The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pembalasan


__ADS_3

💖


💖


"Bagaimana dengan bajingan itu?" Daryl melepaskan kaca mata hitamnya begitu dia turun dari mobil.


"Sudah beres, Pak." jawab Regan yang mengambil tanggung jawab atas penanganan kasus Nania sejak semalam.


Bekas pukulan pada wajahnya masih kentara meski dia pun mengenakan kaca mata hitam.


"Apa dia mati?"


"Tidak, Pak. Hanya masuk rumah sakit."


"Ah, kenapa tidak kau buat mati saja?"


"Maaf, Pak. Nikolai Grup tidak pernah melakukan pembunuhan meski terhadap musuh sekalipun."


"Lalu apa yang kalian lakukan kalau ada yang menggangu seperti ini? Payah sekali?"


"Hanya membuatnya koma atau lumpuh."


"Hmm …."


"Silahkan, Pak?" Lalu mereka memasuki gudang besar itu dengan langkah cepat.


"Sudah kau bawa orangnya?" Mereka tiba di depan sebuah pintu yang tertutup rapat.


"Sudah, dia sedang santai di dalam." Galang yang menunggu pun menjawab, lalu dia membukakan pintu untuk Daryl.


"Baiklah." Kemudian mereka memasuki ruangan itu.


Seorang perempuan cantik tampak termenung di kursi, yang kemudian terperangah ketika empat orang pria masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Kamu datang? Aku tahu kamu akan menyelamatkanku." Bella menghambur ke pelukan Daryl.


"Get you hand off me!!" Namun pria itu menepis tangannya kemudian mengusap pakaian hitam yang dikenakannya seolah tengah menyingkirkan benda menjijikan yang semula menempel.


"Daryl, mereka berbuat jahat kepadaku! Mereka menculikku dan menyekapku sejak subuh tadi!" adunya kepada Daryl.


Pria itu tak menyahut, namun dia hanya duduk bertumpang kaki di kursi yang berada di seberangnya.


"Daryl, kau tidak mendengar aku?" ucap Bella lagi dan dia hampir kembali ke hadapan pria itu.


Namun Regan dan satu orang lainnya segera menahan dan mengembalikan perempuan itu ke tempat duduknya.


"Jadi … apa yang dia lakukan semalam?" Daryl melipat kedua tangannya di dada.


"Bekerja sama dengan seorang pelayan untuk mencampurkan obat perangsang kepadamu?" Galang menyebutkan hasil penyelidikan anak buahnya.


"Hmm … hanya kepadaku?"


"Ya."


"Kau yakin?" Pria itu dengan suara pelan tapi terdengar mengancam.


"Akurat, Pak. Kami sudah menginterogasi pelayannya." jawab Galang lagi.


"Berapa dia dibayar sehingga berani melakukan hal itu?"


"Hanya satu juta."


"Cih! Kau hanya menghargai aku sebesar itu? Harga yang rendah sekali untuk keturunan Nikolai." Daryl menatap Bella yang tak mampu lagi mengucapkan kata-kata.


"Lalu apa yang kau berikan kepada si pelayan?" Daryl mendongak ke arah Galang.


"Sedikit pelajaran, Pak." jawab orang kedua di Nikolai Grup itu.


"Hanya sedikit? Kau tidak sekalian meratakan pubnya? Kalau aku sudah pasti akan menghancurkan tempat itu karena sudah berani menjebakku."


Galang tampak menghela napas.


"Kau dengar itu?"


"Pub tidak ada hubungannya dengan pegawai dan perempuan ini, Pak."


"Ah, payah kau ini!" Daryl dengan kilat kesal di matanya.


"Baik, jadi apa yang akan kita lakukan kepadanya?" tanya Galang yang kemudian mendekati Bella.


Daryl terdiam sebentar. Dia juga menatap wanita itu dengan perasaan marah. 


"Andai saja kau laki-laki, maka aku akan menghajarmu seperti bajingan kecil yang kukirim ke rumah sakit!"


Wajah Bella memucat.


"Kau beruntung. Tapi kau bodoh! Kau pikir siapa yang kau hadapi sampai berani berbuat begitu, heh?"


