The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Malam Minggunya Ann


__ADS_3

💖


💖


"Hufftthhh …." Anandita menelungkupkan wajahnya di atas meja.


Ponselnya dia permainkan tapi raut wajahnya terlihat tidak senang.


"Kamu … baik-baik saja?" Dengan terpaksa Regan bertanya karena gadis itu duduk di tempat dia berada.


"Jadi kambing conge itu ternyata beneran nggak enak," jawabnya dengan nada kesal.


"Kambing conge?" Regan mematikan ponsel lalu memasukkannya ke dalam saku jas.


"Lihatin orang pacaran." Anandita melirik kepada pria yang duduk di depannya itu.


"Orang pacaran?" Regan mengulang apa yang diucapkan gadis itu.


"Tuuuhhh …." Dan Anandita mengerucutkan mulutnya, sambil menoleh ke arah samping di mana Daryl dan Nania berada.


Dua sejoli itu duduk di kursi taman di pinggir pantai menatap langit senja yang merona jingga kemerahan. Tampak Daryl yang merangkul pundaknya dan Nania menyandarkan kepala padanya. Terdengar pula candaan Daryl atau celotehan manja Nania, dan sesekali mereka tertawa bersama.


Dan sudah dua jam mereka berada di pantai tersebut sejak usai menonton film di sebuah bioskop terkenal dan makan sebentar.


"Mereka beneran pacaran! Huh, aku kan jadi iri!" katanya, yang kemudian membuang muka ke arah lain.


Lalu terdengar tawa keluar dari mulut Regan, membuat Anandita menoleh lagi kepadanya.


"Emang ada yang lucu ya?" Gadis itu mengangkat kepalanya.


"Siapa suruh kamu ikut? Kalau tidak yang tidak akan melihat hal-hal terlarang. Ini seharusnya hanya untuk orang dewasa."


Anandita mencebikkan mulutnya.


"Sudah hampir malam, mau saya antar pulang sekarang?" Regan melihat jam tangannya.


"Emang Om Der nggak akan pulang ya?"


"Saya rasa tidak akan, mereka pacarannya belum selesai." Pria itu menjawab.


"Lama amat? Om sering ya nganter mereka pacaran kayak gini?" Dan percakapan itu pun akhirnya dimulai.


"Lumayan."


"Nggak risih apa sering lihat orang pacaran?"


"Sudah tugas saya. Lagipula saya tidak pernah memperhatikan mereka karena biasanya saya menunggu di tempat lain kalau mendapat tugas seperti ini. Jadi tidak akan merasa risih."


"Heleh, terus kenapa kita malah ngikutin mereka melulu? Bukannya pergi juga ke tempat lan gitu biar nggak usah lihat mereka yang lagi pacaran?"


"Tidak mungkin."


"Kenapa nggak mungkin?"


"Kamu ini keponakannya bos saya, masa saya ajak kamu ke tempat lain? Bisa dipecat saya."


"Ihh … kan cuma biar nggak lihat mereka gitu lho."


"Percuma, pengawasan Pak Arfan justru lebih berbahaya dari Pak Daryl."


"Apa hubunganya sama Papa?"


"Ada lah pokoknya." Regan tidak akan lupa dengan apa pun yang diketahuinya sejak masuk ke lingkaran perusahaan sebesar Nikolai Grup yang juga masih terhubung dengan beberapa bidang usaha milik keluarga Arfan Sanjaya.


Dan yang paling terkenal dari itu semua adalah tentu saja tokoh utamanya, siapa lagi kalau bukan menantu pertama sekaligus mantan asisten pemilik Nikolai Grup itu sendiri. Yakni Arfan Sanjaya.


Bukan hanya sepak terjangnya ketika mendampingi Satria yang selalu menjadi kiblat setiap pegawai, tapi semua pegawai seperti dirinya tahu bagaimana dia bertindak.


"Hmm …." Anandita terdiam sebentar, begitu pun dengan Regan.


"Biasanya kalau mereka pacaran sampai jam berapa? Ini kan udah mau malam? Masa nggak pulang ke rumah?" Lalu gadis itu berbicara lagi, membuat tawa pecah dari mulut Regan.


"Kamu tidak akan mengerti kalau pun saya jelaskan. Itu urusan orang dewasa."


"Dih, aku juga sebentar lagi dewasa loh Om." Gadis itu menegakkan tubuhnya.


"Belum, kamu masih remaja."


"Aku udah 17 tahun. Arkhan aja udah dikasih izin bawa motor sama papa."


"Itu tidak merubah kenyataan kalau kamu memang masih remaja."


"Hiiihh …."


"Ya masa saya menyebut kamu wanita dewasa? kan tidak sesuai fakta? Dan lagi jangan panggil saya Om. Umur saya masih dibawah Pak Daryl, tahu?"


