The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Tidur


__ADS_3

💖


💖


"Nah, baiklah. Terima kasih semuanya atas kerja sama kalian. Maaf harus bekerja sampai selarut ini, tapi aku pastikan ini tidak akan sering-sering terjadi." Daryl menutup kegiatan hari itu setelah serangkaian pemotretan untuk model-model yang baru saja masuk.


"Aku harap kerja sama ini akan berjalan dengan baik dan kita bisa membuat Fia's Secret dan beberapa produk yang bernaung dibawahnya menjadi semakin dikenal luas oleh masyarakat."


"Dibawah kendaliku semua model memiliki posisi yang sama. Tidak ada senior ataupun junior. Tidak ada model baru atau pun lama. Kita hanya bekerja bersama-sama untuk membuat perusahaan semakin baik kedepannya."


Ke sepuluh model dan para staff mengangguk hampir bersamaan.


"Baiklah, kalau begitu kita sudahi saja sampai di sini." Pria itu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Selamat bergabung untuk para model dan selamat bekerja sama." Pria itu menutup dokumen kemudian bangkit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ini sudah ke tiga kalinya Nania memeriksa keluar, namun suaminya tak kunjung pulang. Yang terakhir bahkan dia berdiam diri di teras untuk beberapa saat, dengan harapan pria itu akan segera datang.


Tapi nihil. Mobil Daryl belum juga nampak di gerbang, dan ini pertama kalinya dia bekerja sampai larut malam.


Semarah itu sampai dibela-belain kerja terus? Kenapa sih harus begitu? Ini kan hal kecil. Batin Nania.


"Non sebaiknya tidur, atau ke kamar saja. Biar saya yang menunggu Bapak." Mima muncul setelah mengetahui jika majikanya masih ada di luar.


"Nggak usah. Sebentar lagi pasti pulang?"


"Nanti Bapak marah lagi lho? Non kan harusnya istirahat? Bukannya datang bulannya sakit?" Mima mengingatkan.


"Sekarang udah mendingan setelah minum ramuan itu." Nania menjawab.


"Syukurlah. Tapi sebaiknya istirahat, Non. Biar besok seger lagi." ucap perempuan yang usianya tidak jauh berbeda dengan Daryl.


Nania tertegun, lalu dia menoleh kepada sang asisten rumah tangga.


"Mbak kerja di sini udah lama?" Lalu dia bertanya.


"Nggak terlalu sih."


"Berapa lama?"


"Dua tahun."


"Pak Daryl masih di Rusia ya?"


"Iya. Saya ketemunya sesekali aja kalau pulang di hari raya. Itupun nggak lama, paling seminggu. Habis itu kan ke Rusia lagi."


Nania terdiam.


"Dimaklum kalau Pak Daryl seperti itu, mungkin kebiasaan. Dari kecil kan di sana, ya wataknya ikut orang sana. Tapi nanti kalau sudah lama dengan kita mungkin akan sedikit berubah." ucap Mima, membuat Nania menoleh.


"Maaf, bukan bermaksud lancang. Tapi kadang perbedaan kultur memang sedikit sulit dimengerti. Sama yang satu suku saja kadang banyak ributnya, apalagi yang beda."


"Mbak udah nikah?" Nania bertanya lagi.

__ADS_1


"Sudah. Anak saya dua." Mima tertawa.


"Wow? Liburnya gimana? Aku pikir masih singel?"


"Keluarga saya di Cianjur, jadi saya pulangnya tiga bulan sekali. Dikasih libur dua minggu sama ibu. Giliran sama pegawai yang lain."


"Anak-anak sama siapa?"


"Suami sama mertua."


"Ditinggal dong?"


"Dua tahun ini iya, tapi mereka sudah cukup besar untuk ditinggal."


"Dan mereka nggak apa-apa?"


"Tidak, mereka faham ibunya harus kerja. Kan untuk mereka juga?"


"Suaminya nggak apa-apa ditinggal selama itu?"


"Tidak, kan saya juga bantu dia. Biaya sekolah sekarang mahal, Non. Tahun depan yang besar masuk SMP."


"Duh? Umur berapa Mbak nikah kalau udah punya anak SMP?" 


Mima tertawa.


"Waktu itu 15 tahun. Langsung hamil." jawabnya, malu-malu.


"Masih kecil?"


"Dulu kalau di kampung umur segitu sudah harus dinikahkan. Apalagi sudah kenal laki-laki."


