
💖
💖
"Nania, Ibu hanya ingin mengatakan bahwa Ibu merasa menyesal atas apa yang terjadi kepadamu. Ibu tidak menyangka sama sekali jika apa yang Ibu jalani selama ini sangat berdampak buruk." Nania membaca paragraf awal dari surat yang Daryl sampaikan, yang merupakan titipan Mirna.
"Ibu sadar, semua yang kamu alami adalah murni kesalahan Ibu. Meski pada awalnya Ibu menyangkal, tapi sekarang Ibu benar-benar sadar." Nania berhenti sebentar untuk menarik napas dan menetralisir rasa sesak di dada yang mulai menjalar.
"Meski mungkin penyesalan yang Ibu rasakan ini sudah terlambat, tapi Ibu ingin mengatakannya kepadamu. Dan Ibu minta maaf atas segalanya."
"Maaf karena telah gagal bertahan dengan ayahmu. Maaf karena kamu harus kehilangan keluarga. Maaf karena telah mengabaikanmu, menyakitimu dan memaksamu melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan selama ini. Dan maaf karena telah melimpahkan tanggung jawab yang tak seharusnya kamu terima."
Nania terdiam setelah selembar surat itu dia baca. Dia menatap kertas bertuliskan tangan ibunya dengan perasaan yang tidak menentu.Â
Entah sedih, lega atau bagaimana. Yang pasti dirinya tak bisa mendefinisikannya secara jelas. Karena segala rasa telah bertumpuk-tumpuk menjadi satu memenuhi rongga dadanya. Membuatnya merasa sakit dan sesak di saat yang bersamaan.
Sementara Daryl juga hanya terdiam di dekatnya tanpa bisa melakukan apa-apa. Dia ingat reaksi yang akan timbul jika dirinya melakukan sesuatu.
Nania melipat kertas tersebut kemudian mengembalikannya lagi ke dalam amplop. Lalu dia meletakkannya di dalam laci nakas di samping tempat tidur. Setelah itu menarik selimut sambil merebahkan tubuhnya seperti biasa.
"Aku ngantuk." katanya yang menyembunyikan kepalanya, dan dia berusaha untuk tidak bereaksi lagi.
Daryl mengerutkan dahi. Ini bahkan lebih mengherankan dari apa yang seharusnya terjadi. Seharusnya Nania bereaksi, entah itu marah atau sedih. Tapi diamnya justru membuat Daryl merasa hal ini benar tidak baik-baik saja.
Pria itu lantas mencondongkan tubuh ke arah Nania dan melihatnya lebih jelas. Namun dia malah memejamkan matanya begitu erat.
"Nna?" Daryl berbisik. "Are you okay?" Lalu dia bertanya.
Nania menjawab dengan anggukkan kepala tanpa menoleh atau setidaknya membuka mata. Dan hal itu semakin membuat Daryl takut.
"Tuhan percaya banget ya sama aku sampai ngasih cobaan kayak gini? Apa aku bisa lewatin semuanya?" Lalu dia bergumam.
Daryl tak melontarkan jawaban apa pun, namun dia lantas ikut berbaring dan memeluk tubuh kecil Nania dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perhatian Daryl beralih ketika ekor matanya menangkap pergerakan dari arah luar yang ternyata adalah Regan.
Bawahannya itu tiba pada Sabtu pagi seperti biasa, ketika Nania juga sudah menyelesaikan kegiatan masak akhir pekannya. Sementara dia tetap mengawasinya dari arah sofa di tengah ruangan.
"Selamat pagi, Pak?" sapa Regan kepadanya.
"Pagi." Daryl menjawab tanpa menghampirinyaÂ
"Aku juga sudah siaapp!" Rupanya Anandita pun baru saja tiba, dan dia segera berlari ke rumah pamannya.
__ADS_1
"Hati-hati, nanti jatuh lagi?" Regan bergumam dan dia masuk lalu membereskan barang-barang yang harus dibawa.
"Ish, Om perhatian banget deh sama aku, makasih." Dan gadis itu menjawabnya dengan sedikit melontarkan candaan khas anak remaja, sementara Regan hanya memutar bola matanya.
"Tante masaknya pagi banget ya jam segini udah beres aja?" Lalu dia beralih kepada Nania sementara Regan melenggang keluar memindahkan makanan dan segala macamnya ke dalam mobil yang diparkirkan di depan rumah.
"Ya."
"Berarti setelah ini langsung pergi?"
