The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pergumulan Di Sore Hari


__ADS_3

💖


💖


"Come!" Daryl menggerakkan jari tangannya meminta Nania untuk menghampiri.


Lalu perempuan itu menurut setelah melepaskan rok panjangnya terlebih dahulu. Daryl menyeringai, dia merasa senang dengan hal itu.


"Masih sore, Pak." Nania duduk di pangkuannya, dan segera saja pria itu menyambutnya dengan sebuah kecupan manis.


"Aku hanya memintamu mendatangiku, mengapa kamu melepas roknya? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Dia tertawa.


Wajah Nania seketika memerah dan dia menjadi salah tingkah.


"Umm … aku pikir kan …." Lalu dia hampir saja bangkit namun Daryl menahannya.


"But i like it." katanya, lalu dia meraih wajah perempuan itu untuk dikecup bibirnya. Dan seketika ruangan itu jadi memanas.


Mereka saling memagut dan menyesap bibir masing-masing. Bahkan Daryl sesekali menggigit lembut, dan keduanya mulai saling menyentuh.


Kedua tangan pria itu menelusuri setiap lekuk tubuh Nania yang masih berbalut kemeja sekolahnya, lalu menyelinap dibaliknya untuk merasakan kulitnya yang lembut.


Kemudian tangannya turun menyentuh bokong perempuan itu dan merematnya pelan-pelan, membuat Nania sedikit mengejang karena merasakan sensasi geli di bagian itu.


Daryl tersenyum dalam cumbuan. Dia senang karena kini Nanianya sudah merespon dengan baik setiap sentuhannya. Suara dan ekspresinya bahkan lebih indah lagi sehingga selalu membuatnya merasa bersemangat.


Dia kemudian mendorongnya ke samping sehingga kini perempuan itu berada di bawahnya. Lalu pergumulan itu berlanjut.


Secara refleks Nania melepaskan kancing kemeja dan tautan di celana Daryl, lalu pria itu yang melepaskannya. Yang kemudian dia biarkan teronggok di lantai dan kembali menunduk untuk menikmati pergumulan itu.


Daryl mengecup belakang telinganya, kemudian merayap ke tengkuk dan beralih ke leher. Sementara kedua tangannya meremat Dada Nania yang masih berbalut kemeja.


Des*han keluar dari mulut Nania saat dia merasa hasratnya mulai menanjak. Apalagi tangan pria itu yang kini menelusup ke balik kemejanya.


Namun Daryl bangkit dan tiba-tiba meraih kemeja yag menempel di tubuh Nania, lalu merenggangkan kedua ujung bawahnya ke arah berlawanan, kemudiam dalam sekali gerakan cepat dia menariknya sehingga kancing-kancingnya yang masih bertautan terlepas seketika. Sebagian lainnya malah robek dan kancingnya beehamburan ke lantai.


Nania tersentak, namun tak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah saja. Suaminya sedang sangat bergairah dan dia tak mungkin bisa dihentikan.


Daryl kemudian menarik bra nya ke atas lalu menyentuh dua gundukkan indah itu dan merematnya dengan gemas.


"Ahhh …." Nania mende*ah lagi saat pria itu membuat tubuhnya bergelenyar. Dia menyesap sebelah puncak dadanya, sementara yang sebelahnya lagi dia permainkan.


"Mmm … Daddy!!" Nania meremat rambut di kepalanya dan tubuhnya menggelinjang.


Daryl kemudian melepaskan bibir dari dadanya, lalu turun ke bawah. Menelusuri perutnya yang terlihat bergerak-gerak karena menahan hasrat dan mengecupinya dengan penuh perasaan. Sementara tangannya menarik lepas kain segitiga yang menutupi pusat tubuhnya.


Kecupannya berhenti, namun tanganya terus merayap ke dalam dan dia menatap wajah perempuan itu yang sudah memerah. Dan Nania tampak menggigit bibir bawahnya ketika dua jari terasa menerobos inti tubuhnya.


Mulutnya kemudian terbuka diikuti des*han pelan ketika pria itu menggerakkannya di dalam sana.


"Hmmm …." Nania mengerang. Sesuatu di dalam tubuhnya meronta seiring gairah yang terus berkobar. Dan Daryl tak mau menghentikan gerakan tangannya.


Perempuan itu mendesis dan memejamkan mata, lalu dia kembali menggigit bibirnya untuk menahan apa yang ingin segera dituntaskan.


"Mm … Daddy please!!" bisiknya, dengan kening menjengit dan kedua alisnya saling bertautan.

__ADS_1


"Hum? What did you say?" Daryl menyeringai. Dia tahu perempuan itu menginginkan lebih.


"Ah, please!!" Nania mulai merengek.


Daryl menyeringai dan dia malah tetap mempermainkan tangannya di bawah sana sehingga membuat Nania semakin meracau tak karuan.


"Oh, please aku nggak kuat, Daddy!!" Perempuan itu merapatkan pahanya untuk menahan apa yang mungkin akan segera meledak, namun Daryl segera menahannya sambil terkekeh.


"Aku tahu, Baby. Aku tahu." katanya, yang kemudiam bangkit sambil menarik tangannya lepas dari pusat tubuh Nania.


Dia lantas melepaskan boxer yang masih membungkus ar*a prib*dinya sehingga nampaklah apa yang sudah menegang di bawah sana.


Nania menahan napas kala menatap benda itu yan sudah bisa dipastikan akan segera menerjangnya karena dia memang sudah siap.


"Wanna touch it?" ucap Daryl sambil tersenyum.


