The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Toilet Sekolah


__ADS_3

💖


💖


Daryl meremat dokumen di tangannya saat mendengarkan penuturan dari tim yang menyelidiki masalah peniruan produk dan iklan yang dimilikinya.


"Orang ini memang mengundurkan diri dua hari sebelum proses pembuatan iklan, dan dia yang memegang masalah naskah, ide awal dan semacamnya."


Rahang Daryl tampak mengeras. Mereka tiba di markas tak lama kemudian, dan Daryl bergegas masuk diikuti beberapa orang pria.


"Jadi ini bukan hanya soal kebocoran data, tapi pencurian ide secara terang-terangan dan disengaja untuk mendapatkan keuntungan. Dia tahu kita punya banyak saingan dan memanfaatkan hal tersebut demi uang."


"Hmm … pencuri rendahan! Berapa harga yang dia dapat sehingga berani mengkhianati kita? Bukankah dia sudah lama bekerja dengan kita?"


"Menurutnya cukup untuk mengambil resiko itu." jawab Regan yang memegang hasil penyelidikan beberapa rekannya.


"Dia sendiri?"


"Dari sini sendiri, tapi temannya di luaran sana banyak." 


"Lalu apa yang kalian lakukan untuk menghentikanya?"


"Tergantung Bapak." ucap Regan yang memunculkan seringaian di wajah atasannya tersebut.


"Kau mengerti ternyata." 


Sebuah pintu yang terbuka di bagian dalam gedung tua bekas pabrik itu menarik perhatiannya, dan dia segera masuk.


Beberapa orang pria tampak duduk lesu di kursinya dalam keadaan terikat dan basah kuyup, yang terperangah ketika Daryl masuk.


"Kau sudah menghajar mereka?" Dia bertanya kepada Regan.


"Belum, Pak. Hanya menginterogasi mereka sedikit." jawab pria itu.


Daryl sedikit memicingkan mata kepada bawahannya tersebut. Dia tahu Regan tidak mungkin membiarkannya begitu saja, apalagi untuk kasus seberat ini.


"Tidak Pak. Saya sudah diperingatkan Pak Galang sebelumnya."


"Kau tidak bisa membohongiku, tahu!"


Regan tak menjawab.


"Keluarlah!" Lalu Daryl menyentakkan kepala.


"Maaf Pak?"


"Keluar sana, ini urusanku dan akan ku selesaikan sendiri. Lagi pula kau harus menjemput Nania." Pria itu melepaskan jasnya, lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke sikut.


"Pergi jemput Nania. Jangan sampai dia menunggu!" ucap Daryl lagi yang tentunya membuat Regan terpaksa meninggalkannya.


"Jangan sampai mati!" Regan berjalan keluar sambil berbicara kepada rekannya yang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania membereskan alat tulisnya begitu jam pelajaran usai. Dia bersiap untuk pulang seperti juga peserta lainnya setelah guru mereka keluar.


Dia melewati orang-orang begitu saja tanpa mempedulikan pandangannya dan apapun yang dikatakan setelahnya. Percuma saja, mereka tidak akan pernah mengerti.

__ADS_1


"Nania?" Zayn mengejarnya yang hampir memasuki area toilet.


Nania menoleh. Sepertinya pria ini akan mengganggunya lagi?


"Pergilah, Zayn. Aku nggak ada waktu untuk dengerin ocehan kamu." Perempuan itu segera masuk.


Memang sudah menjadi kebiasaannya masuk ke toilet sebelum dia pulang. Sekedar untuk mencuci tangan atau menuntaskan urusan pribadi. Setelah orang-orang pergi dan keadaan di toilet cukup sepi tentunya.


Dan Nania memastikan jika kondisinya baik saat keluar nanti setelah menghabiskan waktu tiga jam barusan dalam kepenatan. Dia tak ingin ada pertanyaan dari Regan atau apa pun yang  memungkinkan pria itu banyak bertanya nantinya.


Dia memutuskan keluar setelah yakin dirinya baik-baik saja. Namun Nania tertegun ketika pintu toliet ternyata sulit dibuka.


Dia menariknya dengan keras dan sedikit mengguncangnya, namun benda tersebut tak kunjung terbuka.


"Hey? Ada orang di luar? Tolong bukain!" Nania berteriak, namun tak ada yang merespon.


Area itu memang terletak di ujung bangunan dan sedikit tersembunyi dari ruangan-ruangan lainnya. Cenderung jarang dilewati jika bukan pada jam-jam sibuk.


"Hey!!! tolong pintunya macet!!" Nania kembali menarik-narik benda itu dan sesekali menendangnya. Berharap seseorang menyadari keberadaannya di tempat itu.


"Hey!!!" Dia berteriak lagi, dan terdengar seperti seseorang sedang berusaha membuka pintu dari luar.


Lalu benda itu tampak terdorong, dan terbukalah sehingga Nania dapat melihat seseorang yang berada di depan sana. 


"Zayn!!! Makasih, untung ada kamu." katanya dengan raut lega.


Dan Nania hampir saja berjalan keluar ketika pria itu menghalangi langkahnya.


"Zayn aku mau keluar." katanya lagi.


"Zayn?"


Dan di detik berikutnya dia mendorong Nania mundur seraya membekap mulutnya untuk menahan teriakan yang hampir mengudara.


Dengan cepat dia mengunci pintu dari dalam dan menyudutkan perempuan itu ke  belakang di antara sekat-sekat bilik toilet. Dan Zayn mendirongnya hingga bagian belakang tubuh Naia membentur dinding.