"Itu juga nggak merubah kenyataan kalau kamu tuh kayak om-om." Anandita membalikkan ucapannya, membuat Regan memutar bola matanya.


Sabar, sabar. Dia kan keponakan bos, jadi sudah pasti kelakuannya mirip pamannya. Ingat Regan, kau dibayar untuk ini. Batinnya.


"Hey, Regan!" Daryl menoleh mendengar percakapan di antara keponakan dan bawahannya itu.


"Ya Pak?" Dan pria itu segera meresponnya.


"Antarkan Anandita sekarang, aku pusing karena Om Arfan terus menelfon," ucap Daryl yang memang mematikan ponsel setelah menerima panggilan telfon dari kakak iparnya yang menyuruhnya untuk segera memulangkan Anandita.

__ADS_1


"Baik. Dan setelah ini saya bisa langsung pulang?"


"Ya, pulanglah. Aku tidak akan menggangumu sampai seharian besok. Kau bisa istirahat, atau apa pun." Daryl menjawab.


"Baik, kalau begitu saya pamit?"


Daryl menganggukkan kepala.


***


"Sebentar, aku mau ini!" Anandita menarik ujung bagian belakang jas Regan ketika dia melihat stand makanan di sepanjang jalan menuju pintu keluar pantai yang pada malam itu memang cukup ramai.


"Tapi kita harus segera pulang." Pria itu berhenti berjalan.


"Cuma beli itu aja." Namun Anandita segera menghampiri penjual jajanan bertuliskan takoyaki.


"Ini beneran takoyaki?" dengan polosnya gadis itu bertanya.


"Betul Kak, silahkan." jawab si penjual yang menunjukkan kertas menu kepada Anandita.


"Waaahh … beneran ada?" Mata gadis itu tampak berbinar melihat gambar-gambar tersebut.


Dia memang penyuka makanan khas negeri sakura tersebut, terutama jajanannya.


"Aku mau takoyaki, sama tempura!" katanya setelah beberapa saat memilih.


Kemudian si pedagang membuatkan pesanan tersebut. 


Dan tanpa menunggu lama, jajanan itu sudah Anandita terima dan dia tampak kegirangan.


"Asiik!!" katanya yang segera menusuk makanan di dalam bowl itu, lalu melahapnya dengan penuh kegembiraan.


"Mmm … Enak!!" katanya, lalu dia meneruskan langkah sementara Regan mengikuti di belakang setelah membayar makanan tersebut.


"Aku mau ini …."


"Aku mau yang itu!"


"Itu juga kayaknya enak, beli ahh …."


"Eh, tunggu? Ini juga mau!!" Anandita seperti lupa dengan tujuannya saat itu. Dia malah semakin masuk ke kerumunan orang yang di dalamnya terdapat banyak stand makanan. Sepertinya di pantai itu memang sedang ada acara?


"Waaaahhhh …." Dia terkagum-kagum dengan keramaiannya.


Seumur hidupnya hingga dia sebesar itu, belum pernah mendatangi tempat seramai ini kecuali acara pernikahan atau pesta yang diadakan oleh keluarga atau kerabatnya, dengan tamu-tamu eksklusif tentunya dan pasti selalu bersama orang tua dan keluarga besarnya.


"Ann?" panggil Regan ketika dia merasa jika gadis ini sudah terlalu jauh.


"Seruuuu!!" Namun Anandita tidak merespon.


"Anandita?" panggil pria itu lagi.


"Ya … ngomong-ngomong soal Papa, sebenarnya … ini ada panggilan dari Pak Arfan." Regan menunjukkan layar ponselnya, di mana kotak Arfan memanggil.


Anandita tertegun.


"Saya harus menjawabnya. Karena kalau tidak, maka dalam waktu setengah jam saya akan dipecat." ujar pria itu.


"Hah? Kenapa?"


"Karena saya dengan sengaja tidak menjalankan tugas yang diperintahkan atasan."


"Duh?"


"Jadi …."


"Ayo ke sana!" Anandita meraih pergelangan tangan Regan kemudian menariknya sambil berlari keluar dari kerumunan acara festival mingguan itu.


"Sekarang, jawab aja!" katanya dengan napas tersengal-sengal saat mereka berhenti di tempat yang cukup sepi.


Dan Regan mengatur napas terlebih dahulu sebelum akhirnya dia menjawab panggilan dari Arfan.


"Ya Pak?" sapanya dengan suara bergetar.


"Sedang apa kau ini? Di mana putriku?" Suara dari seberang sana terdengar menggelegar sehingga Regan menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Maaf, Pak. Ini saya akan segera mengantar Ann pulang …."


"Maka cepatlah!" teriak Arfan lagi.


"Ba-baik Pak."


"Berikan hapenya kepada Ann, aku mau bicara!"


"Baik." Lalu dia menyerahkan ponselnya kepada Anandita.