Dan dia hampir saja kembali mengungkung Nania ketika tiba-tiba saja dia bangkit. Tanpa aba-aba perempuan itu meraih alat tempur Daryl dan menggenggamnya dengan tangan bergetar pada awalnya.


Pria itu membuka mulutnya ketika Nania mulai menggerakkan tangannya, dan tanpa di duga dia menunduk dan mendekatkan mulutnya.


"Malyshka!!" Lalu Daryl menggeram kala Nania membuka mulutnya dan senjatanya masuk ke dalam sana.


Dia tidak memperkirakan hal ini, tapi senang juga saat perempuan itu melakukannya. Apalagi ketika Nania menyesapnya pelan-pelan dan dia merasakan lidahnya bergerak menyentuh di dalam sana.


"Oh, Baby!!" Daryl mengusap kepalanya, lalu meremat rambut panjangnya ketika perempuan itu mulai bergerak. Kepalanya maju mundur dengan perlahan.


"Where'd you get … ahh …." Kepalanya mendongak dengan kedua mata yang terpejam. Jiwanya seperti terlepas dari raga ketika Nania melakukan itu.


Sementara perempuan itu menatapnya dengan perasaan berdebar. Hatinya bertanya-tanya apa dia menyukainya? Apa yang dilakukannya ini benar? Dan Nania berusaha untuk membiasakan diri dengan ini. Meski  pertama kali melakukannya, rasanya tidak lucu juga jika dia muntah. 


Dia memutuskan untuk mendorong pundak Nania perlahan sehingga alat tempurnya keluar dari mulut perempuan itu. Lalu dia terus mendorongnya sehingga mereka kembali saling menindih diatas tempat tidur dengan milik mereka yang segera saling bertautan.


"Daddyy!!" Nania merintih. Rasanya masih seperti saat pertama kali mereka melakukannya. Hanya saja kali ini tidak ada sakit atau perih, yang ada hanya rasa nikmat saja dan dia tak tahu lagi apa namanya.


"Nghh …." Pria itu mulai menghentak dan ranjang yang mereka tempati mulai bergetar. Segalanya berlangsung begitu intens dan segera saja keduanya tenggelam dalam lautan gairah yang menggelora. 


Hasrat terus saja menggulung mereka sehingga tidak lagi peduli dengan apa pun yang ada di sekitar. Yang ada hanya keinginan untuk saling memuaskan dan mencapai pelepasan bersama-sama.


Daryl terus memacu dirinya sendiri hingga tak sedetikpun dia membiarkan Nania terdiam, yang akhirnya membuat tubuh perempuan itu bergerak seirama dengan hujamannya.


"Ohh … Daddyy!!" Des*han dan erangan terus mengudara di ruangan pada hampir sore itu, seolah tak ada lagi yang mereka inginkan selain kepuasan untuk masing-masing.


Dan setelah berlangsung beberapa lama, ketika segala hal telah berkumpul di satu titik masing-masing. Saat keduanya tak lagi bisa mengontrol tubuh, hati dan pikiran, maka terpecahlah segalanya hingga mereka hampir tak bisa membendungnya lagi. 


Diakhiri hujaman keras Daryl pada Nania dan lenguhan mereka berbarengan dengan tubuh yang bergetar hebat.


"Aaarrgghhhhh!!!" 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku sudah menemukan rumah yang cocok untuk kita." Mereka memutuskan untuk duduk di terasa belakang setelah makan malam.


"Oh ya?"


"Ya. Kalau mau besok kita melihatnya setelah kamu sekolah?"

__ADS_1


Nania mengangguk.


"Emang beneran mau pindah?" Lalu perempuan itu bertanya.


"Iya, kan sudah aku bilang kalau setelah menikah kita sebaiknya hidup terpisah dari orang tua?"


"Harus ya?"


"Kalau bisa dan mampu kenapa tidak? Kecuali kalau kita belum mampu."


"Hmm …."


"Kenapa?"


"Aku betah disini." Nania tertawa sambil menyurukkan kepalanya pada pelukan suaminya.


"Tapi aku maunya kita pindah."


"Kenapa sih kamu ngotot mau pindah?"


"Ingat tidak waktu aku bilang kalau aku ingin hidup mandiri? Jauh dari orang tua, saudara dan yang lainnya?"


"Keponakan maksudnya?" Perempuan itu tertawa lagi.


"Begitulah. Hahaha."


"Saking merasa terganggunya kamu sampai begitu ya?"


"Aku nggak merasa terganggu, hanya saja aku ingin punya ruang pribadi yang bukan hanya kamar kita saja. Aku ingin seluruh rumah, halaman dan lingkungan tempat tinggalku hanya milikku sendiri tanpa dikuasai orang lain. Hanya aku dan kamu."


"Hmm …."


"Apa kamu setuju?"


"Ya kalau kamu bilang begitu ya udah, kapan kita pindah?" Nania berujar.


"Lihat dulu besok, kalau kamu suka kita bisa memutuskan untuk pindah setelahnya."


"Oh baiklah. Aku hanya akan ikut kemanapun kamu pergi."


"Yeah, itu akan bagus sekali. Kita akan membangun keluarga sendiri nanti. Dan bayangkan nanti tidak akan ada siapa pun yang mengintetupsi apa pun yang kita lakukan." Pria itu terkekeh.


"Baik Pak." Mereka pun tertawa bersama.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Hadeh ... Biar tenang nggak keganggu kayak tadi ya bang?🤣🤣🤣


Ayo klik like komen sama kirim hadiahnya lagi.

__ADS_1


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_2