The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Happy


__ADS_3

💖


💖


Nania membuka matanya dalam keadaan pening luar biasa. Kamarnya masih temaram tapi dia tahu jika ini sudah pagi. Hal itu terlihat dari cahaya terang yang menyelinap dari sela tirai yang masih menutupi jendela.


"Haih! Kenapa ini!!" Lalu dia bangkit perlahan.


Nania menatap sekeliling kamar yang sepi. Dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan suaminya di sana padahal setiap pagi pria itu selalu ada jika dia membuka mata.


"Hufthh! Pusing ya Tuhan!!" Nanian kembali menjatuhkan kepalanya pada bantal, namun dia menyadari ada sesuatu yang lain pada dirinya.


Bathrobe masih melekat, begitu pun pakaian kekurangan bahan yang dia kenakan semalam. Dia tak bangun dalam keadaan telanjang seperti malam-malam sebelumnya.


"Semalaman tidur pakai ini? Kan dari kolam habis berendam. Basah-basahan dong?" Perempuan itu mengingat saat dia menenggak minuman yang sama dari gelas suaminya, dan sepertinya dia mabuk?


"Lah terus jam berapa udahannya ya? Kok aku nggak ingat?" Dia memijit pelipisnya yang masih terasa nyeri. Namun akhirnya dia memutuskan untuk membersihkan diri saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daryl berlari melewati jalan setapak di bawah bukit. Salju masih tertumpuk di sisi kiri dan kanan jalan meski kini tak lagi menutupi pepohonan di sekitarnya. 


Dia memilih untuk menggerakkan tubuhnya dan menghirup udara dingin di sekitar mansion sekedar untuk menyegarkan pikirannya yang sedikit terganggu setelah percakapan semalam ketika Nania mabuk.


Ditambah, langit juga bersinar lebih terang dari hari-hari sebelumnya yang menandakan cuaca menuju ke arah yang lebih normal.


Dia berhenti di sisi tebing dan menatap ke arah depan di mana pepohonan dari hutan pinus yang sebagian besarnya masih tampak tertutup salju.


Pikirannya kini dipenuhi banyak hal, dan sekarang ini dan sedang mencoba untuk memahami sesuatu.


Bagaimana hidupnya berubah setelah dia bertemu dengan Nania dan menikahinya,  tapi kebiasaannya masih tetap sama, bahkan mungkin lebih dari sebelumnya.


Dia memang tak bisa membiarkan apa pun yang berada di dekatnya begitu saja. Segala sesuatu yang telah menjadi miliknya akan dia jaga sepenuh hati, begitupun orang-orang di sekitarnya.


Daryl tahu, bahwa dunia tidak akan selalu baik-baik saja, maka dia yang akan memastikan segalanya berjalan baik. Dan untuk Nania, banyak yang harus dia lakukan mengingat apa yang telah dilalui oleh perempuan itu selama ini.


Daryl tak pernah memiliki hubungan seperti ini sebelumnya, bahkan perempuan-perempuan yang pernah singgah hanya sekedar untuk bersenang-senang saja. 


Menemaninya melewati saat-saat setelah remaja hingga akhirnya dia menyelesaikan pendidikannya di Moskow dan pulang ke negara ibunya untuk meneruskan bisnis keluarga. 


Yang kemudian membawanya kembali pada apa yang disebutnya sebagai kepulangan yang menyakitkan, karena harus menerima kenyataan bahwa kesempatannya untuk memiliki cinta pertamanya memang benar-benar pupus saat Amara benar-benar berjodoh dengan Galang.


Tapi gadis yang ditemuinya di kedai milik anak sambung dari kakak perempuannya itu memberikan nuansa lain. Ketika dalam sekejap saja dia mampu mengalihkan seluruh dunia Daryl yang semula dipenuhi Amara menjadi hanya Nania seorang. Dan itu nyata adanya.


Tentunya, setelah dirinya sendiri meyakinkan jika apa yang dia rasakan untuk Nania bukan sekedar pelarian dari rasa patah hati karena pernikahan Amara dan Galang semata. Melainkan rasa yang sebenar-benarnya.


Meski diselingi kehadiran perempuan lain bernama Bella yang bahkan sempat juga menjadi teman tidurnya ketika merasa dapat penolakan keras dari Nania, namun begitu ada kesempatan, akhirnya dia bisa mendapatkanya juga, bukan?


Dan inilah yang tak pernah dia miliki seumur hidupnya. Perasaan seperti ini, dan apa yang ada padanya sekarang lah yang menjadi alasan dia bersikap keras dan mengekang perempuan itu, sehingga dia tak memiliki celah sedikitpun untuk pergi.


Perasaan takut kehilangan dan takut jika sesuatu diluar sana akan mempengaruhinya sehingga akan membuatnya kehilangan perhatian dari perempuan itu membuatnya menciptakan batasan-batasan jelas untuk Nania.


