The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Klinik #2


__ADS_3

๐Ÿ’–


๐Ÿ’–


"Sedang apa kalian di sini?" Daryl mempercepat langkahnya ketika dia melihat Dimitri dan Rania berada di klinik tempat Nania dirawat selama satu minggu belakangan.


"Hanya menjenguk Nania." Dimitri menjawab.


"Anya sama Zenya udah kangen tante mereka." Lalu Rania menambahkan sambil menunjuk ke arah taman di depan.


Di mana Nania tengah berinteraksi bersama dua anak yang adalah keponakannya.


"Dia mau keluar?" Daryl menatap hal tersebut dengan raut takjub.


Padahal beberapa hari ini dirinya selalu menerima pesan dari dokter tentang perkembangan kondisi Nania, yang memang perlahan merespon ketika diajak bicara saat menjalani sesi terapi, tapi perempuan itu menolak untuk keluar dari ruang perawatannya. Bahkan Nania menolak setiap kali Daryl ingin menemuinya.


Tapi hari ini, ketika dokter mengizinkan perihal kunjungan keluarga setelah sepekan mengurung diri perempuan itu bersedia keluar. Meski dia hanya menerima Anya dan Zenya dari pada orang dewasa.


"Ya. Tapi hanya mau ditemui Anya dan Zenya." jawab Dimitri, dan persis seperti dugaannya.


Terdengar tawa anak-anak itu, di mana mereka bertiga duduk di sisi taman beralaskan kain dengan beberapa jenis makanan ditengah. Yang salah satunya Zenya ambil kemudian dia sodorkan kepada Nania.


Perempuan itu menerimanya lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri.


"Enak kan?" Zenya bertanya.


"Itu Mommy yang bikin." Mereka menoleh ke arah tiga orang dewasa di pelataran, lalu Zenya melambaikan tangan.


"Iya sih, bentuknya nggak karuan tapi enak. Sekarang Mommy udah bisa masak lho." Zenya tertawa lagi.


"Percaya deh, soalnya aku ikut pas bikinnya. Dapur berantakan tapi langsung diberesin kok sama Mbak Leni."


"Hey, jangan ghibah ya!" Rania memperingakan dari tempat duduknya.


"No, Mommy. Aku cuma lagi cerita." Zenya menjawab.


Nania terdiam ketika pandangannya menemukan wajah Daryl. Suara di kepalanya berteriak kencang menyerukan kerinduan tapi hatinya berdenyut nyeri. Entah mengapa dia merasakan hal itu.


"Aku capek, mau istirahat dulu ya?" Nania pun bangkit lalu berjalan meninggalkan taman diikuti seorang perawat yang bertugas menjaganya.


"Tante, kan makannya belum selesai?" Anya mengikutinya.


"Besok lagi ya? Mau tidur." Nania melewati Rania, Dimitri dan Daryl seolah dia tidak melihat mereka. Dan langsung menuju ke kamar rawatnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari area tersebut.


"Nania?" Daryl memanggilnya, yang sempat menghentikan langkah perempuan itu.


Namun dia meneruskan perjalanan masuk ke dalam kamar dan duduk di kursinya seperti biasa.


"Saya belum bisa menemuinya, Suster?" Daryl mengejar lalu berhenti di depan pintu ketika si perawat keluar.


"Kita tunggu Dokter Harsya sebentar lagi ya Pak? Karena untuk kasus Bu Nania harus dibawah pengawasan Dokter Harsya langsung."


"Baik, saya sudah di sini." Dan secara kebetulan pria yang dimaksud pun tiba karena memang sudah mengatur janji pertemuan dengan Daryl sebelumnya.


"Baik Dokter."

__ADS_1


"Perkembangannya bagus?" Daryl segera bertanya.


"Ada kemajuan, tapi โ€ฆ."


"Kenapa?"


"Untuk kasus Nania memang lambat. Bukankah saya sudah mengatakan jika kita harus ekstra sabar untuk ini?"


Daryl menghembuskan napas kecewa.


"Prosesnya memang lama dan prosedur harus dilakukan secara hati-hati agar Nania benar-benar pulih. Jika tidak, maka akan berakibat fatal di masa depan karena hal ini bisa saja kambuh jika Nania mengalami masalah berat lagi."


Daryl terdiam.


"Anda mau mencoba menemuinya sekarang?" Lalu Dokter Harsya bertanya.


"Apa bisa?"


"Kita coba. Tapi saya ingatkan untuk tidak bergerak tiba-tiba dan menimbulkan keterkejutan. Anda ingat apa yang terjadi terakhir kali, bukan?"


Daryl menganggukkan kepala. Belum apa-apa dia sudah merasakan kedua matanya memanas. Pria itu takut mendapatkan penolakan dari Nania, mengingat sikapnya barusan.


"Baik, dan saya peringatkan juga untuk tidak terlalu banyak bicara katena itu akan membuatnya bingung."


"Baik Dokter." Daryl setuju.


Kemudian dua pria itu masuk ke dalam kamar di mana Nania berada.


"Selamat siang, Nania?" Dokter Harsya menyapanya.


Nania tak menjawab karena dia tengah asyik menatap keluar jendela seperti biasa.


Nania melirik ketika mereka mendekat. Dan dia hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.


"Ingat bahwa kamu sudah menikah dan ini adalah suamimu?" tanya Dokter Harsya lagi.


