
💖
💖
"Maafkan kesalahpahaman ini. Aku … hanya mengira bahwa kau akan berbuat hal buruk kepada putriku." Arfan meminta maaf atas kekeliruannya hari itu.
Regan masih mendapatkan perawatan dari asisten rumah tangga, berupa sebuah kantung es yang ditempelkan pada memar yang mulai terlihat akibat pukulan yang bersarang di pipi dan sudut bibirnya.
Sementara Anandita telah selesai dengan luka di lutut yang menyebabkannya harus ditutup dengan sedikit perban dan plester.
"Regan?"
"Tidak apa-apa, Pak. Saya paham. Saya juga minta maaf kalau sudah tidak sopan kepada Ann. Saya hanya bermaksud menolongnya." Regan akhirnya buka suara.
"Yah, baiklah. Sepertinya itu memang kesalahanku." ucap Arfan lagi.
"Nah, sekarang masalahnya sudah seleaai kan? Semoga tidak terulang lagi, ya? Ann?" Satria beralih kepada cucu sambungnya yang sedikit terkejut.
"Umm …."
"Lain kali hati-hati. Jangan belajar mengendarai motor sendiri, tapi harus ada yang mendampingi." katanya.
"I-iya, Opa." Anandita tergagap.
"Abisnya dari tadi nggak ada orang yang bisa aku mintain bantuan. Pak Nunu lagi jaga. Mbak Nur nggak bisa soalnya lagi beres-beres rumahnya Om Der. Mbak Mima lagi masak."
"Ya kan tahu kalau kami pergi joging? Kenapa kamu tidak menunggu?" Sela Arfan.
"Umm …."
"Untung masih di halaman rumah. Kalau dijalan, bisa habis kamu!" ucap sang ayah.
"Maaf, Pah."
"Sudah, yang penting Ann tidak apa-apa. Kenapa juga tidak bilang kalau mau belajar naik motor? Kan bisa diajari Arkhan?" Sofia seperti biasa selalu menjadi penengah ketika keadaan sedikit tegang.
"Arkhannya di rumah Kak Galang terus." Anandita menjawab.
"Kan ada Om Dimitri dan Om Daryl?"
Gadis itu melirik kedua pamannya.
"Tunggulah sampai datang, jangan tidak sabaran seperti ini." ucsp Arfan lagi, membuat Anandita terdiam.
"Papamu tidak marah, tapi dia hanya khawatir saja, Nak. Tahu sendiri kan?" ucap Sofia lagi, dan Anandita pun mengangguk.
"Jadi tidak ada masalah lagi ya, Regan? Sekali lagi kami minta maaf." Dan Satria memastikan kembali situasinya saat ini.
"Iya, Pak." Regan pun menjawab.
Memangnya apa lagi yang akan dia lakukan? Menghadapi hampir seluruh anggota keluarga Nikolai sendirian seperti ini rasanya cukup menegangkan juga. Meskipun tak ada hal yang mereka katakan selain membahas kesalahpahaman pada hari itu.
"Baiklah, sepertinya kita harus mengakhiri hal ini dengan makan siang?" ujar Sofia saat melihat Dygta, Kirana dan Nania muncul.
"Ya, makan sianglah dengan kami, Nak." Satria menepuk pundaknya dengan pelan.
"Umm … terima kasih, Pak. Sepertinya saya harus bersiap-siap." Regan bermaksud menolaknya.
"Bersiap-siap? Memangnya kalian akan pergi?" Satria bertanya.
"Tidak ada, Pak. Hanya ke Rumah Baca Nania." Regan melirik kepada Daryl.
"Oh, apalagi hanya ke sana. Pokoknya kamu harus ikut makan siang. Ayolah, sebagai permintaan maaf kami?" Sofia membujuknya.
"Terimakasih, Bu. Tapi …."
"Ayolah, aku akan merasa tidak enak jika kau menolak." Namun Arfan segera menyahut, yang membuat pria 25 tahun itu akhirnya menurut juga.
"Ee … baiklah …." Meskipun pada kenyataannya dia merasa canggung.
Lalu mereka semua pindah ke ruang makan yang besar tersebut. Dimana berbagai jenis makanan menggugah selera sudah terhidang di meja.
"Ayolah, anggap rumah sendiri. Bukankah nenekmu dulu yang mengurus kami?" Sofia menjamu Regan seperti kepada tamu.
