The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kondisi


__ADS_3

💖


💖


"Pendarahannya memang sudah berhenti, tapi kita tetap harus waspada. Karena bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi lagi sewaktu-waktu jika Nania mengalami stress yang berlebih. Tapi sejauh ini, dia bisa merawat dirinya dengan baik. Obatnya diminum secara teratur dan dia mengurus segalanya. Tapi tetap saja, semua harus terus dipantau." Dokter yang sore itu melakukan kunjungan menjelaskan beberapa hal.


"Saran saya, kalau bisa dibawa ke rumah sakit agar bisa dilakukan USG, Ct scan atau apa pun yang diperlukan untuk mengetahui keadaan tubuhnya. Walau dari diagnosa awal dia tampak baik-baik saja, tapi kepastian itu penting." 


"Baik, Dokter. Kami akan membujuknya agar mau dibawa ke rumah sakit. Karena sejauh ini dia selalu ketakutan jika sebentar saja berada di luar rumah." Sofia mengantar kepergian dokter hingga ke teras.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania tampak menatap ke arah luar jendela sepeninggal dokter yang baru saja memeriksa keadaannya. Dan dia mencoba untuk terus mengingat pesan pria itu selama dia berbicara tadi.


"Tante Nna nggak mau main keluar?" Anya dan Zenya yang baru pulang sekolah segera menemui tante mereka.


"Nggak." Nania menjawab.


"Kenapa? Seru lho." Dua anak itu duduk di dekat ujung kakinya.


"Nggak apa-apa."


"Ayo, aku mau nangkap kupu-kupu. Soalnya di taman udah banyak."


"Jangan, Zen. Kasihan."


"Kenapa kasihan? Kan bagus. Kita tangkap, nanti bertelur banyak, anaknya jadi kupu-kupu lagi. Gitu terus."


"Kupu-kupu hidupnya cuma sebentar, Zen. Kalau kita tangkap mereka akan tersiksa."


"Kan asik. Kita rawat kok. Dikasih makan yang banyak, dikasih rumah yang bagus."


"Tapi dia nggak bebas, jadinya nggak bahagia."


"Cuma hewan, Tante."


"Hewan juga makhluk hidup." Suara Nania mulai melemah, dan kedua matanya hampir terpejam.


Obat yang disuntikkan dokter kepadanya setelah sesi pemeriksaan beberapa saat yang lalu tampaknya mulai bekerja. Dan setelah beberapa menit dengkuran halus pun terdengar keluar dari mulutnya.


"Hey?" Suara Daryl mengalihkan perhatian dua keponakannya.


"Keluar dulu, biarkan Tante Nna tidur." katanya yang masuk ke dalam kamar untuk memeriksa.


"Tapi nanti boleh lagi ke sini lagi?" Anya bertanya.


"Boleh, kalau Tante Nna sudah bangun."


"Oke." Lalu Anya segera keluar.


Namun Zenya masih berada di samping tempat tidur menatap Nania yang sudah terlelap.


"Zen?" Daryl memanggil anak itu.


"Hum?"


"Biarkan tante Nna tidur dulu." katanya kepada anak itu.


"Oke." Dan anak itu pun berniat pergi. Namun dia berhenti di ambang pintu lalu berbalik.


"Om jangan marahin Tante Nna terus. Kan kasihan Tante Nna nya jadi sedih." Zenya berujar.


Daryl hanya melirik sekilas lalu dia kembali pada Nania. Sementara Zenya meneruskan langkahnya keluar dari ruangan itu.


Pria itu mendekat lalu dia duduk di sisi ranjang. Perlahan mengusap kepala Nania dan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Lalu mengecup pipinya sebelum akhirnya dia membiarkannya tertidur sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tidak ada pilihan lain, Der. Kita juga harus memanggil psikiater untuk Nania jika dia memang tetap tidak mau dibawa keluar. Kejiwaannya harus segera ditangani." Satria melepaskan kaca mata bacanya setelah menerima pesan dari dokter Syahril.

