
💖
💖
Nania perlahan membuka mata ketika indra penciumannya menangkap aroma segar seperti tadi siang. Lalu dia mengerjap-ngerjap pelan saat cahaya yang cukup terang mendominasi pandangannya.
"Hey, ayo bangun!" Daryl menggenggam tangannya dengan erat. Sejak tadi dia tak beranjak sedikitpun begitu istrinya tersebut pingsan dalam pelukannya.
"Umm …." Lalu Nania menyingkirkan botol kecil yang Sofia dekatkan ke hidungnya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Dygta yang muncul di belakang ibunya.
Nania tak langsung menjawab, namun dia malah menatap sekeliling ruangan seperti kamar rumah sakit yang dipenuhi sebagian anggota keluarga suaminya.
"Kita di rumah sakit. Kamu membuatku khawatir!" Daryl menempelkan keningnya di tangan perempuan itu.
"Maaf, aku memaksamu untuk tetap tinggal di pesta. Ini semua salahku." ucap pria itu dengan raut menyesal.
Lalu perhatian mereka beralih ketika seorang dokter dan asistennya masuk.
"Sudah sadar?" Lalu dia bertanya.
Mereka yang berada di sekitar ranjang Nania segera menjauh untuk memberikan kesempatan kepada dokter untuk melakukan pemeriksaan.
"Permisi?" Dokter pria itu meminta izin sehingga Daryl pun sedikit bergeser.
Lalu dokter melakukan prosedur pemeriksaan seperti biasanya. Memeriksa detak jantungnya, denyut nadinya, juga nafasnya yang beraturan.
"Pusing dan mual?" Pria dengan jas putih itu bertanya.
Nania terdiam namun sejurus kemudian dia mengangguk.
"Tidak enak makan?"
Nania mengangguk lagi.
"Bagaimana dengan kondisi tubuh?" Dokter bertanya lagi.
"Dia cepat lelah dan sering mengantuk, padahal biasanya sangat bersemangat. Kenapa malah banyak bertanya? Bukankah tugasmu untuk mencari tahu apa penyakitnya?" Daryl bereaksi. Dia merasa gemas sendiri karena dokter menanyakan banyak hal kepada istrinya.
"Daryl?" Sofia mendekat lalu memeluk pelan bahu putranya.
"Sebagai seorang tenaga medis, bisa tidak jika kalian, para dokter dan perawat tidak usah bertanya macam-macam? Bukankah sudah aku jelaskan apa yang dia alami sebelum dibawa ke sini?" ucap Daryl lagi, dan rasanya dia semakin kesal saja.
"Baik Pak, sebentar. Ini hanya prosedur rumah sakit yang harus kami lakukan untuk memastikan keadaan pasien." Dokter menjawab.
"Prosedur, prosedur kepalamu! Bisa parah istriku kalau kau biarkan seperti ini." Dia tetap menggerutu.
"Daryl!" Dan Sofia segera menghentikannya.
"Kemarilah! Biarkan dokter menjalankan tugasnya." Arfan segera menarik adik iparnya dari dekat Nania. Yang meskipun sempat menolak, namun akhirnya dia menurut juga.
__ADS_1
"Maaf Dokter, tolong menantu saya diperiksa saja. Barusan dia pingsan." Sofia menggatikan putranya.
"Ya, cepat periksa bukannya banyak bertanya!" ujar Daryl dari sisi lainnya sehingga Arfan kembali menghentikannya.
"Detak jantung, normal. Tekanan darah memang sedikit rendah mungkin karena faktor kelelahan. Sementara denyut nadinya …." Pria itu menekan pergelangan tangan Nania dan merasakan denyutan dibawah kulitnya yang cukup jelas.
"Dari diagnosa saya, setelah memeriksa keadaan dan mendengar gejala yang dialami, sepertinya pasien sedang mengandung."
Sofia, Dygta, Arfan, Kirana dan Darren sama-sama menahan napas. Sementara Daryl kembali mendekati Nania.
"What? Bagaimana bisa? Mm … maksudku … benarkah?" Pria itu seakan tidak percaya.
"Ya, Pak Daryl dan Bu Nania. Selamat Anda berdua akan segera menjadi ayah dan ibu." jawab dokter yang membuat semua orang yang berada di ruangan itu mengucap syukur.
"Really?" Pria itu lebih mendekati Nania kemudian meraup wajahnya.
"You hear that?" katanya.
"Umm … aku … hamil?" Nania meyakinkan pendengaran.
"Ya, itu artinya kamu hamil. Ada yang sedang tumbuh di sini. My child, my baby!" Daryl mengusap perut perempuan itu kemudian mengecupi kepalanya.
