
💖
💖
Regan berdiri di samping mobil ketika Nania tiba-tiba saja meminta berhenti. Kemudian dia keluar lalu memuntahkan isi perutnya di sebuah selokan trotoar.
"Aku lupa minta kamu pakai minyak telon." Perempuan itu mengusap mulutnya yang basah setelah menenggak air minum yang Regan berikan.
"Apa?"
"Parfum yang kamu pakai bikin aku mual. Hueeek, hueeekkk …." Dia muntah lagi.
Nania kemudian duduk di kursi belakang dengan pintunya yang terbuka.
"Capek banget, astaga! Masa aku kayak gini terus?" keluhnya, dan dia mengusap keringat di dahinya.
"Saya harus apa? Jarak ke rumah masih jauh, dan kamu pasti akan begini terus?" Pria itu bertanya.
"Beliin minyak telon gih, siapa tahu mendingan." ujar Nania.
Lalu Regan melihat ke sekeliling dan pandangannya berhenti saat melihat plang sebuah mini market di jarak sekitar lima puluh meter dari tempat mereka berada.
"Tunggu sebentar, saya ke mini market yang di sana?" tunjuknya, dan dia hampir pergi.
"Regan, tunggu!" Namun Nania segera bangkit dan dia mengikutinya.
***
Kantong kreseknya benar-benar penuh. Selain diisi dengan coklat yang akan dia bagikan kepada anak-anak yang biasa ditemuinya sepanjang perjalanan pulang, tapi beberapa kebutuhan perawatan bayi juga ada di sana.
Shampo dengan sabunnya, minyak telon sudah tentu, hair lotion dan body lotion juga baby colognenya, ditambah bedak bayi yang dia temukan di antara benda-benda itu. Membuat hatinya benar-benar kegirangan.
Regan menggelengkan kepala, dan dia merasa tidak percaya jika tak melihatnya sendiri.
"Tidak waras!" gumamnya dalam hati.
Tentu saja ini terasa aneh. Melihat kelakuan ibu hamil untuk pertama kalinya yang dulu hanya dia dengar dari cerita orang saja.
"Tunggu!" Nania menghentikannya ketika mereka hampir saja masuk ke dalam mobil.
"Ada yang kurang?" Regan berbalik. "Oh, belum membeli milk tea ya?" katanya, dan dia hampir kembali.
"Bukan. Aku sekarang lagi nggak minum milk tea. Tadi kan udah beli jus." ujar Nania..
"Lalu apa?"
"Pakai ini dulu ya, biar kamu nggak bau parfum." Nania menarik botol minyak telon bergambar bayi itu dari kantong kresek yang hampir Regan masukkan ke dalam mobil.
"Apa?" Pria itu tentu saja bereaksi.
"Udah aku bilang aku mual kalau nyoum bau parfum kan?"
"Tapi saya kan bawa mobil di depan dan kamu duduk di belakang. Sepertinya itu tidak akan berpengaruh?"
"Tetep aja parfum kamu keciumnya nggak enak!" Nania bersikukuh.Â
Lalu dia membuka penutup pada botol, lalu dia membubuhkan pada tangannya. Kemudian membalurkannya pada pundak Regan.
"Hey, apa-apaan ini, Nania? Jangan begini!!" Pria itu mencoba menepisnya.
"Nah, kan udah wangi!!" Nania tertawa.
"Apa itu? Bagaimana kalau ada yang melihat dan melaporkannya kepada Pak Daryl? Bisa mati kamu!!" Regan mundur lalu mengendusi jas yang dia kenakan, yang kini berbau bayi.
"Nggak akan. Kan kamu yang biasanya mengawasi aku? Jadi nggak mungkin ada yang lapor kan?" Nania menjawab.
"Kamu tidak tahu. Di Nikolai Grup siapa saja bisa jadi mata-mata, dan apa pun bisa dilaporkan."
"Ya tinggal bilang aja kalau aku lagi nyuruh kamu pakai minyak telon. Apa susahnya sih?"
Regan merapikan pakaiannya.
"Udah, cepat pulang. Dan ini untuk kamu. Pakai kalau mau jemput aku ya?" Nania memberikan botol minyak telon sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sudah aku katakan, dia sekolah di sekitar sini." Hendrik kembali setelah bertanya kepada satpam.
"Dan bukankah sudah aku katakan juga jika kita tidak usah mengusik Nania lagi? Biarkan saja dia dengan hidupnya yang sekarang." ucap Mirna dan mereka meneruskan langkah.
"Aku tidak menyuruhmu untuk mengusiknya, tapi minta bantuan kepadanya agar kita tidak sesulit ini!"
"Tetap saja."
"Dengar!" Pria itu berhenti kemudian mencekal lengan Mirna. "Lakukan saja apa yang biasa kau lakukan agar kita bisa keluar dari kesulitan ini. Aku yakin putrimu bersedia memberi sedikit bantuan kepada kita." katanya.
