The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Menu Spesial


__ADS_3

💖


💖


"Malyshka!!" Panggilan itu menggema di lorong rumah seperti biasa. Daryl tiba pada hampir petang dan dia segera mencari keberadaan istrinya.


"Barusan ke atas, Pak. Baru saja selesai memilih mainan bekas." Perempun itu menjawab.


"Oh …." Daryl bergegas menuju kamarnya di lantai dua.


Dia masuk dan mencari keberadaan istrinya di dalam sana, namun suara aliran air dari arah kamar mandi menarik perhatiannya.


Pria itu mengunci pintu rapat-rapat kemudian melesat ke ruang membersihkan diri itu yang ternyata pintunya tak Nania kunci.


Dia membuka dan mendorongnya perlahan lalu mengintip lewat celah pintu, dan terpampanglah tubuh telanjang Nania dibawah guyuran air dari shower.


Pria itu menyeringai, merasa beruntung karena dia pulang tepat waktu, lalu dia melepaskan jas yang kemudian dilemparkannya ke belakang. Lalu menerobos masuk, yang tentu saja membuat Nania sedikit terkejut.


"Hey, tunggu dulu aku selesai!!" ucap Nania yang sedikit tertawa, namun pria itu tak mendengarkan. Dia lantas menghampirinya yang berada dibawah aliran air.


Nania menatap wajahnya yang menyeringai dan Daryl menyentakkan kepalanya sebagai isyarat.


Dia menghela napas seolah ini akan jadi pertempuran hebat karena tahu inilah yang diinginkan suaminya. Namun dia tidak bisa menolak juga, karena sebuah penolakan jelas tidak akan menghasilkan apa-apa.


Daryl mendorongnya hingga punggung perempuan itu menempel di dinding kemudian mencumbunya seperti yang biasa dilakukan.


Kedua bibir itu saling memagut untuk beberapa saat diikuti sentuhan di sekujur tubuh. Kedua tangan Daryl meremat setiap inci yang ada pada Nania dan mereka segera terbawa suasana.


Perempuan itu bahkan dengan sendirinya melepaskan tautan kancing pada kemeja basah yang masih melekat di tubuh suaminya. Dan segera saja, dalam sekejap mata mereka menjadi sama-sama telanjang.


Aliran air dari shower di langit-langit kamar mandi menambah sensasi yang mereka rasakan. Dan membuat Daryl merapatkan tubuhnya pada Nania.


Tangan perempuan itu merayap menggapai sesuatu yang mengganjal di perutnya, lalu dia menggenggam benda itu yang memang sudah sangat menegang sejak Daryl memasuki ruangan.


Mereka saling pandang, dan sebuah senyuman penuh arti terbit di bibir pria itu. Nania terdiam sebentar, kemudian dia berlutut di lantai ketika mengerti isyarat tersebut tanpa melepaskan genggaman tangannya sama sekali.


Dia mendongak sebentar, lalu tanpa menunggu lama segera membuka mulutnya dan alat tempur pria itu masuk ke dalamnya.


"Ahhh!" Daryl mendes*ah dengan mulut yang terbuka.


Dia mendongak sambil menyugar rambutnya dan mengusap wajah yang masih dialiri air dari atas kepala. Sementara sebelah tangannya yang lain bertumpu pada dinding untuk menjaga keseimbangan.


Otot-otot di sekitar pahanya tampak menegang ketika Nania mulai menyesap miliknya. Dan dia mati-matian menahan deru napas yang mulai menggila. 


Rahangnya bahkan tampak mengeras dan giginya bergemeletuk nyaring, ketika di detik berikutnya perempuan itu mulai meggerakkan kepala.


"Oh, yeah Baby …." Daryl mengusap kepala dan menatap wajah Nania yang juga sedang menatap ke arahnya. Membuat debaran di dadanya menjadi semakin gila dengan apa yang perempuan itu lakukan kepadanya.


Seluruh tubuhnya bahkan kini benar-benar menegang dan sepertinya dia sudah tak mampu menahannya lagi.


"Ah, Malyshka!!" Pria itu menggeram kemudian meremat wajah Nania dan menahannya agar berhenti bergerak. Lalu dia menariknya untuk berdiri.


Daryl menyentuh bibirnya yang mulai memucat lalu dia kembali menyeretnya ke dinding. Kemudian cumbuan itu dia ulangi lagi.


Ciumannya merayap turun ke leher, menyusuri dada, lalu dia semakin menunduk dan tidak berhenti di perut. Yang akhirnya membuatnya berlutut juga saat dia menemukan pusat tubuh Nania.


Sebelah kakinya Daryl angkat sehingga memudahkannya mengakses area itu dan hal gila segera terjadi.


Perempuan itu menggigit bibirnya keras-keras ketika Daryl menyentuh miliknya, dan sesekali ada yang masuk kemudian bermain-main di bawah sana.


Dia mulai mendes*h dengan napas yang tersengal-sengal kala gairahnya terus menanjak seiring sentuhan pria itu di ar*a prib*dinya.


