The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kunjungan Mirna


__ADS_3

💖


💖


Beberapa hari kemudian ….


"Hey, what are you doing?" Daryl turun dari kamarnya, sudah mengenakan kaus panjang berlapis jas seperti biasa.


"Aku lagi beresin ini, sedikit lagi." Sementara Nania kembali ke meja kerja untuk melanjutkan apa yang sudah dia kerjakan beberapa hari ini. Tentunya setelah membuat sarapan untuk mereka terlebih dahulu.


Daryl melihat beberapa gambar yang dibuat perempuan itu, dan kini telah benar-benar dia tunjukkan kepadanya 


"Mungkin kalau gambarnya udah disempurnakan lagi kelihatannya akan semakin bagus." ucap Nania.


Daryl menatapnya tanpa bisa berkata-kata.


Di atas meja ada beberapa gambar semacam botol dengan tulisan Fia's Secret yang dia yakini merupakan botol untuk produk parfum yang dia batalkan peluncurannya karena kasus pencurian data. Sementara kertas-kertas lainnya bergambar desain model dengan pakaiannya yang cukup mengagumkan.


"Selain denah rumah kamu juga bisa menggambar yang lainnya?" Pria itu menatap sang istri.


"Ternyata masih bisa padahal udah lama." Nania terkekeh.


"Berapa lama kamu mengerjakan ini?" Daryl kemudian bertanya.


Mereka beranjak ke meja makan untuk memulai sarapan pada hari itu dengan kertas masih dalam genggaman.


"Beberapa hari ini, siapa tahu ada salah satunya yang mau kamu pakai?"


"Hmm …." Pria itu menatap kertas-kertas tersebut bergantian.


"Aku pikir parfumnya jangan cuma untuk perempuan, tapi adain untuk laki-laki juga. Logonya tetap Fia's Secret tapi dengan dua scent nya beda nama. Beauty sama Gentle, misalnya. Gimana?" Dia menunjuk dua kertas dengan gambar dua botol parfum yang cukup terlihat menarik.


Daryl kembali menatap wajahnya.


"Kalau ini untuk model iklannya. Aku pikir bajunya harus gini, penampilan perempuannya gini, laki-lakinya gini …." Dia penunjukkan kertas-kertas lainnya.


"Are you serious?"


"Emangnya gambar aku kayak main-main ya?" Nania balik bertanya.


"Absolutely not!" Namun Daryl malah tergelak.


"This is brilliant! Aku baru saja memikirkannya setelah berhari-hari tapi kamu sudah membuat gambarannya. Bagus sekali!!" Pria itu tampak puas.


"Beneran?"


"Ya. Aku tidak menyangka sama-sekali kalau kamu bisa juga menggambar. Ini bahkan lebih bagus dari buatanku."


"Masa?"


"Yeah, lihatlah detail-detailnya yang bahkan tidak ada dalam bayanganku. Kamu membuatnya terlihat sempurna dengan garis-garis ini. Dan lihat model pakaian di sini? You such a professional designer!!"


"Ahhh kamu berlebihan deh?" Pipi Nania merona karena mendapat pujian dari suaminya.


"Serius. Sepertinya kamu memang terlahir sebagai desainer. Entah itu pakaian, bangunan, ataupun gaya. Nanti kalau kuliah ambil saja jurusan desainer saja ya? Bisa pilih desainer teknologi, grafis atau fashion designer apa pun." Pria itu berujar.


"Setelah sekolah persamaan aku boleh kuliah?" Nania seolah tidak mempercayai pendengarannya.


"Tentu saja boleh. Kemampuanmu ini tidak boleh disia-siakan. Malah, harus dikembangkan dengan sangat baik agar nantinya menjadi hal yang berguna."


"Aku boleh kuliah?" Nania bertanya lagi.


"Boleh lah, masa tidak boleh? Gunanya ikut persamaan untuk itu kan?"


Kedua mata perempuan itu berbinar ceria.