Nania menganggukkan kepala.
"Tapi Tante belum bisa pergi ya?" Gadis itu melirik kepada pamannya yang diam menyimak percakapan mereka, yang kemudian Nania jawab dengan gelengan.
"Yah, padahal anak-anak udah pada nanyain lho."
"Sampaikan aja salam, dan maaf aku belum bisa ke sana." ucap Nania yang meyakinkan bahwa tidak ada yang terlupa sama-sekali.
"Ya udah." Gadis itupun bersiap pergi ketika Regan kembali untuk mengambil barang kedua kalinya.
"Pergi dulu ya?" pamitnya, dan Nania pun mengangguk lagi.
***
"Suasana di rumah Om Der sekarang jadi nggak enak ya?" Anandita memulai percakapan dalam perjalanan mereka ke rumah baca.
"Masa nggak ngerasa sih? Aku aja yang seminggu sekali ngerasa banget. Om kan hampir tiap hari ke sana. Rumahnya jadi agak dingin." Gadis itu sedikit bergidik.
"Bukan urusan saya." Lalu Regan menjawab sambil menggendikan bahu.
"Masa iya bukan urusan Om? Orang semua yang kerja sama Opa itu pada tahu kok." Anandita mencondongkan tubuhnya ke depan di mana si pengemudi sekaligus bawahan pamannya berada.
"Cukup tahu saja, dan tidak menjadikan itu sebagai urusan jika tidak ada perintah." Pria itu menjawab lagi.
"Ah, aku mah nggak ngerti sama orang dewasa. Cara berpikirnya itu ribet." Sedangkan dia kembali bersandar pada kursinya.
Regan terkekeh. "Seolah kamu tidak akan dewasa, Ann?" katanya, yang melirik gadis itu lewat kaca spion.
"Aku nggak mau jadi orang dewasa yang ribet kayak gitu. Timbang hidup damai aja kenapa sih? Masa semua hal harus dipermasalahkan? Semua orang kan pernah berbuat salah?" Anandita menjawab.
"Tidak sesederhana itu, Ann."
"Ya, aku pikir sederhana aja. Waktu ada yang berbuat salah, ya maafin aja. Apa susahnya sih?"
Regan tampak menggelengkan kepala sambil tertawa.
__ADS_1
"Kenapa Om malah ketawa? Emang ada yang lucu?"Â
"Suatu saat nanti kamu akan merasakannya sendiri. Kalau saya jelaskan sekarang agaknya sulit untuk dimengerti."
"Masa?"
"Serius."
"Iya, itu karena Om nya ribet."
Regan lagi-lagi memutar bola matanya.
"Apaan sih Om dari tadi gitu melulu?"
"Tidak." Lalu Regan membelokkan mobil ke arah rumah baca yang hari itu sudah ramai karena didatangi anak-anak yang ingin belajar.
"Yeayyy! Yang dateng makin banyak! Asiiikk!" Gadis itu dengan reaksinya yang seperti biasa, membuat Regan geleng-geleng kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nania?" Daryl memanggil ketika dia tak menemukan istrinya di rumah.
Pria itu mencari ke sekeliling area namun Nania tak ada di manapun. Green house sepi apalagi ruang olah raga. Dan taman tempat dia biasanya menghabiskan waktu pun tampak lengang.
Lalu Daryl teringat dengan hutan di area belakang, dan ke arah sanalah dia berlari. Meski kemudian dia berhenti ketika ternyata Nania juga sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Nania terkejut sementara dirinya merasa lega. Di pikirannya sempat terlintas hal-hal buruk dan dia tak mungkin merasa biasa saja. Apalagi setelah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini.
"Aku … cuma habis lihat Sunny, Daddy." Nania mendahului bicara sebelum pria itu bertanya.
Rasa takut masih saja mengganggu meski saat ini dirinya mulai terbiasa lagi akan keberadaan suaminya.
"Ya, aku tahu." Daryl menghentikan langkah tepat saat Nania juga berhenti.
"Jadi, ayolah kita pulang? Kamu belum minum obat." Lalu dia mengulurkan tangannya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Maaf gaess hari ini telat banget up. Maklum, Emak lagi ada kerjaan, jadi sedikit mengganggu aktifitas menulis. Tapi akan tetep Emak usahain untuk up kok.
__ADS_1
Makasih ya karena selalu nunggu novel ini, kalian memang yang terbaik.
Alopyu sekebon😘😘