
💖
💖
"Sudah dicoba? Bagaimana?" Daryl sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Belum, kan besok." Nania yang baru keluar dari kamar mandi pun menjawab.
"Kenapa harus besok?"
"Barusan kata Kak Kirana kalau di tes nya pagi-pagi lebih akurat." Perempuan itu pun mendekat ke tempat tidur.
"Begitu ya?"
"Uh'um …." Lalu dia naik dan merangkak ke dekat Daryl, kemudian menduduki perutnya.
"Aku deg-degan." Nania terkekeh pelan.
"Deg-degan kenapa?"
"Gimana kalau ternyata di sini udah ada isinya?" Dia mengusap perutnya sendiri.
"Ya bagus, berarti kita berhasil." Sementara tangan Daryl sudah merayap di pahanya.
"Kalau nggak?"
"Tidak apa-apa. Berarti waktu kita masih banyak untuk pacaran." Pria itu sambil tersenyum dan tangannya terus merayap ke atas sehingga menyingkap pakaian tidur tipis yang menempel di tubuh Nania.
"Kamu sedang menggodaku, hum?" Kedua tangannya berhenti di pinggul saat dia merasakan tak ada penghalang lain di sana.
"Nggak, kan setiap malam aku emang begini." Perempuan itu menunduk kemudian mengecup bibirnya yang masih tertarik membentuk senyuman. Lalu dia merapatkan dada mereka.
Nania menyurukkan wajahnya di ceruk leher Daryl dan dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang sangat disukainya.
"Nggak mau ML, maunya gini aja." bisiknya, dan dia terus merapatkan tubuh mereka.
"Kamu membuatku tersiksa kalau hanya begini, tahu?" Pria itu menelusupkan tangannya dan membenahi posisi alat tempurnya yang sudah menegang setiap kali mereka berdekatan seperti itu. Dan tahu Nania tak mengenakan apa pun selain pakaian tidur membuatnya lebih tersiksa lagi.
"Hehehe …."
"Malah tertawa!" Daryl mengusap-usap punggungnya dan dia berusaha untuk bisa menahan keinginannya.
"Eragonnya sensitif." ucap Nania yang sudah merasa nyaman dengan posisinya di atas tubuh suaminya.
"Hmm … tahu begitu kamunya bikin gara-gara terus?" Daryl menjawab.
"Nggak bikin gara-gara juga Eragon sensitif terus?"
Daryl terkekeh dan tangannya masih mengusap-usap punggung Nania sehingga perempuan itu semakin merasa nyaman. Dia sesekali mengusap dan meremat bokongnya yang menyebabkan sedikit pergerakan di bawah sana.
"Daddy, jangan begitu!" keluh Nania ketika dia merasa geli di bagian belakangnya.
"What? I'm just touch you!" Pria itu tertawa lagi.
__ADS_1
"Touch nya berlebihan!" protesnya kemudian.
"No!" Daryl tergelak. Sebenarnya dia memang sengaja melakukannya untuk menggoda perempuan itu, dan sepertinya berhasil?
"Tangannya jangan nakal!"
"Kalau tidak nakal tidak bisa membuatmu senang." jawab Daryl yang lagi-lagi menyentuh bokongnya dan meremat bagian itu dengan lembut.
"Mmmm …." Nania menekan sel*ngk*ngannya ketika Daryl tidak berhenti mengganggunya.
"I don't wanna stop." Pria itu setengah berbisik. Dan tangannya terus turun hingga dia menemukan ar*a prib*di Nania.
Mereka saling pandang untuk beberapa saat, dan senyum Daryl semakin lebar ketika Nania terlihat menggigit bibir bawahnya dengan keras.
Napasnya mulai terputus-putus dan wajahnya memerah saat hasratnya mulai naik dengan cepat.
Mereka bangkit dan dengan segera Daryl mencumbunya. Dia tak memberi kesempatan sedikitpun bagi Nania untuk menghindar.
Kedua tangannya menyelinap dibalik kain lembut itu dan dia meremat apa yang ditemukannya di sana. Kedua bulatan milik Nania yang begitu menantang dan membuatnya merasa tak puas jika tak menyentuhnya.
Daryl mengangkat pinggul Nania ketika di saat yang bersamaan pria itu melepaskan seluruh pakaiannya. Dan tanpa aba-aba dia menghujam dari bawah sehingga milik mereka segera bertautan.
"Ahhh ….!" Mulut Nania terbuka dan suara des*hannya terdengar begitu erotis memecah kesunyian pada malam itu.
Keduanya terdiam dan saling pandang selama beberapa detik dengan napas yang menderu-deru, lalu Daryl menekan punggungnya sehingga mereka kembali bercumbu.
