The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pasangan Kasmaran


__ADS_3

💖


💖


Daryl membiarkan saja Nania menekan pinggulnya sehingga milik mereka segera bertautan dengan sempurna. Meski pada awalnya perempuan itu diam terlebih dahulu untuk menyesuaikan diri, namun sejurus kemudian dia segera bergerak di atas tubuhnya.


"Oh … yah … that's it." Pria itu mulai meracau saat merasakan cengkraman Nania pada senjatanya menjadi semakin kuat.


Kedua alisnya tampak bertautan namun salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sedikit seringaian.


Kedua tangannya meremat paha perempuan itu lalu merayap ke bokong dan bermain lebih lama di sana.


"Mmm … Daddy!" Nania pun tak kalah berisiknya seiring gerakan tubuhnya yang begitu intens untuk memuaskan suaminya.


Ritmenya mulai beraturan dan dia sendiri juga sama-sama menikmatinya.


Keduanya saling menatap wajah masing-masing dengan senyum yang perlahan muncul seiring perasaan yang kian menguasai segala apa yang ada dalam diri mereka.


Dada yang indah bergerak-gerak sebelum akhirnya Daryl bangkit dan meraihnya. Menyesap kedua benda itu secara bergantian yang membuat Nania merasakan sensasi hebat merambat ke seluruh tubuhnya.


Namun perempuan itu segera mendorongnya agar dia berhenti karena membuatnya hampir mendapatkan pelepasan. Tidak lucu rasanya jika percintaan ini cepat berakhir jika dirinya mencapai klim*ks ketika baru saja dimulai.


Jadilah, Daryl dalam posisi setengah duduk dengan kedua tangan bertumpu di belakang untuk menahan bobot tubuhnya yang dia biarkan dikendalikan oleh istrinya.


Keduanya sama-sama mendes*h, merasakan hasrat yang terus bergelora. Apalagi menatap tubuh masing-masing yang terus bereaksi setiap kali Nania bergerak dan Daryl yang terus menyentuhnya.


Tubuh perempuan itu meliuk-liuk dan rambut panjangnya berkibar-kibar ke sana-kemari, dan sesekali dia menyugarnya ketika helaiannya sedikit berhamburan menghalangi wajahnya.


"Uuhhh, Daddy!!" Nania mengerang saat Daryl menghujam dari bawah untuk mengimbangi gerakannya, dan seterusnya mereka saling menghentak seirama.


Lalu setelah beberapa saat keduanya sama-sama merasakan pelepasan yang hampir tiba, dan di saat itu pula Daryl memeluk Nania kemudian membalikkan posisi, sehingga kini dia yang mengungkungnya di bawah tanpa melepaskan pertautan.


"Ugh!!"


Dia mengetatkan rahang sehingga giginya terdengar bergemeletuk, sementara hentakan di bawah menjadi semakin cepat.


Pria itu kembali menyentuh bulatan kenyal milik Nania dan wajahnya dia benamkan di belahan dadanya. Membuat perempuan itu terus menggeliat dengan racauan yang semakin lirih.


Hentakan Daryl pun semakin cepat ketika dia merasakan denyutan dibawah menjadi lebih kencang, dan tubuh Nania mengejang dengan erangan keras keluar dari mulutnya. Dan dia pun menekan pinggulnya begitu dalam saat pelepasan juga menghantamnya.


"Aarrgghhh!" Daryl menggeram dengan wajahnya yang terbenam di ceruk leher Nania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu lagi mikirin apa sih pagi-pagi udah melamun?" Nania merangkul pundak suaminya yang sudah siap di meja kerja.


Dia menatap komputernya yang terletak di atas meja dekat jendela yang menghadap ke halaman belakang rumah mereka. 


"Aku sedang mencari ide." Pria itu menjawab.


"Ide apa?"


"Ide untuk launching iklan parfum." Bahkan di Sabtu pagi Daryl tak bisa berdiam diri sebelum pekerjaannya dia selesaikan.


"Oh, belum? Aku kira udah."


"Belum, kan ada masalah pencurian data itu. Sidangnya baru saja selesai." Dia menerangkan.


"Terus kenapa belum diluncurkan? Kan udah beres?"


"Aku ingin mengganti iklan dan semua idenya yang sudah dibuat."


"Lho, kenapa diganti? Kan udah ada, ya tinggal launching aja?"


"Feelingku jadi jelek gara-gara itu, rasanya idenya jadi basi."


"Hmm …."


"Tapi ide apa ya yang bagus untuk iklan barunya? Yang unik, yang mencolok dan menarik perhatian konsumen?" Pria itu meminta pendapat.


Nania menatap layar komputer yang memutar video dari iklan parfum yang dimaksud.


