The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kebahagiaan Nania


__ADS_3

💖


💖


"Pak Daryl akan menanggapi jika Anda melayangkan tuntutan balik. Dan kami akan menjalani semua sesuai prosedur kepolisian." Mereka mendatangi kediaman keluarga Zayn untuk menjelaskan duduk perkara dan segala hal yang terjadi. Juga membawa rekaman cctv dan bukti-bukti lainnya, termasuk Nania yang dibawa bersama hasil visumnya dari rumah sakit.


Pasangan suami istri itu tak bisa berkata-kata, dan mereka hanya mendengarkan. Apalagi setelah melihat bukti yang Regan serahkan keduanya tak bisa melakukan penyanggahan.


"Kaluarga Nikolai akan bertanggung jawab penuh atas apa yang anak Anda alami, dan kami memastikan dia akan mendapatkan perawatan." ucap Regan lagi.


Baru mendengar namanya saja mereka sudah merinding. Selama ini kabar mengenai nama keluarga Nikolai hanya didapat lewat rumor dan tidak pernah sekalipun melihat dengan mata kepalanya sendiri, siapa saja atau berapa orang dan bagaimana rupanya yang jelas.


Reputasinya lebih dikenal daripada sosok mereka yang jarang menonjolkan diri di muka publik selain di untuk tertentu. Dan bagi mereka, cerita tentang keluarga Nikolai hanyalah merupakan sebuah dongeng belaka.


Tapi hari ini, mereka harus berurusan dengan salah satunya akibat perbuatan sang putra. Dan hal tersebut tentu tidak dapat dihindarkan karena Daryl sendiri yang datang untuk menyelesaikan masalah.


"Ma-maafkan anak kami, Pak." Pria paruh baya di depannya buka suara. Sementara Daryl duduk bertumpang kaki di seberangnya, dan Nania yang tenang di sampingnya.


"Kalian lihat dia?" Daryl menanggapi.


"Dia istriku, dan putra kalian mengganggunya di sekolah. Menamparnya, memukulnya hingga dia terbentur ke dinding dan melukainya hanya karena dia menolak diajak kencan." Dia menunjuk wajah Nania yang mengalami cedera.


"Selain memfitnah, putra kalian juga melecehkannya dan hampir merenggut kehormatannya. Lalu apa yang akan kalian lakukan jika hal itu menimpa anak perempuan kalian? Aku rasa tidak akan ada yang bisa diam kecuali orang tidak waras." Daryl berbicara dengan nada datar namun membuat siapa pun tak mampu menyanggah.


Kedua orang itu terdiam. Memangnya apalagi yang bisa dilakukan? Buktinya memang kuat dan membuat mereka tidak bisa mengelak.


"Dan ya, aku menghajarnya karena merasa dia pantas mendapatkannya. Aku akan menerima jika kalian ingin menuntut dan kita bertemu di pengadilan. Aku akan mengakui perbuatanku."


Suami istri itu saling pandang. Keduanya memperhitungkan apakah langkah mereka benar jika mengambil tindakan tersebut sebagai penyelesaian masalah? Mengingat bukti dari perbuatan sang anak yang cukup banyak dan begitu jelas. 


Belum lagi jejak catatan kriminalnya di kepolisian yang masih dapat dilacak akan mempengaruhi proses hukum yang mungkin terjadi jika itu mereka lakukan. Bukankah akan memberatkan Zayn juga?


"Kami minta maaf, Pak. Salah kami tidak bisa mendidik Zayn sehingga dia menjadi seperti ini." Sang ayah menjawab dan dia segera membuat keputusan.


"Kami mohon untuk tidak memperpanjang masalah ini apalagi sampai ke jalur hukum sehingga kami bisa mendidiknya kembali. Dan soal hukuman yang Anda berikan saya rasa itu akan cukup membuatnya jera."


"Kalian bisa menjamin dia tidak akan mengulangi perbuatannya? Kepada Nania sudah pasti tidak akan karena dia tahu akan berhadapan dengan siapa, tapi kepada orang lain? Baru keluar dari penjara saja dia sudah berani berbuat lagi!" ucapannya memang sepedas itu dan tak ada yang mampu menandinginya.


"Saya sendiri yang akan mengawasinya secara pribadi, Pak. Saya jamin."


"Aku pegang kata-katamu, dan orangku akan mengawasinya sehingga kami tahu apa pun yang dia kerjakan." Daryl menggertak.


