The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Cerita Kehamilan


__ADS_3

💖


💖


Satria dan Sofia menahan tawa saat melihat raut wajah putranya yang tak karuan. Penyebabnya apa lagi kalau bukan perkara minyak telon dan produk perawatan bayi yang wanginya menguar memenuhi rumah.


Bagaimana tidak, Nania kembali memaksanya untuk menggunakan benda tersebut padahal hari ini dia harus bekerja.


"Kamu kan anterin aku sekolah. Nanti dijalan aku bakal nyium aroma bau parfum kamu yang bikin mual itu, terus aku muntah-muntah. Mau begitu?" ucap Nania saat pria itu menolak keinginannya.


"Tapi aku mau bekerja, masa harus pakai pakai itu? Yang benar saja! Kamu bilang hanya dirumah?" protes Daryl yang terus menepis tangan Nania.


"Ya kan ini masih di rumah?" jawab istrinya itu.


"Tapi aku mau bekerja, Malyshka!! Dan lagi hari ini aku ada pertemuan dengan orang dari pusat furnitur." Daryl sedikit membentak, membuat Nania terdiam sebentar.


"Oh ya udah." Perempuan itu memasukkan botol minyak telon ke dalam pouch, lalu meraih ponselnya di nakas.


"Hey, mau apa kamu?" Daryl menghampirinya sambil mengenakan kemejanya.


"Mau telfon Regan." jawab Nania yang mencari kontak pria yang dimaksud.


"Kenapa menelfon Regan?" Daryl menghentikan kegiatannya.


"Mulai sekarang dia aja yang antar aku ke sekolah biar kamu nggak harus repot-repot." katanya ketika panggilan dilakukan.


"What? Aku tidak repot, aku hanya tidak bisa menggunakan produk bayi karena harus bekerja!" Pria itu berusaha menjelaskan.


"Iya, tahu. Kalau gitu biar Regan aja."


"Maksudnya?"


"Biar dia yang gantiin kamu pakai minyak telon."


"Kenapa Regan juga harus pakai minyak telon?"


"Karena wanginya nggak terlalu jauh beda dari kamu. Biarpun aku duduknya di belakang, tapi tetep aja baunya kecium, kan?" Dia menempelkan ponsel di telinga, namun Daryl cepat merebutnya.


"Kamu pikir dia akan mau melakukannya?"


"Ya tinggal bilang kalau aku lagi hamil, terus kamu minta dia pakai minyak telon biar nggak muntah-muntah. Regan pasti nurut. Eh, Regan tahu nggak sih kalau aku lagi hamil?" Lalu Nania merebut kembali ponselnya.


"Entahlah, mungkin tahu."


"Ya udah, berarti gampang. Dia pasti ngerti kalau aku jelasin." Dan suara jawaban Regan terdengar ketika panggilan sudah tersambung.


"Hallo?" 


"Regan?"


"Ya? Kamu udah tahu belum?" Nania segera bertanya.


"Tahu soal apa?"


"Aku hamil!" Nania dengan riang gembira.


"Apa?" Regan setengah berteriak.


"Haih, kenapa seperti sedang memberi tahu suamimu kalau kamu sedang hamil?" Lalu Daryl lagi-lagi merebut benda pipih itu dari istrinya.


"Ya kan biar dia tahu?" Dan perempuan itu berusaha kembali merebutnya.


"Tidak perlu!" Daryl segera mematikan sambungan lalu dia melemparkan ponsel ke atas tempat tidur.


Dia lantas melepaskan kemejanya kemudian duduk di sofa.


"Cepatlah lakukan! Jangan sampai aku terlambat bekerja!" katanya, yang bersiap menuruti keinginan istrinya.


"Lakukan apa?"


"Pakaikan aku minyak telon dan benda-benda itu! Enak saja, masa istriku yang hamil tapi pria lain yang melakukan keinginannya? Konyol sekali!" ucapnya dengan raut kesal.


"Beneran?" Nania dengan wajah sumringah.


"Ya. Cepat!!" ucap pria itu lagi, dan Nania segera melakukan apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


Membaluri minyak telon, memakaian hair lotion, baby cream, dan baby lotion pada suaminya. Tidak lupa terakhir memberinya baby cologne untuk membuatnya lebih wangi lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mau aku bekali tidak?" tanya Daryl saat mereka tiba di depan gedung sekolah.


"Mau." Nania mengangguk sambil menengadahkan tangannya. "Seratus ribu ya?" katanya.


"Kenapa banyak sekali? Biasanya hanya lima puluh?" Pria itu menarik selembar uang kertas berwarna merah lalu memberikannya kepada Nania.


"Kan mau beli coklat buat anak-anak?" jawabnya.


"Oh iya, aku lupa." Lalu dia menambahnya lagi satu lembar uang tersebut.


"Kok lebih banyak?"


"Biar kamu bisa beli lebih banyak coklat, dan lebih banyak anak yang kamu beri."


Nania tersenyum.


"Sana, aku tidak akan mengantarmu sampai ke dalam." Daryl membuka kunci otomatis pada pintu mobilnya.


"Nggak usah, aku sendiri juga bisa." Dan perempuan itu cepat menghambur untuk mengecup sudut bibir suaminya. "Sekolah dulu ya?" katanya.


"Ya. Hati-hati, kamu nggak sendirian sekarang." Pria itu mengingatkan.