Lalu mertua dan para ipar ikut menghampiri dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
"Dan untuk lebih meyakinkan, saya sarankan untuk memeriksakannya ke dokter obgyn. Agar lebih mengetahui keadaan yang sebenarnya dan bagaimana harus menghadapi masa-masa awal kehamilan. Bukankah ini kehamilan yang pertama?" Dokter kembali berbicara.
"Iya dokter, terimakasih." Sofia yang menjawab karena dua sejoli yang baru saja dinyatakan akan menjadi orang tua itu tengah sibuk berpelukan dan sedikit menangis.
"Baik, kalau begitu saya pamit?" ucap dokter kemudian.
"Cepat beri tahu Papi, dan Dimitri. Mereka juga pasti sangat bahagia jika mendengar kabar ini. Dan katakan juga untuk cepat kemari, tidak usah ada di pesta sampai selesai." Sofia memberi perintah kepada Darren.
"Baik, Mom." Yang segera dilakukan oleh pria itu.
"Ah, selamat sayangku! Kamu akan menjadi ibu. Benar kan, kalau sudah waktunya pasti punya anak?" Sofia pun memeluk mereka berdua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Diperkirakan dari tanggal terakhir menstruasi, usia kandungan … sekitar tiga minggu." Dokter menunjuk layar monitor.
"Tiga minggu?" Daryl membeo.
"Ya. Lihat?" Perempuan itu menunjuk titik kecil di tengah gambar rahim.
"Tapi dua minggu yang lalu kami memakai alat tes kehamilan dan hasilnya negatif." Daryl menjelaskan.
"Oh itu biasa. Kemungkinan penggunaannya yang salah atau Anda kurang lama merendamnya di dalam urine. Jadi belum benar-benar terdeteksi."Â
"Bisa begitu ya?"
"Bisa. Namanya juga pertama kali, pasti mengalami kekeliruan."
__ADS_1
"Jadi intinya?"
"Usia kehamilan memasuki minggu ketiga dan sedang dalam masa paling rawan di trimester pertama ini. Jadi saya sarankan untuk sangat berhati-hati ya? Apalagi mengingat gejala parah yang Anda jelaskan tadi sepertinya harus sangat dijaga."
Daryl menatap layar monitor dan wajah Nania secara bergantian.
"Jika mengalami pusing, mual atau muntah tidak perlu panik karena itu hal normal bagi ibu hamil. Semua indra pada tubuh akan menjadi lebih sensitif dan h*rmon akan meningkat. Mood akan naik turun dan segala hal akan banyak berubah."
"Seperti menolak makan dan bau-bauan?"
"Ya."
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" Pria itu bertanya.
"Hindari hal yang membuat ibu hamil merasa tidak enak atau tidak nyaman, dan bisa disiasati dengan orang rumah untuk merubah beberapa hal agar membuat istri anda merasa nyaman dan bahagia dengan kehamilannya. Selebihnya, tidak ada kalau ibu da bayinya sehat."
Daryl mengangguk-anggukkan kepala.
"Semua keterangan seputar kehamilan yang diperlukan ada di buku ini, saya harap dibaca agar tahu ya?" Dokter menyerahkan sebuah buku kehamilan kepada Nania.
"Baik Dokter, terima kasih." Dan mereka segera beranjak setelah dokter memberikan beberapa macam obat dan vitamin.
***
"Can you believe that?" Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Daryl duduk di kursi belakang bersama Nania yang tangannya tak dia lepaskan sedikitpun sementara Regan yang mengambil alih kemudi.Â
"Kayak mimpi." Nania baru buka suara setelah beberapa saat.
"Yeah …." Pria itu melepaskan genggaman tangannya, kemudian beralih merangkul pundak istrinya.
"Aku benar-benar akan jadi Daddy, dan kamu akan jadi Mommy. It's cute. Hahaha." Lalu dia tertawa.
"Ya, tapi ngomong-ngomong soal itu …." Namun Nania segera menyingkirkan tangan suaminya.
"Now what?"
"Udah aku bilang jangan dekat-dekat. Kamu kan bau!" Lalu dia menjauh.
"Hey, i thought …." Daryl hampir saja bergeser mendekat namun perempuan itu mengangkat tangannya untuk memberi isyarat.
"Jangan dekat-dekat, nanti aku muntah!" katanya yang membuat suaminya mencebikan mulutnya.
Sementara Regan di depan mati-matian menahan tawa mendengar percakapan atasannya.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...
Duh, Daddy Galak sama Mommy Emesh🤣🤣🤣