Sedangkan ria itu hanya tersenyum.
"Dan kalau dia masih ada pasti akan sangat bahagia melihat anak-anak yang diasuhnya sejak bayi tumbuh sehat."
"Ya, sepertinya begitu, Bu." Regan mengangguk-anggukkan kepala.
"Ini masakan yang sering dibuatnya ketika masih bekerja di sini." Sofia mengambilkan dua sendok potongan daging dengan bumbu merah. Dan Regan memang hafal dengan beberapa makanan jenis ini.
Dia ingat, ketika dulu saat masih kecil sering memakan makanan yang sama, yang dibuatkan oleh neneknya setiap kali pulang untuk liburan. Dan perempuan tua itu sering menceritakan soal pekerjaannya di sebuah keluarga, dan mengatakan jika nanti ketika sudah besar dia berharap sang cucu bisa bekerja juga di sana.
"Masa depanmu akan cerah, Nak. Tapi resikonya besar. Kamu akan sering meninggalkan keluargamu atau menghabiskan banyak waktu untuk bekerja dari pada mengurusi dirimu sendiri." Regan ingat ucapan sang nenek.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu." katanya, kepada Sofia.
Kemudian acara makan pada siang itu berlangsung hangat seperti biasa. Celotehan anak kecil seperti Anya dan Zenya menjadi pemeriah suasana, dan candaan di antara para anggota keluarga membuat keadaan menjadi semakin menyenangkan.
Dan Regan hanya tersenyum atau tertawa pelan ketika mendengar percakapan di antara mereka. Tanpa menyadari perhatian seseorang sesekali tertuju kepadanya.
"Terima kasih Pak. Makan siangnya hari ini sangat menyenangkan." Lalu setelah selesai, dan beberapa saat ikut bercengkrama dengan mereka, dia pun akhirnya berpamitan.
"Baiklah kalau kau memaksa." Satria menjawab.
"Saya harus kembali bekerja, Pak." ujarnya saat melihat Daryl dan Nania keluar dari rumah mereka.
"Baik, selamat bekerja kembali." ucap sang tuan rumah, dan Regan pun segera pergi.
Sekilas dia melirik ketika ekor matanya menangkap keberadaan seseorang di ruang televisi.Â
Anandita yang awalnya menunggu pria itu melintas kini dia berpura-pura memainkan ponselnya. Meski gadis itu merasa gugup, tapi dia berusaha untuk lebih tenang.
Lalu Regan berhenti sebentar kemudian mundur beberapa langkah dan menoleh ke ruangan di mana gadis itu berada.
"Ann?" panggilnya.
"Ya Om?"
"Hari ini tidak ikut ke rumah baca?" Pria itu bertanya.
"Lutut akunya sakit." Anandita menunjuk lututnya yang berbalut perban.
"Ah iya. Baiklah kalau begitu." Regan hampir saja berlalu, namun dia kembali.
"Jangan belajar motor sendirian, atau kamu akan jatuh lagi. Coba nanti apa yang akan kamu tabrak?" Lalu dia sedikit berbisik.
Anandita tertawa.
"Atau kalau mau belajar motor lebih baik di lapangan sepak bola saja agar lebih luas."
Gadis itu menganggu sambil tersenyum.
"Baiklah, sampai nanti." Lalu Regan mengangkat tangannya dan sedikit melambai kepada gadis itu.
Anandita masih tersenyum dan dia melakukan hal yang sama.
"Om Regan?" panggilannya kembali menghentikan langkah Regan.
"Maaf, gara-gara aku Om kena pukul papa." ucap gadis itu.
"Oh, itu bukan apa-apa. Pukulan Pak Daryl lebih parah dari ini." Jawab Regan, dan dia tertegun sebentar.
"Umm … saya pamit." katanya, kemudian dia cepat-cepat pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nania?" Suara panggilan dari luar pagar menginterupsi percakapan Nania yang tengah berdiskusi dengan beberapa orang temannya di teras rumah.
Perempuan itu menoleh dan dia mengenali wajah yang mendongak dari pintu yang terbuka sedikit.
"Ibu?" Nania bangkit dari kursinya.
"Malyshka?" Dan Daryl yang berada di sisi lain teras segera bereaksi begitu menyadari pergerakan dari istrinya.
"Sebentar, aku mau lihat ibu." Nania pun bergegas menghampiri Mirna.
"Ibu dari mana?" Dia lantas bertanya.
