
💖
💖
"Ih … kenapa nggak kepikiran?" Nania bangkit dari posisi tidurnya setelah memikirkan banyak hal.
"Kenapa juga harus minta yang nggak-nggak? Ngerepotin aja?" Dia menyusuri bawah bantal untuk mencari ponsel miliknya.
Namun Nania berhenti ketika dia mengingat saat ini dirinya ada di mana.
"Lah? Kan tadi di charge di kamar?" gumamnya, yang kemudian menepuk kepalanya sendiri.
"Mending besok aja kalau gitu, kalau malam-malam begini mungkin udah pada tidur?" Dia melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Iya, besok aja." katanya, seraya membenahi bantal dan hampir kembali merebahkan kepalanya.
Namun pergerakannya terhenti ketika pintu tampak didorong perlahan dari luar, dan tak lama kemudian wajah suaminya muncul.
"Aku kira kamu sudah tidur?" katanya yang berdiri dibalik pintu.
"Ini mau tidur." Nania menjawab.
"Can i sleep here? Aku sudah pakai minyak telonnya tadi lho." Lalu pria itu masuk dan menutup pintu.
"Tidur aja, kan ini kamar kamu?" Nania sedikit terkekeh.
"Aku nggak bisa tidur kalau sendiri, memangnya kamu bisa ya?" Daryl mendekat ke ranjang di mana perempuan itu berada.
"Belum, kan aku bilang ini baru mau?"
"Hmm …."
"Kenapa belum tidur? Ini kan sudah malam?" Pria itu naik ke tempat tidur.
"Lagi mikirin sesuatu."
"What? Masih soal taman bacaan?"
Nania menganggukkan kepala.
"Look, jangan salah paham dengan ucapanku. Aku hanya …."
"Sssttt. Nggak usah dibahas, aku ngerti kok. Makanya aku pikirin jalan lain." Nania memotong kalimatnya.
"Jalan lain apa?" Daryl mengerutkan dahi.
"Kayak yang kamu bilang, kalau semuanya harus bertahap. Dan mungkin yang aku lakukan juga harus bertahap. Mungkin akunya terlalu buru-buru juga, jadinya, ya … sedikit keliru mungkin."
"Begitu?"
"Ya. Jadi aku mau bikin kayak semacam donasi gitu. Awalnya aku nyoba sama temen-temen sekolah, terus nanti di publish secara umum."
"Donasi apa?"
"Ya apa aja, bebas. Mau buku, alat tulis, apa aja yang mereka punya atau mau di donasikan."
Daryl terdiam.
"Apa ide aku bagus?"
"Lumayan, tapi …."
"Mungkin mulai besok aku pulang sekolah bakalan telat satu atau dua jam. Tapi ini kegiatan positif kok, aku bisa jamin. Dan kamu tetap bisa mengawasi aku lewat Regan, karena udah pasti dia yang akan nganter jemput aku setiap hari."
"Mengantar jemput ke mana?"
"Ke sekolah sama rumah lama, lah."
"Dan kamu benar-benar serius soal itu?"
"Bukan seriusnya, tapi aku seneng ngelakuinnya."
"Begitu?"
"Ya. Jadi aku mohon untuk yang ini kamu kasih izin ya? Nggak akan ngabisin waktu seharian kayak kerja kok."
Daryl berpikir.
"Ini hal yang positif, jadi …."
__ADS_1
"Baiklah." jawab Daryl tanpa diduga.
"Boleh?" Nania dengan sumringah.
"Boleh." Pria itu mengangguk.
Nania tertawa sambil menepuk-nepukkan tangannya.
"So, are we okay?" Daryl pun mendekat.
"Harus okay. Masa jadi nggak okay gara-gara urusan lain? Kan nggak lucu." Lalu Nania benar-benar merebahkan kepalanya pada bantal.
"Baiklah." Pria itu melakukan hal yang sama.
Dan Nania hampir saja memejamkan mata ketika dia bicara lagi.
"You don't wanna hugg me?"
"Hum?"
"Biasanya kita tidur berpelukan?"
Nania menatap wajah suaminya.
"Aku nggak biasa tidur tanpamu, seperti ada sesuatu yang hilang dariku." katanya, dan dia benar-benar berpikir keras untuk mendapatkan kalimat seperti itu.
"Tapi langsung tidur! Akunya capek." jawab Nania kemudian.
"Okay."Â
Lalu perempuan itu bergeser sehingga jarak di antara mereka menghilang. Dia lantas menyurukkan kepalanya di dada Daryl dan memeluk tubuh hangatnya seperti yang selalu dia lakukan.Â
Dan memang tak terjadi apa pun setelahnya, namun hal itu membuat Daryl merasa lega.
Setidaknya dia tak merajuk. Begitu pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tempat siapa ini, Hendrik?" Mirna menatap sekeliling ruangan yang tak lebih besar dari rumahnya yang terdahulu.
"Tidak usah banyak tanya. Yang penting aku sudah memberimu tempat bernaung." jawab pria yang selalu kelihatan mabuk itu.
Ada sebuah kamar tidur dengan kasur yang terlihat agak lapuk menggelar di lantai. Dapur sempit dan kamar mandi kecilnya bersebelahan, sehingga tak banyak barang yang terdapat di sana. Dan tempat ini bahkan lebih kecil dari lantai bawah rumah sederhananya.
"Apa ini aman?" Mirna menatap ke bawa lewat jendela kecil di sisi lainnya.Â
Kini mereka ada di ketinggian 15 meter di lantai empat sebuah gedung rumah susun di pinggiran kota yang aksesnya tak terlalu jauh dari jalan besar.Â
Â
Hanya saja mereka harus melewati jalanan sepi dan gedung tua kurang terurus.
