
💖
💖
"Hey, apa belum selesai? Aku juga mau man …." Daryl menggantung kalimatnya begitu dia menemukan Nania tertegun di kamar mandi.
"Negatif." Perempuan itu menoleh sambil menunjukkan testpacknya yang bertanda satu garis merah.
Daryl tampak mendengus pelan kemudian dia berjalan menghampirinya.
"Baru juga minggu kemarin kamu tes?" Dia merangkul bahunya.
"Iya sih, tapi penasaran."
Daryl merebut benda itu lalu membuangnya ke tong sampah di bawah wastafel.
"Mungkin bisa dicoba lagi kira-kira bulan depan?" katanya kemudian.
"Bulan depan? Nggak kelamaan?"
"Menurutku tidak, hanya saja jangan diingat-ingat agar kamu tidak kecewa. Kita bisa menunggu sambil melakukan aktivitas seperti biasanya. Sekolah, bekerja, belajar, apa pun."
Nania terdiam menatap pantulan mereka di cermin.
"Bukankah kita punya banyak rencana? Selain kamu harus menyelesaikan sekolah persamaan, nanti juga harus melanjutkan kuliah kan?"
"Terus gimana kalau misalnya aku hamil pas di pertengahan semester?"
"Ya tidak apa-apa, lanjutkan sampai waktunya melahirkan tiba. Berhenti sebentar kalau bayinya sudah lahir, lalu lanjutkan lagi." Daryl memeluknya dari belakang.Â
"Aku harap ini tidak akan pernah mengganggumu, karena aku pastikan juga tidak akan mengganggu pikiranku. Karena aku pikir seorang anak bukan tujuan utama berumah tangga, bukan? Tapi yang terpenting adalah kebersamaan kita. Kalau Tuhan sudah memberi kepercayaan sepertinya semua mudah saja." Dia menempelkan kepala mereka berdua.
"Itu artinya Tuhan belum percaya sama kita ya?" Nania masih menatap cermin.
"Mmm … aku lebih senang menyebut bahwa Tuhan sedang memberi kita kesempatan yang banyak untuk mengembangkan diri, apalagi untukmu. Dia tahu banyak mimpi yang ingin kamu wujudkan, dan mungkin akan terhambat jika kita sudah punya anak. Jadi, … santailah." Daryl menyecupi kepala dan wajah perempuan itu sehingga dia tertawa.
"Now get out! Aku harus mandi." ucapnya, lalu dia melepaskan Nania.
"Atau … kamu mau mandi lagi bersamaku?" tanya nya yang melepaskan celananya sendiri.
"Umm … kayaknya nggak deh, pagi ini cukup mandi sekali aja." Nania segera berlari keluar sebelum pria itu berhasil menariknya ke tempat berbilas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku suka wanginya. Ini cukup kuat untuk parfum laki-laki. Bagaimana menurutmu?" Daryl menyerahkan sampel parfum yang disediakan langsung oleh pemilik pabrik kepada Nania.
"Wanginya enak, tapi terlalu tajam." Perempuan itu beberapa kali mencium aroma yang menguar dari sebuah kertas tebal.
"Menurutmu begitu?"
"Uh'um. Biasanya perempuan suka mencium aroma wangi yang lembut tapi segar."
"Itu untuk parfum perempuan."
Lalu mereka beralih pada parfum lainnya.
"Perempuan cocoknya pakai yang wanginya manis, lembut, …." Nania terdiam sebentar.
__ADS_1
"Apa ini parfum untuk orang dewasa?" lalu dia bertanya.
"Tentu saja. Dari desain botol yang kamu buat juga sudah terlihat kan?" Daryl menjawab.
"Hmm … iya. Jadi kayaknya harus menggoda, dan agak nakal sedikit." Dia terkekeh.
"Serius?"
"Kamu mau bikinnya berapa varian?" Nania bertanya lagi.
"Kamu pikir sebaiknya aku buat berapa varian?" Daryl melipat kedua tangannya di dada. Dia ingin melihat sejauh mana perempuan ini mengutarakan pendapatnya yang mungkin akan dia pertimbangkan untuk bisnisnya yang satu ini.
"Nggak tahu, mungkin tiga?" Nania mengambil satu botol lainnya yang kemudian dia cium lagi aromanya.
"Really?"
"Tiga itu angka yang bagus. Jadi kayaknya bagus juga kalau digunakan untuk bisnis."
"Hmm … interesting." Daryl berpikir. "Dan jika memang tiga varian itu aku gunakan, maka menurutmu apa saja?"
Perempuan itu terdiam lagi.
"Karena ini parfum untuk dewasa jadi kayaknya … elegan, sweet, naughty? Terus nanti wanginya dicampur-campur aja." Lalu dia tertawa pelan yang juga memunculkan senyuman di sudut bibir suaminya.
"Untuk laki-laki?"
"Mungkin bisa … strong, warm atau … gentle kayak namanya?"
"Hmm …." Daryl mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ide aku kayaknya konyol, jadi nggak usah dipertimbangkan." ralatnya setelah ingat jika dia ikut hanya untuk menemani Daryl saja.
