The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kesepian


__ADS_3

💖


💖


"Kamu akan bilang mama sama papi sekarang?" Mereka sudah rapi dan bersiap untuk pulang.


"Aku pikir ya, lebih cepat lebih baik kan?" Daryl menyugar rambutnya yang setengah basah lalu dia mengenakan jasnya kembali.


"Nggak kecepetan?"


"Aku rasa tidak. Memangnya kenapa?"


"Nggak kenapa-napa. Cuma kesannya kayak dadakan banget gitu?" Mereka turun dari kamar di lantai dua setelah memastikan semuanya rapi seperti semula.


"Tidak dadakan juga. Memang semua orang sudah seharusnya pergi dan memulai hidup masing-masing kan?"


"Hmm … iya juga sih. Tapi tahu nggak, kalau rumah besar itu tempat kedua yang bikin aku betah setelah rumahnya ayah."


"Masa?" Daryl memutar kunci pintu sebanyak dua kali.


"Ya. Seneng aja gitu, tahu masih ada orang tua di sana. Sebentar aja aku udah ngerasa kayak di rumah sendiri."


"Kita akan sering berkunjung kalau sudah pindah nanti." Pria itu membuka pintu mobil untuk Nania.


"Iya, Mama sama Papi harus sering dikunjungi biar nggak kesepian kan?"


"Ya. Mungkin kita menginap juga setiap akhir pekan seperti yang lainnya?" Da terakhir dia memastikan sabuk pengaman terpasang dengan benar untuk Nania.


"Itu bagus banget!"


"Yeah. Langsung pulang?" ucap Daryl sebelum melajukan mobilnya.


"Iyalah, udah sore. Udah laper, penasaran Mbak Mima sore ini masak apa ya?"


"Bukankah tadi aku sudah memintamu memasak agar kita bisa makan dulu sebelum pulang?" Mobil keluar dari pekarangan rumah.


"Nggak mau, nanti malah jadi lebih lama. Kamu kan suka macam-macam?" cibir Nania yang membuat suaminya tertawa.


"Padahal tadi mau coba juga di dapur, sepertinya menarik?" Pria itu dengan imajinasinya.


"Dih, aku tahu kenapa kamu ngotot mau cepet pindah. Pasti gara-gara itu, kan?"


Daryl tertawa lagi.


"Otak kamu tuh, sebagian besar anu-anu semua?"


"Haih, telingaku gatal kalau kamu sebut apa yang kita lakukan itu anu-anu." Daryl mengusap-usap telinganya.


"Ya emangnya kenapa?"


"Sebut make love lah, atau apa gitu?"


Nania tertawa.


"Memangnya kamu tidak ya?" Lalu Daryl bertanya.


"Soal apa?"


"Memikirkan soal ML."


"Nggak."


"Masa?" Mobil berhenti di depan pos ketika pria yang tadi siang keluar.


"Mungkin dalam beberapa hari kami akan pindah, nanti saya hubungi lagi." Lalu Daryl menyerahkan kunci rumah beserta dua lembar uang seratus ribuan.


"Oh iya Pak." Pria itu menjawab.


"Titip rumah ya? Terima kasih." Katanya, lalu mereka segera pergi.


"Memangnya perempuan tidak memikirkan soal … you know … intimacy?"


"Nggak lah, ngapain?" Nania segera menjawab.


"Masa sih?"


"Iya, kecuali kalau lagi ngelakuinnya."


"Tapi kenapa kalian selalu menjadi yang lebih bersemangat ketika melakukannya?" Pria itu berujar.


"Hah?"


"Maksudku kamu. Ahahaha." Hampir saja dia tak sengaja membahas kejadian yang sudah-sudah dengan perempuan sebelum Nania.


"Ish!!" Namun perempuan itu menepuk lengannya dengan keras.


"Awww!! Stop it! That hurts!" protes pria itu.