"Go ahead." Daryl kembali meremat bok*ng Nania sehingga memberikan sedikit tekanan pada miliknya dan menimbulkan perasaan menyenangkan.
Lalu perempuan itu mulai menggerakkan pinggulnya, dan mereka memulai percintaan itu dengan perlahan.
Keduanya segera tenggelam dalam hasrat dan mereka kehilangan kesadaran dengan cepat. Yang tersisa hanya suara percintaan yang memenuhi ruangan itu tanpa jeda.
"Oohh … Malyshka!" Daryl meracau saat Nania bergerak semakin cepat. Miliknya terasa di rem*s kuat dan jantungnya berdegup semakin kencang.
Kedua tangannya semakin tak karuan menyentuh Nania dan perasaannya menjadi lebih menggila. Semakin lama dia menjadi semakin tidak tahan.Â
Yang kemudian membuatnya mendorong perempuan itu sehingga tautan tubuh mereka terlepas.
"Umm …." Wajah Nania tampak kecewa karena dia hampir saja mencapai pelepasan ketika Daryl menghentikannya.
Namun sesaat kemudian pria itu membalikkan posisi sehingga dia membelakanginya.
"Daddy?"
Daryl mengecup tengkuk dan pundaknya secara bertubi-tubi kemudian menekan punggung Nania sehingga dia menundukkan tubuhnya, dan di detik berikutnya dia kembali membenamkan senjatanya.
"Ahh!" Nania sedikit menjerit ketika benda itu menerobos miliknya dari belakang.
Sementara Daryl memegangi pinggulnya dan tetap menekan miliknya pada perempuan itu. Dia kemudian menghentak pelan selama beberapa menit sebelum akhirnya memacu lebih cepat.
"Ah, Daddy!!" Nania meremat kain di bawahnya untuk menahan perasaan gila yang dia terima.
Tubuhnya terasa meremang dan segala apa yang ada padanya terus bereaksi. Dia bahkan menginginkan hal yang lebih.
__ADS_1
"Uuuhhh, Daddy!!" erangnya, dan sebelah tangannya menggapai paha Daryl yang merapat di belakang kemudian merematnya kuat-kuat ketika dia merasakan hal ini menjadi semakin gila saja.
Apalagi ketika Daryl menciumi punggungnya dan kedua tangannya tidak berhenti menyentuh dadanya yang menggantung bebas.
"Mm … ahhh!" Tubuhnya menggeliat ketika dia sampai pada klim*ksnya dan disaat yang bersamaan Daryl mempercepat hentakannya.
"Daddyyyyyy!!!" Nania terus mengerang dan rematan pada kain pelapis tempat tidur menjadi semakin keras seiring semakin kencangnya hentakan Daryl.Â
Hingga akhirnya pria itu menghujam keras dan menekan pinggulnya kuat-kuat saat dia juga mendapatkan pelepasannya.
"Aaarrggghhhh!!" geram Daryl yang setelahnya menyesap kulit punggung Nania dengan keras.Â
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perempuan itu bangun pagi-pagi sekali, dia merasa tidak sabar untuk melakukan apa yang sudah dipikirkannya sejak semalaman.
Nania menampung air seni ke dalam wadah kecil lalu memasukkan benda yang dibelinya kemarin bersama suaminya. Kemudian dia membiarkannya terendam sementara dirinya bergegas membersihkan diri.
"Malyshka!!" Daryl mengetuk pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Sebentar." Nania bergegas membuka pintu dan dia sudah mengenakan bra dan celana pendeknya.
"Kenapa lama sekali?" Pria itu masuk ke dalam, dan dia menemukan sesuatu di wastafel.
Sebuah alat yang dikenalinya untuk mengetahui keadaan tubuh istrinya.
Daryl kemudian memungutnya dan menatap benda tersebut untuk beberapa detik.
"Ini artinya?" Lalu dia melirik ke arah cermin dan menatap pantulan wajah perempuan itu.
"Negatif." jawab Nania dengan suara pelan. Dia kembali menatap alat tersebut yang garis merahnya muncul satu. Tak pelak, rasa kecewa menguasai dada saat dia mengharapkan hal sebaliknya.
"It's okay …." Lalu Daryl segera menariknya ke pelukan.
"Waktu kita masih banyak kan?" katanya sambil menepuk-nepuk punggung Nania.
"Jangan bersedih."
Nania terkekeh pelan.
"Hati aku kok rasanya kecewa ya?" gumam perempuan itu dan kedua tangannya melingkar di tubuh Daryl.
"Itu biasa." Pria itu dengan penghiburannya, dan dia mengeratkan pelukannya pada Nania.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Hmmm .... It's oke, Nna. mungkin belum waktunya.
__ADS_1
Ayo dicoba terus? FIGHTING!!