
π
π
Nania berjalan mengendap ke dalam rumah agar tak seorang pun yang mengetahui kedatangannya malam itu.
Sengaja, karena dia tak ingin berinteraksi dengan siapa pun. Apalagi mengetahui mereka semua ada di sana.
"Nania?" Mirna memanggil.
Gadis itu berhenti tepat di depan pintu kamar neneknya yang sudah tertutup rapat.
"Kenapa kamu mengendap-endap begitu? Seperti pencuri!" Sang ibu bersedekap.
Nania memutar tubuh.
"Hanya menghindari keributan, Bu." Dia menjawab. "Aku nggak mau kena tamparan dan pukulan lagi."
"Bagus kalau kamu mengerti." Hendrik melintas di depan mereka.
Nania hanya melirik tanpa banyak kata.
Mirna menatapnya dari bawah ke atas. Entah mengapa dia selalu merasa kesal kepada anaknya yang satu itu. Padahal selama ini dia tidak pernah membuat masalah. Tapi perasaannya tidak seperti orang tua pada umumnya.
Dia hanya ingat di saat-saat setelah perceraiannya dengan Arsyad, Nania selalu menangis tiada henti. Yang setiap hari menanyakan keberadaan ayahnya, dan apa pun yang dia lakukan memang selalu ingin dengan pria itu.
Tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan jika mereka sudah berpisah, atau menerangkan situasi yang harus dijalani setelah itu, Nania tetap menangis. Mungkin hal yang sepele untuk orang lain, tapi begitu berat baginya.
Hingga setelah berbulan-bulan lamanya dan mereka harusnya telah terbiasa. Tapi gadis itu tak bisa melupakan ayahnya. Yang akhirnya membuat Mirna menyerah dan memilih untuk mencari Arsyad dan memberikan Nania kepadanya.
Lalu terdengar suara ketukan di pintu yang mengalihkan perhatian mereka. Hendrik beranjak untuk memeriksa, kemudian keributan pun terjadi. Entah apa yang mereka ributkan, namun Nania memilih untuk masuk saja ke kamar neneknya.
Perempuan itu tampak sudah terlelap meringkuk di sudut dengan punggung merapat ke dinding. Tubuh ringkihnya begitu terlihat dalam keadaan seperti itu, dan Nania merasa tidak tega.
Nenek pasti sangat kesusahan selama ini. Tidak bisa berbuat apa-apa, dan dia harus mengikuti semua yang ibu katakan.Β
Sabar ya Nek, Nia lagi berusaha. Batinnya bermonolog.
Kemudian dia membersihkan diri dengan cepat dan kembali setelah beberapa menit. Merasakan perutnya yang keroncongan karena tadi lupa makan di kedai sebelum pulang.
Biasanya Nania, juga teman-temannya makan bersama setelah kedai tutup dan pulang dalam keadaan perut kenyang. Atau setidaknya membawa jatah makan mereka jika tidak sempat disantap di kedai. Namun hari itu dia begitu bersemangat karena tahu sebentar lagi akan bisa membebaskan diri dari sang ibu, meski itu harus membuatnya kabur terlebih dahulu.
Karena rasanya Nania tidak sanggup jika harus terus hidup bersama mereka sementara dirinya menjadi tameng untuk segala hal. Bukankah tidak seharusnya seperti itu? Bukankah keluarga seharusnya berusaha bersama tanpa ada yang dibeda-bedakan? Lalu kenapa juga dirinya yang harus menanggung hidup mereka yang seharusnya masih mampu berusaha?
Dia tertegun di dekat meja makan dan menemukan tidak ada apa pun untuk dimakan selain satu wadah nasi dingin. Padahal tadi pagi sudah memberikan neneknya uang untuk membeli makanan.
Ah, Nania lupa jika yang lain mungkin telah menghabiskan makanannya sehingga apa yang nenek buat tidak tersisa. Dan kali ini dia memang harus merubah cara dan kebiasaannya.
Tapi perutnya begitu lapar, dan malam ini bisa dipastikan dia tidak akan bisa tidur dalam keadaan seperti itu. Jadi Nania memutuskan untuk mengambil piring dan mengisinya dengan satu centong nasi.
Lalu dia mencari sesuatu di lemari dan keranjang bumbu, berharap menemukan sesuatu untuk dicampur dengan nasi dingin yang akan dia makan. Dan gadis itu hanya menemukan satu bungkus kecil bumbu kaldu yang tinggal setengahnya. Rupanya Mirna memang benar-benar tidak memikirkan keadaan mereka dirumah.
Nania memutuskan untuk menaburi nasi dingin dengan bumbu tersebut, lalu menyiramnya dengan sedikit air panas yang dia didihkan. Kemudian dia cepat kembali ke kamar.
"Kamu sudah pulang Nna?" Nenek terbangun mendengar suara di dekatnya.
"Iya Nek." Nania tengah melahap nasi berkuah kaldu yang dia buat sendiri.
"Kamu makan?" Nenek menatap piring di tangan gadis itu.
"Iya, laper. Tadi lupa makan dulu sebelum pulang." Dia dengan lahapnya makan.
"Dengan apa?"
"Nasi doang. Nia lupa bawa makanan, padahal tadi Ardi masaknya banyak, ada sisa lagi."
Nenek menatapnya dengan hati ngilu. Bagaimana dia bisa setenang itu memakan nasi saja yang terlihat dicampur air. Cucunya ini pastilah sangat menderita.
"Kenapa tidak membangunkan Nenek?" Perempuan tua itu turun dari tempat tidur.
Dia menghampiri bufet kecil di ujung lalu mengambil sesuatu di sana. Satu wadah berisi tiga potong ayam yang dia sembunyikan di antara tumpukan pakaian.