__ADS_1


"Iya Pih, mungkin besok. Kalau hari ini takut membuat Nania kelelahan. Dan sepertinya pemeriksaan oleh dua dokter tadi cukup membuatnya bingung." Daryl menjawab.


"Kita sudah mendiamkannya terlalu lama hingga berakibat seperti ini. Jadi memang sudah waktunya bertindak yang seharusnya sudah kita ambil sejak awal ." lanjut Satria.


Sedangkan Daryl hanya terdiam mendengarkan dan otaknya terus berputar memikirkan Nania.


"Mama hanya tidak habis pikir, bagaimana kamu bisa berbuat sekeras itu kepada Nania. Meskipun Mama paham dengan kekecewaan yang kamu rasakan tapi tidak seharusnya kamu begitu. Karena ada hal yang tidak perlu disikapi dengan keras agar tidak menimbulkan kesalahan." Sofia memberanikan diri untuk berbicara secara langsung, karena mungkin hal ini harus dibahas secara serius.


"Aku tahu, Mom. Aku emosi." Dan Daryl pun menjawab.


"Ya, dan sepertinya mulai sekarang kamu harus belajar mengendalikan emosimu. Lihat akibatnya kan?"


Daryl terdiam lagi. Sepertinya saat ini tak ada yang bisa dia lakukan selain diam, karena semua orang sedang memojokkan dirinya. Dan apakah itu pantas dia dapatkan? Entahlah, rasanya membingungkan saja. 


Dia hanya melampiaskan kemarahannya tanpa bermaksud untuk melukai orang lain, apalagi Nania. Hanya saja, mengapa hal itu malah menimbulkan bencana?


Dia tak menyangka sama sekali jika ini pun akan berakibat fatal apalagi untuk kejiwaan istrinya. Tapi pada kenyataannya memang begitu.


Dan sepertinya selama ini Daryl lupa apa yang telah dialami perempuan itu hingga dia bisa bertindak seenaknya. Yang akhirnya menimbulkan penyesalan di hatinya.


Pria itu membungkuk sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya yang bertumpu pada lutut. 


Hal ini memang benar-benar diluar kendali dan dia mulai merasa menyesal. Apalagi jika mengingat ekspresi Nania setiap kali dirinya berbicara. Perempuan itu akan sangat panik dan ketakutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nania?" Daryl buru-buru turun setelah membersihkan diri saat lagi-lagi dia tak menemukan Nania di kamar mereka.


Dan rupanya perempuan itu sudah siap di meja kerja di depan ponselnya yang menyala menunggu kegiatan sekolahnya dimulai, padahal waktu masih pagi.


"Masih jam tujuh, Nna. Sekolah belum dimulai." Pria itu menghampirinya.


Nania tak merespon karena ternyata dia sedang menggambar seperti biasanya. Tampak tiga lembar kertas bergambar pakaian yang sudah dia hasilkan selama menunggu kelas online nya dimulai.


"Nania?" Daryl menyentuh tangannya. Dan seperti sebelum-sebelumnya, hal itu membuat Nania terkejut.


Dia mendongak dan wajahnya sedikit memucat.


Daryl melirik meja makan di mana sarapan sudah tersedia.


"Kelasnya belum dimulai. Ini bahkan masih pagi, jadi tunggulah dulu." Pria itu berujar.


"Nanti aku kesiangan …."


"Tidak akan."


"Ta-tapi …."


"Come. Kita sarapan?" ajak Daryl kepadanya.


"Umm …."


"Kita makan sambil menunggu kelasnya dimulai ya?" ajaknya lagi, dan pria itu menuntunnya bangkit.


Nania menatap piring berisi makanan yang Daryl berikan untuknya. Dan ini rasanya aneh ketika pria itu melakukannya. 


"Makan, agar kamu cepat sehat." ucap Daryl yang hampir memulai kegiatan sarapannya.