Perempuan itu terdiam. Dia sedang mengira-ngira apa yang akan dilakukan Daryl kepadanya, karena jelas-jelas pria itu sudah mengetahui apa yang dilakukannya semalam.


Habislah aku! Karierku tamat dan segalanya hancur! Dia pasti akan memecatku setelah ini. Batinnya.

__ADS_1


"Aku mohon!" Lalu perempuan itu menjatuhkan diri di lantai. Dia merangkak kemudian bersujud di kaki Daryl.


"Ampuni aku! Jangan siksa aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Dia mengiba.


Namun Daryl menyentakkan kakinya sehingga Bella terjengkang ke belakang.


"Perempuan sepertimu mana bisa menepati janji?" geramnya, dan dia semakin kesal.


"Tidak! Aku berjanji. Asal kau melepaskan aku!!" Bella kembali meraih kaki Daryl, meski pria itu tetap menolaknya.


"Tidak ada ampun denganku. Kau sudah kuperingatkan!" Dia kembali menyentakkan kakinya.


"Mata dibayar mata, kaki dibayar kaki." ucap Daryl kemudian, yang membuat wajah Bella semakin memucat.


"Sudah kuduga." Galang bergumam, lalu dia mengeluarkan minuman kaleng dari saku jasnya. Dan dari saku lainnya lagi dia mengeluarkan satu botol kecil cairan bening.


Bella membulatkan mata.


"Tambah dua botol lagi." Daryl dengan nada gemas setiap kali dia mengingat perbuatan Bella semalam.


"Terlalu banyak." Galang menjawab, membuat Daryl memutar bola matanya.


"Eh, tapi bagus juga agar dia tidak berhenti, bukan?" sambung Galang setelahnya, yang kemudian membuat Daryl tertawa setelah asisten Dimitri itu mengeluarkan dua botol berikiutnya.


"Kau siap, Baby?" Daryl bangkit seraya meraih minuman kaleng dari Galang.


Bella menggelengkan kepala, dan dia bermaksud menghindar ketika dua pria di belakang mengembalikannya ke tempat duduk.


"Tidak, Daryl! Jangan lakukan ini kepadaku!!" Perempuan itu berteriak.


"Yeah, right. Seharusnya kau memikirkannya terlebih dahulu sebelum kau melakukannya kepadaku." Pria itu mendekat.


Dua pria memegangi tangan Bella yang terus meronta. Sementara Daryl meraih kepalanya. Menahan posisinya agar tetap mendongak.


"Tidak!! Ampun!!"


Pria itu menatap wajahnya, lalu dia menempelkan kaleng minuman pada bibirnya yang merah.


Bella sempat menghindar, namun hal itu tak berlangsung lama. Karena kedua pria itu juga menahan kepalanya.


"Hmmmppphh!" 


Daryl memaksanya agar membuka mulut. Kemudian dia membuatnya meminum cairan yang ada di dalam kaleng.


"Ini rasanya enak, Baby!!" katanya, dan dia tak membiarkan Bella membuangnya sedikitpun hingga isi di dalam kaleng pindah seluruhnya ke dalam perut perempuan itu.


Daryl kemudian mundur, dan dua pria itu melepaskan cengkeramannya.


"Daryl!!!" Dan perempuan itu berteriak seraya melesat ke arah pintu yang segera tertutup rapat.


Dia menggedornya dengan keras seiring teriakannya yang menggema. Siksaan keras jelas dialaminya, persis seperti yang dia rencanakan kepada Daryl semalam, dan bahkan mungkin lebih parah. Karena dia sendirian di dalam sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pria itu setengah berlari menaiki tangga. Dia merasa tak sabar untuk menemui Nanianya yang kemungkinan sudah bangun siang ini.


Namun dia tertegun di ambang pintu saat mendengar celotehan anak kecil dari dalam kamar.


Daryl segera menekan pegangan pintu seraya mendorongnya sehingga terbuka, dan tampaklah dua orang anak kecil di tempat tidur Nania.


"Nah kan, aku bilang juga apa? Om Dernya udah pulang?" Anya menoleh kepada pamannya, begitu pun Zenya dan Nania.


"Sedang apa kalian di sini?" Pria itu segera menerobos masuk.


"Lagi nemenin Kak Nania." jawab Anya.


"Kenapa kalian temani?" Daryl mendekati tempat tidur.