"Tentu saja aman." Hendrik menjawab.
"Bagaimana? Aku sudah bertanggung jawab kepadamu, kan? Jadi sebaiknya kau tak macam-macam denganku." ujar pria itu setengah mengancam.
Mirna menoleh, dan keningnya tampak menjengit.
"Kau hanya perlu bekerja saja dengan giat, yang lainnya jadi urusanku." ucap pria itu lagi.
"Sejak kapan kau mengurusi banyak hal? Apakah aku bisa mempercayaimu? Sedangkan untuk bekerja saja aku yang melakukan?" Mirna memberanikan diri untuk menjawab.
"Itu tugasmu, dan biarkan aku melakukan tugasku." jawab Hendrik.
"Dan apakah tugasmu?" tanya Mirna lagi, dan itu membuat Hendrik terdiam menatapnya.
"Kau mulai berani bertanya kepadaku?" Pria itu balik bertanya.
"Sudah aku katakan untuk tak macam-macam dan banyak bicara atau pun bertanya. Kau tidak perlu tahu."
"Benarkah? Terakhir kali aku membiarkanmu berbuat begitu, akibatnya rumah kita diambil rentenir. Lalu apa yang akan terjadi nanti jika aku membiarkanmu lagi? Apa yang akan kau korbankan? Aku? Lalu di mana kau saat itu?"
Hendrik melesat ke hadapan Mirna lalu mendorongnya hingga dia tersudut di jendela yang terbuka. Dia mencengkram leher, dan menekannya cukup kuat hingga perempuan itu hampir kehilangan napas.
"Hendrik!"
"Maka lakukan apa yang aku katakan, sehingga aku tidak akan mengorbankanmu untuk yang satu ini."
Mirna berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.
__ADS_1
"Kau dengar?" Pria itu menekan leher Mirna lebih kuat.
"Hendrik!!"
Kemudian Hendrik menariknya dengan keras sehingga tubuh Mirna terhempas ke lantai dan cengkramannya pun terlepas.
Perempuan itu bangkit lalu mundur sehingga tubuh bagian belakangnya membentur tembok. Lalu dia membuat pertahanan dengan memeluk dirinya sendiri untuk melindunginya dari pukulan yang mungkin akan suaminya layangkan kepadanya.
"Kau dengar, Mirna?" Lalu Hendrik beralih mencengkram rambutnya.
"Jangan macam-macam, selain bekerjalah dengan baik!" Dia menunduk lalu berbicara di dekat telinganya.
"Saat ini kau hanya perlu melakukan itu." katanya, kemudian melepaskannya.
Hendrik mundur beberapa langkah ke belakang lalu meraih tas milik Mirna. Membuka, kemudian merogoh isinya sampai dia menemukan lembaran uang yang segera diambilnya tanpa dia sisakan sedikitpun.
"Jangan! Itu untuk makan …." Mirna bangkit dan menghampiri Hendrik untuk merebut apa yang dia ambil.
Namun pria itu mengulurkan kaki untuk menghentikannya.
"Jangan coba-coba!" ancamnya.
"Tapi setidaknya jangan ambil semuanya, kita tidak punya makanan sama sekali, dan aku bahkan belum sempat memakan apa pun sejak pagi. Hari ini pekerjaanku sangat banyak!"
"Ck!" Hendrik berdecak kesal.
"Hendrik, aku mohon!"
"Nanti aku kembali dan membawa makanan untukmu!" Pria itu malah pergi meninggalkannya yang segera ambruk di lantai dan tangisnya pecah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu nggak usah turun." Nania memeluk Daryl kemudian mengecup sudut bibirnya sekilas.
"Tidak, aku bahkan bisa mengantarmu sampai ke depan pintu kelas?" Daryl menjawab.
"Nggak usah, aku bukan anak TK." Nania memeriksa beberapa hal di tas dan mengambil tumblernya yang kini diisi air putih saja.
Lalu dia membuka pintu dan melambai kepada Lisa yang menyapanya.
"Hey, Malyshka!!" Namun Daryl meraih tangannya untuk menghentikan dia.
"Apa?" Nania menoleh.
"Kamu lupa bekalnya?" Pria itu merogoh dompet lalu menarik beberapa lembar uang dari dalam sana.
"Umm … nggak usah deh, kan udah kamu kasih kemarin-kemarin." Dia tetap turun.
"Memangnya masih ada? Bukankah selalu kamu belikan makanan setiap pulang sekolah untuk dibagikan?"
"Yang kamu transfer masih banyak, apalagi jarang aku pakai. Kalau aku beli coklatnya pakai uang itu boleh kan?"
Daryl tertegun.
"Pergi dulu ya?" Dia menutup pintu tanpa menunggu jawabdan dari suaminya.
"Hey, Lisa! Aku ada ide bagus. Kira-kira temen-temen bakal ikutan nggak ya?" Lalu Nania sedikit berlari ke arah teman sekelasnya yang menunggu.
"Oh ya? Ide apa?"
"Cuma proyek kecil, tapi aku pikir sangat bermanfaat."
"Benarkah? Apa ini yang kamu maksud di chat tadi subuh?"
"Iya. Begini ….." Dua perempuan itu berjalan masuk ke dalam gedung.
Sementara Daryl memperhatikan mereka sampai keduanya menghilang dibalik pintu gedung dua lantai tersebut.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Semoga hari ini bisa up banyak.
Tapi kirim like komem sama hadiahnya dulu dong biar aku semangatðŸ¤
__ADS_1
Alopyu sekebon😘😘