
💖
💖
"Menikah dulu, baru bisa hidup mandiri." Suara-suara di kepala Daryl saling berteriak.
"Tapi masa belum seminggu pacaran sudah mengajak menikah? Apa tidak aneh?" Dia menatap gadis yang tengah menata makanan di meja. Yang statusnya kini telah berubah menjadi kekasihnyaÂ
Kekasih.
Si anak SMP yang sering membuatnya kesal karena selalu menyanggah kata-katanya.
"Hehe." Daryl terkekeh sendiri.
"Udah Pak." Nania yang telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Hum?" Pria itu menyahut.
"Makanannya, udah siap." ulang Nania yang mundur satu langkah saat Daryl mendekat lalu duduk di sofa seperti biasa.
Pria itu meneguk air minumnya sedikit lalu memulai acara makan siangnya.
"Kalau begitu saya pamit, Pak?" ucap Nania, dan dia bersiap untuk pergi.
"Heh?" Namun Daryl bereaksi.
"Ya Pak?"
"Kemari!" Daryl menyentakkan kepalanya.
"M-maaf Pak?"
"Duduklah dulu sebentar!" Pria itu menepuk sisi kosong disampingnya.
"Umm …."
"Nania!" Dia sedikit membentak.
"Iya, iya!" Dan seperti biasa, gadis itu pun menurut. Dia dudul disampingnya seperti yang pria itu minta.
Daryl tertawa lalu mengusak puncak kepalanya.
"Aneh sekali kamu ini, kenapa setiap dibentak pasti langsung menurut?" katanya, lalu kembali mengunyah malanannya.
"Makanya, jangan bentak-bentak terus. Saya suka refleks kalau dibentak. Denger suara keras aja langsung gugup." Nania dengan canggung.
"Banarkah?"
Gadis itu menganggukkan kepala.
"Kenapa bisa begitu?"
"Nggak tahu." Nania menggendikkan bahu. Otaknya berputar mengingat banyak hal.
"Mungkin karena dulu sering dibentak sama ibu?" Salah satu kenangannya muncul seketika.
"Dibentak ibu?"
"Iya." Nania menoleh ke arah Daryl.
"Waktu itu ayah nggak pulang-pulang, yang saya mengerti sekarang mereka begitu karena bercerai. Saya nangis setiap hari karena nggak ada ayah, dan mungkin itu yang bikin ibu marah. Makanya ngebentak saya." Dia memejamkan mata dan kelebatan bayangan hadir dalam ingatan seperti sebuah tayangan video.
Ketika dia sedang menangis selama berhari-hari dan tiba-tiba saja Mirna berteriak begitu kencang di depan wajahnya, yang seketika membuat tangisnya terhenti. Maka sejak saat itu dia merasa takut kepada ibunya dan gugup setiap kali mendengar suara keras. Termasuk bentakan dan teriakan.
Nania kembali membuka mata, dan rasa gugup segera menyerangnya ketika pria di depan menatapnya dengan intens. Sebelah kakinya bahkan bergetar karena saking gugupnya dan hal tersebut memang sering terjadi kepadanya.
__ADS_1
"Are you okay?" Daryl bertanya.
"Ya, sejauh ini …." jawabnya, kemudian tersenyum.
"Kamu mengalami trauma?" tanya Daryl lagi, lalu dia menggeser kakinya pada kaki Nania yang bergetar. Dan ajaibnya, getaran itu terhenti seketika.
Gadis itu tak menjawab, tapi dia masih menatap wajahnya.
"Mungkin kamu trauma. Lalu apa lagi yang kamu alami?" ujar Daryl yang kembali menyuapkan makanannya.
Nania tiba-tiba saja mengingat banyak hal. Segala bentuk bayangan di masa kecil hadir dalam pikiran dan pikirannya menjadi berisik.
"Ish!!" Dia memegangi kepalanya
"Whats wrong?" Daryl menghentikan kegiatan makannya, lalu dia lebih mendekat kepada Nania.
"Kalau banyak yang diingat rasanya sakit."
"Let me see." Daryl segera meraup kepalanya.
"Nggak usah, Pak. Nggak apa-apa. Nanti juga baikan." tolak Nania, dan dia hampir saja beranjak.
"No, let me …." Lalu pandangan mereka bertemu, dan keduanya sama-sama terdiam.
"Saya … harus … kerja, Pak." Gadis itu menggumam, namun Daryl belum melepaskannya.
"Pak?"
"Maukah kamu menikah denganku?"
"Hah?" Kedua bola mata Nania membulat seketika.
"Hehe, aneh ya? Aku ingin hidup mandiri tapi Mamaku bilang aku harus menikah dulu kalau mau begitu."
"Umm …."
"Kecepetan Pak!" Nania segera bergeser sehingga tangan pria itu terlepas darinya.
"Iya, aku pikir juga begitu. Tapi … sepertinya tidak."
"Hmm …."
"Eh, semalam kamu mau bilang apa? Aku lupa tanya. Pas aku telfon nggak kamu angkat?" Daryl mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, soal itu …." Nania ingin bicara, tapi dia juga ragu.
