The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Lucu


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Malyshkaaa?" Daryl masuk ke dalam rumah besar ketika dia tak menemukan Nania di rumah belakang.


"Disini!" sahut perempuan itu dari ruang makan mertuanya.


"Hai Dadd? Aku pikir kamu pulangnya malem?" Nania dengan mulut penuh makanan. Sementara Sofia di sampingnya menemani.


Pria itu mendekat sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.Β 


"Rapatnya udahan?" Nania bertanya.


"Sudah dari tadi." Daryl duduk di kursi kosong di sampingnya.


"Oo …." Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepala, kemudian dia melanjutkan kegiatan makannya.


"Aku kira kamu lembur lagi, jadi aku makan duluan." Nania melahap nasi, sayuran hijau dan potongan daging ayam tepung di piringnya dengan semangat. Sementara Daryl menatapnya dalam diam.


"Ya, aku menyelesaikan semua pekerjaan hari ini agar bisa pulang cepat." Lalu dia menjawab.


"Masa?"


"Uh'um." Daryl mengangguk, dan dia melirik ketika Satria muncul.


"Papi, maaf aku duluin makannya. Habisnya laper." Perempuan itu pun menoleh kepada ayah mertuanya.


"Tidak apa, makanlah saja." Satria menjawab.


"Cara makanmu mengkhawatirkan, Nna. Dan setelah tiga kali makan sore ini kamu masih bilang lapar? Ckckck!" Sofia menggeser beberapa piring berisi lauk dan sayur ke dekat menantunya yang memang belum berhenti makan sejak tadi.


Hari ini Nania memang lebih sering makan dari biasanya, dan ada saja alasannya untuk meminta makanan atau sekedar camilan kepada asisten rumah tangga mereka.


"Really?" Daryl menyahut.


"Iya. Mungkin karena aku banyak tugas jadinya laper terus." Nania menjawab.


"Tugas apa?"


"Tadi di sekolah ulangan dua mata pelajaran, terus habis itu guru ngasih prnya banyak banget." Perempuan itu bercerita.


"Oh ya?"


Nania mengangguk lagi, dan mulutnya masih belum berhenti mengunyah makanan.


"Sekarang sudah selesai?" Daryl bertanya lagi.


"Udah. Energiku habis gara-gara itu." akunya dengan bangga.


"Huh, hanya pr sekolah."


Sofia dan Satria yang juga mulai makan terdengar tertawa.


"Kamu nggak mau makan? Ini enak lho." Nania menawarkan makanan kepada suaminya.


"Yeah, right. Tidak ada makanan yang tidak enak untukmu." Daryl menyodorkan piring ketika Nania mengambilkan nasi untuknya.


"Emang, hahaha." Ayam, sayuran dan lauk lainnya juga dia masukan untuk dimakan oleh suaminya.


***


Nania duduk bersandar pada sofa dengan nyaman ketika Daryl turun dari kamar mereka setelah membersihkan diri. Televisi menyala menayangkan acara anak dengan film kartun sebagai andalannya. Membuat Nania tertawa karena program itu memang cukup lucu.


"Hmm … anak SD sedang nonton kartun." Pria itu duduk di sampingnya.


"Yeee … emangnya anak SD aja yang boleh nonton kartun? Orang dewasa juga boleh kali."


Daryl tergelak.


"Besok jadwalku kosong, lho." ucap Daryl yang bergeser hingga mereka menjadi cukup dekat.


"Terus?"


"Umm … siapa tahu kamu mau melakukan sesuatu?" Pria itu memiringkan kepalanya.


"Apaan?"


"Ya … apa saja."


Nania menatap wajah suaminya yang kedua alisnya bergerak naik turun.


"Nggak ah, kan akunya sekolah." Namun perempuan itu kembali menatap layar televisi yang masih menayangkan acara animasi.


"Duh?" Daryl kemudian mendekatkan wajahnya. "Terus yang tadi itu apa?" Lalu dia bertanya.


"Yang tadi apaan?" Nania malah balik bertanya.

__ADS_1


"Yang tadi siang kamu tunjukkan kepadaku, ingat?"


"Umm …."


"Yang merah-merah, dan kamu bilang akan bersiap-siap?"


Nania mengerutkan dahi.


"Ooohh … pas nyobain daleman?" Perempuan itu dengan segala keluguannya.


"Yes the under wear … and stuff …."


"Bagus nggak?"


"Hum?"


"Dalemannya bagus nggak?" tanya nya yang kembali mendongak.


"Ba-bagus …." Daryl menelam saliva ketika visual Nania yang mengenakan bra dan kain mini super transparan berwarna merah menyala pada tadi siang melintas di otaknya.


"Masa? Berarti aku cocok pakai itu?"


"Mm … ya, cocok."


"Ya udah." Lagi-lagi Nania kembali menatap layar di depannya.


"Haih."


"Apaan lagi?"