"Bagaimana aku melakukanya? Masuk ke rumah besar itu saja rasanya aku mau mati. Ada banyak cctv dan penjaga keamanan. Kau kira mudah untuk mendekatinya sekarang? Sedangkan menemuinya diluar tidak mungkin. Karena jika tak bersama suaminya, tetap ada pengawal yang mengantarnya ke manapun dia pergi. " Mirna menjawab.
__ADS_1
"Itu urusanmu! Pikirkan caranya agar dia dan mereka percaya sehingga bisa membiarkanmu mendekat!" Hendrik menyentakkan tangannya.
Dan perempuan itu mengusap-usap bekas cengkramannya yang terasa sakit.
"Sekarang cepat bekerja, susah-susah aku meminta pekerjaan untukmu kepada temanku. Jadi jangan coba-coba berhenti lagi! Kau ini bukan ratu!" katanya, dan dia mendorong Mirna untuk melanjutkan langkah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yang itu, Pih. Kayaknya udah mateng?" Nania menunjuk pohon buah naga di samping rumahnya yang sedang banyak-banyaknya berbuah.
Beberapa diantaranya bahkan sudah memerah, menunjukkan jika tingkat kematangannya sudah sempurna.
"Ah, itu sangat tinggi. Sepertinya harus minta bantuan satpam? Tukang kebun kan sudah pulang kalau sore-sore begini?" Satria melihat jam tangannya.
"Oh … iya juga. Nggak mungkin juga Papi naik ke pohon mangga biar bisa ambil buahnya." Nania tertawa.
Pohon buah naga itu memang sudah merambat hingga ke pohon-pohon di sekitarnya, dan menjadikan tempat tersebut seperti surga tersendiri bagi tanaman-tanaman lainnya.
"Tidak mungkin, Papi kan tidak bisa naik ke pohon. Tapi kalau saja ada Rania pasti bisa." jawab Satria yang mengirim pesan kepada penjaga keamanan untuk membantunya.
"Kak Rania?"
"Ya. Dulu kalau dia kesini dan melihat ada buah apa saja di pohon pasti naik sendiri untuk mengambilnya." Pria itu tertawa pelan.
"Masa sih?"
"Ya. Coba saja nanti kalau dia lihat mangga-mangganya matang, pasti tidak akan sabar untuk mengambilnya sendiri langsung dari pohonnya." Dia menunjuk pohon mangga yang juga sedang berbuah.
"Sekarang mangganya masih muda ya Pih?" Nania menatap buah itu, dan merasa air liurnya hampir menetes ketika membayangkan bagaimana asam dan segar rasanya.
"Ya. Dulu kalau ngidam, mamamu sukanya jus mangga muda. Tidak terbayang asamnya seperti apa?" Satria bergidik mengingat masa-masa itu.
"Orang ngidam itu aneh ya Pih? Masa maunya yang nggak wajah. Mama gitu juga nggak sih?"
"Mmm … yang Papi ingat Mama ngidamnya biasa saja. Bahkan cenderung mudah didapatkan. Seperti mangga muda ini. Rata-rata bisa dibeli di pasar. Yang sulit itu Papi."
"Sulit apanya?" Nania menoleh ke arah ayah mertuanya.
"Papi juga muntah-muntah kalau mencium bau parfum. Hanya jika di dekat mamamu saja Papi baik-baik saja."
"Masa begitu?"
"Ah kamu tidak akan percaya kalau Papi membuat Arfan memerintahkan seluruh pegawai di kantor untuk menggunakan parfum yang sama dengan mamamu."
Nania tertawa.
"Hamil Kak Dim begitu?"
"Darren dan Daryl juga. Mamamu baik-baik saja, tapi Papi yang tersiksa."
"Uuuhh romantis banget sih? Istri yang hamil suami yang ngidam." Sang menantu tertawa lagi.
"Apanya yang romantis?" Daryl muncul tiba-tiba.
"Eh … itu, Mama yang hamil Papi yang muntah-muntah. Kan romantis?" Mertua dan menantu itu menoleh bersamaan.
"Romantis apanya? Itu aneh." Pria itu mendekat.
"Romantis tahu? Itu namanya gotong royong." Nania menjawab.
"Kamu kok udah pulang?" Lalu dia mendekat saat di waktu yang bersamaan satpam yang memetikkan buah naga untuknya turun dan berhasil membawa beberapa buah kesukaannya itu.
"Ya sudah lah, ini kan sudah sore? Memangnya aku harus lembur terus ya?" Daryl menjawab.
"Nggak, kalau bisa sih jangan lembur terus."
"Kan tidak bisa ditentukan."
Nania tersenyum.
"Kalian sedang panen buah?" Daryl menatap buah naga yang diberikan oleh satpam mereka.
"Iya, yang ini udah mateng, kan sayang. Kalau yang tadi papi petik masih agak mengkal. Tapi enak juga sih, ada asem-asemnya gitu."
