
💖
💖
"Hey, kenapa lihat-lihat dompetku?" Daryl keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
Nania memutar tubuh sambil menatap bagian dalam dompet milik suaminya, lalu dia tersenyum.
"Di sini nggak ada apa-apa selain ktp, sim sama kartu kredit?"
"Memangnya apa yang kamu harapkan? Foto dengan mantan kekasih? Yang benar saja." Pria itu mendekat.
"Foto pas masih kecil, misalnya?"
"Tidak ada. Aku tempelkan semuanya di dinding ruang keluarga agar tetap aman. Soalnya aku kan ceroboh, kadang suka menghilangkan barang-barang seperti itu." Dia mengenakan pakaiannya yang sudah Nania sediakan.
"Foto mantan?" Perempuan itu sedikit tertawa.
"Aku tidak suka menyimpan barang-barang dari masa lalu. Untuk apa?"
"Ya untuk kenang-kenangan." Nania meletakkan kembali dompet tersebut di atas nakas seperti semula.
"Kenapa aku harus menyimpan kenang-kenangan di dompetku? Tidak ada manfaatnya. Jadi bahan pertengkaran iya."
"Kok jadi bahan pertengkaran?"
"Ya bayangkan saja, ketika kamu membuka dompetku seperti barusan kira-kira apa yang akan terjadi jika di dalam sana ada foto mantan pacarku? Aku bisa pastikan saat ini kita sedang bertengkar."
Nania tertawa.
"Perempuan kan suka begitu. Mengorek-ngorek hal yang tidak penting dengan dalih hanya ingin tahu. Yang justru malah membuat masalah yang seharusnya tidak ada."
"Nggak juga ih, kenapa kamu ngomong gitu?"
"Kebanyakannya begitu." Daryl mendekat agar perempuan itu mengancingkan kemejanya.
"Lagipula mantan pacarku sudah meninggal. Jadi tidak baik juga menyimpan foto orang yang sudah meninggal di dalam dompet pribadimu. Bisa menyebabkan kesialan."
Nania terdiam menatap pria itu.
"Kenapa di lemariku banyak sekali kemeja? Kamu membelinya lagi, hum?" Dia mengalihkan topik pembicaraan.
"Nggak. Aku cuma minta ke Mbak Mima untuk balikin kemeja yang udah dikeluarin."
"Why? Bukankah sudah aku katakan untuk mengurangi kemejanya agar aku mudah berpakaian?"
Nania menatap wajah suaminya.
"Bukankah kamu harus membiasakan diri? Kita kan lagi jalani terapi dari dokter?" Dia balik bertanya.
"Jadi ini termasuk terapi?"
"Ya."
"Percuma saja karena tetap kamu yang memasangkan kancingnya, bukan?"
"Makanya harus mulai dibiasakan." Nania berhenti di kancing paling atas. "Ayo coba pasang yang satu ini sendiri?" katanya, yang membiarkan kancing terakhir itu.
"Serius?" Daryl menatap wajahnya.
"Ya."
"Hhhh …." Daryl mendengus sambil memutar bola matanya.
"Ayo Daddy. Lagian aku suka lihat kamu pakai kemeja, kelihatan lebih ganteng." Nania tersenyum.
"Benarkah?"
"Iya."
__ADS_1
"Baik, kalau begitu beli saja kemeja yang banyak. Atau kalau perlu kita beli dengan pabriknya sekalian." Dia berkelakar.
"Jangaaann!!" Nania tertawa. "Nggak usah sama pabriknya juga, mau jualan emang?"
"Ya siapa tahu kamu mau buka toko kemeja? Sepertinya ada satu tempat yang masih kosong di FSH."
"Nggak dulu, aku kan mau beresin sekolah?"
"Hmm ...."
"Sekarang ayo, coba pasang kancingnya?" ucap Nania lagi.
Maka, tak ada yang bisa Daryl lakukan selain menuruti ucapannya. Dia memegangi dua sisi kemeja yang terdapat kancing di salah satu bagiannya. Kemudian dia tarik sehingga keduanya mendekat.Â
Lalu pria itu berhenti ketika kedua sisi kemejanya menempel, dan seperti biasa otaknya seperti membeku. Dia terdiam dengan kedua tangan yang bergetar, dan hal tersebut benar-benar terlihat jelas.
"Cuma masukin ke sini, Dadd." Nania memahami hal tersebut sehingga dia segera membantunya menautkan kancing, dan Daryl segera tersadar dari lamunannya.
"Hanya begitu, tapi rasanya sulit sekali." gumam pria itu.
"Nggak apa-apa, kita bisa mencobanya setiap hari." Dia mengusap-usap dada suaminya untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Kamu mau ketemu dokter lagi untuk konsultasi?" tawarnya kemudian.
"Tidak mau, nanti aku marahi dia lagi karena terlalu banyak bicara." Namun Daryl menolak hal tersebut.
"Begitu ya?"