"Makanya, harus belajar dengan tekun agar kamu mengerti dengan semua penjelasan guru. Disamping itu, kamu juga harus rajin membaca buku ilmu, bukan hanya novel online ya?" Daryl tertawa mengingat kebiasaan perempuan itu dengan ponsel dan aplikasi baca onlinenya.


"Oke." Dan Nania pun menganggukkan kepala.


"Baik, sekarang gambar-gambar ini akan aku bawa ke kantor. Lalu aku berikan kepada staf dan berunding dengan mereka untuk menggunakannya." Pria itu merapikan kertas-kertas tersebut  kemudian dia masukkan ke dalam tas kerjanya.


"Kamu beneran mau pakai itu?"


"Tentu saja, idemu sangat bagus." Daryl menyesap kopinya yang sudah tak sepanas tadi.


"Kamu yakin?" Nania masih tidak percaya.


"Ya. Dan aku juga yakin kalau staf juga tidak akan mampu menolaknya." Lalu dia mulai memakan sarapannya.


Dua potong roti isi salmon dan salad berlapis lembaran keju yang cukup menggugah selera.


"Hah, sarapannya enak sekali. Terima kasih Malyshka!" Daryl mengusap punggung perempuan itu.


"Kalau kita tidak makan di rumah besar, pasti makanan seenak inilah yang akan setiap hari aku makan." Dia makan dengan semangat.


"Masakan Mbak Mima juga enak."


"Ya, tapi buatanmu lebih enak." puji Daryl, lalu dia tersenyum.


"Kamu ih pagi-pagi udah gombalin aku. Mentang-mentang kita makannya cuma berdua." Nania menyentuh wajah suaminya.


"No, itu memang benar."


"Tetep aja akunya jadi kegeeran kan?"


Mereka berdua tertawa.


"Terus kira-kira Mama sama Papi pulangnya kapan? Lama amat di Belanda? Nggak ingat cucu-cucunya apa? Asha tadi subuh udah nelfon lagi tanya Oma sama Opanya."


"Tidak tahu, biar sajalah. Mungkin Mama dan Papi masih betah bulan madu." Daryl menyuapkan potongan terakhir sandwichnya.


"Dih, bulan madu? Udah ketuaan!"

__ADS_1


"Masalah seperti itu tidak ada hubunganya dengan umur, sama saja seperti kita."


"Masa sih? Tahu dari mana?"


"Well, sebenarnya hanya perkiraanku saja sih, tapi … mungkin ada benarnya juga. Memangnya kamu tidak lihat bagaimana Mama dan Papa sehari-hari?"


"Mmm … iys sih. Hahaha."


"Sudah lah jangan bahas itu, aku malu jadinya." Lalu dia menghabiskan kopinya.


"Hari ini kamu tidak ke mana-mana kan? Apa ada kegiatan di sekolah?" Daryl bersiap untuk pergi.


"Nggak, aku kayaknya di rumah aja. Kamu sendiri gimana? Hari ini pulang sore lagi nggak?" Mereka pun sama-sama bangkit dan Nania memastikan penampilan suaminya benar-benar rapi sebelum keluar dari rumah mereka.


"Sepertinya tidak." Daryl pun memeriksa barang bawaannya.


"Yakin? Jangan sampi kayak kemarin. Aku udah bikin janji terapi sama Dokter Citra kamunya malah lembur?"


"Yaaa, kemarin-kemarin memang banyak pekerjaan."


"Terus sekarang?"


"Sudah selesai, jadi sepertinya aku bisa pulang lebih awal."


"Beneran?"


"Yup."


"Oke, nanti aku telpon lagi Dokter Citranya untuk reschedule terapinya?"


"Baik. Kalau begitu aku pergi?"


Nania menganggukkan kepala.


"Sampai jumpa nanti, aku telfon kalau pekerjaanku selesai, jadi kamu bisa menyusul ke Fia's Secret okay?"


"Oke."