"Kalau belum nemu mendingan biarin dulu. Kita jalan-jalan dulu gitu, siapa tahu nanti setelah pulang jalan-jalan idenya muncul? Kalau diem gini malah jadi mumet."


"Jalan-jalan ke mana?"


"Ke belakang aja, jogging. Mumpung masih pagi." Perempuan itu bergegas mengambilkan sepatu olah raga milik suaminya.


"Ayo Daddy, Kita jogging?" katanya, seraya meletakkan sepatu di dekat kaki pria itu dan dia segera memakaikannya.


"Nania, Daryl, ayo kita …." Sofia muncul di dekat jendela belakang untuk mengajak anak juga menantunya berolah raga seperti biasanya, dan dia menemukan Nania yang sedang membantu Daryl memasangkan sepatunya.


"Iya Ma, sebentar." Sekejap saja dia sudah selesai, kemudian menarik Daryl bangkit dari kursi dan menuntunnya keluar.


Sofia menatap keduanya dengan dahi berkerut dan pikirannya yang buruk kembali berputar, namun dia segera menepis hal tersebut ketika ingat ucapan menantunya.


"Papi mana?" Nania bertanya ketika melihatnya sendirian.


"Menunggu di sana." Sang mertua menunjuk ke arah jalan setapak yang terbuat dari batu alam di mana suaminya tengah menunggu mereka.


"Kak Dim sama Kak Dygta belum nganter anak-anak hari ini ya, tumben?" Mereka berjalan ke arah Satria.

__ADS_1


"Iya. Dimitri ke Bandung, sedangkan Arfan mengajak Dygta dan anak-anak ke Solo." Sofia menjawab.


"Oh pantes. Semuanya ikut?"


"Iya. Galang dan Ara juga."


"Wah … Emang ada acara ya?"


"Tidak ada. Hanya kunjungan biasa saja."


"Hmm … Darren dan Kak Kirana?"


"Kabarnya nanti siang mereka ke sini, Kirana ada janji dengan klien."


"Hari Sabtu masih menerima klien? Mana lagi hamil pula?"


"Ya selagi masih bisa kenapa tidak? Yang penting tidak membahayakan kehamilan kan?"


"Iya juga sih." Dua perempuan itu terus berbincang sepanjang perjalanan sementara dua pria di depan juga sama asyiknya dengan obrolan mereka.


"Mama, aku kok belum hamil-hamil? Apa ada yang salah ya?" Nania sedikit berkeluh-kesah.


"Apanya yang salah?" Sofia menanggapi.


"Nggak tahu, tapi masa udah lima bulan nikah masih gini-gini aja?"


"Memangnya ada sesuatu yang kamu rasakan? Sakit atau badan kamu tida enak misalnya?"


"Nggak sih, biasa aja."


"Lalu bagaimana dengan tamu bulananmu?"


"Lancar setiap bulan."


"Ada keluhan?"


"Cuma kram sama mules-mules biasa."


"Selain itu?"


"Nggak ada."


"Bulan ini sudah?"


"Udah, baru beres senin kemarin."


Sofia terdiam sebentar.


"Apa?"


"Mungkin gayanya yang kurang."


"Gaya apa?"


"Ah, jangan pura-pura tidak mengerti, lima bulan itu cukup lama bagi pasangan suami istri untuk mengeksplor banyak hal." Sofia menyenggol Nania sambil tertawa sehingga membuat menantunya itu tersipu malu kala dia mengerti maksud dari ucapan mertuanya.


"Kamu tahu, adanya banyak gaya dalam hubungan suami istri itu bukan tanpa alasan atau hanya menambah sensasi semata, tapi ada gunanya juga lho."


"Masa?" Nania tertawa.


"Iya. Kalau tidak percaya coba saja sendiri. Eh, memangnya sudah berapa gaya yang kalian praktekan? Masa hanya itu-itu saja?" Sofia berbicara tanpa rasa malu sedikitpun.


"Mama ih, kok ngomongnya gitu amat?" Wajah Nania semakin memerah dibuatnya.


"Eh, ini obrolan bagus tahu?"


"Tapi aku malu dengernya juga?" Nania menutup kedua telinga dengan tangannya.


"Kenapa malu? Ini bermanfaat untukmu." Perempuan itu menarik sebelah tangan menantunya.


"Seharusnya kalian …."


"Stop Mah, aku nggak mau denger lagi ah, malu!!" Nania kemudian menghentikan ucapannya.


"Dengar dulu Nna!"


"Nggak mau." Sang menantu tertawa terbahak-bahak.


"Eh, rugi kamu kalau tidak mendengarkan Mama!" ujar Sofia.