"Zayn!!" Nania menepis tangannya, namun pria itu segera menahannya ketika dia berusaha meronta.


Dia mendorong tubuh Zayn dengan sekuat tenaga ketika alarm di kepalanya berdenging keras memberi tanda bahaya. Dan Nania hampir saja berlari ketika pria itu menarik rambutnya dengan keras.


"Aaa … Zayn!! Apa yang kamu lakukan?" Nania sempat berteriak sebelum akhirnya teman sekelasnya itu melayangkan tamparan dengan keras. Dia terhuyung ke samping dan membuat keningnya terbentur dinding. 


"Sok sekali dirimu itu? Berlagak jual mahal!" Zayn mencengkram pundak Nania dan mengungkungnya di antara dinding da tubuh tingginya.


"Padahal tinggal minta berapa banyak uang yang kau inginkan dan pergi denganku. Maka semuanya akan baik-baik saja." Dia merapatkan tubuhnya pada Nania dengan mulut menempel di telinganya.


"Zayn, kamu nggak mengerti. Udah aku jelaskan …."


"Sssttt, diamlah! Atau aku habisi kamu jika tidak menurut." ancam Zayn dengan kedua tangannya yang mulai bergerilya menyentuh tubuh Nania.


"Stop Zayn!" Perempuan itu kembali meronta, dan dia mencoba sekali lagi mendorongnya menjauh.


Nania berhasil melepaskan diri dan dia segera berlari ke arah pintu meski akhirnya tak berhasil keluar dan Zayn bisa mendapatkannya lagi.


Pria itu kembali menariknya dan kali ini memukul wajahnya. Membuat Nania oleng kemudian jatuh ke lantai dan kehilangan kesadaran.


Zayn tertegun dengan napas menderu-deru. Menatap mangsanya yang tergolek di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri membuatnya girang bukan kepalang. Dan dia tak sabar untuk segera melancarkan aksinya.

__ADS_1


***


Regan keluar dari dalam mobil setelah beberapa saat menunggu tapi Nania tak kunjung keluar padahal biasanya tak lebih dari lima menit saja berselang setelah dia mengirimkan pesan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.


Dia mondar-mandir sebentar dan sesekali melihat ke arah pintu keluar gedung yang tampak lengang lalu melakukan panggilan telfon ke nomor Nania namun tak ada jawaban.


"Permisi?" Lalu Regan memutuskan untuk masuk dan bertanya kepada staff yang masih ada.


"Ya?"


"Apa kelas baru sudah pulang semua?"


"Seharusnya sudah. Kelas bubar dari sepuluh menit yang lalu, Pak." jawab staff tersebut.


"Mungkin ada pelajaran tambahan?"


"Tidak ada, Pak." jawabnya lagi.


"Baik." Regan tertegun sebentar lalu dia menatap sekitar. 


"Toilet di mana?" tanya nya lagi dan staff itu menunjukkan tempat yang dimaksud.


Regan bergegas menuju area yang ditunjuk dan memeriksa keadaan. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang karena jam kegiatan memang sudah berakhir lebih dari  sepuluh menit yang lalu.


Dia kembali menghubungi ponsel Nania meski lagi-lagi tak mendapat jawaban. Namun pria itu tertegun ketika indra pendengarannya menangkap suara musik yang lama kelamaan dia kenali sebagai nada dering dari ponsel Nania.


Regan mencari asal suara yang kemudian dia yakini berasal dari toilet wanita di sisi lain. Semakin lama semakin terdengar nyaring namun tak kunjung dijawab padahal dia masih memanggilnya.


Namun suara itu berhenti ketika dia tiba di depan pintu toilet dan tanda panggilan ditolak tertera di layar ponselnya.


Instingnya bekerja cepat dan dja menangkap hal tidak beres yang mungkin sedang berlangsung. Apalagi ketika dia mendapati pintu toilet yang sulit dibuka ketika dia mendorongnya.


Beberapa kali Regan berusaha mendorong namun benda itu tampaknya terkunci dari dalam, dan dia yakin ada hal tidak beres sedang berlangsung.


Segera saja dia melayangkan tendangan ke arah pintu, dan dengan sekali saja hentakan keras benda itu terbuka lebar. Dan apa yang tengah terjadi di dalam membuatnya murka seketika.


Di mana seorang pria tengah menyentuh tubuh perempuan yang tampak tak sadarkan diri. Yang kemudian dia kenali sebagai Nania. Hal itu terbukti dari tas dan ponsel yang tergeletak di sampingnya.


Zayn yang hampir saja membuka pakaian Nania tentu saja tersentak, apalagi ketika Regan segera melesat masuk dan melayangkan tendangan di wajahnya.


Pukulan bertubi-tubi pun mendarat di tubuh pria itu sehingga Zayn tak punya kesempatan untuk menghindar apalagi melawan.


Setelah puas memukuli Zayn, Regan segera menghampiri Nania yang tergeletak tak sadarkan diri dengan sudut bibir pecah dan mengeluarkan darah.


Dia memeriksa keadaannya dan membenahi pakaian yang hampir terbuka.


"Oh, suamimu akan membunuhku setelah ini!!" gumamnya, yang mengangkat Nania dan segera membawanya keluar dari tempat tersebut.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Ayoooo like komen sama hadiahnya lagiii

__ADS_1


__ADS_2