"Mau bahas mantan teman bobo kamu ya? Emang mereka juga kayak gitu kalau lagi ML? Bella juga ya? Apa dia ngelakuinnya lebih baik dari aku?" Nania meradang.


"Bukan begitu, Sayang. Maksudku …."


"Ish, nyebelin!!" Nania melepaskan tautan sabuk pengamannya kemudian mencondongkan tubuh ke arah suaminya.  Lalu dia segera menggigit pundak pria itu sekeras yang dia bisa.


"Awww! Stop!!" Daryl memelankan laju mobilnya saat mereka sudah berada di jalan raya.


"Kamu bener-bener nyebelin!" Perempuan itu kembali ke tempat duduknya kemudian bersedekap.

__ADS_1


"Tidak ada hubungannya!" Daryl meringis sambil mengusap bekas gigitan istrinya.


"Ugh!! Kamu pasti udah ngalamin banyak hal sama mereka. Ngapain aja, di mana aja, sementara aku cuma amatiran yang baru tahu masalah beginian." Nania kesal. Dia merasa tidak terima ketika mengingat bahwa dirinya bukanlah satu-satunya perempuan yang tidur dengan suaminya.


"Itu dulu kan, sekarang sudah tidak." Daryl menjawab dengan hati-hati.


"Tetep aja kan? Aku bukan satu-satunya perempuan yang tidur sama kamu, apalagi yang pertama. Huaaaaaaa!!!" Tiba-tiba saja dia menangis.


"Astaga!!" Daryl kemudian menepikan mobilnya.


"Malyshka!!" Lalu dia mencoba menenangkan perempuan itu.


"Nggak mau!! Kenapa kamu bahas itu, aku kan jadi ingat? Kamu bikin aku jadi overthinking!!!" Nania menolak suaminya.


"It's just a conversation. Kenapa menjadi masalah besar bagimu?"


"Di kepala aku banyak bayangan gimana kamu memperlakukan mereka pas lagi …." Dia ingat bagaimana interaksi int*m mereka, dan Nania membayangkan mungkin itu juga yang Daryl lakukan dengan teman tidurnya terdahulu.


"Huaaaaa …. Nggak mau!! Kamu jahat!"


"No!! It's a different thing!"


"Tetep aja judulnya tidur bareng. Nggak akan jauh dari itu!!!" Nania memukul pundak Daryl ketika hendak memeluknya.


"Oh ayolah, itu sudah berlalu dan aku tidak melakukannya lagi kan? It's just you, it's always you."


"Bohong!! Buktinya kamu pacaran sama Bella setelah ciuman sama aku di pantai?"


"Aku nggak pacaran dengan Bella, itu cuma have funn saja. Tidak serius."


"Tapi kan …."


"Stopp!" Daryl setengah berteriak kepadanya dan seketika membuat Nania terdiam namun dengan bibir yang bergetar.


"Stop!! Kamu akan membuat kita bertengkar karena masalah tidak penting. Semua hal yang terjadi atau aku lakukan sebelum bersamamu tidaklah penting. Termasuk hubunganku dengan perempuan. Entah itu Bella atau siapa. It doesn't matter!" Dia memegang kedua pundak Nania sambil melembutkan suara.


"Ya, aku mungkin salah karena telah berbuat begitu, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berarti. Itulah mengapa hanya sebatas bersenang-senang saja. Sedangkan denganmu? Coba pikirkan apa perbedaannya!"


Nania menatap wajahnya.


"I marry you, that's the different. Dan itu berarti banyak hal untukku."


Perempuan itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat


"So stop complaining about anything before we're together. Oke?" katanya lagi, kemudian Nania mengangguk.


"Are we clear?"


"Iya."


"Jangan apa?"


"Membahas soal apa?"


"Soal kamu dan temen … eh … masa lalu."


"That's good. You promise?"


"Iya."


"Jadi, kita bisa pulang sekarang?" Daryl kembali memasangkan safety belt mereka, lalu menyalakan mesin mobil.


"Bisa." Nania menganggukkan kepala.


