
💖
💖
"Hai Dadd? Udah pulang ternyata?" Nania turun dari mobil begitu Regan membukakan pintu. Tampak Daryl yang menunggu di teras rumah besar dengan raut tidak senang.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan pria itu memutuskan untuk pulang lebih cepat. Namun Daryl tak menemukan istrinya di rumah dan baru mambaca pesan dari bawahannya jika mereka masih di rumah lama.
"Kenapa tidak menjawab teleponku?" Dia segera bertanya.
"Hape aku mati." Nania menunjukkan ponselnya yang memang tak bisa menyala.
"Kok bisa? Hape ini bisa tahan tiga hari walau kamu tidak mengisi daya di hari sebelumnya!" Pria itu merebut benda pipih di tangan Nania yang segera menghambur memeluknya.
"Orang udah empat hari nggak aku charge kok." Nania menjawab, dan dia membenamkan wajah di dada suaminya. Menghirup aroma minyak telon yang sudah bercampur dengan aroma alami tubuhnya.
"Astaga!!"
"Lupa, hehe …." Namun perempuan itu hanya tertawa.
"Hampir saja aku menyuruh orang untuk menyusulmu ke sana? Aku kira ada apa-apa?" Daryl berujar.
"Ada apa-apa gimana? Cuma lihat ke rumah. Kan sama Regan." Mereka mengalihkan perhatian kepada pria itu yang mendekat.
"Aku masuk duluan ya? Kayaknya harus cepetan mandi deh, gerah banget rasanya." Kemudian dia segera menghambur ke rumah mertuanya dan langsung menembus ke rumah di belakang.
"Hmm …." Daryl hanya menggumam seraya melepaskan perempuan itu dan membiarkannya masuk.
"Selamat sore, Pak?" Regan menyapa begitu jarak mereka sudah dekat.
"Laporan apa yang kau bawa? Mengapa bisa selama itu di sana? Memangnya apa saja yang dia lakukan hingga kalian pulang se sore ini?" Daryl segera mencecarnya dengan pertanyaan.
Regan berdeham untuk mempersiapkan diri jika saja akan menerima reaksi tak terduga dari atasannya setelah apa yang dia lakukan. Tepatnya, Nania yang memintanya untuk melakukan sesuatu.
Lalu dia mengeluarkan gulungan kertas dari saku bagian dalam jasnya, dan memberikannya kepada Daryl.
"Apa ini?"
"Bukti pemesanan beberapa barang, Pak " Regan menjawab.
"Pesan barang apa?" Daryl segera membuka gulungan tersebut dan memeriksa isinya.
Lima buah rak buku, empat meja kayu berukuran sedang lengkap dengan kursinya, termasuk di dalamnya beberapa meter karpet. Belum lagi cat, wallpaper dan bahan pertukangan lainnya.
"Untuk apa ini?" Pria itu bertanya.
"Taman bacaan, Pak."
"Taman bacaan?"
Sang bawahan menganggukkan kepala.
"Dia serius mau membuat taman bacaan itu sekarang?" Daryl menoleh ke arah pintu di mana Nania seperti mengintip sambil menyembunyikan dirinya.
"Sepertinya begitu, Pak." jawab Regan lagi.
"Astaga!!!"
"Nania mintanya besok sudah harus dikerjakan, Pak? Apa sudah diizinkan juga untuk memulainya? Karena sepertinya hal ini akan sulit ditolak?" Regan menerangkan.
Daryl mendengus sambil memijit pelipisnya ketika dia melihat jumlah uang yang harus dibayar di kertas. Bukan soal jumlahnya, tapi soal keinginan perempuan itu yang dia pikir sedikit berlebihan untuk sekarang ini.
"Aku akan membicarakannya dulu dengan Nania. Nanti aku hubungi lagi?" katanya kemudian.
"Baik, kalau begitu saya pamit?" ucap Regan yang berbalik setelah Daryl mengangguk.
__ADS_1
"Hey, tunggu!" Namun panggilan sang atasan menghentikan langkahnya.
"Ya Pak?" Regan berbalik lagi.
"Kau juga menggunakan minyak telon ya?" Daryl bertanya karena dia mencium wangi yang juga dipakainya seharian ini.
"Ya Pak, banyak sekali. Di jas, di kursi mobil. Nania bahkan memberi saya satu botol besar ini." Regan menunjukkan botol minyak telon di dalam saku jasnya.
"Hah kau juga ya?" Dan Daryl memutar bola matanya.
"Jika tidak, Nania pasti muntah hebat. Jadi ya …."
"Ya ya ya, i know." Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Saya pamit, Pak?" ucap Regan lagi yang akhirnya pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oh, astaga!! Kamu bikin aku kaget!!" Nania hampir saja terjengkang ke belakang ketika suaminya berada di depan pintu kamar mandi saat dirinya keluar.
Daryl berdiri dengan kedua tangan dilipat di dada dan dia menatap wajah segar perempuan itu.
Handuk terlilit di dada dan rambut panjangnya masih meneteskan titik-titik air.
"What are you doing?" tanya nya.
"Apaan?" Nania mendongak.
"What is this?" Pria itu mengangkat kertas yang diterimanya dari Regan beberapa saat yang lalu.
"Kertas?"
"Ck! Ini memang kertas."
"Ya terus?"
"Ohh … itu." Nania melenggang ke arah ruang ganti.