"Oke." Nania segera keluar dari mobil, dan tak lama setelahnya Daryl pun pergi.


Dan perempuan itu hampir memasuki gedung ketika seseorang memanggilnya dari belakang.


"Nania!!"


"Ya?" Dia pun berbalik dan menemukan Regan ada di sana.


"Regan? Ngapain kamu di sini?" Nania sedikit menjengit. Dia merasa heran mengapa bawahan suaminya ada di sana.


Pria itu mendekatinya.


"Ada masalah apa?" Nania mundur beberapa langkah.


"I-iya."


Regan terdiam sebentar.


"Bagus kan? Tadinya aku pikir aku nggak bisa punya anak, eh … tahunya bisa. Hahaha." Dengan polosnya Nania tertawa.


"Anak Pak Daryl kan?" Dan dengan konyolnya Regan bertanya.


"Kamu ini ngomong apa? Ya iyalah anaknya Pak Daryl, masa anak satpam sekolah? Sembarangan!" jawab Nania.


"Terus, kenapa tadi pagi kamu menelfon saya dan memberitahu kalau kamu hamil?" Pria itu bertanya lagi.


"Eee … soal itu …."


"Saya kaget!" Regan tertawa. "Tidak merasa pernah berbuat seburuk itu tapi ada perempuan yang mengaku hamil. Istri atasan lagi? Hahaha!"


"Dih? Dia salah faham?" Nania menggumam.


"Ya bagaimana tidak salah faham? Tiba-tiba saja kamu telfon saya dan mengatakan kalau kamu sedang hamil? Ya saya kaget?"


"Hmm."


"Ya sudah, kalau begitu saya pergi." pamit pria itu yang memutar tubuh kemudian pergi.


"Dih? Datang cuma mau tanya itu doang? Aku pikir dia tahu?" Nania bergumam, lalu dia melanjutkan langkah dan bergegas masuk menuju ruang kelasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pagi Pak?" Dinna berdiri begitu atasannya tiba.


"Pagi. Jam berapa pertemuan dengan pihak furnitur?" Daryl segera memasuki ruangannya diikuti oleh sang sekretaris.


"Jam sepuluh, Pak. Barusan pihak mereka mengubah jadwal."


"Begitu ya? Baik."

__ADS_1


Dinna tertegun dan dia sedikit mengendus-endus ketika indra penciumannya menangkap aroma yang lain dari biasanya.


Bau bayi. Batinnya.


"Apa lagi? Kamu menciumnya juga kan?" ujar Daryl yang menyadari sikap sekretarisnya.


"Umm …."


"Nania tidak kuat dengan bau parfum, jadi dia memintaku memakai ini."


"Maaf Pak?"


"Ah, … aku belum memberitahumu kalau dia hamil ya?" Pria itu menjatuhkan bokongnya di kursi kerja.


"Nania hamil?" Dinna membeo.


"Ya. Baru tiga minggu."


"Wah, selamat Pak, selamat. Jadi pingsan kemarin di acara launching itu karena hamil ya?"


"Hmm …."


"Itu kabar baik, Pak. Saya akan memberi tahu semua karyawan."


"Yeah, terserah kamu lah."


"Terus apa hubunganya dengan wangi bayi ini? Saya kok merasa lucu ya? Apa Nania ngidamnya ini?" Dinna sedikit tertawa.


"Lucu kepalamu! Ini sangat konyol!" Daryl mendelik kesal. "Setiap berdekatan denganku dia selalu muntah parah. Katanya wangi parfumku membuatnya mual. Lagipula, kenapa perempuan hamil bisa seperti itu? Aneh sekali."


Dinna tertawa lagi.


"Masa aku mau bertemu klien dengan penampilan dan bau bayi baru lahir seperti ini?" Daryl menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kenapa Bapak tidak ganti baju saja?" Dinna dengan idenya.


"Tetap saja, badanku kan dibalur minyak telon, rambutku juga dipakaikan baby hair lotion."


"Mandi lagi saja, Pak." ucap Dinna.


"Mandi lagi?"


"Ya. Mandi lagi, dan berdandan lagi seperti yang biasanya Bapak lakukan. Nania kan tidak akan tahu. Seharian ini Bapak bekerja sedangkan dia ada di rumah."


"Dan setelah selesai bekerja nanti aku pakai lagi pakaian yang aku pakai dari rumah, begitu?"


"Ya, begitu juga bisa kalau tidak repot."


Daryl terdiam sebentar.


"Ah, idemu bagus juga." Lalu dia bagkit. "Cepat bawakan aku pakaian dan perlengkapan lainnya!" katanya, seraya melepaskan jasnya.


"Sekarang, Pak?"


"Ya, mau kapan lagi? Pertemuannya jam sepuluh kan? Mumpung masih ada waktu." jawabnya, dan dia melenggang ke arah toilet di ujung ruangan.


"Umm …."


"Cepat, Dinna! Aku mau mandi sekarang. Nanti letakkan saja pakaiannya di meja." Pria itu sudah masuk ke dalam sana.


"Baik, Pak." Dinna pun segera menghambur keluar untuk melaksanakan perintah atasannya.


"Astaga!! Aku lupa, kenapa malah memakai kemeja!" Daryl bergumam saat dia sudah berada di dalam toilet. Lalu tak lama kemudian terdengar suara seperti sesuatu yang disobek.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Selamat hari vote gaes!!


Alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2