Nania menatap wajah Daryl, dan ya dia memang ingat siapa pria itu. Mana mungkin dia akan lupa dengan pria yang telah membuatnya jatuh cinta sehingga dia menyerahkan seluruh hidup kepadanya. Mempercayakan masa depan dan segala apa yang dia impikan di tangannya.


Tapi kemudian Nania ingat betapa marahnya pria itu ketika mereka kehilangan anak yag masih dikandung, dan hal tersebut disebabkan oleh kesalahannya.


Nania ingat rasanya ketika Daryl marah dan dia takut itu akan terjadi lagi.


"Daddy." katanya dan dia masih menatap wajah pria itu.


Yang tentu saja membuat Daryl gembira hanya dengan mendengarnya saja. Dia hampir saja bereaksi namun Dokter Harsya segera memberi isyarat untuk mengingatkan.


"Daddy marah sama aku." Lalu dia mengembalikan pandangan ke jendela seraya menarik kakinya ke atas sofa kemudian dia tekuk sehingga bisa memeluknya dengan erat. Dan Nania sedang menciptakan ruang yang menurutnya aman.


"No!"


Dokter Harsya kembali menahannya.


"Aku mau pulang, tapi takut Daddy marah lagi. Di sini aja udah bagus." katanya lagi dengan suara pelan.


"Please, Dokter. Izinkan saya mendekat." ujar Daryl yang hampir saja melangkah jika saja dokter tak tetap menahannya.

__ADS_1


"Saya hanya ingin mendekat. Tidak akan melakukan apa pun." Pria itu meyakinkan.


Dokter berpikir sebentar, kemudian dia memutuskan untuk membiarkan pria itu mendekati Nania.


"Baiklah, tapi ingat untuk tidak bereaksi berlebihan." ujar Dokter Harsya lagi, dan Daryl hanya menjawabnya dengan anggukkan.


Lalu dengan langkah perlahan Daryl mendekati Nania. Dia berusaha mati-matian menahan diri untuk tak memeluknya meski rasa rindu menuhi dada.


Dia berdiri menatap perempuan itu yang membeku di tempat duduknya. Dan tidak berapa lama kemudian Daryl berjongkok di depannya.


"Malyshka?" katanya yang memberanikan diri untuk menyentuh tangannya.


Nania perlahan menoleh dan pandangan datarnya memindai wajah Daryl lekat-lekat.


"Malyshka, listen to me." katanya lagi, dan dia menarik lengan perempuan itu sehingga dia menurunkan kedua kakinya.


"Aku menyesal." ucap Daryl dengan buliran bening yang keluar dari sudut matanya.


Tangannya bertumpu di lutut Nania sehingga kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Dan Daryl hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara ketika Nania secara tiba-tiba membingkai wajahnya.


"Anak baik, anak pintar. Kamu harus selalu menjadi orang baik bagaimanapun keadaanmu. Tidak boleh berubah meski seluruh dunia menyiksamu, dan apa yang kamu lakukan tidak pernah dihargai. Tetaplah menjadi anak baik." Perlahan kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.


"Harus selalu jadi orang baik. Tolong mereka, dan beri siapa pun yang membutuhkan." katanya lagi.


"Harus jadi orang baik bagaimana pun keadaannya." Nania tersenyum lagi, namun hal itu malah membuat Daryl semakin berderai air mata.


Napasnya sudah tersengal-sengal dan dia hampir saja tak mampu menahan diri.


"Jadi orang baik โ€ฆ." ucap Nania lagi yang meremat wajah suaminya dengan keras.


"I'm Sorry." Dan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Daryl.ย 


"Maafkan aku atas semua yang terjadi. Maafkan aku karena telah menyalakanmu, maafkan aku karena telah menyudutkanmu, dan maafkan aku karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa kita belum diberi kepercayaan oleh Tuhan. Maafkan aku." Dia merangsek dan kedua tangannya meraup pinggang Nania sehingga kini mereka benar-benar tak berjarak.


"Maafkan aku karena sudah egois, merasa bahwa apa yang terjadi karena kesalahanmu. Maafkan aku, Malyshka. Maafkan." katanya lagi, dan dia membenamkan wajahnya di dada perempuan itu lalu menangis sesenggukkan.


Bahu Nania tampak beegetar. Napasnya terputus-putus dan air mata menyeruak menuruni pipinya. Lalu suara tangisan mulai mengudara.


Dokter Harsya bersiap untuk kemungkinan terburuk jika pasiennya akan mengamuk, sehingga dia segera memanggil beberapa orang perawat untuk mengantisipasi keadaan.


Rania dan Dimitri yang masih berada di sana pun segera menghampiri ruangan ketika beberapa orang petugas tiba.


Namun semuanya terdiam ketika mendapati adegan di dalam sana yang tidak siapa pun menduganya.


Di mana Nania yang menangis begitu keras sambil memeluk pundak Daryl dengan eratnya.


"I'm sorry for what i've done. Aku tidak berpikir jika sikapku akan menghancurkan kita. Aku minta maaf, Nna! Aku minta maaf!" ucap Daryl lagi dan dia pun memeluk tubuh perempuan itu tak kalah eratnya.


Mereka berdua menangis bersama untuk waktu yang cukup lama dan tak ada seorang pun yang berani mendekat. Dan dokter bahkan memutuskan untuk membiarkan saja keduanya seperti itu meski sempat menarik perhatian orang-orang yang melintasย 


๐Ÿ’–


๐Ÿ’–


๐Ÿ’–

__ADS_1


Bersambung ...


gimana? Masih kuat?๐Ÿคญ๐Ÿคญ


__ADS_2