
๐
๐
"Nanti mau ke Fia's Secret?" Mereka tiba di depan gedung sekolah persamaannya Nania.
"Mm โฆ Kayaknya nggak deh. Masa kerja juga diikutin?"ย
"Kenapa? Bukankah kamu mau belajar bahasa Rusia denganku?" Daryl mengingatkan percakapan mereka kemarin.
"Belajarnya setelah kamu pulang kerja aja, di rumah. Atau bisa online lewat hape sambil kamu istirahat, atau bisa juga kalau ada waktu senggang?"
"Mana bisa?"
"Sibuk?"
"Ya banyak kerjaan kan?"
"Apalagi itu. Bisa-bisa kerjaan kamu nggak beres-beres karena ngerjain aku terus. Eh, maksudnya ngajarin aku terus." Nania turun dari mobil sambil mendekap tumblernya seperti biasa.
"Lagian bukannya sekarang rumah mainnya mulai dipugar kan? Jadi kayaknya aku mau langsung pulang aja."
"Mau apa? Kan kamu tidak akan membantu pekerjaan?"
"Ya cuma lihatin aja."
"Hmm โฆ Jadi mandor?"
Nania mengangguk sambil tertawa.
"Yakin tidak mau ke Fia's Secret?"
"Nggak."
"Baiklah."
"Aku masuk sekarang?"
"Oke."
Lalu Nania menengadahkan tangannya.
"Apa?"
"Bekal." Perempuan itu tersenyum.
"Ah, anak SMP! Memangnya disini ada kantin untuk jajan ya?" Pria itu mengeluarkan dompetnya lalu menarik selembar uang lima puluh ribu.
"Nggak tahu, aku kan nggak pernah kihat-lihat ruangan lain selain kelas aku aja."
"Untung masih ada kan? Sepertinya nanti aku harus minta uang tunai kepada Dinna." Lalu dia menyodorkan uang tersebut kepada Nania. "Terus minta bekal untuk apa?" Kemudian dia bertanya.
"Beli milk tea?" Nania menyambar uang tersebut kemudian memasukannya ke dalam saku kemeja. Persia seperti anak sekolah yang diberi bekal oleh orang tuanya.
"Ini kan bawa?" Daryl menunjuk tumbler dalam dekapan perempuan itu.
"Nanti siang, Daddy!"
"Jangan kebanyakan minum milk tea, tidak baik kan? Apalagi yang dingin."
"Nggak, cuma pagi, siang sama sore doang. Di rumah kan seringnya dikasih jus?"
__ADS_1
"Itu lebih sehat. Mima memang pintar."
"Dih, kamu yang nyuruh ya? Orang dari dulu aku kebiasaannya minum milk tea. Nggak apa-apa kok."
"Kurangi sedikit."
Nania mengerucutkan mulutnya.
"Apa? Mau aku cium? Sini!!" Pria itu membingkai wajah Nania dan hampir mencium bibirnya.
"Jangan ih, malu. Nanti ada gosip." Namun Nania menolaknya.
"Gosip apa?"
"Kalau aku piaraan om-om."
"Hah?"
Nania menutup mulutnya dengan tangan karena dia menyadari telah salah bicara.
"Maksudnya, aku harus masuk. Sebentar lagi belajarnya mulai. Oke Daddy? Nanti chatan ya? Sana kerja." Dia memeluknya sebentar kemudian segera berlari ke dalam gedung. Bersamaan dengan Daryl yang juga masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari sana.
***
Nania memasuki kelasnya dengan riang gembira seperti biasa. Dia memang selalu seperti itu setiap hari. Merasa bersemangat setiap kali pelajaran akan dimulai dan melewati tiga jam di tempat itu dengan bersemangat.
Sekolah memang menjadi impian terbesarnya sejak dia lulus di kelas tiga SMP, yang tak bisa dilanjutkan karena masalah biaya. Maka yang sekarang dia dapatkan seperti sebuah anugrah atau mungkin mimpi yang jadi nyata. Dan Nania tidak akan pernah berhenti bersyukur akan hal itu.
Namun dia menghentikan langkah ketika hampir mencapai tempat duduknya saat merasa keadaan kelas agak berbeda. Suasana mendadak hening padahal biasanya selalu ramai oleh percakapan.
Seorang yang dia lewati bahkan menatapnya dengan curiga dan raut tidak suka. Dan beberapa orang di dekatnya pun sama.
Nania menoleh ke sekeliling dan ternyata hampir semua orang bersikap sama kepadanya.
"Ada apa?" Nania bertanya pada orang di samping. Seorang perempuan yang usianya kira-kira tak terlalu jauh darinya.