"Oohhh Daddy!!" Nania mengerang saat sesuatu yang begitu lembut dan hangat menyapu miliknya, dan lagi-lagi ada yang menerobos ke dalam sana.


Rasanya gila, dan Nania tak tahu bagaimana harus menjabarkannya. Tubuhnya hanya terus bereaksi setiap kali Daryl menambah kegilaan pada percintaan mereka.


"Uuhh, Daddyy!!" Perempuan itu memekik dan tubuhnya bergetar hebat ketika pelepasan menghantamnya tanpa bisa ditahan. Dan Nania hampir saja ambruk jika saja Daryl tak segera menangkapnya.


Napasnya tersengal-sengal tak karuan dan dadanya naik turun dengan cepat. Lalu pria itu segera membawanya keluar dari kamar mandi.


"Ugh!!" Nania masih menikmati sisa pelepasan ketika Daryl membenamkan senjatanya. Dan tanpa menunggu lama hentakan itu pun segera berlangsung.


Hasratnya meluap-luap dan gairahnya terus berkobar, menatap tubuh telanjang Nania yang menggelinjang ke sana kemari.


Apalagi di iringi des*han dan erangannya yang memenuhi kamar mereka pada petang itu membuat Daryl semakin menggila.


Tubuh basah mereka terus bergerak, dan gairah Nania kembali tersulut setiap kali pria itu menghentak. Lalu dia menggunakan energinya untuk mengimbangi.


Daryl menunduk untuk mencium leher Nania, lalu dia kembali menyusuri dadanya yang membusung dengan puncaknya yang mencuat menggemaskan yang kemudian disesap sepuas yang dia bisa.

__ADS_1


"Mmm …."


Pria itu melepaskan miliknya, lalu membalikkan tubuh Nania sehingga dia tertelungkup. Kemudian menarik pinggulnya dan kembali membenamkan miliknya dari belakang.


"Ahhh!" Nania sedikit menjerit saat benda itu memenuhi dirinya. Dan napasnya kembali tersengal-sengal menahan tubuhnya sendiri yang kembali dihentak.


"Uuhhh, Daddy!!" Pria itu memegangi pinggulnya kuat-kuat sehingga hentakannya terasa begitu dalam mengobrak-ngabrik apa yang ada di dalam sana, dan keduanya menjadi semakin tak terkendali.


Daryl terus menghentak dan Nania berusaha menahan agar dirinya tak mencapai klim*ks cepat-cepat karena posisi seperti ini membuatnya benar-benar merasa gila.


Des*han terus mengudara dan suara peecintaan terus menggema saat pria itu semakin bersemangat saja memacu tubuhnya. Daryl bahkan menarik tubuh Nania sehingga posisinya menjadi tegak dan dia dapat menyentuh kedua dadanya dari belakang. Sedangkan bibirnya tak diam menciumi leher, pundak hingga punggung perempuan itu.


"Mmmhhh …." Erangah Nania semakin tak karuan kala dia merasa tubuhnya terus bereaksi. Dan sesuatu di dalam dirinya bahkan semakin menggila seiring semakin kerasnya Daryl berpacu. 


Hingga di detik berikutnya kedua tubuh itu sama-sama menegang ketika pelepasan menghantam mereka tanpa ampun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Malyshka!!" Panggilan itu kembali terdengar dari lantai atas.


"Di belakang!" Dan Nania menyahut dengan teriakan yang sama, sehingga Daryl bergegas menuju teras belakang di mana dia berada.


Barang-barang bekas berserakan di lantai yang sebagiannya telah rusak. Kantong sampah pun berjajar dan kertas-kertas bekas bertumpuk yang sebagian besar mulai dikeluarkan oleh pegawai laki-laki.


"Lihat Pak Suami, banyak kan yang masih bagus?" Lalu Nania menunjuk box yang diisi mainan yang masih utuh.


"Ada buku cerita juga, nanti bisa ngisi rak di taman bacaannya." Dia pun menunjuk box lain berisi buku yang masih bisa digunakan.


"Benarkah?" Daryl menghampirinya.


"Iya. Kan aku bilang juga apa? Masih ada yang bisa digunakan dan ini masih bagus-bagus."


"Hm …." Daryl mendekati box lalu meraih sebuah bola bergambar tokoh kartun.


"Ini yang aku mainkan dengan Kak Dim. Dulu ada tiga tapi yang dua hilang. Ini masih ada karena Ara yang simpan. Tidak akan ada yang berani menghilangkan kalau Ara yang membereskan." Pria itu tertawa saat mengingat masa kecilnya.


"Ara juga sering main di sini?" Nania bertanya.


"Ya. Mama juga mengasuhnya sama seperti kami. Apalagi kalau Om Arfan dapat tugas ke luar kota kan, Ara pasti berhari-hari tinggal di sini."


"Kenapa di sini? Mamanya ke mana?"


"Tiga tahun?"


"Ya."


"Terus gimana ceritanya Pak Arfan bisa nikah sama Kak Dygta?"