"Hanya segitu? Kamu repot-repot mengirim gambar setengah telanjang lalu menelfon dan dengan sengaja membuatku memghentikan rapat sebentar hanya intuk itu saja?"


"Memangnya kenapa?


"Kenapa katamu? Setelah berpesan kepadaku untuk pulang cepat dan mengatakan kamu akan bersiap, tapi hanya begini saja?"


"Ya emangnya mau apa? Ye, aku cuma nunjukin daleman yang mama kasih."


"Padahal aku mati-matian menyelesaikan pekerjaanku lho, demi itu." Daryl merebahkan kepalanya pada sandaran sofa saat terdengar kekehan dari Nania.


"Masa kamu pulang buru-buru cuma demi itu? Aneh banget sih?" Perempuan itu tertawa.


"Ah, kamu menyebalkan." Daryl mendengus keras sambil melipat kedua tangannya di dada.


Nania mengatupkan mulutnya sambil menahan senyum. Aneh sekali dirinya menjahili Daryl seperti ini? Tapi rasanya menyenangkan.


"Tidak lucu." Pria itu bergumam.


"Nggak lucu ya?"


Daryl mendelik.


"Kalau ini lucu nggak?" Nania bangkit kemudian berdiri membelakangi televisi.


"What? Kamu mau melawak di depanku?" Daryl menjawab dengan raut masih tampak kesal.


Nania tertawa lagi, dan hal ini terasa semakin lucu saja baginya.


"Nggak tahu ya, apa ini sejenis lawakan atau bukan. Tapi untuk aku rasanya lucu sih." Perempuan itu membuka satu persatu kancing piyamanya. Namun dia tak lantas melepaskan benda itu dari tubuhnya.


Dia malah menyentuh dirinya sendiri sambil menunjukkan apa yang ada dibalik piyama bagian atasnya. Yakni sebuah bra berwarna merah menyala seperti yang dikenakannya tadi siang.


Daryl sedikit menahan napas. Memang setiap hari dia melihat seluruh tubuh perempuan itu, tapi selalu saja ada hal baru yang Nania lakukan.


"Apa menurut kamu ini nggak lucu?" Nania kemudian melepaskan celana pendeknya hingga akhirnya terpampanglah apa yang ada di dalamnya.Β 


Kain segitiga supermini yang menutupi ar*a prib*dinya yang membuat perempuan itu tampak menggiurkan.


Daryl menggigit bibir bawahnya dengan keras dan dia merasakan jantungnya berdegup kencang. Hatinya meronta-ronta ingin menyentuh tubuh menggoda di depannya, tapi dia ingin tahu apa lagi yang akan istrinya lakukan.


"Kalau nggak lucu terus apa namanya?" Nania memutar tubuh sehingga bagian belakangnya tampak begitu jelas.Β 


Apalagi ketika dia melepaskan piyama bagian atasnya, dan terpampanglah semua yang ada padanya.


"Apa aku udah cocok jadi model? Apa aku kelihatan seksi?" Dia berpose seperti yang diingatnya saat melakukan foto shoot untuk produk parfum.


"Model apa?" Daryl mulai bereaksi.


"Pak*ian dal*m. Bagus kan? Kata mama sih bagus, udah cocok." Dia kembali berpose sambil menyugar rambut panjangnya.


"Coba saja kalau berani!" Pria itu menggeram.


Dadanya sudah bergemuruh, tubuhnya memanas dan tentu saja hasratnya bangkit dengan cepat. Siapa yang tidak? Melihat tubuh kecil tapi menggoda milik istrinya yang berbalut kain merah super seksi itu membuat imannya yang setipis tisu menghilang begitu saja.


"Emangnya kenapa? Nggak cocok ya?" Nania menelusuri tubuhnya yang kini sedikit lebih berisi dengan kedua tangannya. Membuat Daryl semakin merasa tak karuan.


Pria itu mengetatkan rahang hingga giginya terdengar bergemeletuk. Lalu dia menyentakkan kepala sambil menepuk pahanya meminta Nania untuk mendatanginya.

__ADS_1


"Come, Malyshka. I want you." katanya dengan tatapan yang sudah berkabut.


Nania tersenyum dan dia berjalan pelan menghampiri suaminya. Perempuan itu lantas naik ke pangkuannya yang segera Daryl sambut dengan bersemangat.


"Sejak kapan kamu nakal seperti ini?" ucap Daryl yang kedua tangannya memegang pinggul Nania.


"Sejak sekarang."


"Dan siapa yang mengajarimu?" Tangan pria itu merayap ke atas lalu dia menekan punggung Nania sehingga jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja.


"Nggak ada." jawab Nania sambil tersenyum. Hatinya saat ini terasa berdebar-debar dan dia tak percaya sedang menggoda suaminya.


"But i like it." Daryl setengah berbisik, lalu dia mengecup telinga perempuan itu dengan lembut.


