The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Ibu #2


__ADS_3

💖


💖


"Sejak kapan kamu tahu?" Pasangan paruh baya itu duduk di teras belakang sambil menatap rumah putra mereka.


Bangunan bertingkat dua dengan desain minimalis yang tampak nyaman. Apalagi dipenuhi beragam bunga dan tanaman di sekelilingnya. Ditambah taman di depannya yang membuat area itu terlihat semakin asri.


Satria menghela napas pelan. Rasanya berat untuk menyampaikan hal ini, tapi apa boleh buat? Istrinya sudah tahu.


"Katakan sejak kapan kamu tahu? Aku yakin kamu sudah mengetahuinya jauh sebelum aku, jadi jangan coba-coba untuk menutupinya lagi." Sofia memperingatkan.


Sejak pagi dia memilih untuk menyendiri dan mengingat-ingat apa saja yang dilewatkan dalam masa pertumbuhan putra kembarnya.


Rasanya tidak ada, kecuali ketika Daryl yang mengalami terlambat merangkak. Dia tidak akan pernah lupa ketika Darren sudah bisa melakukan banyak hal. Namun lain dengan Daryl, dia  hanya bisa diam ditempatnya padahal usia mereka sudah satu tahun. 


Anaknya yang satu itu selalu menangis ketika mereka membiarkannya merangkak di lantai agar merasa termotivasi oleh kembarannya. Dan Sofia hanya merasa bahwa itu adalah hal normal. 


Bukankah setiap bayi memiliki keunikannya sendiri?


Ada yang lambat merangkak, tapi bisa cepat duduk. Ada yang cepat berjalan, tapi susah bicara. Ada yang tidak merangkak, tapi bisa langsung berlari. Dan semua anak tidak bisa di samaratakan, bukan?


Lagi pula, selalu ada Bu Lilly di samping mereka yang siap melakukan apa saja termasuk mengurus Daryl lebih dari pada saudara-saudaranya yang lain.


Tapi ini ternyata ….


"Sayang …." Satria pun buka suara.


"Daryl juga anakku. Mengapa kamu menyembunyikan hal seperti ini? Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini? Mengetahui sesuatu yang harusnya aku ketahui sejak mereka kecil? Apa kamu tahu?" Sofia meremat pundak suaminya.


"Sayang, dengarkan aku."


"Tidak! Seharusnya kamu yang mendengarkan aku!" ucap perempuan itu.


"Bayangkan bagaimana sulitnya dia menghadapi masa anak-anak hingga remaja dengan hal ini? Bagaimana dia melaluinya sendiri, dan bagaimana bisa dia melakukannya sendiri? Bagaimana bisa? Apalagi ketika mereka di Moscow?"


"Daryl tidak sendiri, Sayang. Selalu ada yang menjaga dan mengurus apapun yang dia butuhkan."


"Apa?"

__ADS_1


"Anak kita tidak sendirian, selalu ada yang membantunya mengerjakan apa pu sehingga dia mampu melewati masa-masa itu tanpa kesulitan yang berarti."


"Itu artinya … ada yang tahu selain kamu?"


Satria menganggukkan kepala.


"Lalu mengapa kalian diam saja? Mengapa kalian menutupinya dariku? Mengapa?" Emosi Sofia meluap-luap.


"Sayang, aku mohon tenanglah." Satria mencoba meredam kemarahan istrinya.


"Bagaimana aku bisa tenang sedangkan putraku melewati hari-harinya dengan penuh kesulitan? Bagaimana dia melakukan segala hal tidak seperti orang lain, dan kamu menyuruhku untuk tenang? Kamu pikir bagaimana perasaanku ini?"


"Inilah yang membuatnya tidak mengatakan apa pun kepada kita. Membuatnya menyembunyikan kekurangannya dari keluarga, dan menyebabkan putra kita menutupi hal ini dari siapa pun. Dia tidak ingin kejadiannya menjadi seperti ini. Karena Daryl tahu bahwa Mamanya akan sangat sedih jika mengetahui kekurangannya. Dia tahu bahwa kamu akan sangat terpukul mengetahui bahwa putramu tidak senormal orang lain. Dia takut membuatmu sedih, Sayang!" Satria memegangi bahu istrinya, dan menatap kedua mata yang basah itu yang telah menangisi keadaan putranya sejak pagi.


"Ini yang tidak dia inginkan. Dan terlebih, dia takut bahwa orang-orang akan mengasihani atau memperlakukannya berbeda jika mengetahui kekurangannya. Tidakkah kamu tahu bahwa harga diri adalah hal utama baginya? Dan itulah yang sedang aku dan Darren jaga. Karena jika tidak, maka Daryl akan merasa tidak berguna."


Tangisan Sofia terhenti, namun pandangannya tetap terfokus kepada Satria.