"Baik, see you?" Pria itu mengecup pelipis Nania lalu memeluknya sebentar. "Aku pergi." katanya, yang kemudian keluar dari rumah mereka. Sementara perempuan itu mengantar kepergian suaminya dengan pandangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Permisi, Non? Maaf?" Mima mendatangi Nania yang tengah asyik di green house miliknya.


Sudah lewat tengah hari tapi dia masih memeriksa keadaan bunga-bunganya yang sebagian mulai bermekaran seiring musim yang terus berganti. Dan tumbuhan lainnya juga yang mulai membesar setelah menunggu lama.


"Ya?"


"Ada tamu di depan. Apa saya antar ke sini atau mau diterima di depan saja?" ucap perempuan itu.


"Siapa?" Nania meletakkan gunting tanaman dan melepaskan sarung tangannya.


"Bu Mirna."


"Iya Non."


"Ibunya di mana?"


"Di pos satpam."


"Lho, kok di pos satpam?"


"Tadi sempat menolak waktu Pak Satpam suruh masuk."


"Bawa ke sini aja, Mbak. Nggak apa-apa kan?"


"Lho, kok Non tanya begitu?"


"Siapa tahu ada larangan terima tamu dari Papi atau Mama?"


"Ya nggak ada, apalagi kalau jelas siapa-siapa nya. Bu Mirna kan ibunya Non?"


"Kali aja."


"Nggak ada, Non."


"Ya udah, antar ke sini aja."


"Baik." Mima pun bergegas ke depan untuk menjemput tamu yang dimaksud. Lalu kembali beberapa saat kemudian.


Nania menghela napas dan mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan ibunya. 


"Bu?" Perempuan itu segera meraih tangan Mirna dan menciumnya dengan takdzim.


"Ibu sama siapa ke sini?" tanya nya kemudian.


Namun Mirna tidak langsung merespon, tapi dia malah mengedarkan pandanganya ke sekeliling rumah.


Bangunan yang cukup luas meski tak sebesar kediaman Satria, namun terlihat nyaman dengan segala yamh ada di dalamnya.


Sofa yang bagus, dapur yang bersih dan ruangan-ruangan yang nyaman dengan perabotan indah, yang tentu akan membuat siapa saja betah tinggal di dalamnya.


"Ini rumahmu?" Dia lantas bertanya.


"I-iya."


"Ibu pikir kamu tinggal dengan mertuamu? Tahunya dipisahkan juga?" ucapnya, lebih seperti sebuah kritikan karena putrinya tak tinggal di rumah besar seperti yang dibayangkannya.


"Eee … awalnya tinggal di rumah besar, tapi kami memutuskan untuk bangum rumah sendiri, jadinya ya …."


"Bagus, sepertinya mereka sangat menyayangimu?" Mirna memperhatikan beberapa hal, namun dia lupa untuk menanyakan bagaimana kabar putrinya.


"Umm …."

__ADS_1


"Suamimu bekerja?" Mereka kini duduk di sofa yang Nania fungsikan sebagai ruang tamu. 


Terletak di area paling depan rumah yang memiliki kaca besar menghadap ke taman bunga buatannya.


Dua gelas teh Nania hidangkan di meja yang segera saja Mirna ambil untuk dia minum.


"Ya. Dia mengurus usaha keluarganya." Sang anak menjawab.


"Mertuamu baik?" tanya Mirna lagi.


"Sangat baik." Nania menatap wajah sang ibu yang agak lusuh. Keadaannya tak berbeda seperti saat pertemuan mereka beberapa hari sebelumnya.


Pakaiannya kusam meski rapi, rambutnya hanya diikat ke belakang, dan dia membawa tasnya yang agak besar.


"Syukurlah kalau mereka baik, ibu harap mereka sangat menyayangimu juga."


"Iya Bu."


Mereka terdiam sebentar.


"Ibu dari mana?"


"Habis cari kerja."


"Kerja?"


"Ya. Di pasar, tapi hanya jadi tukang cuci di rumah makan."