"Bisa, Non. Alhamdulillah kalau sama-sama dan sejalan pasti bisa."


"Nania, kamu masih di sini?" Sofia pun muncul setelah melihat pintu depan terbuka.


"Mmm … iya."


"Masih belum pulang juga?" tanya sang mertua.


"Belum."


"Jangan ditunggu terus, mungkin pulangnya masih lama. Tidur lah." ucap Sofia.


"Ayo masuk, kita harus istirahat. Yang masih bekerja, biarkanlah bekerja." Perempuan itu menggiring Nania dan Mima masuk ke dalam rumah.


***


Daryl menaiki tangga dengan langkah lunglai dan segera menuju ke kamarnya begitu dia tiba pada hampir tengah malam.


Dia mendapati Nania yang tertidur di sofa dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Alat penghangat portabel bahkan menempel erat di perutnya yang dia ketahui sebagai pereda nyeri.


Daryl duduk sebentar seraya menyentuh pipinya yang kemerahan, lalu dia bangkit sambil melepaskan jasnya sambil melangkah ke kamar mandi. Beruntung hari itu dia tidak mengenakan kemeja sehingga tak harus membangunkan Nania atau mungkin merobeknya.


Namun pria itu tertegun saat dia keluar dari kamar mandi dan menemukan Nania sudah terbangun dan duduk di pinggiran tempat tidur seraya mendekap pakaian untuknya.

__ADS_1


"Apa aku berisik sehingga membuatmu terbangun?" tanya nya lalu dia berjalan mendekat.


Nania menggelengkan kepala.


"Tidurlah lagi." katanya, dan dia menarik pakaian dari tangan perempuan itu.


Nania bangkit saat suaminya mulai mengenakan piyamanya, dan bermaksud membantu menautkan kancing pada pakaian bagian atasnya.


"Sudahlah sana, lanjutkan tidurmu!" Daryl sempat menolak dan dia berusaha mengaitkan kancing-kancing itu dengan tangan bergetar. 


Beberapa kali dia menepis tangan Nania dan berusaha memasangkan benda itu namun gagal. Otaknya seperti membeku dan dia lupa bagaimana caranya.


Dia mengetatkan rahang kuat-kuat hingga terdengar giginya yang bergemeletuk.


"Ah, aku memang tidak cocok menggunakan pakaian ini kan? Kenapa pula ada di lemariku ya? Mima pasti lupa lagi." Dia terkekeh sambil melepas piyama bagian atasnya itu. Lalu masuk ke ruang ganti, dan keluar setelah mengenakan kaus polos berwarna putih.


"Ayo tidur lagi? Jangan sampai besok kesiangan. Minggu ini tersisa satu hari lagi untuk sekolah kan?" Dia naik ke tempat tidur lalu membenahi bantal untuknya dan Nania.


Sementara perempuan itu hanya menurut.


"Bagaimana perutmu? Sudah baikan?" Dia bertanya begitu mereka sama-sama merebahkan diri.


Nania menganggukkan kepala.


"Mima memberimu ramuan?" Daryl mengambil pemanas berbalut kain yang sangat lembut itu kemudian dia letakkan diatas perut istrinya.


"Iya."


"Bagus. Sudah nyaman belum? Kalau sudah, sekarang tidurlah." Pria itu menariknya ke pelukan, lalu dia pun memejamkan mata.


"Kamu … udah makan?" Nania buka suara.


Namun Daryl tak menjawab.


"Daddyy!!" Nania mendongakkan wajahnya.


"Hmm …." Dan pria itu menjawab dengan gumaman.


"Kamu udah makan atau belum?" Dia bertanya lagi.


"Jangan khawatirkan aku, lagi pula ini sudah malam. Aku lelah dan hanya ingin tidur." ucap Daryl yang mengeratkan pelukan tangannya.


"Kamu sendiri bagaimana? Apakah sudah makan?" Lalu dia balik bertanya.


"Udah."


"Ya sudah, jangan bicara lagi. Sekarang tidur!" Daryl pun kembali memejamkan matanya.


Nania menatapnya untuk beberapa saat, lalu dia memutuskan untuk diam saja. Karena saat ini menurut adalah pilihan terbaik.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Tidur, Nna. Tidur. Nggak akan ada apa-apa dulu sekarang. Daddynya lagi nggak mood. 😂😂


__ADS_2