Daryl mungkin punya segalanya, dan dia mampu melakukan apa saja lebih dari siapa pun. Dia lahir dari keluarga berada yang tidak pernah mengalami kesulitan seperti yang dialami orang-orang kebanyakan. Dia hanya perlu menjentikkan jari dan apa pun yang diinginkan akan segera dimiliki.


Tapi ada sisi lain pada dirinya yang membuatnya merasa bahwa dia tak memiliki apa-apa. Terutama karena ada kekurangan yang tak seorangpun tahu selain saudara kembarnya. Yang setelah pernikahan mereka terjadi, membuat Daryl merasa kehilangan separuh jiwa.


Darren yang menemaninya sejak kecil, mengurusnya setiap hari dan memastikan keadaannya baik-baik saja tiba-tiba pergi karena sudah memiliki orang lain. Namun dengan cepat pula Nania mengisi kehilangan itu meski pada awalnya tak pernah mereka sangka.


Dan sejak saat itu, Daryl merasa begitu terikat kepadanya sehingga dia tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi seandainya mereka tidak bersama. 


Nania yang mengurusnya, dan memastikan segala hal yang ada padanya baik-baik saja. Lalu bagaimana jika dia mengenal orang lain nanti? Atau bergaul dengan orang banyak. Apakah dia akan tetap menjadi Nanianya? Perempuan yang paling dia cintai selain ibunya.


Tapi … setelah mendengar keluhannya semalam saat dia mabuk, membuat Daryl berpikir lagi.


Apakah dirinya terlalu keras? Apakah dirinya terlalu mengekang? Apakah dia telah merampas kebebasannya dengan membatasi kegiatan perempuan itu?


Tapi Daryl tidak tahu cara lain. Yang dia tahu, itulah caranya menjaga Nania agar tetap bersamanya, dan mungkin juga itu adalah caranya mencintai yang tidak akan ada seorang pun yang mengerti. Bahkan Nania sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Grigori?" Nania turun dari kamarnya di lantai dua. Menemukan penjaga rumah sekaligus kepala pelayan itu yang tengah mengawasi para pegawai mengerjakan tugasnya.


"Yes Ma'am?" Pria itu berjalan mendekat.


Nania tertegun sebentar. Dia berpikir bahasa apa yang harus digunakan untuk bicara dengannya? Karena sejak mereka tiba di mansion tersebut Daryl tidak pernah  membiarkannya bicara dengan siapa pun.

__ADS_1


Tapi seketika dia ingat jika suaminya itu pernah mengatakan bahwa beberapa pekerja di rumah ini bisa berbahasa Indonesia.


"Daryl … di mana?" Lalu Nania bertanya. 


"Oh, Pak Daryl sedang lari pagi, Ma'am. Mungkin sebentar lagi kembali." jawab pria itu dengan fasihnya. Membuat Nania merasa takjub atas apa yang dia dengar.


"Umm …."


"Anda mau sesuatu? Atau mau saya siapkan sarapan sekarang?" tawar Grigori kepadanya.


"Oh … nanti aja."


"Mau saya buatkan milk tea? Sambil menunggu, mungkin?" ucap pria itu lagi yang menarik perhatian Nania.


"Boleh kalau ada." Dia pun menjawab.


"Baik, Anda bisa menunggu di ruang keluarga atau di mana saja. Nanti saya bawakan." 


"Oke."


Grigori pun bergegas ke pantry.


"Lama-lama kok berasa kayak tahanan." Nania bergumam ketika dia sudah berada di teras depan. 


Duduk di kursi menatap Andrei, yang dikenalinya sebagai sopir juga mondar-mandir di dekat gerbang.


"Anda akan kedinginan jika di sini, Ma'am." Lalu Grigori muncul tak lama kemudian. 


Mengantar secangkir milk tea buatannya seperti yang sudah Daryl beri tahu di awal. Kemudian dia menyerahkan mantel untuk Nania kenakan.


"Suami aku kemana sih larinya? Nggak dingin apa pagi-pagi begini mana masih ada salju lagi?" Dia mengenakan mantel tersebut lalu duduk di kursi taman dan menerima gelas milk teanya.


"Mungkin ke bawah, lalu berputar mengelilingi bukit hingga nanti kembali dari jalur depan." Grigori menjelaskan.


"Jauh amat?"


"Memang selama ini rute larinya Pak Daryl seperti itu."


"Emang sering lari?" Nania meniup permukaan cangkir yang mengepul kemudian menyesap isinya sedikit-demi sedikit.


"Jauh nggak sih rutenya? Berasa lama deh?" Nania bertanya lagi pada pria itu yang berdiri tak jauh darinya ketika rasa bosan mulai melanda.


"Cukup untuk membuat pria sekelas Pak Daryl kelelahan, Ma'am." jawab Grigori lagi.


"Oh … pasti lama." Lalu perempuan itu menempelkan punggungnya pada kepala kursi.


Bermenit-menit dia menunggu di teras depan hingga menghabiskan milk tea panasnya sambil memperhatikan pegawai yang membersihkan salju di halaman.