"Aku nggak sakit." Nania mengerutkan dahi.


"Memang, tapi makan agar tetap sehat tidak ada salahnya, kan?"


"Aku … suka mual kalau makan. Nanti aku muntah."


Daryl menatapnya.


"Tapi kalau tidak makan nanti kamu sakit. Apa mau seperti itu? Mau membuatku khawatir lagi?"


Nania menggelengkan kepala, lalu dengan cepat dia menyuapkan makanan sedikit.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja, dan sedikit agar kamu tidak mual." Dan Daryl pun melakukan hal yang sama.


"Makanannya enak, mengapa malah membuatmu mual?" Pria itu terus berbicara. "Bukankah kamu sangat pandai memasak? Dan itu juga adalah hal yang paling aku sukai, bukan?"


"Kamu tahu, tidak ada masakan seenak buatanmu, dan aku senang karena kamu melakukannya untukku." 


Nania terdiam. Dan perlahan dia mendongak untuk dapat melihat wajah suaminya.


"Sehatlah lagi, Nania." Daryl mencoba untuk tersenyum meski hatinya tetap terasa ngilu.


"Ayo makan lagi. Kelasmu akan dimulai sebentar lagi." Pria itu mengingatkan sehingga Nania melanjutkan kegiatan makannya.


Dan untuk pertama kalinya sejak pulang dari rumah sakit Nania bisa menelan makanannya dengan benar tanpa dia muntahkan. Meski rasa mualnya masih tetap belum hilang dari indra perasanya.


***


"Pakai ini saja agar belajarmu lebih mudah." Daryl meletakkan laptop di meja belajar Nania. Menggantikan ponselnya yang sudah siap mengikuti pelajaran.


Dia mengaturnya sedemikian rupa sehingga benda itupun sudah masuk ke jaringan sekolah dan mengikuti kelas yang baru saja akan dimulai.


Nania kembali terdiam.


"Nah, lebih nyaman kan?" Pria itu menggeser letaknya sehingga terlihat lebih baik.


"Mulai sekarang pakai saja ini, lebih memudahkanmu untuk belajar." katanya lagi.


"Ma-makasih." jawab Nania, singkat.


"Aku harus pergi dulu untuk bekerja. Hari ini ada rapat penting dengan staf FSH. Tidak apa kalau aku tinggal? Tengah hari aku pulang seperti biasa." Dan Daryl pun bersiap untuk pergi.


Nania mengangguk pelan untuk memberikan jawaban.


"Baiklah, nanti aku minta Mama untuk menemanimu ya?"


Dia mengangguk lagi.


"Aku pamit." Pria itu mengecup puncak kepalanya dengan hati-hati. Dan rasanya dia ingin memeluk tubuh istrinya dengan erat, tapi takut akan membuatnya panik lagi.


"Umm … Daddy?" Lalu Nania berputar ketika Daryl sudah melenggang ke arah pintu.


"Ya?"


"Apa aku … boleh keluar hari ini?" Dengan takut-takut Nania bertanya.


"Keluar?"


"Ee … aku mau ke hutan di belakang. Mau lihat … baby."


Daryl terdiam. Dia bahkan tidak ingat sama sekali dengan hal itu. Karena apa yang terjadi beberapa hari ini benar-benar mengalihkan seluruh perhatiannya.


"Tapi kalau nggak boleh nggak apa-apa, aku cuma akan di rumah aja." Nania dengan suara pelan.


"Pergilah, tidak apa-apa. Hanya ke hutan belakang ya?" Namun jawaban Daryl membuatnya terperangah.


"Kamu juga perlu menghirup udara segar, bukan?"


Nania menganggukkan kepala.


"Pergilah, tapi jangan terlalu jauh oke?"


Binar di wajah Nania mulai terlihat dan bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Aku pergi dulu." ucap Daryl lagi, yang kemudian segera keluar dari rumah mereka.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2