"Umm … aku nggak ingat, waktu itu setelah Kak Dygta pulang dari Rusia tahu-tahu mereka menikah."


"Hmm … pantesan aku nemuin ada boneka tadi. Aku pikir kamu mainin boneka juga? Tahunya Ara memang sering ke sini ya? Hahaha."


"Hmm … kamu tidak tahu seberapa sering kami bertengkar karena berebut ingin bermain dengan Ara. Tapi akhirnya tidak ada siapa-siapa yang main dengannya karena Ara keburu marah. Ujung-ujungnya Ara main sendiri dengan boneka-bonekanya." Pria itu tertawa mengenang masa kecil mereka.


"Aaaa, tiga anak laki-laki rebutan satu anak perempuan? Mungkin kalau Pak Arfan nggak nikah sama Kak Dygta, kayaknya ada salah satu dari kalian yang nikah sama Ara deh?"


"Umm … kalau soal itu aku tidak tahu." Daryl menghendikkan bahunya.


"Bisa aja kan? Atau kalian bakal rebutan lagi." Nania kembali tertawa.


"Makanan sudah siap?" Daryl mengalihkan topik pembicaraan. 


Rasanya sedikit tidak nyaman ketika mereka membahas soal masa lalu dan kenangan-kenangan pada barang-barang yang sedang Nania bereskan.


"Nggak tahu, kayaknya udah. Dari tadi Mbak Mima nggak balik lagi ke sini." Nania melihat ke arah dapur.


Daryl lebih mendekat kemudian menunduk kan tubuh. Dan setelah mampu mencapai Nania, dia segera berbisik.


"Aku mau makan." katanya.


"Come." ucap pria itu yang mengulurkan tangan dan Nania segera bangkit mengikutinya.


"Makan beneran kan? Masa mau makan yang itu? Kan tadi udah. Hehe." Nania tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Mes*m!" Pria itu menggumam.


"Orang kamu yang bikin aku jadi mes*m." Nania menjawab.


"Fitnah. Itukan sudah ada dalam otakmu sendiri?"

__ADS_1


"Dih? Ngeles!!"


"Memang begitu kan?"


Nania mencebik.


"Oh iya, aku udah beresin gambarnya lho." Perempuan itu kemudian menarik sebuah kertas bergambar rumah di salah satu meja, lengkap dengan denah dan keterangannya, lalu dia serahkan kepada suaminya.


"Wow, kapan kamu menyelesaikannya? Bukankah baru mulai semalam?" Daryl menerima benda tersebut dan melihatnya baik-baik.


"Tadi sepulangnya dari Fia's Secret." Mereka duduk di kursi makan di mana para asisten rumah tangga sedang menata makanan di meja.


"Bisa secepat ini?"


"Cuma gambar doang pasti cepet."


"Hmm … baik, kalau begini bisa aku kirimkan kepada Om Arfan." Pria itu merogoh ponselnya si saku celana, kemudian mengambil foto gambar tersebut yang segera dia kirimkan kepada kakak iparnya.


"Sepertinya banyak hal yang bisa kamu lakukan tapi aku tidak tahu ya?" Daryl bergumam sambil menatap gambar tersebut.


"Sedikit."


"Tapi setiap hari ada saja hal yang tidak aku sangka tapi kamu bisa?"


Nania hanya tersenyum.


"Setelah ini apa lagi? Jangan-jangan belajar bahasa juga tidak akan membutuhkan waktu lama untukmu?"


"Coba aja nanti." Nania tersenyum lebar kepada suaminya.


"Hmm … apakah aku menikahi perempuan jenius?" Pria itu mencondongkan tubuhnya.


"Nggak jenius juga. Tapi aku bisa belajar dengan cepat."


Kini Daryl yang tersenyum bangga.


"Mbak Mima pesanan aku udah dibuatin?" tanya Nania kepada Mima.


"Sudah, Non. Ini mau saya bawa." jawab perempuan itu yang bergegas kembali ke dapur.


"Pesanan apa?"


"Masakan."


"Masakan apa?"


"Ada lah, pokoknya spesial." Nania menatap piring besar yang Mima bawa, berisi iga bakar yang dia pesan kepada perempuan itu sore tadi.


Daryl terkekeh.


"Tapi hanya satu hal spesial yang aku tunggu." Pria itu berbisik.


"Apaan?"


"Kamu." kataya, yang membuat wajah Nania bersemu merah.


"Gombal."


Nania memutar bola matanya, namun dia melihat raut wajah suaminya yang cukup familiar. Dia tahu dan juga mengerti apa maksudnya, karena tamu bulanannya memang sudah berhenti. Jadi sudah bisa dipastikan jika hari-harinya akan kembali seperti semula.


"Serius." ucap Daryl sambil tertawa.


"Iya, makan dulu. Nanti malam udah bisa lagi." gumam Nania yang melirik ke ambang pintu ketika dia melihat kedatangan kedua mertuanya.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Duh, tawaran menggiurkan gaess. Yakin nggak akan ditolak itu mah.


Cuss komen like hadiahnya kirim lagi.


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_1



__ADS_2