"Sejak kapan Papi petik buah naga?" Sang putra tertawa.
"Sejak istrimu hamil. Kapan lagi?" Satria kembali ke tempat duduknya di teras rumah Daryl ketika Sofia muncul membawa makanan dan minuman.
"Demi cucu ya?"
"Ya apa lagi?" jawab sang ayah.
"Buah naganya dapat banyak?" Sofia pun duduk di kursi kosong di samping suaminya.
"Banyak, ada lah stok untuk seminggu." Nania menunjukkan keranjang yang dipenuhi oleh buah kesukaannya yang dia dapat barusan.
"Bagus kalau begitu. Untung waktu itu tidak kita tebang ya?"
__ADS_1
"Eh, perasaan tadi pagi kamu pakai kemeja deh? Kok sekarang pakai kaos? Kemeja kamu ke mana?" Nania baru menyadari hal itu.
"Eee … aku … tadi …"
Lalu Nania mengendusi tubuhnya. "Kamu juga baru mandi? Kok wangi telonnya kayak baru banget?" Dia menyentuh rambut suaminya yang tampak rapi dan sedikit basah.
Daryl memang masih mengenakan jas dan celana yang dipakainya tadi pagi. Namun kemejanya sudah berganti dengan kaos. Sebelum pulang dia memang mandi terlebih dahulu untuk menghilangkan jejak parfum dan perlengkapan yang dipakainya, lalu menggantinya dengan perlengkapan bayi yang Dinna belikan untuknya. Kemudian kembali mengenakan pakaian yang tadi pagi dia pakai.
"Kamu mandi di kantor?" tanya Nania lagi.
"Umm … tadi waktu ada pertemuan terjadi sesuatu, jadi aku terpaksa berganti pakaian kan? Maksudku ganti kemeja."Â
"Apa yang terjadi?" Sang ibu pun bertanya.
"Eeee … makanan tumpah?" jawabnya, asal.
"Tumpah?"
"Ya, kami makan siang dan kuah supnya tumpah mengenai kemejaku, jadi … ya begitulah. Hehe." Dia berusaha menjelaskan.
"Ooo … terus kamu mandi gitu?"
"Ya, kamu tahu, kuah supnya terasa lengket."
"Ohh … minyak telonnya kamu dapat dari mana?" Nania bertanya lagi.
"Aku suruh Dinna beli. Tadinya mau pakai parfum lagi, tapi ingat kamu pasti muntah-muntah kalau mencium baunya?"Â
"Iiihhh sweet banget deh?" Lalu Nania menghambur ke pelukannya. Dia merangkul erat tubuh pria itu yang begitu wangi bayi seperti yang disukainya.
"Hmm …." Daryl sedikit bernapas lega.
Bagus juga idemu, Dinna. Tidak apa repot sedikit asal duniaku aman. Batinnya dan dia tersenyum sumringah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papi, kemarin anak-anak ke mana aja sih?" Rania menghampiri suaminya yang berada di ruang tengah.
"Tidak kemana-mana, hanya di rumah saja. Kadang dengan Papi atau di rumah Daryl. Kenapa?" Dimitri melepaskan kaca mata bacanya dan mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya.
"Aku pikir mungkin anak-anak dibawa jalan-jalan atau ke waterboom, gitu?"Â
"Waterboom?"
Rania menganggukkan kepala.
"Tidak, hanya di rumah. Dua hari kemarin malah mereka lebih banyak dengan Nania. Ada apa sih?" Dimitri menutup buku bacaannya.
Perempuan itu tak segera menjawab, namun malah beralih pada kedua anaknya yang asyik dengan mainannya di karpet.
"Kalian kemarin ngapain aja?" Dia segera bertanya.
"Nginep di rumah Opa." Anya menjawab.
"Maksud Mommy, kalian ngapain aja di rumah Opa?"
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma bobok, makan, terus main sama Tante Nna."
"Nggak mainin perlengkapan kalian kan? Itu baru Mommy ganti lho." tanya Rania lagi.
"Nggak. Aku kan mandinya sama Tante Nna. Dibedakin, disisirin, di telonin … Zen juga."
"Hih, kayak bayi aja?"
"Nggak ih, orang Om Der juga sama." Zenya menyahut.
"Apaan?" Rania menjengit.
"Om Der juga dipakein telon. Kemarin wangiiiiiiii banget." Anya menerangkan kepada ibunya.
"Masa?"
"Suwer." Anya mengangkat kedua jarinya.
Rania kemudian melihat isi pouch perlengkapan anak-anaknya yang isinya berkurang sangat banyak, terutama minyak telonnya.
"Masa iya dia yang pake?" gumamnya, yang menempelkan punggungnya pada sandaran sofa.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Masih perkara minyak telon 😂😂
__ADS_1
Mana dong vote nya, kok masih dibawah sih?