"Kamu saja yang melaporkan perkembangan apa yang aku alami, atau kesulitan apa yang aku temukan ketika menjalankan terapi darinya."
Seulas senyum terbit di sudut bibir Nania.
"Kita juga perlu pendampingan profesional, bukan?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
"Ooo baiklah kalau begitu." Nania terkekeh lalu dia mengambil sepatu milik Daryl dan membiarkannya memakai benda itu sendiri. Kecuali di bagian mengikat talinya, seperti biasa.
"Oh iya, setelah aku lihat ternyata launching parfumnya barengan sama ulang tahun kamu ya?" Nania memastikan penampilan mereka sudah rapi.
"Iya."
"Mau sekalian pesta?"
"Tidak usah, bikin repot saja."
"Nggak, kan masih ada waktu seminggu untuk persiapan?"
"Ya anggap saja acara launching itu sebagai pestanya." Mereka melenggang keluar dari kamar.
"Terus kadonya mau apa?" Nania bertanya.
"Tidak usah, seperti anak kecil saja. Hahaha."
"Serius? Aku mau ngasih kamu kado tapi nggak tahu. Jam udah punya, baju udah banyak. Hape nggak mungkin."
Mereka tiba di lantai bawah.
"Tidak apa-apa, Malyshka. Jangan pikirkan soal itu. Kamu saja sudah cukup bagiku." Pria itu tersenyum sambil meraup pinggang Nania kemudian menunduk untuk mengecup bibirnya.
Namun keduanya berhenti ketika merasa melihat bayangan lain di ruangan itu.
"Ee … maaf Pak, Non. Selamat pagi. Saya cuma mengantar bed cover dan pakaian yang sudah di setrika." Asisten rumah tangga yang membawa keranjang cucian itu tampak canggung karena tanpa sengaja menyimak kemesraan majikannya.
"Mm … taruh aja di atas sama keranjangnya, nanti aku yang beresin." jawab Nania dengan wajah memerah karena merasa malu.
"Baik." Lalu perempuan itu bergegas naik ke lantai dua.
"Kebiasaan, ih!" Dan Nania menjauhkan diri dari suaminya.
__ADS_1
"What? It's just a kiss!"
Perempuan itu setengah berlari keluar menuju ke rumah besar mertuanya di depan.
"Tapi malu kalau kelihatan orang."
"Kenapa malu? Kita kan suami istri?" Daryl pun mengejarnya.
"Tetap aja …."
"Oh, come on. It's not a big deal!" Daryl tertawa terbahak-bahak.
Namun Nania tidak menggubrisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sampel parfumnya sudah bisa Bapak periksa lagi." Dinna meletakkan sebuah kotak berisi enam botol parfum berukuran kecil di atas meja kerja atasannya.
"Oh, kapan datang?" Pria itu menggeser laptopnya yang sudah menyala.
"Tadi pagi-pagi sekali."
"Hmm …." Daryl meraih salah satunya untuk dia lihat.
"Harus Nania yang memeriksa karena ide awalnya dari dia." katanya, yang kembali meletakkan benda tersebut.
"Baik Pak." Lalu Dinna menggeser kotak tersebut ke sisi lain meja sehingga Daryl bisa memulai pekerjaannya.
"Dan soal model untuk iklannya apa Bapak sudah menentukannya?" Sang sekretaris bertanya.
"Yeah, aku sudah melihat referensi darimu, dan ada beberapa yang aku pilih. Tapi masih belum menemukan yang benar-benar cocok. Jadi, beri aku waktu tiga hari lagi untuk menentukan."
"Baik, Pak. Lalu untuk proyek investasi Fia's Secret House akan dibuka kapan?" Dinna bertanya lagi.
"Kamu bisa pasang iklannya di website atau media sosial kita malam ini. Nanti lihat responnya bagaimana. Baru kita akan menentukan pembukaan investasi setelah semuanya dimulai."
"Baik." Dan Dinna bersiap untuk pergi.
"Dan satu lagi."
"Ya Pak?"
"Uang tunai untukku minggu ini jangan lupa. Tapi kali ini tambahkan pecahan lima ribu, dua ribu dan recehannya ya?" ucap Daryl yang menghentikan sekretarisnya tersebut.
"Recehan?"
"Ya. Untuk bayar parkir."
"Bayar parkir?"
"Nania suka sekali mampir ke mini market kalau kami pulang sama-sama, jadi aku pasti akan membutuhkannya untuk membayar tukang parkir. Kadang dia meminta berhenti kalau melihat badut di pinggir jalan dan memberi mereka recehan."
"Ooo …."
"Dan aku senang melihat ekspresinya yang bahagia setelah melakukan itu."
"Baik Pak. Nanti saya akan sediakan."
"Terima kasih, Dinna." ucapnya, hingga akhirnya dia memulai pekerjaan , begitupun Dinna yang keluar dari ruangan tersebut.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Udah hari senin lagi, gaess. Cuss di vote dulu biar nongkrong di puncak.😂😂
__ADS_1