The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Calon Istri


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


Daryl hanya tersenyum ketika gadis itu muncul setelah dia berganti pakaian dan sedikit berdandan. Dibantu Mima, salah satu asisten rumah tangga mereka.


Nania mengenakan dres selutut berlengan panjang dengan sepatu flat berwarna hitam. Sengaja dia pilihkan saat melihat koleksi pakaian yang dibereskan staf di Fia's Secret. Dan pilihannya tidaklah salah, gadis itu terlihat cantik mengenakannya.


"Permisi Pak?" Mima kembali ke belakang.


Lalu perhatian keduanya beralih ketika keramaian mulai muncul di depan rumah.


Tiga mobil berhenti tepat di depan teras lalu penumpangnya turun hampir bersamaan.


"Ugh, pasukan tempur sudah datang." Daryl bergumam.


"Ah, … kalian sudah siap." Sofia dan Satria pun muncul dari ruang keluarga.


"Omaaaaa!!!!" Anak-anak berlarian memasuki rumah diikuti orang tua mereka.


Lalu masuk pula Galang yang menuntun Amara yang tampak kesulitan berjalan karena perutnya yang sudah membesar di usia kandungannya yang memasuki delapan bulan.


"Jangan terlalu ribut anak-anak, sebentar lagi ada tamu!" Dimitri mengikuti anak-anaknya.


"Aku mau lihat Heimlich!"


"Aku mau ambil Joe!!" Anya dan Zenya berlari ke belakang rumah.


"Kalian nggak ikut lari-larian?" Daryl pada empat keponakannya yang lain.


"Om pikir kita ini anak TK apa?" Aksa menjawab.


"Ya, barang kali kalian juga mau ikut melihat hewan peliharaan?"


"Aku nggak punya hewan peliharaan. Nggak suka." jawab Aksa lagi yang mengikuti ketiga saudaranya ke ruang tengah.


Sementara Nania mengangguk kepada anggota keluarga lainnya yang turut hadir.


Tak berapa lama kemudian tibalah tiga mobilΒ  yang sudah ditunggu-tunggu. Yakni Darren yang menjemput Kirana beserta keluarganya yang sengaja diundang untuk pertemuan keluarga.


Dan keramaian segera saja terjadi begitu semua anggota keluarga bertemu.


"Perkenalkan, ini Raisa. Sepupunya Kirana." Calon besan menarik seorang gadis ke depan.


"Dia calon bidan yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikan akhir." jelas perempuan itu, dan gadis tersebut segera menyalami tuan rumah juga anggota keluarga lainnya.


"Oh, begitu." Sofia menanggapi dengan tawa yang renyah.


Lalu percakapan itu berlangsung hangat seperti biasanya. Mereka membicarakan segala hal yang berhubungan dengan acara pernikahan dan segala pernak-perniknya.Β 


Para pria berpendidikan tinggi, pasti lulusan kampus bergengsi. Nania menatap pria-pria di keluarga itu.


Sementara perempuanya ada yang juara dunia balapan, dokter kecantikan, dan istri pengusaha terkenal. Saudaranya saja sebentar lagi lulus sekolah kebidananan. Lalu dia beralih menatap anak dan menantu Sofia, juga kerabat Kirana.


Sementara aku …. Lalu dia menatap kedua tangannya yang bertumpu di pangkuan.


Si pelayan kedai yang nggak punya siapa-siapa, dan nggak punya apa-apa. Seperti dongeng Cinderella ketemu pangeran tampan, bukan? Dia melirik Daryl yang tengah berbincang dengan yang lainnya.


"Oh iya, Raisa ini masih jomblo lho. Mungkin ada anggota keluarga yang singel juga?" Adik dari orang tua Kirana tiba-tiba saja berujar.


"Benarkah?"


"Ibu, apa-apaan sih?" sementara gadis yang dimaksud tampak tersipu malu.


"Eh, siapa tahu di sini ketemu jodoh kan? Bisa mengeratkan ikatan silaturahmi?" Sang ibu tertawa dan dia melirik ke arah kembaran calon keponakannya.


Beberapa orang lainnya mengerutkan dahi.


"Oh, … iya-iya benar." Sofia tertawa. "Duh, tapi siapa ya? Kebetulan kerabat kami belum datang semua. Mungkin di pesta nanti bisa kita perkenalkan ya?" ujar perempuan itu.


