The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Ibu Dan Anak


__ADS_3

💖


💖


Nania menatap bangunan yang cukup tinggi, yang diketahui tempat ibunya tinggal. 


Setelah pergi ke tempat Mirna bekerja di sebuah losmen tak jauh dari rumah bacanya, perempuan itu bergegas meminta pengemudi ojek online menggantarnya ke tempat tersebut.


Tanpa disangka dia bisa dengan mudah keluar lewat pintu belakang gedung tempatnya sekolah. Meski terlihat ada yang berlalu lalang di sana, yang kemungkinan adalah merupakan orang suruhan Daryl atau Regan, tapi dengan percaya dirinya Nania mampu melewati mereka. Tentunya karena penyamaran ini yang memang membuatnya tak bisa dikenali jika tak benar-benar jeli.


Dan meski perempuan itu sempat merasa ragu dan sedikit ketakutan, namun pada kenyataannya dia berhasil juga.


Lalu di sinilah dia, di depan pintu unit yang ditinggali Mirna dengan Hendrik. Dan ini kedua kalinya Nania mendatangi tempat itu meski kali ini hanya sendiri.


Dia memeriksa beberapa hal untuk berjaga-jaga dari kemungkinan serangan berbahaya, namun tempat itu memang sepi. Hanya segelintir orang saja yang tadi terlihat di bawah dan mereka tampak tak peduli.


Nania mengetuk pintu pelan-pelan, namun tak ada jawaban. Dia sempat ragu dengan keberadaan ibunya, tapi sekali lagi tetap akan berusaha meyakinkannya.


"Bu?" Nania kembali mengetuk pintu dan kali ini lebih keras.


"Ini Nania, Bu. Ibu ada di dalam?" ujarnya, lalu menempelkan telinga pada daun pintu.


"Bu?" panggil Nania lagi. "Ini Nania. Apa ibu …."


KKLEKK!


Suara kunci terdengar di buka, lalu pintu perlahan tertarik dari dalam hingga tercipta sedikit celah.


"Bu?" Dan Nania mendorongnya setelah melihat bayangan ibunya.


"Siapa?" Suara perempuan itu terdengar parau.


"Aku nunggu Ibu, kenapa nggak ada kabar?" Nania berusaha untuk masuk.


"Si-siapa?" Mirna tergagap karena ada orang asing dengan penampilan mencurigakan berusaha masuk ke tempat tinggalnya. Sehingga dia hampir kembali menutup pintu.


Nania melepas masker dan membuka topi juga kerudung pada hoodienya sehingga sang ibu bisa mengenalinya.


"Nania?" Mata Mirna sedikit membulat mendapati putrinya yang berada di sana.


"Kenapa Ibu nggak ngasih kabar? Aku nunggu setiap hari?" tanya Nania lagi.


"Kenapa kamu ada di sini? Dengan siapa?" Mirna setengah berbisik lalu dia melebarkan celah pintu.


"Sendiri."


"Sendiri?" Perempuan itu menatap keluar unitnya dan memang dia tak menemukan siapa pun selain putrinya.


"Kenapa kamu malah datang ke sini? Berbahaya, Nania!!" Lalu dia bereaksi.


"Ibu nggak ngasih kabar, bikin aku khawatir."


Mirna tertegun menatap putrinya. Dan tiba-tiba dia merasa kedua matanya memanas. Dadanya terasa sesak dan hatinya ngilu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nania.


Bahkan setelah semua hal buruk yang dia lakukan, sang anak masih mengkhawatirkannya. Dan setelah ini apakah dirinya masih pantas atas semua kebaikannya? 


Buliran bening meluncur begitu saja dari netra Mirna, dan tiba-tiba saja dia memeluk Nania dengan erat. Kali ini pelukan yang begitu hangat dan penuh kasih sayang.


"Bu?" Sementara Nania mengerutkan dahi.


"Sebaiknya kamu pergi, Nna." bisiknya, lalu dia memundurkan kepala.


"Apa?"

__ADS_1


"Disini berbahaya apalagi kamu sendirian. Hendrik ada di rumah."


Nania memindai wajah sang ibu yang babak belur. Sudut matanya lebam membiru dan matanya bengkak. Bahkan ada luka kecil di dagu yang dia yakini mungkin bekas benturan.


"Om Hendrik mukulin Ibu?" tanya nya.


"Itu tidak penting, sekarang lebih baik kamu pergi. Selamatkan dirimu!" Mirna mendorongnya mundur.


"Bu?"


"Pergi Nania, atau dia akan …."


Terdengar dehaman dari dalam kamar mandi.


"Pergi, dia tidak akan melepaskanmu jika …."


"Nggak, kalau ibu nggak ikut aku!" Nania menarik ibunya.


"Tidak, kalau Ibu ikut kamu dalam bahaya. Jadi sebaiknya …."


"Kita akan aman, percayalah."


"Tidak. Kamu tidak tahu bagaimana Hendrik."


"Ibu juga nggak tahu gimana suami aku. Percayalah, Bu. Kita akan aman. Semua orang bakal jagain kita dan ibu …."


"Mirna!" Hendrik yang keluar dari kamar mandi pun memanggil.


"Pergi, Nna! Lari!" Mirna melepaskan genggaman tangan anaknya.


"Tapi Ibu harus ikut aku!"


"Tidak bisa, nyawamu dalam bahaya. Dan cucu ibu …." Perempuan itu menyentuh perut Nania. "Kalian harus selamat, cepat pergi sebelum Hendrik menemukan …."


DEG!! 


Nania merasa dadanya seperti meledak ketika dia mengingat hal itu.