"Darren?" Keningnya sedikit menjengit.


"Ya. Kamu pikir siapa yang merawatnya sehingga dia bisa baik-baik saja sampai saat ini? Orang lain? Bukan. Tapi Darren."


"Dia baik-baik saja, dan mereka mampu menanganinya dengan baik. Tidakkah kamu bangga dengan itu?" ujar Satria.


"Dan aku memilih untuk membiarkannya menangani hal ini dengan caranya sendiri sejak mengetahuinya ketika Darren mengatakannya kepadaku setelah mereka lulus SMA. Ketimbang bersikap seperti orang yang tahu segalanya. Karena yang mengerti diri masing-masing adalah mereka sendiri, bukan kita. Dan Daryl merasa nyaman dengan hal itu."


"Tapi Jika saja kita tahu sejak dia kecil, maka akan ada yang bisa kita lakukan untuk menangani ini sehingga Daryl bisa seperti orang lain." Dia ingat ketika sang putra mengalami kesulitan saat berpakaian seperti tadi pagi.


"Dia pintar, dia mampu melakukan banyak hal. Dia juara kelas, selalu nomor satu dalam sains dan ahli bela diri. Dan saat ini dia telah menjelma menjadi pimpinan dari usaha yang kamu dirikan, dan putra kita berhasil. Lalu apa masalahnya jika dia tak bisa mengancingkan kemeja dan mengikat tali sepatu? Hanya dua hal sederhana yang bisa digantikan dengan apa pun."


Sofia terdiam lagi.


"Pakaian dan sepatu bisa dimodifikasi, dan apa pun bisa dibuat dengan mudah sekarang ini, lalu apa yang kita pusingkan? Biarkan dia dengan kenyamanannya dan cara hidupnya sendiri. Toh selama ini Daryl baik-baik saja?"


"Dia akan bicara jika memang ingin membicarakannya. Dan akan diam jika tak menginginkannya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghargai keputusannya. Dia berhak menentukan apa pun untuk dirinya sendiri. Percayalah, itu akan sangat baik." Satria menarik perempuan itu ke pelukan dan tangisan Sofia kembali pecah.


Sementara dua orang di belakang mereka diam seribu bahasa. Nania bahkan meremat jemari suaminya selama mereka mendengarkan percakapan dua orang tua itu dalam diam. Dia menahan Daryl agar tak bereaksi setiap kali mendengar apa yang ibunya ucapkan sejak mereka memasuki rumah besar tersebut pada lewat tengah hari itu.


Dan keputusan mereka untuk pulang ke rumah karena ingin makan bersama sepertinya menjadi jalan bagi keduanya untuk membuka masalah ini secara nyata.

__ADS_1


Daryl berjalan ke arah belakang, dengan tangan Nania masih dalam genggaman. Lalu dia melepaskannya ketika  sudah dekat dengan orang tuanya. Kemudian Daryl segera merangkul mereka berdua.


"I'm okay, Mom. Don't worry!" Dia bergumam.


Sofia dan Satria menoleh. Keduanya terlihat cukup terkejut dengan keberadaan putra mereka yang sudah berada di rumah padahal waktu masih siang.


"Daryl?" Sang ibu bereaksi. 


"Ka-kamu sudah pulag, Nak? Ke-kenapa?" tanya nya.


"Tidak apa-apa, hanya ingin pulang saja." Pria itu mengeratkan rangkulan oada kedua orang tuanya.


"It's okay, don't worry." katanya.


Sofia terdiam sebentar, namun dia balas memeluk putranya.


"Maafkan Mama, Nak. Karena tidak menyadari keadaanmu yang seperti ini. Maafkan Mama." Dia kembali terisak.


"No. It's not your fault. I'm okay, lihat? Aku tumbuh dengan baik dan itu berkat Mama. Tidak ada yang merawatku sebaik Mama." Daryl membalas rangkulan ibunya.


Sofia kembali menangis.


"It's okay. Darren juga menjagaku dengan baik sehingga aku bisa seperti ini. Dan sekarang …." Pria itu melepas rangkulannya sejenak kemudian menoleh ke belakang di mana Nania berada.


Dia mengulurkan tangannya sehingga perempuan itu menghampiri mereka. Dan tak ada hal lain yang Daryl lakukan selain membawa istrinya untuk dia peluk juga bersama kedua orang tuanya.


"Dirumah aku juga punya perawat, jadi don't worry about me. It's alright." katanya, yang membuat tangis Sofia kembali pecah.


Dia membenamkan wajah di dada sang putra dan mengeratkan rangkulannya. Saat ini tak ada hal lain yang ingin Sofia lakukan selain menunjukkan perasaannya. Meski rasanya itu tidaklah cukup.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Bentar, otor mo nangis dulu ahh😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2