"Tidak akan membahasnya lagi?"


"Nggak."


"Oke then." Kemudian mobil kembali melaju menuju pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, aku kira kamu di mana." Satria menemukan istrinya berada di teras belakang mereka.


Memandangi bunga-bunga di sepanjang area itu yang mulai bermekaran setelah diterpa musim hujan selama beberapa hari belakangan. Membuat halaman yang luas itu kini mulai berwarna.


"Apa kamu sudah selesai?" Sofia menyesap tehnya yang hampir dingin.


"Sudah. Hanya memeriksa hasil pekerjaan Dimitri dan itu tidak membutuhkan waktu lama. Bukankah sudah aku katakan kepadamu?"


Sofia tersenyum, namum diakhiri helaan napas yang terdengar berat.


"Ada apa?" Satria duduk disampingnya.


"Anak-anak kita sudah besar, Sayang." Dia memulai percakapan.


"Memang. Bukankah mereka sudah menikah?" Satria sedikit terkekeh.


"Ya. Pernahkan kamu menyangka kita akan sejauh ini? Bertemu, menikah, memiliki keturunan dan membangun keluarga sebesar ini?"


"Tidak pernah. Tapi inilah yang aku inginkan. Apa kamu tidak?"


"Bercanda ya? Mimpiku adalah memiliki keluarga seperti ini. Meski tidak pernah juga membayangkan akan sebesar ini, tapi semuanya lebih dari yang aku minta kepada Tuhan. Bukankah kita sangat beruntung?"


"Ya, tentu saja. Tapi lebih pantas kita sebut sebagai anugrah. Karena keberuntungan hanyalah sedikit dari apa yang terajadi kepada kita. Selebihnya karena kita memang pantas mendapatkannya."


Sofia menatap wajah pria yang sudah dia temani lebih dari tiga puluh tahun lamanya itu.

__ADS_1


"Kamu tahu, kalau aku sangat saangat bahagia hidup denganmu. Memang banyak hal yang terjadi, baik itu buruk atau indah. Tapi yang aku ingat sampai sekarang adalah kebahagiaan." Sofia mengingat sudah sejauh mana mereka melangkah.


Satria mengangguk pelan. Dan dia tidak pernah bosan untuk memandang wajah perempuan yang menjadi teman hidupnya itu.


"Tapi akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiranku." lanjut Sofia.


"Apa?"


"Beberapa kali aku melihat Daryl bersikap tidak terlalu baik kepada Nania. Padahal sebelumnya dia tidak pernah begitu. Ya, dia memang sedikit lebih keras dari saudara-saudaranya dan terkadang bertindak tak biasa, tapi sikapnya tak seburuk perlakuannya kepada Nania."


"Dia berteriak, seenaknya, dan kadang aku melihatnya terlalu mendominasi. Belum lagi tadi pagi, apa kamu ingat ketika Nania mengikat tali sepatunya? Dan aku pikir ada yang tidak beres dengan mereka."


"Apa Nania pernah mengeluh kepadamu?" Satria bertanya.


"Tidak pernah, bahkan mengobrol pun jarang. Kamu tahu sendiri dia agak tertutup? Tidak seperti Rania yang selalu mengatakan segala hal dan sering mengadu soal Dimitri."


"Ya, bukankah kepribadian setiap orang itu berbed-beda? Dan tidak mungkin juga kita membandingkannya." Satria berujar.


"Aku tidak sedang membandingkan. Hanya mengatakan kalau Nania tidak seperti Rania yang suka membicarakan banyak hal. Maka aku pun berani untuk mengatakan apa saja kepadanya."


Satria terdiam.


"Aku hanya takut jika anak kita melakukan sesuatu yang buruk. Pikirkan betapa tertekannya Nania setelah bersama Daryl?"


"Pikiranmu terlalu jauh, Sayang. Kita tidak tahu apa yang terjadi. Jangan menerka-nerka seperti itu!"


Sofia menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.


