
💖
💖
Anandita bersandar pada dinding bagian luar toilet sembari menunggu Regan yang segera masuk begitu mereka turun dari wahana kora-kora.
Kali ini pria itu tak dapat lagi menahan rasa mual yang sudah ditahannya selama menemani Anandita menaiki wahana-wahana yang membuatnya penasaran.
Jadilah dia segera melesat ke dalam toilet terdekat dan memuntahkan isi perutnya di sana.
"Udah?" tanya gadis itu saat Regan keluar dengan keadaan cukup berantakan.
Wajah dan rambutnya sedikit basah karena dia sengaja membasuhnya dengan air. Mata dan hidungnya memerah, belum lagi pakaiannya yang agak kusut.
"Setelah ini stop, jangan naik yang ekstrim-ekstrim lagi. Atau saya bawa kamu pulang ke Pak Arfan!" ancam pria itu dengan sedikit mendelik.
"Ya emang udah. Sekarang ayo kita jajan es krim?" Namun dengan polosnya Anandita berucap sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Regan menatap tajam ke arahnya.
"Cuma es krim Om, bukan naik kora-kora." Gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Ini kan acara rekreasi anak-anak. Tapi kenapa saya jadinya mengasuh kamu?" Merek melangkah bersisian ke arah foodcourt yang ada, bersamaan dengan anak-anak yang mengambil waktu istirahat.
"Siapa yang mau es krim?" tawar Anandita kepada mereka, dan serentak semuanya menjawab bersamaan.
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Oke, semuanya antri. Yang ini Kakak yang traktir." ucap gadis itu yang segera dituruti oleh anak-anak.
Satu persatu dari mereka mendapatkan apa yang diinginkan lalu bergegas mencari tempat yang nyaman untuk menikmatinya, begitu juga dengan para pengawas.
"Ini." Dan Anandita menyodorkan satu cone eskrim rasa vanilla kepada Regan yang menunggu di kursi taman.
"Aku nggak tahu Om sukanya rasa apa, lupa tanya." katanya sambil kembali tersenyum.
"Saya juga kebagian?" Lalu Regan seger menerimanya.
"Iya dong, kan sama-sama pengawas." Gadis itu duduk di sampingnya. "Ngawasin aku. Hahaha." Lalu dia tertawa.
"Jangan berbuat aneh-aneh, Ann. Kasihani saya." Regan menikmati eskrimnya sama seperti Anandita.
"Nggak, kan dari tadi juga cuma naik wahana doang. Sebelah mana anehnya?"
"Iya, jangan lagi apalagi naik yang bahaya. Nanti kalau ada apa-apa saya yang kena."
"Udah dibilangin juga, nggak akan lagi." Gadis itu menjawab.
Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat hingga eskrim di tangan hampir habis dilahap pada siang yang cukup terik itu.
"Om suka eskrimnya? Rasa vanilla itu enak kan? Tapi aku lebih suka coklat karena ada pait-paitnya. Kalau vanilla kemanisan." Anandita kembali berceloteh sambil memainkan ponselnya untuk memberi kabar kepada Arfan yang sudah beberapa kali mengirimkan pesan.
"Saya suka apa saja. Tidak spesifik dan punya toleransi terhadap rasa apa pun." Regan menjawab.
"Ooo pantesan. Soalnya kalau cowok biasanya nggak suka eskrim."
Regan terdiam.
Iya ya. Sejak kapan juga aku makan eskrim? Pergi dengan Mia saja seingatku tidak pernah memakan makanan ini. Batinnya bermonolog.
"Hallo Papa?" Anandita menjawab panggilan sang ayah begitu ponselnya berdering.
"Nggak, sekarang lagi istirahat."
"Istirahat apa?" tanya Arfan dari seberang sana.
"Cuma lagi makan eskrim."
"Sudah makan?"
"Makan tadi udah, tapi kayaknya sekarang lapar lagi."
"Ya makan lagi saja."
"Iya, habis ini makan. Nunggu anak-anak dulu."
"Baik, tapi tetap hati-hati."
"Oke Papa."
__ADS_1
"Regan di mana?"
"Apa? Om Regan? Ada ini di dekat aku."
"Jangan memisahkan diri, Ann."
"Iya, oke."
Lalu percakapan pun selesai.
"Saya tahu kalau Pak Arfan sebenarnya hanya basa basi." Regan berkomentar.
"Basa basi apa?"
"Menelpon untuk memeriksa keadaan."
"Masa?"
"Ya, percayalah."
"Terus maksudnya gimana?"
"Saya curiga ada orangnya Pak Arfan di antara pengunjung di sini." Pria itu menatap lurus ke depan sementara Anandita memeriksa sekeliling.
"Masa ih? Mau ngapain?"
"Memastikan kamu aman."
"Lah, emang aku aman kan?"
"Belum tentu."
"Kan ada Om juga?"
Regan terkekeh sambil membersihkan tangannya dari bekas es krim yang sedikit meleleh.
"Pak Arfan itu bukan orang yang mudah percaya kepada siapa pun termasuk kepercayaannya sendiri. Papamu akan memastikan dengan mengirim beberapa orang untuk mengawasi, jadi …."