__ADS_1
"Untung Nenek pisahkan, tadi sore mereka memakannya tanpa mengingat siapa pun. Padahal sepertinya ibumu masih memegang uang."
Nania mendengus pelan.
"Aku udah kenyang." katanya kemudian.
"Tapi ini?" Nenek mengangkat wadah tersebut di depannya.
"Buat Nenek aja, untuk makan besok." Nania kembali menutup wadah itu.
Nenek terdiam.
"Simpan lagi, Nek. Jangan sampai ibu tahu, atau nanti bakalan di ambil." katanya, kemudian tertawa.
***
"Nek?"
"Iya?"
"Kalau Nia pergi nggak apa-apa?" Mereka hampir saja tertidur ketika Nania memutuskan untuk berbicara.
"Pergi?"
Gadis itu mengangguk.
"Pergi ke mana?"
"Keluar aja dari rumah ini."
"Kamu mau kabur?"
Nania tertawa.
"Iya, tapi kaburnya deket."
"Mana ada kabur yang deket?"
"Yang penting bisa keluar dari sini."
Nenek terdiam.
"Memang bisa?"
"Bisa, Kak Ara udah ngasih izin."
"Begitu ya?"
"Tadinya aku mau bawa Nenek, tapi nggak enak kalau kita barengan tinggal di sana. Rencananya setelah gajian bulan depan aku mau ngekost, baru aku jemput Nenek ke sini." Nania menoleh kepada neneknya.
"Kamu mau bawa Nenek?"
"Iya dong, siapa lagi yang mau aku bawa? Nanti Nenek mau ya kalau aku jemput? Sekarang sabar dulu."
Nenek tersenyum.
"Nggak apa-apa kalau Nenek aku tinggal sementara di sini? Sampai nanti aku mampu sewa kamar."
"Tidak apa-apa."
"Jangan khawatir, setiap hari aku akan antar makanan atau uang buat Nenek kalau ibu lagi nggak ada."
"Nggak usah Nna, Nenek sudah terbiasa."
"Terbiasa nggak makan? Aku sih nggak. Sekali aja nggak makan badan aku rasanya lemes."
Kini nenek yang tertawa.
"Biarpun nggak punya uang, ayah selalu nyediain makanan dirumah, seenggaknya ada nasi sama tahu atau tempe goreng. Uang ayah pas-pasan tapi nggak pernah membiarkan aku kelaparan di malam hari. Selagi sakit pun ayah selalu ngingetin aku makan kalau pulang kerja. Ayah tahu, semua gaji aku habis untuk berobat."
Nenek mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Anak baik, anak berbakti. Tuhan tahu apa yang kamu lakukan, pasti tidakΒ salah memberikan cobaan. Kamu bisa. Jangan patah semangat ya? Kelak kebaikan dan baktimu kepada ayah akan Tuhan ganti, entah dengan apa. Kebaikan kepada orang tua itu tidak terhingga nilainya."
Nania tersenyum.
"Aku boleh pergi kan? Janji, setelah aku bisa sewa kamar kost aku jemput Nenek." Nania dengan mata berkaca-kaca.
Dia tak tahu apa yang akan terjadi jika dirinya pergi. Tapi tidak mungkin juga jika tetap tinggal.
"Tidak apa-apa, pergilah. Nenek akan menunggu." Nenek menganggukkan kepala.
"Ibu nggak akan apa-apain Nenek gitu ya?" Lalu pikiran buruk melintas di kepala.
"Tidak akan. Dia mungkin berani menamparmu, tapi tidak akan berani menyakiti Nenek."
"Yakin?"
"Yakin. Paling hanya membentak. Nenek kan sudah biasa. Anggap saja kaleng rombeng." Mereka berdua tertawa.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
"Ada satu laki-laki, satu perempuan. Kemungkinan orang tuanya, dan rumahnya tampak normal." Daryl menerima panggilan setibanya di rumah.
"Tapi baru saja ada keributan."
"Keributan apa?" Dia merendam dirinya sendiri di dalam bathub berisi air hangat.
"Dua orang laki-laki mendatangi rumah dan mereka sepertinya bertengkar."
"Apa membahayakan Nania?"
"Sepertinya tidak. Mereka pergi setelah yang perempuan memberikan sesuatu."
"Kau yakin?"
"Ya Pak."
"Lalu?"
"Tidak ada. Rumahnya sekarang sepi."
"Kau masih di sana?"
"Iya."
"Nania tidak terlihat?"
"Tidak Pak."
"Baiklah, cukup untuk hari ini. Mungkin besok kau bisa lanjutkan pengintaian. Aku curiga ada sesuatu yang terjadi."
"Baik Pak."
Lalu panggilan pun berakhir.
"Yakin Kak, Nania cuma cerita kalau dia jatuh di tangga waktu beres-beres rumah." Dia kembali membaca pesan dari Amara.
"Ke yang lain juga jawabnya sama."
"Rumahnya hanya sebesar itu bagaimana dia terjatuh?" Lalu Daryl menatap gambar yang dikirimkan oleh orang suruhannya.
Sebuah rumah kecil berlantai dua di sebuah kawasan padat penduduk pinggiran kota Jakarta.
"Rahasia apa yang kamu simpan Malyshka? Apa sesuatu terjadi kepadamu?" gumamnya yang mengusap layar ponsel ketika di foto berikutnya sosok Nania muncul.
π
π
π
Bersambung ...
__ADS_1
Sabar gaess, semuanya butuh proses. Kalau langsung ketauan, cepet tamat dong ceritanya?ππ
Kirim terus giftnya oke?πππ