Bahkan penjaga yang mondar-mandir di depan pun tak luput dari perhatiannya. Hingga setelah kurang lebih satu jam, Andrei membuka pintu gerbang dan sosok yang dia kenali sebagai Daryl pun muncul.


Pria itu mengenakan joggerpants dan hoodie hitam tampak berlari ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Masih dingin!" Pria itu melepas airpods dari telinganya.


"Nungguin kamu, apa lagi?" Nania bangkit.


"Tidak perlu, aku hanya jogging." Dia menurunkan penutup kepalanya.


"Kan aku nggak tahu, kirain ke mana?"


"Memangnya aku mau ke mana?" Mereka berjalan memasuki rumah.


"Ya kamunya nggak bilang kalau mau pergi?" protes Nania.


"Aku hanya jogging, bukan pergi." Daryl menjawab sambil sedikit tertawa.


"Sama aja, tetap keluar dari rumah kan?"


"Tadi kamu masih tidur, kelihatan sangat nyenyak jadinya aku tidak tega untuk membangunkanmu." Dia melepaskan pakaian setibanya di kamar.


"Sebentar aku mandi dulu ya?" lanjutnya, yang segera masuk ke dalam kamar mandi.


Kok berasa ada yang kurang ya? Nania mengerutkan dahi. Dia tertegun ketika mendapati sikap suaminya yang tak seperti biasanya.


"Grigori sudah memberimu sarapan?" Daryl keluar dari kamar mandi setelah tak kurang dari sepuluh menit membersihkan diri.

__ADS_1


Lalu hanya dengan mengenakan sehelai handuk saja dia melenggang ke arah ruang ganti, diikuti Nania yang segera memilihkan pakaian untuknya seperti biasa.


"No, jangan kemeja." ucap Daryl saat perempuan itu menarik sehelai kemeja hitam dari gantungan.


"Kenapa?"


"Ini saja, lebih simpel dan mudah dipakai." Dia menarik kaus polos lengan panjang berwarna navy yang terlipat rapi di penyimpanan.


"Kemeja kelihatan bagus di kamu lho? Kan udah aku bilang?"


"Yeah, tapi kancingnya yang banyak itu sangat merepotkan." Daryl mengenakan seluruh pakaiannya.


"Tapi kan biasanya juga aku …."


"No!" Pria itu memotong ucapannya. "Aku lebih suka memakai kaos dari pada kemeja. Mudah dan tidak merepotkan!" katanya dengan tegas membuat Nania seketika bungkam.


Kemudian pria itu memejamkan mata sebentar. Dia melupakan satu hal.


"Hhh … aku hanya sedang ingin menggunakan kaos, tidak apa-apa kan?" Lalu dia kembali melembutkan suaranya.


"Umm …." Nania menganggukkan kepala.


"Jadi, ayo kita sarapan? Aku sudah sangat lapar." ucapnya, yang kemudian menggandeng Nania keluar dari kamar.


***


Pria itu tak terlalu banyak bicara hari ini. Meski dia terus memberikan makanan kepadanya, tapi tetap lebih pendiam dari biasanya.


"Kamu … tadi joggingnya jauh?" Nania memulai percakapan. Rasanya menyebalkan jika biasanya mereka membicarakan banyak hal tapi baru kali ini sama-sama diam.


"Lumayan. Turun ke bawah bukit terus lari berkeliling melewati jalan di sini." Daryl menjawab.


"Nggak kedinginan? kan saljunya masih banyak."


"Sedikit, tapi kan aku sudah biasa. It's not a big deal for me." Daryl tersenyum, lalu dia menyuapkan makanannya.


Sementara Nania terdiam.


"Kenapa? Makanannya tidak enak?" Daryl menyadari hal itu.


"Aku kayaknya mau …."


"Mau makanan yang lain? Mau apa? Bilang saja, nanti Grigori buatkan."


"Eh, iya. Tadi juga dia bikinin aku milk tea, dan rasanya enak. Sama kayak yang suka aku bikin lho." Nania melanjutkan percakapan.


"Oh ya? Berarti kerjanya memang bagus." Daryl pun meneruskan kegiatan makannya.


"Umm … hari ini kayaknya aku mau jalan-jalan deh. Sudah beberapa hari di rumah bosen juga rasanya." Nania memberanikan diri untuk berbicara. Dia ingin tahu bagaimana reaksi suaminya jika dirinya berbicara demikian.


"Oke." Daryl menjawab singkat, dan membuat Nania merasa tidak mempercayai pendengarannya.


"Apa?"


"Oke, hari ini kita akan keluar. Salju sudah tidak turun, jadi aku rasa sudah aman untuk keluar rumah." Pria itu menyelesaikan makannya, lalu dia tersenyum.


"Beneran?"


"Ya. Masa jauh-jauh terbang dari Indonesia lewat Swiss lalu ke sini kita cuma diam di rumah?" ujar Daryl yang membuat senyum di bibir Nania muncul.


"Are you happy?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Then i am happy too." Dia pun tersenyum seperti istrinya.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Are you happy? 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2