
💖
💖
"Regan!!!"
Mati aku! Batin Regan sebelum akhirnya Daryl melayangkan pukulan pada wajahnya hingga dia terhuyung.
Sedetik kemudian pria itu mencengkeram kerah jasnya lalu mendorongnya ke belakang hingga punggungnya membentur dinding.
"Apa saja yang kau lakukan hingga bisa-bisanya terjadi seperti ini?" Daryl menggeram.
"Ma-maaf, Pak." Hanya kalimat itu yang mampu Regan ucapkan.
Wajahnya memerah dan tentu saja dia sangat marah. Baru saja reda masalah pencurian data dan ide miliknya, tak lama berselang bawahannya itu memberinya kabar yang benar-benar tak ingin dia dengar.
"Aku memberimu tugas ini karena memiliki kepercayaan kepadamu. Tapi lihat?" Daryl kembali membenturkan punggung pria itu ke dinding rumah sakit.
"Maaf Pak!"
Dan dia hampir kembali melayangkan pukulan ketika Dokter Syahril keluar dari ruang penanganan.
"Berhentilah, jangan membuat keributan. Nania sudah sadar." ucapnya, dan hal tersebut menghentikan Daryl dari apa yang akan dia lakukan.
Dia melepaskan cengkramanya kemudian menghempaskan Regan ke sisi lain, dan segera masuk menemui istrinya.
"Aku nggak apa-apa, aku nggak apa-apa!!" Nania terkena serangan panik, apalagi setelah mendengar keributan di depan pintu. Mengira suaminya pasti akan mengamuk begitu mengetahui apa yang terjadi kepadanya.
"Lihat? Tidak apa-apa bagaimana?" Pria itu menyentuh kepalanya dan dia melihat kening Nania yang memar dan sudut bibirnya terluka.
"Apa yang mereka lakukan kepadamu?" Dia juga mengusap pipinya yang memerah dan sedikit bengkak.
"Regannn!!" Daryl berteriak lagi sementara kedua tangannya menutupi telinga Nania.
"I-iya Pak?" Regan masuk dan dengan keadaan yang cukup berantakan dia bersiaga untuk menerima perintah apa pun.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Daryl bertanya.
"Sa-saya menemukan Nania pingsan di toilet. Seorang pemuda sedang menyentuhnya dan hampir …." Regan melirik ke arah Nania.
"Apa Regan?!"
"Hampir melepaskan pakaiannya, Pak." lanjut Regan, dan ini merupakan hal yang cukup menakutkan baginya.
Dia merasa lebih baik ditugaskan memburu penjahat saja dari pada harus menceritakan apa yang diketahuinya beberapa saat yang lalu.
"Apa?"
"Ya, dan saya rasa … mungkin …."
"Siapa yang melakukannya, Sayang?" Kemudian Daryl melepaskan kedua tangannya dari telinga Nania.
"Ap-apa?"
"Siapa yang memukulimu di toilet?" tanya nya lagi.
"Mm … Za- Zayn?" Nania tergagap. Mungkin ini saatnya berbicara walau dia sebenarnya takut menambah beban pikiran suaminya. Tapi yang baru saja terjadi tak bisa di kompromikan karena sudah membahayakan dirinya.
"Zayn?"
Nania mengangguk.
"Teman sekelas yang waktu itu lewat pakai motor."
Daryl mengingat-ingat.
"Dan kayaknya … dia yang bikin gosip itu." Nania pun mengingat ucapan Zayn dan dia menghubungkannya dengan rumor yang beredar di kalangan teman-teman sekelasnya.
"Gosip apa?"
"Kalau aku simpanan om-om."
"Apa?"
"Mereka ngiranya aku simpanan kamu." Nania memperjelas kalimatnya.
"Mereka siapa?"
"Temen sekelas aku."
"Kenapa bisa begitu?"
__ADS_1
"Nggak tahu. Tapi sebelumnya aku nolak ajakan Zayn kan?"
