dia berusaha mati-matian untuk menahannya.
"Ada apa?" Dia lantas bertanya.
"Um …." Nania menggelengkan kepala, lalu dia menarik lepas tangannya dari genggaman Zayn.
"Baik teman-teman, setelah ini kalian bisa saling berkenalan ya agar proses belajar mengajarnya lebih menyenangkan. Dan hari ini khusus untuk penyesuaian diri dengan kelas dulu. Dan sebentar lagi akan ada pembagian jadwal belajar bersama beberapa guru." Kemudian perempuan di depan itu pun keluar.
"Hey? Kamu mengidap kegugupan di ruang publik ya?" Pria itu menjulurkan kakinya ke bawah meja di mana kaki Nania terus bergetar.
"Jangan takut, ini kan hanya sekolah?" katanya, yang lebih mendekatkan tempat duduknya dengan perempuan itu.
"Ini karena … belum terbiasa, tapi kalau udah terbiasa juga nggak." Dia mulai bersuara.
"Hmm … it's oke."
Lalu perhatian Nania beralih ketika ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
"Hati-hati Malyshka, jangan berbicara dengan orang asing. Kamu tidak mengenal mereka." Pesan dari suaminya, membuatnya menggeser tempat duduknya agar sedikit menjauh.
"Kenapa?" Dan hal itu membuat Zayn bereaksi.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, tapi … aku udah nikah." Nania menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi oleh suaminya.
"Terus kenapa?" Zayn ikut bergeser sehingga mereka kembali berdekatan.
"Kayaknya kita harus jaga jarak deh?" ucap Nania.
"Jaga jarak? Memangnya kita mau apa? Aku kan cuma mau berteman?" Zayn tertawa. "Aneh sekali kamu ini?"
"Umm … hanya … jangan dekat-dekat. Nanti kamu dalam bahaya." Nania memperingatkan.
"Dalam bahaya apanya? Memangnya kamu ini siapa? Istri orang penting?" dia tertawa mengejek.
Namun Nania memilih untuk diam.
"Nggak Daddy, aku baru mau mulai belajar." Lalu dia mengetik balasan untuk suaminya.
"Sudah langsung belajar hari ini?" Masuk pesan Daryl lagi.
"Kayaknya iya, soalnya barusa cuma perkenalan aja."
"Perkenalan apa?"
"Ya kenalan. Wali Kelas sama siswa, terus siswa sama sesama siswa."
"Dan kamu kenalan dengan orang lain?"
Nania melirik ke arah Zayn yang bergeser menjauh.
"Iya."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Ya campur kan siswanya juga campur?"
"Apa banyak?"
"Lumayan."
"Can you handle it?"
"Iya."
"Tidak gugup?"
"Sedikit. Tadi kaki aku gemeteran, tapi sekarang udah nggak."
"Just remember me."
"Iya, udah."
"Oke then. Aku akan membiarkanmu belajar kalau begitu."
"Iya. Kamu juga kerja kan?"
"Yes."
"Oke. Nanti aku telfon kalau udah selesai ya?"
"Baik. I love you." Emot love bertaburan di layar ponsel.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Selamat hari vote gaess