"Se nggaknya ibu dapat kerja." Nania menjawab.


"Sudah, hanya hari ini saja. Besok ibu tidak akan kembali lagi ke sana."


"Kenapa?"


"Ibu tidak tahan, pemilik tempat makannya cerewet."


"Namanya juga bos?"


"Tidak masuk akal! Dulu juga ibu pernah kerja di restoran tapi pemiliknya tidak secerewet itu."


"Beda tempat kan beda orangnya juga, Bu?"


"Hmm …."


"Ibu sama siapa? Sendiri?" Nania bertanya lagi.


"Ya. Ayahmu sedang tidak bisa diandalkan sekarang ini."


"Bukannya … sejak dulu Om Hendrik memang begitu ya?" Nania dengan takut-takut.


Dan dia terkesiap ketika sang ibu menatap tajam ke arahnya. Namun kemudian dia melirik ke arah luar ketika ekor matanya menangkap pergerakan seorang penjaga keamanan yang mondar-mandir di pekarangan.


Seketika Nania merasa tenang karena tahu ibunya tidak mungkin berani berbuat macam-macam kepadanya karena ini adalah rumahnya,  daerah kekuasaannya.


"Um … ibu mau makan?" tawarnya kemudian.


"Tidak usah, ibu hanya ingin bertemu denganmu." jawab Mirna.


"Baik, aku pikir …."


"Ibu tidak akan lama-lama. Karena sudah bertemu denganmu ibu rasa ini cukup." Perempuan itu pun bangkit setelah menyesap tehnya hingga hampir habis.


"Baik." Nania berusaha untuk tidak menahannya.


"Ibu pamit." katanya, yang menatap putrinya sebentar kemudian memutuskan untuk keluar.


Nania tertegun di ambang pintu menatap punggung sang ibu yang sedikit merunduk. Satu sisi hatinya mengatakan tidak apa-apa, bahwa perempuan itu akan baik-baik saja. 


Tapi sisi lainnya mengatakan jika dia adalah ibunya. Perempuan yang mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan susah payah.


"Ibu tunggu!" Akhirnya perasaannya pun kalah oleh kasih sayang yang ternyata lebih besar dari kemarahannya.


Dan Mirna menghentikan langkah ketika dia hampir mencapai jalan masuknya tadi.


"Tunggu sebentar!" Nania berlari ke lantai atas dan mencari sesuatu di tasnya. 


Dia menghela napas lega ketika menemukan empat lembar uang pecahan lima puluh ribu yang setiap hari diberikan oleh Daryl untuk bekal sekolahnya. Dan dengan cepat Nania segera kembali ke lantai bawah menghampiri ibunya.


"Aku nggak bisa kasih banyak, tapi siapa tahu berguna buat ibu." Nania menjejalkan uang tersebut ke genggaman ibunya.


Mirna menatap wajah sang putri, dan sesuatu seperti mencubit hatinya. Betapa anak ini tumbuh menjadi pribadi yang baik meski dirinya sadar, bahwa apa yang selama ini dilakukannya tidak sebaik apa yang diterimanya dari Nania.


"Ibu hati-hati ya? Maaf nggak bisa ngasih ibu apa-apa. Suami akunya lagi nggak ada, jadi aku nggak berani ngasih hal lain."


Mirna tak menjawab.


"Ibu mau aku pesenin ojek online?" tawar Nania, mengingat mungkin jalan yang ditempuh sang ibu untuk tiba ke tempat ini cukup jauh dan tidak ada kendaraan umum.


"Tidak usah, ibu bisa sendiri." Lalu sang ibu menjawab.


"Baiklah kalau begitu."


"Ibu pamit." ucap Mirna lagi, dan dia bergegas pergi.


💖


💖


💖


Bersambung ....


No caption ah. Like komen hadiahnya aja kirim lagi, mudah-mudahan aku bisa crazy up. 😂😂

__ADS_1


Alopyu sekebon 😘😘


__ADS_2