"Pergilah, Ibu akan menahannya di sini. Dia akan diam jika Ibu tak pergi. Hanya jangan kembali lagi sampai kapanpun. Kamu harus selamat." Mirna kembali mendorong Nania menjauh, lalu dia segera menghampiri suaminya.


"Tidak apa-apa, dia hanya mau menemuiku. Tidak usah dipermasalahkan." Perempuan itu berujar.


Dia lantas mendorong Hendrik masuk dan berusaha meredam apa yang mungkin akan terjadi.


"Ibu benar-benar memilih Om Hendrik daripada aku?" Nania berteriak dari tempatnya berdiri.


Dia tak rela melihat ibunya seperti itu.


"Ibu tahu sebenarnya aku adalah pilihan terbaik. Tapi nggak tahu kenapa ibu lebih memilih dia yang udah bikin kita sengsara."


Mereka tertegun.


"Aku tahu ibu udah sadar, tapi nggak percaya kenapa masih begini? Kalau alasan ibu soal keselamatan, aku bisa pastikan kalau kita akan baik-baik aja. Se nggaknya kita jauh dari orang seperti dia!" Nania menatap tajam ke arah Hendrik.


Pria itu yang telah menghancurkan rumah yang dia miliki bersama kedua orang tuanya. Memporak-porandakan keluarga dan memisahkan dia dengan ibunya. Dan dengan seenaknya mengambil segala hal yang mereka miliki dan menguasai kewarasan Mirna.


"Aku nggak terima Om bikin ibu kayak gitu!" katanya yang merogoh ponsel di saku hoodie kemudian menyalakannya.


Dia lantas melakukan panggilan ke nomor Regan.


"Ayo Bu, jangan bertahan lagi. Bukan cuma aku yang harus selamat, tapi Ibu juga." Nania kembali mendekat.


"Dia cuma mau ngerusak Ibu, jadi jangan biarkan lagi!" Nania hampir mendapatkan Mirna, namun perempuan itu bergegas mendorong Hendrik masuk.

__ADS_1


"Berani-beraninya anak itu bicara …."


"Bu!!" Namun Nania menendang pintu sehingga benda itu terbuka dengan keras.


"Hendrik, aku sudah memutuskan …." Tubuh perempuan itu bergetar.


Otak dan hatinya berperang dan kini tengah berjuang untuk menentukan pilihan. Dia berusaha untuk menjadi selogis mungkin setelah mengingat semua yang telah terjadi. Dan ucapan Nania memang ada benarnya.


"Aku ikut Nania," lanjutnya seraya menarik tas yang memang sudah dipersiapkan dibawah meja. Sebagai antisipasi kalau-kalau putrinya datang menjemput. Dan mungkin inilah waktunya, bukankah dia menjamin keselamatannya?


"Apa?"


Mirna segera berlari ke arah pintu di mana Nania berada, dan mereka bergegas keluar dari unit tersebut.


"Mirna!!" Pria itu berteriak.


"Lari Nna, dia akan mengejar kita." Mirna menarik sang putri.


Nania merasa sedikit lega, dan dia pun menuruti ucapan ibunya.


Namun Hendrik tak tinggal diam. Meski dia tertegun tapi otaknya berputar. Dan pria itu hampir mengejar ibu dan anaknya tersebut ketika dia melihat sebuah kursi kayu di dekat pintu.


Lalu tanpa pikir panjang pria itu menarik benda tersebut dan menyeretnya keluar, kemudian di detik berikutnya dia melemparnya dengan keras dan tepat mengenai sasaran.


BRAAKKK!!


Dan punggung Mirna lah targetnya sehingga perempuan itu jatuh ke lantai.


"Ibu!!" Nania berhenti.


Mirna berusaha bangkit saat Nania kembali dan membantunya. Namun dia menjerit saat Hendrik pun mendapatkannya.


Pria itu menarik rambutnya dan terjadilah peristiwa tarik menarik itu.


"Lepas, ini ibu aku!" Nania berusaha merebut ibunya.


"Kau tidak ada hak!" Hendrik menggeram.


"Tahu apa kamu soal hak? Kewajiban saja tidak kamu jalani dengan benar. Dan sekarang kamu bicara soal hak kepadaku?" Nania berteriak, kemudian dia menendang Hendrik sehingga cengkeramannya pada rambut Mirna terlepas.


Dia kembali menarik sang ibu yang kembali ambruk di lantai. Sementara ponselnya menyala ketika Regan memanggil.


"Ayo Bu, bisa bangun?" Nania berjongkok ketika Mirna menolak untuk bergerak.


Punggungnya terasa sakit akibat benturan dan sepertinya dia tak akan sanggup.


"Pergilah, Nna. Selamatkan dirimu."


"Nggak! Nanti ada Regan yang jemput. Kita pasti selamat!" Nania menoleh ketika ada pergerakan di depan di mana Hendrik bangkit.


"Ayo Bu!!" Dia menarik agar sang ibu bangkit namun tetap tak bisa. Tubuh Mirna terlalu lemas setelah beberapa hari didera siksaan dari Hendrik.


"Kurang ajar!" Pria itu dengan langkah cepat kembali menghampiri mereka. Dan dengan amarah yang besar membakar dada.


"Perempuan tidak berguna!" katanya, dan dia meraih sebatang kayu yang tergeletak di lantai, sisa dari kursi yang terlepas akibat dia lemparkan.


Lalu tanpa aba-aba Hendrik mengangkat kayu tersebut dan bermaksud mengkhatamkannya pada tubuh Mirna. Namun ketika hal itu terjadi, Nania malah maju dan menjadi tameng bagi tubuh lemah ibunya. Sehingga hantaman keras kayu tersebut mengenai dirinya.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2