"Lho, kakaknya Nak Darren sudah punya pasangan kah? Terakhir bertemu di rumah Kirana kabarnya masih sendiri kan?" Calon besan Sofia menyela.


"Daryl maksudnya?"


"Iya."


Lalu semua mata tertuju kepada pria itu.


"What? Me?" Daryl menunjuk dirinya sendiri.


Nania terkesiap.


Lalu apa maksudnya mereka membuatku ikut menghadiri acara ini? Batinnya dengan hati yang perlahan terasa remuk.


Dia menatap ke arah Daryl seperti yang lainnya.


"Kalian bercanda ya?" Pria itu tertawa.


Nania merasa matanya memanas. Entah mengapa ini seperti dirinya sedang ditunjukan posisinya berada di mana. Ditengah mereka yang memiliki kedudukan bagus dengan titel tidak main-main, dirinya merasa hanya sebagai kerikil ditengah gurun.


"Terus kalian pikir kenapa aku mengajak Nania hadir?" Tiba-tiba kalimat itu terlontar dari mulutnya, seiring sebelah tangannya yang merayap di belakang gadis itu. Dan perhatian semua orang pun beralih kepadanya.

__ADS_1


"Dia kan calon istriku. Belum tahu ya?" katanya, kemudian tertawa sambil menarik Nania kedalam pelukannya.


"Umm …." Nania hampir saja bersuara.


"Ah, sudah dengar kan bu? Daryl sudah punya calonnya sendiri." Sofia bereaksi setelahnya.


Semua orang tampak terdiam.


"Oh, sudah ada calonnya tho? Kenapa belum menikah?" Tanya perempuan di depan. "Kan bagus kalau menikahnya sama-sama?"


"Umm … kami santai." Daryl menjawab.


"Masih sekolah ya? Atau kuliah?" tanya perempuan itu lagi.


"Tidak. Nania bekerja."


"Bekerja?"


"Ya. Untuk sementara menunda kuliahnya dulu. Iyakan, Sayang?" katanya, dan dia menatap wajah gadis itu yang juga menatanya dalam diam.


"Begitu."


"Baiklah, sepertinya makanan sudah siap. Kalau begitu mari kita pindah ke ruang makan?" Sofia menyela percakapan itu, dan semua orang segera beralih seperti yang dikatakan oleh tuan rumah.


Dan jamuan makan pun tak ubahnya seperti pesta. Ruang makan dengan meja besar itu cukup untuk menampung para orang tua sementara anak-anak mereka berada di meja lainnya.


Tak banyak hal yang Nania lakukan selain menyimak percakapan yang tak terlalu dia mengerti. Selebihnya, gadis itu hanya diam dan fokus dengan makanannya.


Namun dia sedikit tersentak ketika merasakan ada yang menyentuh tangannya di bawah meja. Lalu Nania menemukan tangan Daryl yang merayap dan menautkan jari-jari mereka.


Gadis itu mendongak dan di saat yang bersamaan Daryl pun menoleh, kemudian tersenyum.


"Huaaaaaaaa!!!!!" Zenya berlari dari arah belakang diikuti pengasuhnya. Tentu saja mengejutkan semua orang.


"Kakaaaaaakkkk!!!" Dia segera menghampiri Nania yang menduduki kursi paling pinggir.


"Kenapa?" Gadis itu bereaksi lalu melepaskan tangannya dari genggaman Daryl.


"Heimlichnya!!!!" Zenya mengangkat toples berisi ulat dan daun-daunan juga ranting yang dibuatkan Satria untuknya.


"Kenapa Heimlich?" Lalu Nania menyentuh toples tersebut.


"Heimlichnya mati! Dia nggak gerak-gerak dari tadi!!" anak itu menangis.


Nania menatap benda tersebut. Terlihat ulat hijau itu menggantung di ranting dalam bentuk yang sedikit berbeda dari yang dia lihat sebelumnya.


"Udah aku bilang Heimlich nggak mati! Dia hanya bobo!" Anya mendekat.


"Sayang, ayo sini ikut Mommy?" Rania meraih tangan putranya, namun segera anak itu tolak dengan cepat.


"Ini pasti karena Heimlich nggak makan, dia kelaparan."


"Sayang?"


"Umm … biar saya, Bu." ucapnya kepada Rania seraya meraih tangan Zenya.


