The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Rumah Baca Nania #2


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini?" Satria menghampiri Sofia yang sedang menatap ke rumah putranya di belakang lewat jendela kamar utama, di mana peraduan mereka berada.


"Sudah seminggu ini aku melihat Daryl sedang mengerjakan sesuatu." Jawab Sofia yang semakin lama menatap ke arah jendela kamar putranya yang setiap pagi memang selalu dibuka.


"Dan apa yang kamu lihat?" Satria juga menatap ke arah yang sama.


Tampak Daryl yang tengah berdiri di depan sebuah gantungan di mana seperti ada kemeja yang sedang dia tatap. Tak lama kemudian sang putra meraih kemeja tersebut lalu menempelkan kedua sisinya.


Sofia menjengit, apalagi ketika Nania tampak membantunya menautkan kancing hingga semuanya terpasang, lalu membukanya lagi. Dan hal sama terus berulang hingga akhirnya menantu mereka itu membantu Daryl mengenakan kemeja tersebut seperti ibu yang memakaikan pakaian kepada anaknya.


Lalu Nania tampak menepuk-nepuk dada Daryl seperti sedang menyemangatinya.


"Pagi-pagi sudah mengintip orang bermesraan?" Namun Satria segera menariknya keluar dari kamar mereka.


"Aku rasa mereka bukan sedang bermesraan?" Sofia sempat menarik lengannya.


"Bukan sedang bermesraan bagaimana? Jelas-jelas mereka bermesraan. Lagipula sejak kapan kamu suka mengintip anak-anakmu? Mereka itu sudah menikah, biarkan sajalah. Kecuali kalau mereka punya masalah serius dan mengadu kepada kita. Baru, dari sana kita punya wewenang untuk ikut campur." Keduanya sudah berada di ruang makan.


"Bukan soal ikut campur, hanya saja …."


Satria menyentakkan kepalanya ketika menyadari kedatangan anak dan menantunya, yang membuat Sofia berhenti berbicara.


"Oh, hai sayang? Selamat pagi? Mau pergi hari ini?" Dan perempuan itu segera menyambut mereka.


"Mau ke rumah baca sebentar karena hari ini ada guru bahasa Inggris yang mau ikut ngajar." Nania dan Daryl duduk berdampingan.


"Benarkah?"


"Ya. Semakin hari semakin banyak orang yang mau ikut berpartisipasi di rumah baca. Sampai aku bingung apa mau nerima mereka semua atau jangan?" Nania menuangkan kopi untuk suaminya, lalu mengambil sarapan untuk mereka berdua.


"Kenapa bingung? Ya terima saja, apa masalahnya?"


"Udah kebanyakan, Ma. Dari temen-temen sekolah aku aja udah cukup kayaknya?"


"Terus guru bahasa Inggis ini bagaimana?"


"Ini sih pengecualian."


"Kenapa pengecualian?"


"Gurunya itu adalah Anandita." Daryl menyahut setelah menyesap kopi panasnya.


"Ann?" Sofia bereaksi.


"Ya siapa lagi? Om Arfan sampai menelfon karena tidak percaya anaknya mau ikut mengajar di rumah baca. Padahal dia kan masih sekolah?"


"Ya kalau mampu siapa saja bisa ikut mengajar." Sofia mengisi piring suaminya dengan makanan yang sudah asisten rumah tangga mereka buat sejak pagi.


"Udah aku bilangin gitu kan? Lagian, Ann itu memang pintar kan? Dia selalu juara di sekolah makanya merasa mampu mengajari anak-anak." Nania mengamini ucapan ibu mertuanya.


"Kenapa sih dia tidak fokus sekolah saja? Sebentar lagi kelas tiga kan? Apa tidak pusing?" Namun Daryl tetap menyanggah perkataan istri dan ibunya.


"Mungkin Ann butuh kegiatan lain? Selain sekolah, dia kan tidak punya kegiatan apa-apa lagi."


"Ah, mungkin hanya alasannya saja agar Om Arfan mengizinkannya keluar dari rumah di hari Sabtu." Daryl tertawa.


"Ya apa pun motivasinya, asalkan tidak membahayakn dirinya sendiri sah-sah saja kan?" Satria ikut berbicara.


"Hmm … logis juga, tapi Papanya tidak sepemikiran dengan kita kan?" Dan mereka memulai kegiatan sarapannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Senang sekali kamu ini?" Daryl bereaksi atas kedatangan dua keponakannya pada hampir siang di RUMAH BACA NANIA.


"Seneng apaan? Kesel iya." Arkhan menjawab.


"Kesal kenapa?"


"Ya kesel lah, seharusnya aku hari ini ikut touring sama Kak Galang. Tapi gara-gara dia, jadinya papa nggak kasih izin." Arkhan mendelik ke arah saudara kembarnya.


"Apa hubungannya?" Nania datang menghampiri setelah memastikan anak-anak yang hari itu akan menerima pelajaran tambahan dari rekan-rekannya mulai berdatangan.