"I-iya Pah?" gadis itu dengan takut-takut. Apalagi mendengar teriakan ayahnya dari ujung telepon sana.


"Kenapa kamu belum pulang, Nak? Ini sudah malam." Arfan merubah nada bicaranya.


"Iya, kan ini juga mau. Lagi jalan ke mobil." Sang putri menjawab.


"Bukannya dari tadi? Kemana dulu?" Arfan bertanya.


"Jajan dulu, hehe … habisnya di sini lagi ada festival, Pah. Seru deh. Tadi aku jajan apa aja ya, banyak pokoknya."

__ADS_1


"Lalu mengapa hapemu sulit dihubungi?"


"Masa?" Anandita memeriksa ponselnya yang ternyata mati.


"Kehabisan baterai, Pah. Aku lupa nggak isi daya semalam," katanya sambil tertawa.


"Astaga!" Arfan terdengar menggumam.


"Tapi, nanti lain kali kita ke sini ya? Jangan ke Bogor terus kalau malam Minggu tuh. Di sini juga seru." Gadis itu mengalihkan topik pembicaraan.


"Hmm … iya."


"Beneran?" Wajah Anandita berbinar ceria.


"Iya. Sekarang pulanglah," bujuk Arfan kepada putrinya.


"Iya Pah."


"Baik, telfonya Papa tutup, oke?" ujar pria itu yang kemudian mengakhiri panggilan.


"Ya udah, ayo pulang? Kelamaan di sini nanti akunya malah dikurung kalau papa pulang." Anandita menyerahkan ponsel kepada Regan.


Pria itu tak menjawab, namun dia hanya menghembuskan napas keras. Lalu segera mengikuti Anandita yang berjalan di depannya.


***


"Om, angkat dulu telfonnya kenapa? Berisik ih, dari tadi?" Anandita akhirnya buka suara setelah terdiam selama setengah perjalanan.


Suara dering telfon berkali-kali terdengar dan itu cukup mengganggu.


"Nanti kalau kamu sudah sampai rumah." Regan menjawab setelah memeriksa siapa yang menelfon.


"Kenapa?"


"Saya kan masih bertugas. Sedangkan ini telfon pribadi, dan saya tidak menerima panggilan pribadi saat bertugas." Regan menjelaskan.


"Dih, santai aja. Kan cuma sama aku?"


"Saya tetap masih bertugas." 


"Ya, tapi berisik."


Regan hanya tersenyum, lalu dia menurunkan volume ponselnya hingga ke yang paling rendah.


"Dih, bukannya dijawab, malah di diemin? Atau tolak aja gitu, jadi dia tahu kalau Om masih kerja."


"Tidak usah, kalau ditolak nanti bisa jadi salah paham."


"Emangnya siapa sih yang nelfon? Orang tua? Pacar? Kok nyebutnya panggilan pribadi?"


Regan tak menjawab.


"Angkat aja Om, tuh masih memanggil. Kan kasihan kalau nunggu? Aku nggak akan lapor kok." ucap Anandita lagi sambil melihat ponsel milik regan yang terus menyala meski tak bersuara.


Lalu pria itu pun menurut.


"Hallo?" Dia menghentikan laju Rubicon yang dikendarainya saat lampu lalu lintas berubah merah.


Terdengar dengungan suara dari seberang sana yang tak terlalu jelas di telinga Anandita.


"Iya maaf, aku masih bertugas. Ini juga dapat izin makanya aku bisa menjawab telepon." Pria itu berbicara.


"...."


"Iya aku tahu, maaf. Aku selesaikan dulu pekerjaanku ya? Nanti aku telpon lagi."


"...."


"Tidak, hanya sebentar." Lalu percakapan itu berakhir.


Regan menatap jam di layar ponsel yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Pantas saja semua orang menelfon? Ini sudah larut.


Kemudian dia kembali melajukan mobil yang dikendarainya hingga mereka tiba di kediaman Satria Nikolai.


***


"Hai Opa!" Anandita berlari ke arah kakeknya yang menunggu di teras begitu dia turun dari mobil.


"Kamu membuat khawatir, Ann?" Satria menjawab.


"Iya maaf, jadi lupa waktu. Habisnya di sana seru."


"Lain kali tidak boleh begitu. Kamu akan membuat orang dalam masalah." Pria itu melirik kepada Regan yang berjalan mendekat.


"Maaf, Pak atas keterlambatannya." ucapnya setelah jarak mereka cukup dekat.


"Bukan salahmu, begitulah jika menghadapi anak remaja." Satria menjawab.


"Baik Pak, kalau begitu saya pamit?" Regan menyerahkan kunci mobil kepadanya.


"Ya, terima kasih." Kemudian mereka memutuskan untuk masuk sementara Regan pun pergi dari tempat itu.


💖


💖

__ADS_1


💖


Berdambung ...


__ADS_2