"Nggak tahu." jawabnya dengan ketus, padahal sebelumnya dia merupakan salah satu teman sekelas yang cukup ramah kepadanya.
"Lho? Kok aku ngerasa aneh? Kayak ada yang beda?" ucap Nania.
"Begitu ya? Kalau kamu merasa begitu mungkin saja ya."
Nania mengerutkan dahi, kemudian dia kembali menatap ke sekitarnya. Beberapa perempuan mendelik begitu menyadari dia sedang jadi pusat perhatian, sementara para pria seperti mengejek.
"Ada apaan sih?" gumam Nania, lalu dia menoleh kepada Zayn yang ada di sebelah kirinya.
"Hey Zayn?" Dia setengah berbisik.
Pemuda itu melirik.
"Zayn?"
"Apa?" jawabnya yang memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
"Orang-orang pada kenapa?" Nania bertanya.
"Kenapa apanya?"
"Hari ini mereka agak beda. Di kelas ini ada masalah ya?"
Zayn menggendikkan bahu.
__ADS_1
Kemudian Nania diam ketika guru masuk ke dalam kelas.
Kegiatan belajar mengajar dimulai seperti biasa. Guru di depan menyampaikan materi dan semua orang menyimak dengan serius. Dan seperti yang sudah-sudah, sesi tanya jawab pun terjadi beberapa saat hingga pemberian tugas oleh guru untuk dikerjakan di rumah menjadi akhir sesi belajar hari itu.
"Eh, bener nggak sih kabar yang kita dapat? Kalau bener, duh malu-maluin banget ya bu?" Tiga orang perempuan menunggu jemputan di depan gedung ketika Nania keluar.
"Ya masa dia bohong? Motivasinya apa bikin fitnah?" sahut yang lainnya.
"Ya nggak sangka, kelihatannya sih anak baik-baik. Polos-polos lugu gitu, tahunya cuma topeng?"
Nania berhenti sebentar.
"Jaman sekarang kalau nggak pakai topeng ya nggak hidup kan? Kali dia gitu juga?"
"Terus cowoknya yang suka antar itu kan? Yang agak bule-bule gitu? setiap pagi lhoooo. Tapi siangnya yang jemput lain lagi."
Nania mengerutkan dahi.
"Eh itu mungkin sopirnya?"
"Masa sopir seganteng itu? Mirip artis siapa ya gitu yang jemput siang-siang. Biasanya sebentar lagi datang. Kapan hari malah aku lihat mereka mampir di toko bunga."
"Tuh kan, sudah mau dua minggu sekolah tetep dua orang itu yang antar jemput. Gilaaa!!!" Salah satunya menunjuk Pajero yang baru saja tiba yang Nania kenali sebagai mobil milik keluarga Nikolai yang Regan kendarai untuk menjemputnya.
Perempuan itu terkesiap.
Jangan-jangan yang lagi mereka bahas itu aku? Batinnya.
"Yakin ini kabarnya bener. Masa cewek biasa-biasa kayak Nania punya suami yang bule itu? Kalau piaraannya sih mungkin. Mau-maunya ya? Mana mesra banget lagi setiap pagi pekukan?"
"Dia ngaku-ngaku kali?" celetuk yang satunya lagi, tentu saja membuat Nania terhenyak.
"Malam sama bule, siangnya sama lokal. Hebat ya anak itu? Kita aja โฆ." Lalu percakapan itu terhenti ketika Regan menghentikan mobil di depan mereka lalu keluar dan membukakan pintu penumpang saat melihat keberadaan Nania, dan tiga perempuan yang usianya ditaksir sekitar tiga puluh tahunan itu menoleh ke belakang di mana Nania diam memperhatikan.
Ketiganya menutup mulut rapat-rapat kemudian berpura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Siap untuk pulang?" Regan dengan senyum ramah.
Nania terdiam sebentar kemudian dia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.
"Ke Fia's Secret aja." katanya saat Regan menghidupkan mesin.
"Fia's Secret?" Pria itu membeo.
"Hu'um." Nania mengangguk dengan wajah cemberut.
"Ada masalah?" Regan seperti biasa melihat lewat kaca spionnya.
"Nggak ada, cuma mau ke Fia's Secret aja." Tiba-tiba saja Nania merasa sedih dan kelopak matanya terasa memanas.
Dia bahkan hampir menangis begitu mobil yang ditumpanginya meninggalkan tempat tersebut.
๐
๐
๐
Bersambung ...
hadeh, di mana-mana ada aja tipe kang ghibah๐
__ADS_1
Cuss gaess dikirim dulu hadiahnya biar asoyy๐คฃ jan lupa like komennya juga. Tinggalin jejaknya dong biar kita kenal dan popularitas novel ini naik.
Alopyu sekebon๐๐