"Iya iya iya, nanti aja ngobrolnya. Kita kan lagi jogging." Nania masih saja tertawa. Dia tidak percaya membicarakan hal seperti ini dengan mertuanya.


"Hey kalian! Kenapa lambat sekali?" Daryl berteriak dari arah hutan mini di depan sana.


"Sayang, lihatlah. Bunga tulipmu sudah bermekaran." Satria melakukan hal yang sama.


"Benarkah? Tulipnya sudah berbunga?" Sofia mempercepat langkahnya.


"Ya, mereka cantik sekali." 


"Wahhh … benar! Aku tidak menyangka benihnya tumbuh dengan baik di sini? Bukankah ini bagus?"

__ADS_1


"Tentu saja, kamu merawatnya dengan baik kan? Pasti tumbuh dengan baik juga." Mereka tiba di area tengah yang ditumbuhi bermacam-macam bunga.


"Oh … indah sekali. Padahal tadinya aku mau minta jalan-jalan ke Belanda seandainya mereka tidak berbunga." Sofia berujar.


"Hubunganya apa dengan Belanda?" Daryl menyela percakapan orang tuanya.


"Ya mau lihat bunga tulip bermekaran. Kalau tidak salah, bulan ini kan musim bunga di sana, ya Papi?" Sang ibu menjawab.


"Iya."


"Duh, mau lihat bunga saja sampai mau ke Belanda? Tidak salah?" ucap sang putra.


"Tidak, karena memang waktunya istimewa ketika bunga tulip bermekaran. Kamu akan melihat semua warna dan jenis yang tumbuh di satu tempat dan mereka mekar bersamaan. Bayangkan betapa indahnya bunga-bunga itu." Sofia membayangkan di dalam kepalanya.


"Ah, aku rasa ini saja sudah cukup, jadi tidak usah pergi ke Belanda juga kan?" ucap Daryl lagi yang menunjuk bunga-bunga tersebut.


"Iya, memang." Sofia mengamini.


"Tapi jika kamu mau ya tidak apa-apa. Kita pergi saja?" Namun Satria menyahut.


"Apa?"


"Ya, bukankah itu jarang terjadi? Mungkin akan ada lagi tahun depan?"


"Aaah, tidak usah. Ini jugs cukup, Sayang." jawab Sofia meski di dalam hatinya ia juga berharap.


"Kenapa tidak? Ayolah kita pergi ke Belanda  nanti siang?"


"Apa?"


"Yang benar saja?" Daryl bereaksi mendengar ucapan sang ayah.


"Memangnya kenapa?"


"Itu Belanda, Pih. Bukan ke Bandung." ucap sang putra.


"Ya, lalu?"


"Papi yakin mau pergi?"


"Yakin. Memangnya kalian saja yang bisa pergi? Papi juga bisa."


Daryl tertawa terbahak-bahak.


"Jangan mengejek kau ya, anak muda!! Sebelum kamu bisa terbang kemanapun, papi mu ini yang mengawali semuanya!" Satria membusungkan dada.


"Ya ya ya." Sang anak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah Sayang, setelah ini kita bersiap-siap untuk pergi ya?" Lalu Satria menghubungi Galang.


"Ya, minta tolong pesawat disiapkan untuk penerbangan ke Belanda ya?"


"Hari ini, Pak?" jawab Galang dari sebrang.


"Kira-kira lewat tengah hari."


"Baik, Pak. Saya urus sekarang."


"Terima kasih, Galang. Dan maaf sudah mengganggu liburanmu."


"Tidak apa-apa, Pak. Sudah tugas saya."


"Baik." Panggilan pun diakhiri.


"Papi serius?" Daryl tertawa lagi.


"Memangnya kamu pernah melihat Papi tidak serius?"


Sang putra kini terdiam, sementara Sofia menghambur untuk memeluknya.


"Aaaa, Sayang! Padahal tidak usah, tulip di sini juga bagus kenapa harus terbang ke Belanda?" Dia berujar padahal hatinya berbunga-bunga.


"Sesekali kita pergi juga kan bagus?" Satria menjawab.


"Hmm … kamu manis sekali!!!" Perempuan itu benar-benar memeluk suaminya, sehingga membuat pria itu tersenyum bangga. Sementara pasangan muda di dekat mereka sama-sama mengerutkan dahi.


"Jangan dekat-dekat pasangan yang sedang kasmaran. Nanti kamu tidak akan dianggap." bisik Daryl yang menarik tangan Nania untuk menjauh.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Duh, yang tua pun nggak mau kalah ya? 😂😂😂😂


Selamat malam mingguan gaess, jangan lupa like komen sama hadiahnya ya?


Alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2