"Kalau aku tanya kepada Nania apa yang terjadi apakah pantas?" Lalu dia meminta pendapat.


"Aku rasa tidak, karena itu urusan rumah tangga mereka. Tapi jika Nania sendiri yang bicara baru kamu bisa menanyakan banyak hal setelahnya." Satria menjawab.


"Begitu ya?"


"Ya."


"Ugh, tadinya sore ini aku ingin sekali berbicara dengan mereka, tapi karena kamu bilang begitu ya sudahlah." Sofia menyandarkan punggungnya pada kepala kursi.


"Jangan gegabah. Hanya karena kamu ingin mengetahui suatu kebenaran lantas membuatmu bertindak yang tidak seharusnya. Sebagai orang tua kita hanya perlu mendoakan agar hanya hal baiklah yang terjadi."


"Ah, kalau soal itu tidak usah kamu beri tahu juga aku mengerti."


"Hanya mengingatkan, Sayang."


"Dan saat ini yang aku harapkan hanya satu."


"Apa? Cucu?" 


"Bukan. Kalau pun iya, tapi aku tidak berharap buru-buru. Cucu kita sudah banyak dari Dygta dan Dimitri. Ditambah cicit dari Ara kan? Walaupun secara tidak langsung, tapi mereka masih anggota keluarga kita juga. Jadi kalau untuk Daryl dan Darren aku cukup santai."


"Lalu apa?"


"Kamu tahu, Dygta pergi dibawa suaminya. Dimitri dan Darren membangun keluarganya sendiri. Dan sekarang tinggal ada Daryl di rumah ini."


"Lalu?"


"Aku harap mereka tidak akan pergi dari rumah ini. Kalau pergi, maka aku akan sangat kesepian."


"Soal itu juga kita tidak bisa ikut campur kan? Kalau Daryl ingin pergi bagaimana? Bukankah setiap anak yang sudah berumah tangga kita bebaskan untuk membuat keputusan?"


"Ya, tapi rasanya aku tidak rela."


"Rela tidak rela itu sudah lumrahnya. Anak kita jelas mampu memberikan naungan yang pantas bagi istrinya. Beda lagi ceritanya kalau tidak mampu."


"Hmm … aku tahu. Aku juga sudah mendengar percakapan mereka beberapa malam kemarin."


"Percakapan apa?"


"Waktu Daryl mengajak Nania pindah kalau dia sudah mendapatkan rumah untuk mereka." Sofia mengingat percakapan yang didengarnya tempo hari.


"Hmmm …."


"Tidak tahu kenapa aku merasa khawatir. Tahu rumah ini akan ditinggalkan penghuninya, dan kita akan kembali hanya berdua saja."


"Memang apa masalahnya? Awalnya kita berdua, maka setelah anak-anak tumbuh dewasa dan memiliki hidupnya masing-masing, maka akhirnya kita akan kembali berdua."


"Dan aku akan kesepian lagi. Meski Nania tak seramai yang lain, tapi setidaknya aku tahu bahwa dirumah ini ada orang selain kita."


"Ada aku, mengapa kamu merasa kesepian?"


"Maksudmku anggota keluarga selain kamu." Sofia tertawa sambil mengusap dada suaminya.


"Ah, enak saja kamu bilang kesepian. Memangnya aku membangun keluarga ini dengan siapa? Hantu?"


Sofia segera memeluknya.


"Aku tidak sengaja mengatakannya, Sayang. Maafkan aku!!"


"Kamu kesepian? Lalu dengan siapa aku hidup selama tiga puluh tahun ini? Siapa yang membuatmu bisa melahirkan anak-anak? Dan siapa lagi yang aku cari setiap saat? Hum?"


"Iya iya iya, maafkan aku." Sofia terus tertawa, sementara dua orang di ambang pintu yang baru saja tiba terdiam dan  saling pandang setelah mendengarkan percakapan mereka.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Hayoooo denger apa?😁😁


__ADS_2