"Mau pergi bekerja." Mirna pun menjawab.
Dia memindai wajah sang putri yang semakin hari tampak semakin berseri. Dan keadaannya pun tampak semakin lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja, hidupnya tak sesusah dulu dan dia terlihat sangat terawat.
"Masuk shift siang?"
Mirna menganggukkan kepala.
"Ibu kerja di mana sekarang?" Nania terus bertanya.
"Umm … di … laundry?" Sang ibu pun menjawab meski agak ragu.
"Laundry?"
Perempuan paruh baya itu mengangguk lagi.
"Syukurlah."
"Ya." Dia masih menatap putrinya.
"Ibu mau masuk?" ajak Nania yang mundur dua langkah. "Suami aku juga ada, mungkin ibu mau ketemu?" katanya yang menoleh ketika Daryl datang menghampiri.
__ADS_1
"Eee … tidak usah. Ibu hanya sebentar untuk memastikan kalau kamu memang benar ada di sini." ujarnya, dan dia tampak canggung ketika menantunya sudah berada di dekat mereka.
"Dari mana ibu tahu aku di sini?"
"Dari … eee … ibu sering lewat sini dan melihat kalau daerah ini sering ramai. Jadi … ibu kira mungkin saja ada kamu?" jawabannya cukup masuk akal meski pada kenyataannya tidaklah begitu.
"Ooh, berarti tempat kerja ibu di sekitar sini?" Nania mulai merasa penasaran.
"Umm … ya, beberapa blok dari sini.
"Oke."Â
"Kalau begitu ibu pamit?" Mirna sudah merasa tidak enak dengan keberadaan Daryl di dekatnya.
Dia yang berdiri menjulang sambil bersedekap, hanya terdiam sambil menatapnya dengan tajam.
"Ya Bu."
Dan Mirna hampir saja berlalu ketika Nania mengatakan sesuatu.
"Aku lagi hamil sekarang." katanya dan hal itu membuat Mirna membeku untuk beberapa saat.
"Mau dua bulan, Bu."
Perempuan itu menghela napas pelan, dan dia menatap wajah putrinya yang sumringah.
"Sebentar lagi Ibu akan jadi nenek. Bukankah itu bagus?" ucap Nania lagi meski tak mendapat respon yang dia harapkan.
Tapi perempuan itu tahu, dan dia memang sudah mempersiapkan diri jika memang ini yang terjadi. Dan anehnya Nania tidak merasa kecewa karena dia memang sudah tahu bagaimana ibunya akan bereaksi.
"Bukannya ibu mau pergi kerja?" Nania kemudian mengingatkan.
"Pergi sekarang, Bu. Nanti kesiangan." katanya.
Dan Mirna pun berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata.
"I hate her." gumam Daryl yang merangkul pundak Nania.
"Aku tahu." Perempuan itu sedikit tertawa.
"Is that okay?"
"Ya nggak apa-apa. Setiap orang kan beda-beda. Kamu benci sama ibu, tapi mau gimana juga dia tetap ibu aku."
"You right."
"Jadi jangan larang aku tetap berbuat baik sama ibu walau kamu benci ya?" Nania mendongakkan wajahnya.
"Ugh! Ingin sekali aku melarangmu, tapi kita tahu itu salah." jawab pria itu.
Dan Nania hanya terkekeh.
"Tapi awas saja kalau dia berbuat buruk lagi. Aku tidak akan mengampuninya." Daryl mengancam.
"Nggak akan. Mana berani ibu begitu?"
"Kita tidak tahu kan?"
"Hmm …."
"Jadi … apa kita masih lama di sini?" Daryl kemudian menggiringnya kembali ke dalam.
"Kenapa? Udah bosan ya?"
"Apa? Ooo … tidak. Tidak sama sekali, aku hanya bertanya." Pria itu segera melepas rangkulannya.
"Masa?"
"Benar. Sana, lanjutkan diskusinya, sementara aku akan menunggu di sana sampai kamu selesai." Dia menunjuk sofa tempatnya semula.
"Bener?"
"Iya benar. Aku ke sana lagi ya? Nanti beritahu kalau kamu sudah selesai. Oke, Malyshka?" katanya yang bergegas kembali ke sofanya. Dia memilih cara aman untuk menjalani hari ini agar tak timbul kekacauan nantinya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Om Der gabut🤣🤣
__ADS_1