"Ajakan Zayn?"
Perempuan itu mengangguk.
"Ajakan untuk apa?"
"Pergi sama dia."
Daryl mengerutkan dahi.
"Mereka ngiranya aku jual diri karena sering lihat aku sama kamu, jadi …."
"Ridiculous!! Kita ini suami istri! Apa kamu tidak mengatakannya?"
"Udah, tapi nggak ada yang percaya."
Kali ini Daryl benar-benar marah.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Regan?" dia beralih kepada kepercayaannya itu.
"Ya Pak, saya pergi sekarang." Dan pria itu segera pergi untuk melakukan tindakan.
"How long? Sejak kapan dia mengganggumu?" Lalu Daryl kembali kepada Nania.
"Udah lama … sejak aku masuk sekolah." adunya kepada sang suami. Sekalian saja dia akan mengatakan segalanya dan berharap apa yang dilakukan akan membuat keadaan lebih baik.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku?"Â
"Tadinya mau bilang … tapi kemarin kamunya lagi ada masalah. Jadi …."
"Stop!! It doesn't matter! Seharusnya kamu mengatakannya sejak awal agar aku bisa mengantisipasi kejadian seperti ini."
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Nanti kamu kepikiran."
"Memang sudah seharusnya!! What's wrong with you? Kita ini suami istri, sudah seharusnya saling mengetahui keadaan masing-masing. Untuk apa aku menikahimu jika tidak bisa menjaga keselamatanmu? Tidak berguna!!"
Nania terdiam.
"Jika Regan tidak menemukanmu kira-kira apa yang akan terjadi?"
Bibir Nania tampak bergetar. Sudah terbayang apa yang terjadi jika tak ada siapa pun yang menemukannya. Mengingat tindakan Zayn kepadanya sebelum dia pingsan.
"Bayangkan apa yang terjadi kepadamu!" Pria itu lantas menariknya ke pelukan bersamaan dengan tangis Nania yang pecah begitu saja.
"Maafin aku, maaf!!" Nania menyurukkan wajah di dada suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keadaan sekolah terasa genting saat beberapa orang pria berjas hitam masuk dan berjaga di beberapa titik pada keesokan harinya. Apalagi ketika Regan menemui ketua yayasan sekaligus pemilik tempat itu.
Desas-desus berhembus ketika baru saja akan menggelar proses belajar mengajar pada pagi itu. Terutama karena ketidak beradaan dua orang di antara mereka.
Perdebatan berlangsung beberapa saat setelah dia mengetahui bahwa salah satu peserta didik yang juga putranya sudah dibawa seseorang sejak semalam.Â
"Kami hanya akan meminta cctv saja sebagai bukti jika Anda tidak percaya." ucap Regan yang tanpa menunggu persetujuan si pemilik tempat segera memerintahkan rekannya untuk mengambil rekaman cctv di beberapa tempat.
"Dan kami akan melaporkannya ke pihak kepolisian begitu penyelidikan terhadap masalah ini selesai. Anda hanya harus menyiapkan diri saja." katanya lagi, kemudian mereka pergi setelah mendapatkan apa yang dimaksud.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ayo makan yang banyak agar kamu cepat sehat!!" Daryl menggeser wadah berisi makanan, beberapa jenis buah dan minuman untuk Nania.
Mereka sudah berada di rumah sejak semalam dan hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi bekerja. Dan halaman samping menjadi pilihan keduanya untuk makan bersama pada menjelang siang.
"Iya ini juga lagi makan, mulut akunya nggak bisa muat banyak-banyak kan?" Nania menjawab.
"Hmm …." Daryl menatapnya dari balik cangkir kopi yang sedang dia sesap.
"Kamu hari ini nggak pergi kerja?" Nania memulai percakapan.
"Istriku baru saja mengalami peristiwa buruk dan aku harus pergi bekerja? Suami macam apa aku ini?"
