The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Cerita Akhir Pekan #2


__ADS_3

💖


💖


Suara riang Anandita menjadi pemeriah suasana Rumah Baca Nania yang hari itu menerima tambahan anak-anak yang memiliki minat belajar.


Bukan hanya mereka yang cukup untuk usia sekolah, melainkan anak-anak kecil yang diantar oleh orang tuanya untuk meyakinkan bahwa itu adalah tempat yang aman.


"Oke adik-adik kalian di sebelah sini ya?" Anandita memilih menangani mereka yang baru saja tiba.


Lalu dia dan dua orang lainnya mengeluarkan beberapa mainan dan buku-buku dongeng untuk memulai hari itu.


"Siapa yang mau dengar cerita Gatot Kaca?" Anandita yang mengangkat buku cerita di tangannya tinggi-tinggi.


"Aku …."


"Aku …."


"Aku …."


Anak-anak itu mengacungkan tangan mereka.


"Tapi sebelum itu kita nyanyi dulu, oke?" katanya, persis seperti guru TK yang sedang mengajari muridnya.


"Oke!!" Lalu mereka mulai menyanyikan beberapa lagu anak-anak dan Anandita di depan memperagakan setiap kata yang mereka ucapkan. Membuat keadaan Rumah Baca Nania pada hari itu terasa sangat meriah.


"Huh, banyak sekali anak-anak hari ini ya?" Regan bergumam sambil menatap anak-anak kecil itu yang menyanyi, bertepuk tangan dan sambil tertawa.


Lalu tatapannya beralih kepada Anandita yang dengan penuh keceriaan memandu mereka untuk lebih bersemangat lagi. Yang tanpa diduga, gadis itu juga menatap ke arahnya.


"Eee …." 


Anandita tersenyum, tapi dia tak berhenti bernyanyi.


"Sekali lagi!" gadis itu berujar, dan anak-anak itupun mengulang nyanyiannya.


"Oke, senang kah kalian hari ini?" katanya kepada anak-anak.


"Senang!!!" Dan teriakan itu saling bersahutan di udara.


"Baik sekali. Sekarang kalian semua duduk karena dongengnya akan dimulai." Anandita meraih buku di meja sementara anak-anak duduk serentak.


"Siapa yang pernah dengar cerita Gatot Kaca?" Dia terus berbicara, namun tak ada yang menjawab.


"Ayo, siapa yang udah pernah dengar?"


Anak-anak itu menggelengkan kepala.


"Waaahhhh semuanya belum pernah?" Lalu Anandita bertanya.


"Beluuumm …."


"Sayang sekali, padahal ini seru banget lho." katanya, yang kemudian membuka buku.


"Baiklah, kita mulai." Dan gadis itupun memulai ceritanya.


***


"Makanannya cukup nggak?" Anandita menghampiri Lisa dan Regan yang sedang menyiapkan makanan.


"Aku cek dulu, takutnya nggak cukup. Soalnya hari ini tambah banyak." Lisa memeriksa beberapa hal.


"Iya, kalau misal kurang kita pesen aja dulu." ucap Anandita.


"Ya, sebentar." Lisa beralih kepada teman lainnya yang tengah memeriksa bingkisan.


"Kayaknya habis ini kita harus minta tambahan makanan sama Tante Nania deh." Gadis itu berbicara.

__ADS_1


"Hum?" Regan menoleh ke kanan dan ke kiri. "Kamu bicara dengan saya?" Lalu dia menunjuk wajahnya sendiri.


"Emangnya selain aku sama Om, di sini ada yang lain?" Anandita balik bertanya.


"Tidak ada." Dan Regan menggelengkan kepala.


"Terus kenapa nanya gitu?"


"Saya pikir …."


"Eh, cepetan siapin piringnya. Mereka udah mau ngantri." Anandita bergeser ke dekat Regan, lalu mereka menyodorkan peralatan makan kepada anak-anak yang baru saja selesai belajar.


"Haaaaaaa, hari ini cukup melelahkan!" Anandita menghempaskan bokong di pinggiran teras sambil merentangkan kedua tangannya. Sementara Regan memainkan ponsel di sampingnya.


"Aku nggak tahu kalau ngajar anak-anak bisa seseru ini. Ya, melelahkan tapi seru!!" Dia bergumam sendirian. Meski entah mengapa dadanya selalu berdebar setiap kali dia mendekati Regan, tapi Anandita berusaha bersikap biasa.


"Seru karena kamu hanya bertemu mereka seminggu sekali. Coba kalau setiap hari, ya pusing." Regan menyahut.


"Masa sih?" Gadis itu menoleh.


"Coba saja jadi guru TK."


"Mau ah, kayaknya nanti setelah lulus SMA aku mau ambil jurusan guru TK aja, kan lucu."


"Lucu konon?" Regan bergumam sambil menggelengkan kepala.


"Emangnya kenapa? Om pernah jadi guru TK? Udah pernah menghadapi anak-anak kecil?" Anandita memiringkan kepalanya sehingga dia mampu melihat wajah bawahan pamannya itu lebih jelas.


"Hah, tanpa harus jadi guru TK pun sudah terbayang repotnya. Mengawasi satu anak-anak saja susahnya minta ampun apalagi banyak anak? Bisa stress saya."


"Masa?"


"Serius."