"Iyalah, kalau dia keluar rumah aku harus antar. Padahal cuma ke sini kan? Nyebelin deh!" ucap Arkhan lagi yang memang benar-benar tampak kesal.


"Sehari doang! Kalau Papa sama Mommy nggak pergi ke Bogor juga pasti Papa yang nganter."


"Lah, sendiri juga bisa. Minta jemput siapa kek. Kan Om Der juga ke sini, kayaknya kalau tadi perginya barengan, aku pasti udah ikut Kak Galang ke Bandung!" Pemuda itu menggerutu.


"Kalau Papa dan Mommy pergi, adik-adik kalian bagaimana?" Daryl bertanya.


"Ya dianter ke rumah Opa lah, apa lagi?"


"kenapa juga kalian tidak ikut? Kan asyik bisa liburan?" Daryl mengatakannya seolah dia sedang menyuruh kedua remaja ini untuk tak selalu mendatanginya. Dan itu memanglah benar.


"Orang nggak mau, capek." Arkhan menjawab ucapan sang paman.


"Dih, touring ke Bandung nggak capek, padahal bawa motor sendiri. Kalau ke Bogor kan disupirin orang. Tinggal duduk manis doang di mobil?" Sementara Nania juga menanggapi perkataan pemuda itu.

__ADS_1


"Beda lah, Kak. Eh Tan … hehehe." Arkhan pun tertawa.


"Terus, les nya mau dimulai sekarang? Mumpung anak-anaknya udah pada datang. Kebetulan juga guru bahasa dari sekolah hari ini nggak bisa datang. Jadi kayaknya kamu bisa langsung ngajar deh?" ujar Nania yang menarik Anandita ke dalam.


"Boleh? Asiiikk!" Reaksi anak remaja itu diluar dugaan. Alih-alih gugup karena ini hari pertamanya mengajar bahasa kepada anak-anak, dia malah sangat bersemangat.


"Ya boleh dong kalau emang udah siap. Silahkan?" Lalu Nania membiarkannya memulai kelas pada hari itu.


***


"Pak?" Regan menganggukkan kepala begitu Daryl keluar dari ruangan.


"Cepat juga, Kau?" Pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya setelah menerima pesan dari bawahannya tersebut.


"Kebetulan lalu lintas belum seramai biasanya, Pak." Regan menjawab.


"Benarkah? Luar bisa."


"Ya Pak."


"Bagaimana, kau sudah bawakan pesananku?" Daryl menatap dua tangan Regan yang tak membawa apa pun.


"Ada di mobil, Pak. Sebentar saya ambil." Pria itu bergegas ke mobilnya, dan tanpa berlama-lama dia segera kembali ke hadapan Diary. Kali ini dengan menenteng beberapa kotak dus di tangan.


"Bawa ke dalam!" titah Daryl yang kembali masuk ke dalam rumah diikuti sang bawahan.


"Oke, temen-temen. Setelah ini jangan lupa untuk menghafal, dan tugasnya di kerjain di rumah. Minggu depan kalau kita ketemu lagi Kakak periksa tugas kalian ya?" Anandita mengakhiri sesi belajar bahasa siang itu setelah sekitar dua jam memberikan pelajaran tambahan kepada anak-anak tersebut.


"Iya Kak." jawab anak-anak yang membereskan alat tulis mereka.


"Apa sudah selesai?" Daryl bertanya setelah dia kembali.


"Udah." Keponakannya mengangguk.


"Bisakah mereka untuk tidak langsung pulang? Kita makan bersama dulu di sini?" Daryl beralih kepada Nania.


"Makan?" Perempuan itu bangkit dari kursinya.


"Ya. Aku rasa makan bersama dulu tidak apa-apa?" Dia menunjukkan apa yang Regan bawa dari luar.


"Kamu beli makanan untuk anak-anak?" Nania kemudian mendekat.


"Ya, aku pikir mungkin di jam-jam seperti ini anak-anak harus dapat makan juga kan?"Β 


Nania hanya terkekeh.


"Cepat suruh mereka makan dulu, aku sudah menyuruh Regan memesankan makanan spesial."


Kotak-kotak makanan itu dibagikan kepada masing-masing anak, dan sekitar dua orang pengurus rumah baca. Dan sisanya menjadi bagian mereka sendiri untuk dimakan bersama-sama.


Anak-anak tampak senang dengan apa yang mereka dapatkan hari itu, dan Nania pun merasa gembira. Apalagi Daryl yang melihat hal tersebut.


"Dah, Kak. Makasih ya?" Lalu setelah beberapa saat anak-anak itupun pergi.


"Dah, sampai ketemu hari Senin ya? Ingat tugasnya dikerjain!" Nania menjawab ucapan pamitnya.


"Lalu apakah kita akan tetap di sini?" Daryl menghampiri Nania yang baru saja merapikan buku-buku dan barang yang baru saja dipakai belajar anak-anak.