"Bak, Pak. Kami mengerti. Sekali lagi kami minta maaf." Pria itu beralih menatap Nania yang sejak tadi tidak bersuara, lalu dia mengangguk pelan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Setelah ini kita pulang?" Mereka kini sudah di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota yang terik dan Regan berada di balik kemudi.


"Entahlah, kamu mau pulang?" Daryl balik bertanya.


"Kamu ada kerjaan nggak?"


"Tidak, ini hari libur dan waktuku sangat banyak."


"Mau jalan-jalan dulu boleh nggak?"


"Jalan-jalan?"


Perempuan itu megangguk sambil tersenyum.


"Baiklah." Pria itu menjawab tanpa syarat.


"Beneran?" Dan Nania tidak menduganya sama sekali.


"Ya, katakan saja maka aku akan mengantarmu ke mana saja yang kamu mau. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya?"


"Umm … ke mana ya? Banyak banget tempat yang mau aku datengin!" Nania kegirangan.


"Tapi banyak."


"Tidak apa-apa, kita punya banyak waktu."


Nania tersenyum lalu dia menyebutkan beberapa tempat yang sangat ingin di datanginya sejak kecil.


"Whoaaaaaaa …." Matanya membulat dan mulutnya menganga ketika mereka memasuki wahana dunia laut paling terkenal di Indonesia.


Sea World adalah tempat pertama yang mereka datangi yang ada di daftar keinginan Nania.


Akuarium-akuarium raksasa terpampang di depan mata berisikan ribuan jenis ikan dari yang terbesar sampai yang terkecil.


"Aku tidak percaya kamu belum pernah ke Sea World? Memangnya kamu tinggal di mana selama ini?" Daryl tersaruk-saruk mengikutinya menuju ke manapun yang Nania inginkan.


"Dulu waktu kecil pernah sama ayah. Tapi kan udah lama banget. Waktu itu masih SD kalau nggak salah." Kedua bola matanya berbinar manakala menatap ikan-ikan yang berenang di dalam akuarium.


"Aku mau ke sana!!" Lalu dia menariknya ke lorong di bawah akuarium raksasa lainnya, di mana ikan-ikan besar berenang.


Pijakan hidrolik berjalan pelan melewati lorong panjang itu, dan Nania tidak pernah berhenti bereaksi. Segala hal menarik perhatiannya dan semuanya mengingatkan dia tentang kenangan masa kecil. Sementara Daryl hanya mengikuti saja ke mana dia mau.

__ADS_1


"Aku mau ke sana …


"Ke sana …


"Ke sana lagi ….


Setiap sudut wahana mereka datangi dan perempuan itu tampak belum puas. Dia sedang mengingat perasaan bahagia ketika ayahnya masih ada dan dirinya seperti kembali ke masa kecil.


Satu cup milk tea Daryl sodorkan kepadanya saat mereka beristirahat di bagian luar dan Nania menerimanya dengan gembira. 


"Regan juga dibeliin?" Perempuan itu menoleh ke kursi lain di mana sopir sekaligus kepercayaan suaminya berada yang sejak awal berada di belakang mereka.


"Tidak." Daryl duduk di sampingnya dan dia menyesap minuman yang sama.


"Mungkin dua juga mau?"


"Ah, dia bisa beli sendiri."


"Tapi kan bagus kalau misalnya …."


"Ssttt! Moodku sedang bagus sekarang ini, makanya aku bersedia membawamu jalan-jalan. Jadi jangan merusaknya dengan sedikit kepedulianmu kepada orang selain aku." Daryl memotong kata-katanya sehingga Nania terdiam seketika.


"Baiklah, ayo kita pulang? Aku rasa …."


"Ke Taman Mini dulu!!" tukas Nania seraya menyesap minuman miliknya.


"Apa?"


"Kita ke Taman Mini dulu, sekalian mumpung di sini kan?" katanya dengan senyum lebar.


"Ayo Daddy, kita ke Taman Mini!" Nania menarik tangan suaminya tanpa memberi pria itu kesempatan untuk berbicara.


"Astaga!! Seharusnya aku tidak mengatakan mau mengantarnya ke mana saja. Begini kan akhirnya?"


💖


💖


💖


Bersambung ....


Cuma Taman Mini, Pak. 😂😂

__ADS_1


Cuss like komen sama hadiahnya lagi. Siapa tahu bisa crazy up lagi kayak kemarin kan asiikk🤣🤣


__ADS_2