"Contohnya ngawasin aku gitu? Aku kan bukan anak-anak? Lagian Om nggak lagi ngawasin aku?" Anandita mengira-ngira apa maksud pria itu.


"Ya kali yang Om maksud aku?"


"Ah, untuk apa saya mengawasi kamu? Sudah besar ini." jawab pria itu lagi, dan dia sedikit menghindarkan pandangannya.


"Tapi kalau Papa aku biar udah gede juga terus diawasi lho."


"Ya itukan Papamu. Makanya sana, jangan dekat-dekat. Nanti ada yang lapor kepada Pak Arfan dan mengira kita ini ada macam-macam." ujar Regan, dan dia kembali bergeser.


"Dih, cuma duduk gini doang?"


"Tidak ada bedanya."


"Ish, Om lebay. Sama kayak Papa!" Anandita beranjak lalu dia menghampiri mobil.


"Hey, cepetan ayo kita pulang!" Gadis itu berteriak kepadanya, membuat Regan pun bangkit dari tempat duduknya.


"Memangnya sudah selesai?" Pria itu bertanya.


"Kan anak-anaknya juga udah pulang, mau ngapain lagi? Tar aku dikiranya pacaran lagi." Anandita membuka pintu bagian penumpang.


"Heh, bukan di sana!" Namun Regan menahannya. "Duduklah di belakang agar tidak menimbulkan fitnah." ucap pria itu yang membuka pintu belakang.


"Dih, fitnah?"


"Cepat masuk, sebelum Pak Arfan menelfon semua orang dan menimbulkan kegaduhan."


Anandita mendelik, namun tak urung juga dia masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daryl mengusap-usap punggung Nania yang meringkuk di tempat tidur. Mereka baru saja kembali setelah mencari keberadaan Mirna untuk memeriksa keadaannya.

__ADS_1


Dan apa yang diketahui setelahnya membuat perempuan itu shock. Di mana dia menemukan bahwa sang ibu bekerja di sebuah losmen yang dikenal sebagai tempatnya pria-pria dan wanita tanpa ikatan pernikahan melepaskan hasrat mereka.


Meski Mirna tidak ditemukan karena dia mengambil jatah libur, tapi hal itu cukup membuat Nania merasa kecewa dan bersedih hati. Terutama setelah mengetahui bahwa rumah satu-satunya yang perempuan itu miliki telah berpindah tangan.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, Malyshka." Daryl terus menghiburnya, meski tangisnya sudah reda.


"Gimana nggak aku pikirin? Rumah udah jadi milik orang, terus ibunya pergi nggak tahu tinggalnya di mana. Sama Om Hendrik lagi? Kan aku jadinya khawatir." katanya dengan suara parau, dan sesekali dia mengusap matanya yang basah.


"Aku yakin ibumu baik-baik saja. Bukankah kemarin kalian bertemu?" Daryl menyugar rambut yang menghalangi wajah.


"Aku takutnya ibu kenapa-napa."


"Tapi tidak kan? Aku rasa kalau ada apa-apa, ibumu pasti sudah bercerita. Biasanya juga begitu kan?"


"Tapi buktinya soal rumah Ibu nggak bilang. Padahal kejadiannya udah sebulan yang lalu."


"Ya, mungkin karena dia takut kalau mengatakannya kepadamu?"


"Ah, kalau gini pikiranku suka kacau!!" keluh Nania yang mengusap-usap wajahnya dengan keras.


"Eh, jangan begitu. Nanti menyakitimu, tahu!" Namun Daryl segera menahan tangannya untuk menghentikan dia.


"Terus gimana ibu aku?" Dan perempuan itu merengek lagi.


"Tidak bagaimana-bagaimana. Dia orang dewasa dan tahu apa yang dilakukan. Jadi tidak mungkin terjadi apa-apa. Tenanglah."


"Tapi ibu gampang dipengaruhi apalagi sama Om Hendrik."


"Ya, sama sepertimu. Makanya aku melarangmu untuk menemui dia agar tidak begini."


Nania terdiam.


"Sudah, jangan sampai kekhawatiranmu ini menyiksa diri sendiri, kasihan anakku kan?" Pria itu menyentuh perutnya di mana calon anak mereka sedang tumbuh.


"Apa pun yang kamu rasakan akan berdampak padanya. Dan jika itu rasa sedih maka akan sangat tidak baik." Daryl mengusap sudut mata Nania yang basah.


"Sudah ya? Nanti kita minta Regan untuk mencari ibumu." Akhirnya dia mengalah untuk menghibur Nania.


"Sekarang!"


"Nanti, setelah Rehan mengantar Ann pulang."


"Sekarang belum pulang?"


"Entahlah, barusan Regan mengirim pesan baru sampai di rumah Om Arfan."


"Setelah itu langsung cari ibu?" Nania dengan binar matanya yang penuh harap.


"Ya, aku rasa begitu."


"Ingetin terus, takutnya dia lupa."


"Iya, baik." Daryl tertawa sambil membingkai wajahnya lalu dia mengecup bibir Nania beberapa kali.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Aku ingetin kalau novel ini alurnya lambat gaess. Karena ada banyak yang harus diceritain dan proses peristiwanya yang runut berurutan. Jadi buat yang udah sabar, makasih ya atas dukungan kalian.


Alopyu sekebon 😘😘


__ADS_1


__ADS_2