"Baik, akan kami sediakan sekarang juga." Pria paruh baya itu menjawab.
"Serius kita yang bikin campurannya?" Nania seolah tidak percaya dengan apa yang doa dengar.
"Yeah. Aku rasa seleramu bagus juga jadi mungkin bisa membantuku menentukan apa yang akan kita buat? Aku mau semuanya original dan eksklusif, jadi hanya kita yang punya."
"Oke kalau begitu." Nania menyetujui.
"Baik, itu bagus sekali."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lalu kita ke mana setelah ini?" Kini mereka sudah membelah jalanan kota pada lewat tengah hari.
"Nggak tahu, kamu maunya ke mana?"
"Kamu kebiasaan. Kalau aku tanya pasti tanya balik?"
Nania tertawa.
"Eh, ada tukang milk tea. Ayo kita beli?" Pria itu membelokkan mobilnya ke salah satu area parkir mini market terkenal yang memang selalu saja ada pedagang minuman favorit Nania itu.
"Mau jajan dulu?" tawarnya ketika dua cup minuman itu sudah mereka dapatkan.
Nania tersenyum sambil menganggukkan kepala, dan mereka pun masuk ke dalam mini market tersebut untuk membeli yang Daryl maksud.
__ADS_1
"Aku seperti mengantar anak SD ya? Hahaha …." Dia mengikuti Nania memasuki lorong-lorong rak berisi makanan ringan.
"Iya, aku kan emang anak SD." Dua bungkus semacam keripik kentang, tiga batang coklat, beberapa minuman dalam kotak berukuran sedang, dan satu bungkus permen dia masukkan ke dalam keranjang.
"Anak SD yang udah bisa bikin anak. Eh tapi … belum deh. Hehehe." Nania menutup mulutnya dengan tangan.
"Ya sudah, kenapa kita tidak sekalian saja berpura-pura jadi anak SD saja?" Pria itu meraup stik coklat, beberapa bungkus kue kecil, dan beberapa camilan lainnya sehingga keranjang mereka benar-benar penuh dengan makanan anak-anak.
Lalu setelah puas keduanya keluar dan memilih untuk duduk di pelataran mini market seperti biasa.
"Kalau mau duduk-duduk begini seharusnya aku membawamu ke kafe ya, bukannya ke mini market?" Sebuah lollipop menjadi pilihan Daryl di antara makanan-makanan yang dia beli.
"Aku suka di sini. Ngadem gitu sambil lihatin mobil yang lewat. Kayak dulu kalau pulang sekolah, kalau capek jalan ngademnya di mini market." Sementara Nania menyesap milk teanya yang sudah berembun dengan sebungkus chips yang sudah terbuka.
"Sambil jajan juga?"
"Nggak, cuma ngadem aja."
"Memangnya ibumu tidak memberi bekal sampai-sampai kamu sekolah jalan kaki?"
"Ngasih, tapi kan sekolahnya nggak terlalu jauh dari rumah. Makanya jalan."
"Oh, … jadi uang jajanmu kamu habiskan di sekolah ya?"
"Nggak juga."
"Terus? Kamu tabung?"
"Nggak."
Daryl mengerutkan dahi.
"Kalau pagi pas pergi aku dicegat Bang Sandi, terus uang bekal dari ibu yang sedikit itu diminta. Ya aku kasih, orang dia ngengatnya sambil bawa temennya. Kan bahaya kalau aku nggak kasih, nanti dipukul." Dia menyesap minumannya dengan tenang.
"Ish! Kenapa juga aku tanya soal itu? Menyebalkan sekali mendengar cerita masa kecilmu. Membuatku kesal saja!" Daryl pun menghabiskan milk tea miliknya.
"Hehe. Udah nggak, Pak. Kan udah ketemu kamu." Namun Nania segera menyentuh tangan suaminya yang bertumpu di meja.
"Iya, untung kita ketemu jadi aku bisa mengeluarkanmu dari sana. Kalau tidak, entah kamu masih hidup atau tidak." Lalu dia mengunyah lolipopnya sampai terdengar suara bergemeletuk di mulutnya, membuat Nania tertawa sambil menyurukkan kepala di lengannya.
"Ayo kita pulang? Kita lanjutkan pacarannya di rumah. Kasihan tukang parkir dan reader yang baper lihat kita seperti ini, siang-siang di teras minimarket lagi?" Daryl melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore.
"Hu'um, ayo. Aku juga capek. Hampir seharian diluar rumah baterai aku ngedrop." Nania membereskan makanan di meja.
"Tenang,begitu sampai di rumah aku charge." Daryl bangkit sambil mengenakan kaca mata hitamnya.
"Kalau kamu yang charge jadi makin capek, Pak." Nania pun bangkit.
"Capek tapi senang." Pria itu menahan senyum. Kemudian mereka bergegas menuju mobil yang terparkir tepat di depan.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Yang vote udah ada, boleh dong dikirim untuk Om Der 😂😂