"Aku udah nggak apa-apa."
"Yeah, right." Pria itu mendelik.Â
__ADS_1
Dia masih merasa kesal dengan peristiwa kemarin dan hampir saja pergi ke tempat bawahannya menyekap Zayn jika Satria tak melarangnya semalam.
"Beneran, kamu bisa pergi kalau banyak kerjaan."
"Shut up! Dan makanlah. Lagipula aku sedang menunggu kabar dari Regan."
"Kabar apa lagi?"
"Soal kejadian di sekolah. Awas saja, aku akan benar-benar meratakan tempat itu dengan tanah jika sudah dapat buktinya, dan akan aku pastikan dia mendapat ganjaran yang berat karena berani menyentuh Naniaku." katanya, dan bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi ketika panggilan yang dinantinya masuk.
"Ya?" Dia segera menjawabnya.
"Namanya Zayn, dia anak ketua sekaligus pemilik gedung dan yayasan itu." Regan mulai menjelaskan.
"Beberapa bulan yang lalu dia baru saja bebas dari penjara karena kasus yang sama."
"Apa?"
"Penyekapan dan pelecehan s*ksual kepada adik kelasnya yang terjadi dua tahun yang lalu."
"Pelecehan?"
"Ya."
"Bukannya tersangka pelecehan dihukum paling tidak lebih dari lima tahun? Mengapa baru dua tahun dia sudah bebas?"
"Remisi dan segala macamnya, Pak. Keluarga juga ada di balik kebebasan ini."
"Astaga! Urusan uang?"
"Kira-kira begitu. Meka cukup mampu untuk memberi jaminan kepada kepolisian dan membungkam protes korban."
"Kurang ajar! Orang tua macam apa itu? Sudah jelas anaknya salah masih dilindungi?"
"Begitulah Pak."
"Cctv nya bagaimana?" Daryl bertanya lagi.
"Saya kirim videonya sekarang?" ucap Regan.
"Baiklah." Percakapan berakhir dan setelah itu video kiriman Regan pun masuk.
Tampak lorong gedung yang semakin lama semakin lengang seiring berakhirnya jam pelajaran. Dan setelah beberapa saat terlihat sosok Nania yang dihampiri seorang pria yang dikenali sebagai Zayn.
Mereka tampak bercakap-cakap sebentar kemudian Nania bergegas menuju toilet.
Pada video berikutnya tampak seseorang yang mengunci pintu toilet dari luar hingga akhirnya setelah beberapa saat dia membukanya dan tampak Nania yang akan keluar namun segera di di dorong masuk dengan mulut dibekap.
Dan kejadian selanjutnya tentu saja ketika Regan mondar-mandir di area toilet hingga tiba pada saat pria itu menendang pintu hingga terbuka dan membawa Nania yang pingsan beberapa saat kemudian.
"Arrggggh! Tidak bisa dibiarkan!" Daryl menggeram kemudian dia bangkit.
"Mau ke mana?" Nania meraih tangannya.
"Kamu diam di sini sementara aku pergi dulu." jawabnya seraya mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Tapi ke mana?" ulang Nania.
"Menemui Regan."
Nania hampir saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun pria itu sudah berteriak lebih dulu.
"Mama!" Suaranya menggelegar memenuhi area.
"Mama!!! Mima!!" teriaknya lagi, dan tak lama kemudian asisten rumah tangga bergegas mendatanginya.
"Ya pak?"
"Ada apa sih kamu teriak-teriak? Membuat semua orang panik saja?" Sofia balik berteriak dari jendela ruang tengah.
"Temani Nania, aku pergi dulu." katanya yang melepaskan genggaman tangan istrinya.
"Mau ke mana?" tanya sang ibu yang melenggang keluar.
"Ada urusan." jawabnya, dan dia bergegas pergi saat melihat ayahnya yang juga keluar mendatangi mereka.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ....
Ayoloh mau diapain Om Der? 🤣🤣🤣