"Ya. Bukankah sudah aku katakan kalau kita akan mewujudkannya pelan-pelan? Semuanya bertahap dan tidak bisa sekaligus seperti ini." Daryl mengikutinya sampai ke dalam.
Nania melepaskan handuknya, lalu dia mengenakan pakaian di depan pria itu. Sebuah kaus longgar polos dipadukan dengan legging berwarna hitam menjadi pelapis setelah dia mengenakan pak*ian d*lamnya. Tentunya setelah membalut tubuhnya terlebih dahulu dengan produk perawatan bayi seperti biasa.
"Nania!!" Daryl menarik tangannya yang tengah menyisir rambut, sehingga perempuan itu berbalik.
"Say something!" katanya, dan dia sedikit meninggikan suaranya.
Nania terdiam sebentar sampai dia selesai merapikan rambut basahnya.
"Kamu bilang lakukan apa yang aku senang sehingga aku nggak akan ganggu kamu dengan pesan-pesan itu yang bikin telinga kamu pengang? Lupa ya kamu bilang itu ke regan?" Lalu dia menjawab.
"Kayaknya aku bakal seneng deh kalau taman bacaan itu dibikin. Aku bisa setiap hari berkunjung ke sana, menghabiskan waktu sama anak-anak atau mengajari mereka hal-hal yang aku tahu. Dan aku nggak akan ada waktu untuk mengganggu kamu sama semua omelan atau obrolan nggak berfaedah lainnya."
Kini Daryl yang terdiam.
"Dan kamu bisa tenang bekerja tanpa gangguan aku." Nania menyentuh dada pria itu lalu mengusapnya perlahan.
"Tapi kalau kamu nggak setuju nggak apa-apa. Bisa dibatalin kok, kan nggak bakal mereka kirim kalau barangnya belum dibayar. Soal buku nanti aku pikirin." Lalu Nania keluar dari ruang ganti, dan Daryl masih mengikutinya.
"Malyshka, maksudku bukan seperti itu. Aku hanya …."
"Udah, nggak usah diperpanjang. Nanti kita malah berantem. Masa cuma karena hal ini aja bikin kita nggak akur? Nggak lucu." Nania mengeluarkan isi tas sekolahnya.
"Aku ads pr. Kamu kalau mau mandi ya mandi aja ya? Aku di belakang." katanya, kemudian dia segera keluar dari kamar mereka dengan membawa alat tulis yang diperlukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Hari ini kamu banyak kegiatan?" Sofia mengisi piring suaminya dengan makan malam mereka.
"Nggak, aku cuma ke rumah lama aja." Nania melakukan hal yang sama.
"Oh ya? Bagaimana keadaannya sekarang?" Sang mertua bertanya.
"Baik."
"Kamu jadi membuat taman bacaan di sana?" Satria pun yang mulai menikmati makanannya ikut bertanya.
"Kayaknya nggak dulu deh." Nania menjawab.
"Loh? Kenapa?"
"Mm … kayaknya banyak hal yang lebih penting dari pada bikin taman bacaan, deh?" Dan Nania mengambil sayuran juga sepotong ayam goreng untuknya sendiri.
"Hah! Kenapa masih begini aja?" Lalu dia mengeluh saat rasa mual mendominasi tenggorokkannya ketika dia mengunyah makanan tersebut.
Nania lantas menenggak air minum banyak-banyak hingga membuatnya merasa lebih baik.
"Aku udahan ah." Lalu dia mendorong piringnya dan berhenti makan.
"Paksakan, Nna. Kamu harus makan." ujar Sofia.
"Nggak bisa. Nanti aku malah muntah lagi." jawabnya yang kemudian bangkit. "Aku mau makan buah aja." katanya, saat dia berpapasan dengan asisten rumah tangga.
Dan Daryl mengikutinya ke teras belakang setelah dia dan kedua orang tuanya menyelesaikan makan malam mereka.
"Kamu marah?" Lalu dia duduk di ayunan di mana perempuan itu merebahkan tubuhnya sambil menikmati potongan buah yang diantarkan Mima.
"Marah kenapa?" Nania balik bertanya.
"Soal taman bacaannya?"
"Nggak. Kenapa harus marah? Nggak penting banget." Nania menjawab.
"Ya bisa saja kamu marah karena aku tidak mau menuruti keinginanmu sekarang?"
"Nggak. Setelah aku pikir-pikir kamu ada benernya juga, terlalu banyak yang aku minta, dan aku kayak yang nggak tahu diri banget."
"Lalu kenapa sikapmu seperti ini?" Daryl mengulurkan tangan untuk menyentuh perutnya.
"Aku cuma capek. Seharian ada di luar rumah kayak kehabisan energi gitu."
"Sudah tahu begitu, lalu kenapa malah berada di luar terlalu lama?"
Nania tertawa pelan kemudian dia bangkit.
"Aku mau tidur duluan ah, besok ada ulangan bahasa lagi." Dia turun dari ayunan lalu melenggang ke dalam rumah mertuanya.
"Hey, rumah kita di sana lho?" Daryl pun bangkit mengikutinya.
"Hu'um, tapi aku mau tidurnya di sini." Perempuan itu terus masuk ke dalam rumah.
"Tapi kan …."
"Kamu kalau mau pulang ya pulang aja, nggak apa-apa." Nania naik ke lantai atas.
Sementara dia menatapnya dari bawah tangga.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...