Nania merasakan tubuhnya meremang, dan gelenyar hebat segera merambat di punggungnya kala pria itu menyentuhnya lagi.


Dan sekejap saja bibir mereka bertemu lalu saling memagut. Usapan dan rematan tangan Daryl di sekujur tubuhnya membuat Nania bergerak dan menggeliat.


"Umm … Daddy, jendelanya?" Nania mendorong wajah Daryl yang tersuruk di lehernya.


"Aku belum mengatakan jika kacanya hanya satu arah? Itu maksudnya agar kita begini tanpa ada orang dari luar yang bisa melihat." Daryl menjeda cumbuannya.


"Pintunya?"


"Sudah aku kunci, jadi pasti aman." Pria itu menarik wajah Nania kemudian melanjutkan cumbuan.


Dia menurunkan tali bra di pundaknya, sehingga benda yang menopang dada perempuan itu pun tertarik ke bawah.


Dua bongkahan di depan wajahnya tampak menggoda dan Daryl segera melahapnya tanpa basa-basi.


"Ahhmm …." Nania memejamkan mata saat sengatan hebat merambat ke segala arah dan tubuhnya menggeliat-geliat tak karuan.


Jari-jarinya menelusup disela rambut pria itu dan dia menekan kepalanya sehingga sesapan Daryl di dadanya menjadi semakin kuat.


Pinggul Nania bergerak-gerak sehingga milik mereka bergesekan meski masih terhalang oleh kain. Dan apa yang ada di balik celana Daryl memang sudah sangat menegang sejak beberapa saat sebelumnya.


Dia mendorong Nania hingga perempuan itu turun dan berlutut di lantai berkarpet tersebut, bersamaan dengan dirinya yang menurunkan celananya.


Nania menahan napas sebentar dan dia menatap benda yang sudah tegak berdiri. Dadanya terus berdebar, lalu tanpa ragu dia menggenggamnya dengan erat.


Daryl lagi-lagi menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat perempuan itu membuka mulut dan di detik berikutnya alat tempurnya tersebut masuk hampir seluruhnya.


"Oh My God!" Pria itu memejamkan mata saat Nania menyesap miliknya pelan-pelan.


Dia meremat rambut panjangnya yang terurai dan membiarkannya bergerak untuk menyenangkannya.


"Aahh … Malyshka …." des*hnya, da rematannya di rambut Nania menjadi semakin kecang saja.


Matanya mengerjap-ngerjap dan mulutnya terbuka. Dadanya naik turun dengan cepat dengan napas yang menderu-deru.


Semakin lama alat tempurnya menjadi semakin tegang seiring perlakuan Nania yang semakin gila. Dia merasakan lidahnya di dalam sana bergerak dan membelit miliknya.


Daryl merasakan dirinya hampir meledak ketika tiba-tiba saja Nania berhenti dan menarik diri. Dia sempat merasa kecewa karena kesenangannya terganggu, apalagi ketika perempuan itu malah berdiri.


Namun Nania segera melepaskan kain terakhir yang menutupi miliknya, lalu di detik berikutnya dia kembali naik ke pangkuan Daryl.


Milik mereka segera bertautan dan dua tubuh yang sudah sama-sama telajang itu pun menyatu.


"Ahh!" Nania mend**ah dengan keras saat Daryl menuhi dirinya. Kedua tangannya bertumpu pada pundak pria itu lalu dia bergerak perlahan.


Daryl menyeringai dengan kedua tangannya yang meremat bokongnya, sehingga gerakannya menjadi lebih cepat.


Erangan dan des*han terus mengudara, dan mereka berdua menikmati saat-saat itu dengan baik.


"Hmm … Daddy!" Nania terus bergerak sementara Daryl terus menyentuh tubuhnya. Dia membiarkan perempuan itu berbuat apa pun yang diinginkannya, sementara dirinya hanya menikmatinya saja.


Pergumulan itu berlangsung selama beberapa saat. Keringat sudah bercucuran dan napas sudah tak beraturan. Mereka bahkan sudah tak mampu lagi mengendalikan diri hingga ketika Daryl merasa pelepasannya hampir tiba, dia mendorong Nania dan membalikkan posisi.


"Ugh!!" Pria itu memasukinya dari belakang dan segera menghentak untuk melanjutkan percintaan mereka.


"Hmmm … Daddyyyy!!!" Kedua tangan Nania meremat sandaran sofa saat dia merasa segala hal menyatu di dalam dirinya.


Pusat tubuhnya berdenyut semakin kencang seiring hetakan yang semakin cepat pula. Dan tak lama setelahnya keduanya mendapatkan apa yang menjadi tujuan percintaan, yakni klim*ks hebat yang menghantam mereka secara bersamaan.


"Aaarrggghhh!!" Diakhiri dengan lenguhan keras dari keduanya.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...


Haduh, kesorean gessπŸ™ˆπŸ™ˆ


Cusslah like komen sama hadiahnya dikirim

__ADS_1


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_2