"Ah, mata-mata."
"Ya. Kamu tahu soal itu?'
"Tahu lah."
"Terus, kenapa kamu berlagak seolah tidak tahu?"
Regan mengangguk-anggukkan kepala. "Cukup logis."
"Aku juga barusan kirim video pas naik kora-kora ke papa, tapi nggak apa-apa lho. Cuma bilang hati-hati, Ann."
Regan tertawa. "Benarkah?"
"Ya. Mana berani Papa ngomel sama aku?"
"Ya, tapi pasti nanti saya yang kena."
"Jangan takut, Om." Gadis itu menepuk pundak Regan.
"Saya tidak takut. Hanya saja …."
"Papa aku nggak gigit. Cuma kalau ada salah emang agak keras doang orangnya."
"Ya, mudah sekali kamu bicara seperti itu. Tidak ingat waktu saya kena pukul karena dikira sedang melecehkanmu ya?"
Anandita tertawa. "Maaf, Om. Waktu itu kan nggak sengaja. Tapi aku jamin sekarang Papa akan lebih hati-hati. Soalnya udah diomelin Mommy tuh."
"Masa?"
"Iya."
"Hmm …."
"Ayo kita ajak anak-anak cari makan? Kebetulan aku juga udah laper." Anandita bangkit sambil mengirim pesan di grup rumah baca.
"Baik." Regan pun melakukan hal yang sama.
"Anggarannya masih ada?" Sebelumnya gadis itu bertanya.
"Ada kalau untuk makan."
"Oke, kalau kurang nanti aku yang tambahin."
"Oh tidak usah, karena Pak Daryl sudah mengirimkan uang dengan jumlah yang cukup kepada saya."
__ADS_1
"Beneran?"
"Ya."
"Okelah."Â
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tante Nna, kapan sih mau pulang? Kayanya udah kelamaan disini deh?" Anya melahap makanannya yang sengaja mereka bawa dari rumah.Â
Seperti biasa, Daryl membawanya bersama Zenya untuk mengunjungi Nania di klinik.
"Nanti."
"Rumah Opa tuh sepiiiiiiii banget kalau Tante nggak ada. Kayak nggak ada orangnya."
Nania tersenyum. "Kan ada Oma sama Opa." Dia pun menjawab.
"Tetep aja. Oma juga jadinya sering melamun."
"Masa?"
"Serius."
"Kalau gitu, kenapa nggak kamu temenin aja Oma? Kan kasihan mungkin nggak ada temennya."
"Orang Oma nya sendiri yang nyuruh aku ikut Om Der ke sini."
Nania melirik ke arah Daryl yang juga sedang menikmati makanannya.
"Ayo Tante, kita pulang biar rumah jadi ramai lagi?" Zenya ikut berbicara.
"Iya, nanti Tante pikirin ya?" Nania menjawab lagi.
"Jangan dipikirin terus, tapi pulang. Ini kan bukan rumah kita, tapi kok Tante betah amat sih?"
"Mana ada yang betah di tempat kayak gini? Kan tante lagi pengobatan."
"Emangnya Tante masih sakit ya? Kok belum bisa pulang? Belum boleh sama dokternya?"
"Sedikit lagi."
"Kalau sedikit lagi gitu emang belum dibolehin pulang?"
"Harus sampai benar-benar sembuh dulu biar nggak kambuh lagi."
"Hmm … emangnya Tante sakit apa sih?" Dua anak itu terus bertanya secara bergantian.
"Sakit …."
"Ayo cepat selesaikan makannya, Anya. Kita harus segera pulang. Ini sudah sore." Daryl menyela percakapan.
"Emang udah jam lima, Om?" Zenya beralih kepada sang paman.
"Sebentar lagi, dan Tante Nna harus masuk." Pria itu melirik ke arah Nania setelah membaca pesan dari dokter Harsya yang menyatakan jika sebenarnya Nania bisa saja pulang karena keadaannya sudah membaik.
Tapi perempuan itu malah meminta kepadanya untuk menambah masa perawatannya beberapa hari lagi. Dan Daryl memutuskan untuk membiarkannya saja.
"Om bisa minta sama dokter untuk ngizinin bawa Tante Nna pulang nggak sih? Kan kasihan kalau malam disini boboknya sendirian."
Nania tertawa pelan.
"Aku nggak suka kalau bobok sendirian, makanya harus sama Zen terus." Anya dengan segala kepolosannya.
"Itu tidak boleh. Seharusnya kalian sudah tidur terpisah." Daryl kembali menyela.
"Ini juga boboknya pisah. Aku di kasur aku, Zen juga di kasurnya Zen kok, nggak barengan."
"Hah, ada saja jawabanmu. Maksudnya pisah kamar." ujar Daryl sambil memutar bola matanya.
"Iya nanti kalau udah SMP." Anya menjawab lagi.
"Dari sekarang!"
"Kata Mommy juga boleh."
"Harusnya tidak boleh."
"Terserah Om aja lah. Kalau ngomong sama Om suka ribet." ucap Anak itu sambil menyuapkan makanan trakhirnya.
💖
💖
__ADS_1
💖
Bersambung ....