"Ayo kita keluar?" Nania merasa memiliki alasan untuk pergi.


"Saya permisi." Lalu dia berpamitan kepada orang-orang yang berada di sana.


"Heimlichnya mati!!!" Zenya terus menangis meski mereka sudah berada di belakang rumah.Β  Nania membawanya ke dekat taman belakang di mana rumah bermain berada.


"Coba Kakak lihat?" Lalu dia meraih toples tersebut dari Zenya.


"Dia bukanya mati." katanya, yang seketika membuat tangis anak itu terhenti.


"Heimlich sedang berhibernasi."


"Hibernasi?" Zenya menyeka matanya yang basah.


"Ya, dia lagi jadi kepompong."


"Kepompong?"


"Iya, apa kamu nggak belajar soal ini di sekolah?" Nania menatap wajah lugu anak itu.


"Kepompong kupu-kupu?"


"Iya."


"Masa Heimlich mau jadi kupu-kupu?" Dia masih terisak.


"Ya, sebagian besar ulat akan jadi kupu-kupu nantinya."


"Masa?"


"Tanya aja ibu guru, atau kamu baca buku."


Anak itu terdiam. Tapi sisa tangisan masih kentara di wajahnya.


"Heimlich nggak mati?" Zenya bertanya lagi.

__ADS_1


"Nggak."


"Dia akan jadi kupu-kupu?"


"Iya. Terus nanti bertelur."


"Telurnya banyak?"


"Iya, banyak."


"Sebanyak apa?"


"Nggak tahu, tapi banyak."


"Nanti telurnya jadi Heimlich lagi?"


"Umm … kayaknya begitu."


Zenya terdiam lagi.


"Heimlichnya jadi banyak dong?" Binar di matanya berubah.


"Kira-kira begitu."


"Terus Heimlich yang ini nanti gimana? Mati nggak?"


"Umm … soal itu Kakak nggak tahu."


"Kalau mati gimana?" Mata Zenya kembali berkaca-kaca.


"Nggak gimana-gimana. Semua yang bernyawa pasti akan mati."


"Huaaaaaaaa … Heimlichnya akan mati!!!" Lalu dia menangis lagi.


"Astaga!!" Nania menepuk kepalanya, lalu dia menarik bocah itu ke pangkuannya.


"Dengerin, Zen! Heimlichnya akan mati, tapi dia udah ngasih kehidupan sama anak-anaknya. Nanti anak-anaknya Heimlich akan melakukan hal sama kayak mamanya. Dah kehidupan mereka akan terus berlanjut kayak gitu."


"Heimlich-Heimlich itu akan punya anak dan jadi Heimlich lainnya? Terus mereka punya anak lagi kayak mama Heimlich?" Zenya sesenggukkan.


"Iya."


"Jadi mereka ada banyakan?"


"Kamu pinter deh?"


"Heimlichnya nggak sendirian lagi?"


"Iya."


Kemudian anak itu menatap toples dan isinya.


"Kapan Heimlich jadi kupu-kupu?"


"Nanti kalau udah waktunya."


Zenya kembali terdiam.


"Udah ya, jangan sedih. Kan Heimlichnya nggak apa-apa. Dia cuma lagi jadi kepompong dulu." Nania mengusap air mata di pipi anak itu.


"Kakak nggak bohong kan?"


"Nggak. Kenapa Kakak harus bohong?"


"Mungkin biar aku nggak sedih?"


Nania tertawa kemudian dia menempelkan kepalanya kepada Zenya.


"Nggak lah." Lalu dia membicarakan banyak hal kepada anak itu.Β 


Tentang anak-anak yang baik dan tempat tersembunyi dibalik hutan. Juga dongeng indah yang pernah diceritakan sang ayah kepadanya.


"Calon istrimu sepertinya sangat disukai anak-anak?" ujar Dimitri di belakang adiknya yang tengah memperhatikan Nania bersama Zenya.


Daryl hanya terkekeh, namun dia merasa bangga akan hal itu.


"Calon istri. Hehe." gumamnya, dan dia tetap berada di sana. Sementara sang Kakak kembali ke dalam rumah.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ....


Adeeuuuuuhhhh ... Calon istri😜😜😜


Cuss like komen giftnya kirim lagi.


Calon istrinya Kang Maksa😜😜

__ADS_1



__ADS_2