"Apa?"
"Nanti aja deh, Bapak kan lagi makan?"
"Tidak apa-apa, bicaralah."
"Umm … nggak lah, lagian saya juga harus cepet pulang ke kedai. Kan ini jam rame?"
"Iya juga." Daryl melihat jam tangannya. Memang sudah menunjukkan pukul 12 lewat.
"Saya pamit?" Nania benar-benar bangkit dari sofa.
"Tidak bisakah kamu menunggu sebentar lagi?" Daryl menyelesaikan kegiatan makannya dengan cepat.
"Nggak enak sama yang lain kalau kelamaan diluar." jawab Nania yang mengenakan tas selempangnya.
Pria itu meneguk air minum hingga habis setengahnya, lalu dia pun bangkit.
"Baiklah, kalau begitu nanti sore mungkin aku mampir ke kedai."
__ADS_1
"Padahal nggak usah, kejauhan muternya." Nania sudah siap.
"Kamu juga setiap siang memutar ke sini hanya untuk mengantarkan makanan kan?" Daryl mendekat.
"Ya kan udah jadi kerjaan saya setiap hari."
"Kalau begitu mungkin mulai sore ini jadi pekerjaanku juga untuk mampir ke kedai."
"Hum?"
Pria itu tersenyum. Dengan cepat dia meraih tubuh kecil Nania dan menariknya ke pelukan. Daryl menunduk serendah mungkin dan tanpa basa-basi dia mendaratkan ciuman di bibir mungilnya yang semerah cherry, lalu memagutnya selembut yang dia bisa.
Merasainya pelan-pelan seolah dia baru pertama kali melakukannya.
"Mm …." Nania tentu saja terkejut. Tubuhnya seperti tiba-tiba saja membeku namun dia mulai terbiasa dengan hal ini.
Hibungan mereka memang kurang dari seminggu, tapi pria itu sudah memiliki hampir seluruh hati dan pikirannya. Jadilah dia pasrah dengan yang dilakukannya, selain hanya meremat jasnya dengan kencang.
Lagipula, memangnya siapa yang tidak akan tersihir dengan pesonanya? Sepertinya tidak ada.
Daryl berhenti kemudian terkekeh, namun belum menarik wajahnya dari Nania.Â
"Kenapa diam saja?" Dia menatap ke dalam matanya.
"Mm … saya …."
"Belum terbiasa?"
Nania menganggukkan kepala.
Pria itu tersenyum lagi, lalu dia mengulang lagi ciuman dan kali ini lebih pelan.
Nania merasakan tangannya melemas dan dia seperti meleleh. Tubuhnya bahkan menggigil merasakan desiran yang merambat seiring cumbuan pria itu yang semakin intens.
"Oh, kamu beruntung aku tidak bekerja di Nikolai Grup. Kalau disana, sudah pasti aku sering mendatangimu." Dia melepaskan bibirnya, kemudian memeluk tubuh kecil Nania dengan erat sehingga gadis itu tampak tenggelam dalam dekapannya.
Dia merasakan degupan jantung Daryl yang begitu keras. Tingginya yang hanya sebatas dada dari pria setinggi 190cm itu membuat wajahnya seperti terbenam di sana.
Wangi maskulin tentu saja mendominasi indra penciumannya, dan Nania sangat menyukainya.Â
"Sekarang pergilah, sebelum aku merasa tidak tahan. Dan itu sangat berbahaya karena aku tidak akan bisa melepaskanmu." Lalu Daryl mengurai pelukannya.
Dia merapikan rambut Nania yang berantakan lalu membenahi penampilannya. Memastikan gadis itu pergi dalam keadaan yang baik.
Sementara Nania masih mengumpulkan kesadarannya yang sempat berhamburan, dan dia berusaha untuk terlihat normal. Meski sepertinya dia tidak akan normal sepenuhnya setelah bersama pria ini.
"Apa kamu mau pergi atau tinggal?" Daryl menyeka bibir mungilnya dengan ibu jari untuk menghilangkan bekas ciuman di sana. Meski sia-sia karena tampaknya itu tidak akan kembali ke bentuk semula.
Bibir Nania tampak sedikit membengkak akibat ulahnya karena menyesap terlalu keras, dan dia baru menyadari hal itu.
"Umm … pergi dulu." Ninia menjawab, lalu dia melangkah pelan ke arah pintu.
"Oke." Sementara Daryl menatapnya hingga gadis itu keluar.
Dia tertegun sebentar, lalu menjatuhkan tubuhnya si sofa saat sudah yakin Nania pergi.
"Arrggghh! Apa aku bisa tahan? Dia membuatku mengeras terus setiap kali bertemu!" Daryl meremat rambut di kepala sambil menatap ke bagian bawah tubuhnya, saat sesuatu dibalik celanya tampak menonjol.
"Tapi kalau tidak bertemu, aku sangat rindu!" gumamnya, sambil menyilangkan kedua kakinya untuk menahan senjatanya yang semakin mengeras.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...
Dih, Kang ngambek ada-ada aja!🙈🙈