"Mau pulang sekarang?" Nania balik bertanya.


"Aku rasa ya, atau kamu mau pergi dulu?" Pria itu mendekat.


"Pergi ke mana?"


"Entahlah, ini kan malam Minggu?" Pria itu tersenyum.


"Mau malam Mingguan?" Nania memiringkan kepalanya.


"Sepertinya itu ide yang bagus?"


"Tapi masih siang, Pak?"


"Kita bisa keliling-keliling dulu, mumpung Regan masih di sini?"


"Regan?" Nania melirik bawahan suaminya itu yang asyik dengan buku bacaannya sambil menunggu mereka.


"Ya, kalau sudah pulang aku tidak akan bisa menghubunginya lagi sampai hari Senin."


"Kok begitu?:


"Dia tidak bisa diganggu kalau di hari libur. Hapenya mati, dan semua akun media sosialnya tidak aktif. Dia benar-benar memanfaatkan masa libur seharinya dengan baik."


"Ooohh …."


"Jadi, ayo kita jalan-jalan dulu? Mau nonton? Ke taman hiburan, atau ke manapun?"


"Ke taman hiburan?" Nania tertawa.


"Ya, dan ke mana saja."


"Tumben?"

__ADS_1


"Mumpung aku punya banyak waktu luang. Kalau tidak, kan kamu tahu sendiri?"


"Hmm …." Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"So, what are you waiting for?"


"Oke lah …." Kemudian Nania beranjak.


"Tante sama Om mau langsung pulang?" Anandita pun melakukan hal yang sama.


Mereka keluar setelah berpamitan dengan pengurus rumah baca dan hampir mencapai mobil.


"Tidak, kami mau pergi dulu." Daryl menjawab.


"Pergi ke mana?" Sang keponakan bertanya.


"Cuma nonton atau jalan-jalan." Dan Nania yang menjawab.


"Jalan-jalan?" Kedua bola mata remaja perempuan itu berbinar.


"Ya, mau ikut?" tawar Nania kepadanya, yang tentu saja dijawab dengan anggukkan oleh Anandita.


"Mau mau mau!!!" katanya dengan suara riang.


"Apa? Terus aku gimana?" Arkhan yang sudah menghidupkan mesin motornya pun bereaksi.


"Ya pulang aja, atau ke rumah Opa. Atau kalau mau nyusul Kak Galang juga boleh. Sana!!" Dan saudara kembarnya tersebut segera masuk ke dalam mobil milik Daryl.


"Yang bener aja! Susul ke Bandung apanya? Kamu suka aneh deh?" ucap pemuda itu.


"Ya udah, terserah kamu. Mau ke mana kek, asal jangan ketahuan Papa." jawab Anandita dari dalam mobil.


Arkhan tertegun sebentar, kemudian satu sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian.


"Tapi jangan bilang-bilang Papa ya?" katanya kepada Anandita.


"Nggak akan."


"Sumpah?"


"Sumpah."


"Oke kalau gitu!!" Kemudian dia bergegas pergi.


"Apa itu barusan? Kalian sedang bersekongkol ya?" Daryl menatap keponakannya yang sudah duduk manis disamping pengemudi yang adalah Regan.


"Bukan, cuma biar dia nggak marah-marah terus." Anandita menjawab.


"Lalu bagaimana kalau dia pergi ke tempat aneh-aneh?" Daryl membuka pintu belakang lalu membiarkan Nania masuk, dan dirinya menyusul.


"Aneh-aneh apanya? Paling Arkhan ke Bandung nyusul Kak Galang. Dia kan lagi kecanduan sama dunia permotoran."


"Masa?"


"Serius."


"Ah, dasar kalian ini!"


Sang keponakan tertawa.


"Tapi kami mau perginya lama." Daryl kembali berbicara ketika mobil sudah bergerak menjauhi ruman baca.


"Ya nggak apa-apa, aku ikut." Anandita menjawab.


"Sampai malam."


"Aku sih oke."


"Atau mungkin tidak akan pulang." Daryl menyeringai ketika sebuah ide melintas di otaknya.


"Nginep di mana emang?"


"Di hotel atau mungkin di villa."


"Dih, orang dewasa kalau kencan langsung menginap ke hotel!" katanya, yang membuat pria dibalik kemudi terbatuk karena terkejut. Membuat Anandita langsung melirik.


"Hanya untuk yang sudah menikah tahu! Kalau kamu tidak boleh."


"Iya, Om aku tahu."


"Atau mungkin nanti kamu bisa pulang dengan Regan. Dia kan ke rumah Opa dulu untuk menukar mobilnya."


"Ah, iya nggak apa-apa. Gitu juga bagus, heheheh." jawab Anandita yang tersenyum sambil kembali melirik pria di sampingnya.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ....

__ADS_1


Met malmingan, gaessπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2