"Ya biar ada temen. Kata Oma kasihan nggak bisa keluar, Kak Nanianya kan sakit."


Daryl melirik gadis itu yang wajahnya masih bengkak sisa siksaan semalam. Dan hatinya seketika terasa menciut.


"Are you oke?" pertanyaan konyol dia lontarkan kepada Nania yang keadaannya jelas tidak baik-baik saja.


Namun gadis itu mengangguk.


Daryl kemudian duduk di pinggir tempat tidur dan dia masih menatapnya dengan perasaan sedih.


"Mukanya Kak Nania kok biru-biru? Om pukulin ya? Kasihan tahu, masa Om pukul-pukul perempuan?" celetuk Anya seperti biasa.


Daryl mendengus sambil memejamkan mata sejenak.


"Om jangan jahat-jahat, nanti dijewer Oma lho?" ucap Anya lagi, dan hal itu membuat Nania tertawa. 


"Diam!" Daryl menggeram.


Namun gadis itu tak mampu menahan tawanya sendiri.


"Diam Malyshka! Sudah membuatku khawatir tapi masih bisa tertawa?" Pria itu dengan nada kesal.


"Habisnya Anya lucu, Pak."

__ADS_1


"Lucu kepalamu? Dia menyebalkan!" Daryl mendelik.


"Kalian keluar sana!" ucap pria itu pada dua keponakannya.


"Nggak mau, kan aku lagi nemenin Kak Nania." jawab Anya.


"Kak Nania Om yang temani."


"Nggak, kan Oma nyuruhnya aku sama Zen."


"Sudah ada Om."


"Orang Oma dari tadi nyuruh aku."


Daryl hampir saja membuka mulutnya untuk menjawab, namun kemudian beberapa orang masuk.


"Sudah pulang kamu?" Sofia berujar.


"Hmm …." Daryl menjawab dengan gumaman.


"Urusanmu sudah selesai?"


"Selesai."


"Baik, sekarang keluarlah. Nania harus mandi."


"Apa?"


"Nania harus mandi dan berganti pakaian. Masa kamu mau tetap di sini?"


"Memangnya sudah bisa mandi?" Pria itu bertanya kepada Nania yang kemudian menjawab dengan anggukkan.


"Maksudmu itu apa? Mau membantu memandikannya?" Sang ibu bereaksi.


"Eee … bukan, Mama! Aku hanya bertanya." jawab Daryl.


"Pertanyaanmu ambigu!"


Anya dan Zenya tertawa.


"Kenapa kalian tertawa?" Daryl memicingkan mata ke arah keponakannya.


"Kak Nania kan udah gede, masa mau Om mandiin?" ucap Zenya, yang kembali tertawa.


"Iya, aku aja sama Zen udah bisa mandi sendiri." Anya menimpali ucapan saudara kembarnya.


"Ck!" Daryl berdecak sambil memutar bola matanya.


"Sudah, sana keluar!!" ucap Sofia lagi.


"Baiklah, ayo Zen." acap Daryl kepada Zenya.


"Nggak, aku mau di sini." Namun keponakan laki-lakinya itu menolak.


"Tidak boleh, kamu harus keluar."


"Nggak mau ih!" tolak anak itu lagi.


"Kak Nanianya mau mandi!"


"Emangnya kenapa? Ya mandi aja."


"Ya kamu harus keluar, kamu kan laki-laki?"


"Ish! Kenapa sih malah ribut? Zenya masih kecil, kamu saja yang keluar!" Sofia melerai perdebatan antara anak dan cucunya.


"Kecil-kecil juga dia laki-laki, Mom!" Daryl tidak terima ucapan ibunya.


"Astaga!"


"Come, Zenya!"


"No!!!"


"Oke, Om buang ulat daunmu ya?" Pria itu dengan ide konyolnya, lalu dia bangkit.


"Nooo!!! Don't do that!!"


"Ah, Om buang saja. Untuk apa juga kamu memelihara ulat menjijikan itu?" Pria itu menghambur keluar dari kamar diikuti Zenya yang berteriak-teriak karena ancaman pamannya.


💖


💖


💖


Bersambung ...


ayo dong kencengin lagi like komen vote sama hadiahnya biar novel ini makin naik lagi.


Alopyu sekebon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2